Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: "Aku yang Jaga Dia"
Arkan sedikit menunduk.
Laras menahan napas, tetapi laki-laki itu hanya mengulurkan tangan ke belakang bahunya dan mengambil handuk kecil yang tergantung miring.
"Ini jatuh lagi," katanya.
Ia menggantung handuk itu lebih kuat pada gagang. Laras baru sadar dirinya menghalangi jalan.
"Kamu menunggu cuma untuk itu?"
"Dan teknisi datang jam sebelas. Jangan pergi sebelum dia selesai."
Arkan berjalan menuju dapur seolah kedekatan tadi tidak berarti apa-apa. Laras memandangi punggungnya, setengah lega dan setengah kecewa pada harapannya sendiri.
Teknisi menyelesaikan shower serta mengganti bagian pengunci sebelum tengah hari. Setelah itu, Laras pergi menemui Kirana untuk makan siang. Arkan menawarkan mengantar karena ia harus berangkat ke bandara setelahnya.
Begitu Arkan masuk ke restoran untuk berpamitan, Kirana yang selama ini hanya mengenalnya dari berita internal dan cerita orang langsung kehilangan kemampuan berbicara selama tiga detik.
"Kirana," kata Laras, "ini Arkan."
"Aku tahu," jawab Kirana terlalu cepat. Ia berdiri dan menjabat tangan dengan sopan. "Maksudku, senang bertemu, Kapten."
"Arkan saja. Kamu temannya Laras."
Kirana mengangguk, tetapi setelah Arkan pergi ke kasir untuk membayar minuman Laras, ia mencengkeram lengan sahabatnya.
"Dia benar-benar seperti itu setiap hari?"
"Seperti apa?"
"Dingin, rapi, lalu diam-diam bayar punyamu." Kirana berbisik, "Yang mengejar dia sebanyak itu, tapi dia malah menikah sama kamu. Kamu beruntung banget, Ras."
Laras tersenyum tipis. "Aku tahu aku beruntung. Tapi bukan berarti aku lebih rendah dari dia."
Kirana langsung mengangkat tangan. "Benar. Salah pilih kata. Maksudku, kalian sama-sama beruntung. Dia cuma belum sadar bagiannya."
Arkan kembali sebelum Laras sempat menjawab. Ia meletakkan struk di meja, lalu menatap jam.
"Aku berangkat."
"Hati-hati," kata Laras.
Arkan mengangguk. Tangannya sempat terangkat seolah hendak menyentuh kepala Laras, tetapi berhenti karena Kirana ada di depan mereka. Pada akhirnya ia hanya merapikan ujung kerah Laras yang terlipat.
"Kabari kalau sudah pulang."
Ia baru berjalan dua langkah ketika ponsel Laras berdering. Nama Darmawan muncul di layar.
Senyum Laras menghilang.
Arkan berhenti.
"Siapa?"
"Nggak apa-apa."
Laras berniat menolak panggilan, tetapi Darmawan menelepon lagi. Kirana melihat perubahan wajahnya dan berdiri.
"Aku pesan makanan dulu," katanya, memberi ruang.
Laras mengangkat telepon. "Ada apa, Pak Darmawan?"
"Kamu sekarang memanggil ayahmu sendiri Pak?"
"Kalau hanya mau membahas panggilan, saya tutup."
"Tunggu." Darmawan menahan napas. "Kamu harus mengajukan mutasi dari bagian approach. Cari posisi yang nggak berhubungan langsung dengan penerbangan Angkasa Nusantara."
Laras mengira ia salah dengar. "Kenapa?"
"Pernikahanmu sudah menimbulkan omongan. Tiara juga bekerja di Angkasa. Jangan bikin keadaan tambah rumit."
"Apa hubungan pekerjaan saya dengan Tiara?"
"Vania bilang kamu sengaja memakai posisi itu untuk mendekati Kapten Arkan. Sekarang kalian menikah mendadak. Orang bisa menilai ada konflik kepentingan."
