"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1 - Kelahiran Kembali
"Raka belum gajian?"
Suara Ratna menembus pintu kamar yang tidak tertutup rapat.
Raka membuka mata.
Langit-langit kusam dengan bercak lembap menyambut pandangannya. Kipas angin tua berputar lambat, mengeluarkan bunyi berdecit setiap tiga detik. Udara kamar terasa panas dan pengap meski matahari belum tinggi.
Ia tidak langsung bergerak.
Jantungnya berdetak terlalu keras.
Kamar ini.
Retakan tipis di dinding sebelah lemari. Meja kerja murah dengan satu kaki yang diganjal buku pemrograman. Kabel pengisi daya yang dibungkus isolasi hitam. Bahkan kaus abu-abu yang tergantung di sandaran kursi.
Semua ini pernah menjadi miliknya.
Puluhan tahun lalu.
"Belum," jawab Ratna dari ruang tengah. Nada suaranya terdengar kesal. "Katanya tanggal dua puluh lima. Sekarang masih tanggal dua puluh empat."
"Memangnya tidak bisa minta kasbon?" Suara kedua lebih tua dan lebih tajam. Bu Sumini. "Budi butuh uang hari ini. Orang-orang yang menagih sudah datang ke rumah Ibu dua kali."
"Aku sudah bilang. Tapi Raka akhir-akhir ini banyak alasan."
Raka perlahan mengangkat tangan. Kulitnya masih kencang. Tidak ada bintik usia. Tidak ada bekas jarum infus. Jari-jarinya kurus, hanya memiliki kapalan tipis akibat bertahun-tahun mengetik.
Ia meraih ponsel di bawah bantal.
24 Mei.
Tahun yang terpampang di layar membuat napasnya terhenti.
Tiga belas tahun sebelum kematiannya.
Tiga belas tahun sebelum ia mengembuskan napas terakhir sendirian di kamar kontrakan sempit, ditemani tagihan rumah sakit yang belum lunas dan pesan-pesan dari keluarga Hartono yang masih meminta uang.
Raka duduk tegak.
Ingatan terakhirnya datang seperti pecahan kaca.
Tubuh berusia empat puluh tahun yang kurus karena kerja malam. Nyeri di dada yang ia abaikan selama berbulan-bulan. Layar laptop kantor yang masih menyala ketika ia jatuh dari kursi. Pesan Ratna yang masuk beberapa menit sebelumnya.
Transfer dua juta. Budi ada masalah.
Bahkan setelah perceraian. Bahkan setelah Ratna meninggalkannya demi laki-laki lain. Bahkan setelah semua yang mereka lakukan, ia masih saja mengirim uang ketika mendengar kata keluarga, sakit, atau darurat.
Ia mati sebelum sempat menekan tombol transfer untuk terakhir kalinya.
Namun sekarang, ia kembali.
Bukan ke masa setelah perceraian.
Ia kembali ke masa ketika masih menjadi suami Ratna. Ketika semua orang di rumah ini menganggap gajinya sebagai milik bersama, sementara utang dan penghinaan hanya menjadi miliknya sendiri.
"Kalau dia tidak mau kasbon, jual saja laptopnya," kata Bu Sumini. "Laptop kantor itu mahal, kan?"
"Itu milik perusahaan, Bu."
"Lalu apa gunanya dia kerja di perusahaan teknologi kalau barang sekecil itu saja bukan punya dia?"
Ratna mendecakkan lidah. "Nanti aku paksa dia ambil pinjaman online. Limitnya masih ada."
Raka menatap ponsel di tangannya.
Di kehidupan sebelumnya, percakapan ini tidak pernah ia dengar. Saat itu ia bangun, mandi, lalu pergi bekerja tanpa tahu bahwa Ratna dan ibunya sedang merencanakan utang atas namanya.
Tiga hari kemudian, ia menandatangani pinjaman karena Ratna menangis dan berkata Budi akan dibunuh penagih utang.
Budi tidak pernah berada dalam bahaya.
Uang itu dipakai untuk menutup kekalahan judi online, lalu sisanya kembali dipertaruhkan pada malam yang sama.
