Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Suara mesin pabrik bergemuruh sangat keras di dalam fasilitas produksi raksasa milik PT Medika Raya.
Hendra Kusuma berdiri di atas balkon kaca sambil menatap ke bawah dengan senyum serakah yang sangat lebar.
Jutaan butir pil berwarna kecokelatan sedang mengalir di atas sabuk berjalan menuju mesin pengemasan otomatis.
"Bagaimana laporan produksi pagi ini Kepala Pabrik?" tanya Hendra tanpa menoleh dari pemandangan indah di bawahnya.
Seorang pria berseragam putih yang berdiri di belakangnya segera membuka buku catatannya dengan gugup.
"Semuanya berjalan sangat lancar Pak Direktur, target satu juta botol pertama sudah selesai dikemas dan siap edar."
"Bagus sekali, kerja keras lembur kalian semalaman ini tidak akan sia-sia," puji Hendra tertawa puas.
Kepala pabrik itu sedikit ragu sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya tentang prosedur keamanan.
"Tapi Pak Direktur, apakah kita tidak perlu melakukan uji klinis dulu pada hewan percobaan seperti biasa?"
Hendra langsung memutar tubuhnya dan menatap tajam ke arah anak buahnya itu dengan pandangan merendahkan.
"Untuk apa kita membuang waktu dan uang melakukan pengujian yang tidak penting itu?" bentak Hendra kasar.
"Resep itu sudah terbukti laris manis di pasaran saat dijual oleh klinik kecil Bintang Abadi."
"Kita hanya menyalin komposisinya dan memproduksinya dalam skala raksasa, tidak akan ada masalah apa pun," tambah Hendra sangat yakin.
Kepala pabrik itu hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam tidak berani membantah perintah mutlak sang direktur.
"Kirimkan seratus botol sampel pertama ke aula hotel bintang lima di pusat kota sekarang juga."
Hendra merapikan jas mahalnya dan berjalan menuju pintu keluar dengan langkah angkuh.
"Aku akan mengadakan konferensi pers besar-besaran untuk menghancurkan bisnis pemuda udik itu hari ini juga."
Sementara itu, suasana di ruang istirahat Klinik Bintang Abadi terlihat sangat santai dan damai.
Rizky sedang duduk di sofa empuk sambil menyeruput secangkir kopi hitam panas yang asapnya masih mengepul.
Indah Sari duduk di sebelahnya sambil mengunyah camilan ringan dengan mata tertuju pada layar televisi layar datar di depan mereka.
"Wajahmu terlihat sedikit pucat hari ini Rizky, apa kau kurang tidur semalaman?" tanya Indah memperhatikan rona wajah rekannya.
"Aku hanya sedikit kedinginan karena terkena angin malam di daerah pelabuhan kemarin," jawab Rizky berbohong secara natural.
Ia tentu saja tidak akan menceritakan bahwa ia hampir mati membeku akibat tanaman bencana legendaris dari sistem.
Pintu ruang istirahat tiba-tiba terbuka dan Maya melangkah masuk membawa nampan berisi beberapa dokumen.
Wanita agen rahasia itu mencoba memasang wajah polos dan ramah seperti asisten apoteker pada umumnya.
"Permisi Nona Indah, ini laporan rekapitulasi stok obat kita untuk bulan ini sudah saya selesaikan," kata Maya meletakkan nampan di meja.
"Terima kasih Maya, letakkan saja di situ, kau boleh ikut menonton televisi bersama kami sebentar," ajak Indah tersenyum ramah.
Maya menatap layar televisi yang sedang menayangkan saluran berita nasional secara langsung.
"Kebetulan sekali, stasiun televisi ini akan menyiarkan konferensi pers dari PT Medika Raya pagi ini," ucap Maya dengan nada yang sengaja dibuat kagum.
"Katanya mereka akan meluncurkan produk obat baru yang sangat revolusioner," tambah Maya memancing reaksi.
Rizky meletakkan cangkir kopinya dan menatap layar televisi itu dengan senyum yang sangat penuh arti.
"Mari kita lihat seberapa revolusionernya produk buatan perusahaan raksasa itu Nona Maya."
Di layar televisi, tayangan langsung dari aula hotel mewah mulai ditampilkan dengan sangat jernih.
Hendra Kusuma terlihat berdiri di atas panggung podium yang megah, dikelilingi oleh puluhan wartawan dan kamera.
Di barisan kursi paling depan, duduk para pejabat tinggi, investor kaya, dan tokoh masyarakat yang diundang khusus.
"Selamat pagi rekan-rekan media dan para tamu kehormatan yang saya cintai," sapa Hendra membuka pidatonya dengan gaya karismatik palsu.
"Hari ini, PT Medika Raya kembali membuktikan dedikasinya untuk kesehatan seluruh masyarakat di negara kita."
Hendra mengangkat sebuah botol obat berwarna emas yang desainnya sangat mirip dengan kemasan milik Bintang Abadi.
"Kami dengan bangga meluncurkan Vitalitas Maxima, suplemen herbal terbaik yang pernah diciptakan di dunia medis modern."
Kamera televisi langsung melakukan zoom in ke arah botol obat tersebut hingga terlihat sangat jelas.
Indah yang menonton dari sofa klinik langsung tertawa pelan melihat kelakuan tidak tahu malu pesaingnya itu.
"Dia benar-benar menyalin semuanya, bahkan desain botolnya pun dibuat sangat mirip dengan produk kita Rizky."
"Itulah sifat asli dari perusahaan serakah Indah, mereka tidak peduli pada inovasi, mereka hanya peduli pada monopoli," balas Rizky tenang.
Di layar televisi, Hendra melanjutkan pidato kebohongannya dengan suara yang semakin lantang.
"Vitalitas Maxima dibuat dari bahan-bahan herbal pilihan dengan teknologi pemanasan suhu tinggi yang sangat rahasia."
"Produk ini dijamin seratus kali lipat lebih berkhasiat dan jauh lebih murah dari produk abal-abal buatan klinik kecil yang sedang viral itu."
Hendra dengan sengaja menyindir Klinik Bintang Abadi di depan jutaan penonton televisi seluruh negeri.
Maya yang berdiri di belakang sofa tersenyum sinis dan menatap punggung Rizky dengan tatapan meremehkan.
"Sebentar lagi bisnis kalian berdua akan hancur lebur dan kalian akan kembali menjadi gembel jalanan," batin Maya merasa sangat menang.
"Untuk membuktikan khasiatnya, saya sudah membagikan sampel Vitalitas Maxima kepada para tamu kehormatan di barisan depan."
Hendra merentangkan tangannya ke arah barisan kursi VVIP di bawah panggungnya.
"Silakan bapak dan ibu mencoba meminumnya sekarang juga, dan rasakan energi murni yang akan mengalir di tubuh Anda semua."
Para pejabat dan investor kaya itu tampak antusias dan langsung membuka botol sampel yang ada di meja mereka.
Mereka mengambil satu butir pil kecokelatan itu dan menelannya bersama air mineral yang sudah disediakan panitia.
Kamera televisi merekam adegan minum massal itu dari berbagai sudut untuk menunjukkan kepercayaan publik.
Hendra tersenyum sangat lebar membayangkan lonjakan harga saham perusahaannya setelah siaran ini berakhir.
Satu menit berlalu dengan sangat normal, para tamu mulai saling mengobrol dan tersenyum.
Dua menit berlalu, beberapa tamu kehormatan mulai mengubah posisi duduk mereka menjadi sedikit tidak nyaman.
Memasuki menit ketiga, sesuatu yang sangat di luar dugaan mulai terjadi secara serempak di barisan depan.