Luka lama di reuni seakan terbuka lagi. Bahkan setelah Laras membangun karier dengan ujian, pelatihan, dan ribuan jam konsentrasi, Vania masih bisa mengubahnya menjadi perempuan yang dianggap mengejar laki-laki.
"Pekerjaan saya ada jauh sebelum pernikahan ini," katanya. Suaranya menjadi lebih pelan dan formal. "Penugasan saya ditentukan kompetensi dan roster, bukan siapa suami saya."
"Jangan keras kepala. Papa kenal orang di kementerian dan manajemen. Kalau kamu mengajukan sendiri, semuanya bisa selesai baik-baik."
"Kalau saya menolak?"
"Jangan paksa Papa membuat laporan soal kondisi emosimu. Cerita di reuni itu cukup untuk membuat orang bertanya apakah kamu layak mengendalikan traffic."
Mata Laras terasa panas.
Ia tidak menangis karena percaya ancaman itu akan berhasil. AirNav punya penilaian, rekaman, pemeriksaan kesehatan, dan prosedur resmi. Ia menangis karena ayah kandungnya sendiri bersedia memakai luka yang diciptakan keluarga itu untuk menyerang satu-satunya hal yang Laras bangun tanpa bantuan mereka.
Arkan mengambil ponsel dari tangannya.
"Pak Darmawan," katanya dingin.
"Siapa ini?"
"Arkananta Wibisana. Saya dan Laras sudah menikah."
Di ujung sana langsung sunyi.
"Kapten Arkan, ini urusan keluarga kami."
"Laras istri saya. Jadi ketika Anda mengancam pekerjaannya, ini juga urusan saya."
"Saya cuma mau mencegah masalah antara dua anak saya."
"Caranya dengan memaksa satu anak kehilangan posisi agar anak yang lain merasa nyaman?"
Darmawan tidak menjawab.
Arkan melanjutkan, suaranya semakin tenang. "Kalau Anda punya keluhan profesional, kirim lewat jalur resmi dan sertakan dasar. Semua komunikasi ini akan kami simpan. Kalau Anda memakai koneksi untuk menekan penilaian Laras, kami juga akan menempuh prosedur resmi."
"Anda belum tahu semua cerita tentang dia dan ibunya."
"Saya tahu cukup untuk memilih Laras sebagai istri. Mama saya juga menyukainya. Menurut Mama, menikahi Laras mungkin keputusan paling benar yang pernah saya buat."
Arkan berhenti sesaat. Ia jarang membawa nama Ratna ke dalam konflik. Namun, Darmawan mengenal posisi keluarga Wibisana dan memahami bahwa ancaman terhadap Laras tidak lagi bisa dilakukan tanpa saksi.
"Mulai sekarang," kata Arkan, "saya dan keluarga Wibisana yang jaga dia. Jangan hubungi Laras untuk mengancam pekerjaannya lagi."
Darmawan akhirnya berkata bahwa ia hanya memberi saran, lalu menutup telepon.
Arkan mengembalikan ponsel. Air mata sudah jatuh di pipi Laras, tetapi perempuan itu langsung menghapusnya dengan punggung tangan.
"Aku nggak takut dia bisa memindahkanku," katanya. "Aku cuma..."
"Aku tahu."
"Kamu harus ke bandara."
Arkan mengusap sisa air mata di bawah mata Laras dengan ibu jari, lalu menepuk pelan puncak kepalanya.
"Jangan takut. Kalau ada telepon seperti itu lagi, rekam waktunya dan bilang ke aku. Kamu tetap hadapi urusan kerjamu lewat prosedur. Yang aku hentikan cuma orang yang mengganggumu dari luar."
Untuk pertama kalinya sejak akad, Laras benar-benar merasa pernikahan ini bukan sekadar dua orang yang sepakat mencoba. Arkan berdiri di sisinya tanpa merebut suaranya, melindungi tanpa mengatakan Laras lemah.