Raka menurunkan kedua kakinya ke lantai.
Dingin ubin merambat ke telapak kakinya. Nyata. Terlalu nyata untuk disebut mimpi.
Ia berjalan ke cermin kecil di dekat lemari. Wajah seorang pria berusia dua puluh delapan tahun menatap balik. Rambut berantakan. Mata cekung karena lembur. Bahu sempit. Tidak tampan, tidak buruk, hanya tampak lelah sebelum waktunya.
Wajah inilah yang dulu selalu menunduk.
Ketika Bu Sumini mengambil kartu ATM-nya.
Ketika Budi memanggilnya bodoh setelah ia menolak membayar utang.
Ketika Ratna pulang dini hari dengan parfum laki-laki lain menempel di bajunya, lalu marah karena Raka berani bertanya.
Dan ketika hasil pemeriksaan bertahun-tahun kemudian membuktikan bahwa Nila bukan anak kandungnya.
Raka menutup mata sesaat.
Ia melihat lagi amplop hasil tes itu di tangannya. Melihat Ratna merebutnya. Mendengar kalimat yang menghancurkan sisa harga dirinya.
"Kalau kamu benar-benar sayang Nila, darah seharusnya tidak penting."
Darah memang bukan kesalahan anak kecil itu.
Namun kebohongan Ratna adalah pilihan.
Raka membuka mata.
Tidak ada amarah meledak di wajahnya. Tidak ada teriakan. Hanya sesuatu yang dingin, padat, dan akhirnya utuh.
Kali ini, ia tidak akan membayar.
Tidak dengan uang.
Tidak dengan tubuhnya.
Tidak dengan sisa hidupnya.
Pintu kamar didorong dari luar.
Ratna berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada. Rambutnya masih rapi meski baru bangun. Ia mengenakan daster bermotif bunga yang dibeli dengan uang Raka minggu lalu.
"Kamu sudah bangun ternyata." Tatapannya langsung turun ke ponsel di tangan Raka. "Cek rekening. Gajimu masuk belum?"
Di belakang Ratna, Bu Sumini duduk di sofa tipis sambil memakan keripik dari toples. Televisi menyala cukup keras, tetapi matanya tidak pernah lepas dari kamar.
Raka menatap istrinya selama beberapa detik.
Dulu, ia menganggap wajah itu rumah.
Sekarang, ia hanya melihat seseorang yang telah menghafal kelemahannya dan menjadikannya mesin penarik uang.
"Belum," jawab Raka.
"Kalau begitu, hubungi bagian keuangan."
"Untuk apa?"
Ratna mengernyit, seolah pertanyaan itu tidak masuk akal. "Budi perlu enam juta. Harus dibayar siang ini."
"Enam juta untuk apa?"
"Masalah pribadi."
"Judi online?"
Wajah Ratna berubah sepersekian detik.
Kecil sekali. Namun Raka melihatnya.
"Siapa yang bilang begitu?" Ratna menurunkan tangan. "Jangan asal menuduh adikku."
Bu Sumini bangkit dari sofa. "Raka, kamu itu suami Ratna. Artinya Budi juga tanggung jawabmu. Keluarga tidak perlu saling menginterogasi seperti polisi."
Raka memandang wanita tua itu.
Di kehidupan sebelumnya, suara Bu Sumini selalu membuat dadanya mengecil. Ia takut dianggap menantu durhaka. Takut tetangga membicarakan dirinya. Takut Ratna pergi membawa Nila.
Sekarang, ancaman itu terdengar seperti rekaman lama yang sudah kehilangan daya.
"Kalau keluarga tidak perlu ditanya," katanya tenang, "kenapa utangnya selalu memakai nama saya?"
Ruang tengah mendadak sunyi.
Ratna berkedip. Bu Sumini berhenti dua langkah dari pintu.
Mereka tidak terbiasa mendengar Raka bertanya balik.
"Maksud kamu apa?" Ratna menajamkan suara.
"Sederhana." Raka meletakkan ponselnya di meja. "Berapa total utang Budi?"
"Bukan urusanmu."
"Kalau bukan urusanku, uangku juga bukan urusannya."
Ratna menatapnya seolah baru pertama kali melihat wajah suaminya.
Bu Sumini lebih cepat pulih. Ia menepuk daun pintu dengan telapak tangan.
"Kamu mulai hitung-hitungan dengan keluarga sekarang? Siapa yang menerima kamu waktu menikah dengan Ratna? Siapa yang membiarkan kamu tinggal dekat keluarga kami? Kalau tetangga tahu kamu menolak menolong adik ipar sendiri, mereka bakal ngomong apa?"
Raka hampir tertawa.
Apartemen ini disewa dengan gajinya. Uang muka pernikahan dibayar dari tabungannya. Biaya hidup Bu Sumini selama dua tahun terakhir juga masuk ke rekeningnya setiap bulan.
Namun di mulut wanita itu, semua berubah menjadi kebaikan keluarga Hartono.
"Biarkan mereka bicara," kata Raka.
Dua mata Bu Sumini membesar.
Ratna melangkah masuk. "Kamu kenapa pagi-pagi begini? Semalam lembur lagi lalu stres? Jangan cari masalah, Raka. Transfer enam juta begitu gajimu masuk. Selesai."
"Tidak."
Satu kata.
Pendek. Datar.
Namun kata itu jatuh di kamar sempit tersebut seperti benda berat.
Ratna membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Bu Sumini bahkan tampak lupa melanjutkan omelannya.
Raka berjalan melewati mereka menuju kamar mandi.
"Raka!" Ratna memanggil. "Aku sedang bicara sama kamu!"
Ia berhenti tanpa menoleh.
"Aku juga sudah menjawab."
Ia masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.
Suara Ratna serta Bu Sumini segera meledak dari luar. Tuduhan, kewajiban, keluarga, rasa malu, semua kata lama itu datang bertubi-tubi.
Raka menyalakan keran.
Air dingin membasahi wajahnya.
Di cermin buram, sorot matanya tidak lagi sama.
Ia belum punya uang. Tubuhnya masih lemah. Pekerjaannya masih menghabiskan hidupnya sedikit demi sedikit. Ratna masih memiliki semua jalan untuk memanipulasinya, sementara ia belum memegang bukti apa pun.
Tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak mereka ketahui.
Tiga belas tahun ingatan.
Ia tahu siapa yang akan mengkhianatinya. Ia tahu bisnis mana yang akan tumbuh. Ia tahu kapan Budi jatuh semakin dalam, kapan Ratna mulai terang-terangan berselingkuh, dan kapan keluarga Hartono akan mencoba mengambil semua yang tersisa.
Kali ini, Raka akan bergerak lebih dulu.
Ia akan memisahkan uangnya.
Mengumpulkan bukti.
Memutus setiap tangan yang masuk ke sakunya.
Lalu ia akan keluar dari keluarga ini tanpa meninggalkan satu rupiah pun untuk mereka rebut.
Getaran pendek terdengar dari kamar.
Ponselnya.
Raka mematikan keran, mengeringkan wajah, lalu membuka pintu. Ratna dan Bu Sumini sudah tidak berada di depan kamar. Keduanya masih menggerutu di ruang tengah, mungkin sedang mencari cara lain untuk menekannya.
Layar ponsel di atas meja menyala.
Bukan notifikasi bank.
Bukan pesan kantor.
Sebuah panel transparan berwarna biru gelap melayang beberapa sentimeter di atas layar. Angka-angka tipis bergerak cepat seperti aliran data. Raka menyentuhnya, tetapi jarinya menembus cahaya itu.
Panel tersebut hanya terlihat olehnya.
Kemudian seluruh angka berhenti.
Satu baris tulisan muncul di tengah.
[Sistem Cashback 10x telah diaktifkan.]
Baris kedua menyala lebih terang.
[Selamat datang, Host.]
Raka menatap panel itu tanpa berkedip.
Untuk pertama kalinya sejak membuka mata di kehidupan keduanya, sudut bibirnya terangkat.
Takdir ternyata mengembalikannya dengan tagihan yang lebih panjang.
Takdir memberinya modal untuk menghancurkan semua rantai.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....