Kirana kembali membawa dua gelas air dan langsung berhenti ketika melihat mata Laras. Ia tidak bertanya di depan Arkan. Ia hanya menarik kursi dan menyodorkan tisu.
"Aku harus pergi," kata Arkan. Tatapannya tetap pada Laras. "Telepon kalau ada apa-apa."
"Aku akan temani dia," ujar Kirana.
Arkan mengangguk kepadanya. Baru setelah Laras mengulang bahwa dirinya baik-baik saja, ia berbalik menuju pintu restoran.
Begitu Arkan pergi, Kirana meraih tangan Laras. "Itu ayahmu?"
Laras menceritakan ancaman mutasi dengan suara yang masih sesekali terputus. Kirana tidak memberi nasihat kosong. Sebagai sesama controller, ia menyebut jalur yang benar: simpan riwayat panggilan, laporkan bila ada tekanan eksternal nyata, dan jangan menandatangani permohonan apa pun dalam keadaan terdesak.
"Koneksi mereka nggak bisa menghapus rekaman kompetensimu," kata Kirana. "Dan kamu nggak sendirian."
Kalimat itu menguatkan hal yang baru saja ditunjukkan Arkan.
Malamnya, setelah tiba di titik positioning dan masuk waktu istirahat, Arkan mengirim pesan.
Arkan:
Sudah pulang?
Laras:
Sudah. Kirana antar sampai depan.
Arkan:
Pak Darmawan telepon lagi?
Laras:
Nggak. Aku simpan riwayat panggilannya.
Arkan:
Bagus. Jangan hapus.
Selama empat hari berikutnya, pesan mereka tidak panjang, tetapi datang teratur. Arkan mengabari setelah positioning, sebelum memasuki waktu istirahat, dan setelah tugas selesai. Laras mengirim jadwal sif serta foto teknisi yang sudah memperbaiki shower. Tidak ada kata rindu di antara mereka. Namun, setiap kali layar ponselnya menyala, rumah yang ditempati Laras sendirian terasa sedikit kurang kosong.
Pada malam sebelum penerbangan pulang, Arkan hanya menulis dua kata.
Arkan:
Besok pulang.
Laras membaca pesan itu sebelum masuk ruang kendali dan menyimpan senyum di balik cangkir kopi.
Empat hari kemudian, dini hari menyelimuti ruang Jakarta Approach dengan cahaya radar yang dingin.
Laras duduk di posisi aktif. Ia sudah mengikuti perjalanan pulang Arkan hanya melalui jadwal bersama, tanpa membuka Flightradar24 selama bekerja. Ketika callsign Nusantara 3896 muncul di batas sektor, ia mengenali suara suaminya tetapi tetap memusatkan mata pada gambar traffic.
Di depan Nusantara 3896, Samudera 712 sudah diberi instruksi mempertahankan 180 knot hingga titik tertentu. Namun, kecepatannya turun terlalu awal menjadi sekitar 150 knot. Jarak dengan Nusantara di belakang menyusut lebih cepat daripada perencanaan.
Laras meminta konfirmasi.
"Samudera 712, konfirmasi mampu mempertahankan kecepatan 180 knot?"
"Tidak mampu. Karena konfigurasi pesawat, kami memerlukan kecepatan 150 knot, Samudera 712."
Laras menandai ketidakmampuan itu pada strip. Kecepatan 150 knot kini menjadi batas konfigurasi yang dinyatakan pilot, bukan sekadar keterlambatan menjalankan instruksi.
Pilihan berubah. Jika Samudera dipertahankan di depan, Laras harus memperlambat rangkaian pesawat di belakang dan berisiko membuat jarak berikutnya ikut tidak stabil. Nusantara 3896 masih sesuai profil, mampu mempertahankan kecepatan, dan punya ruang untuk melanjutkan.
Keputusan itu bukan tentang siapa yang menerbangkan pesawat. Data di layar akan menghasilkan keputusan sama untuk callsign mana pun.
"Samudera 712, belok kiri heading 180, pertahankan 4.000 kaki. Panduan radar akan diberikan untuk masuk kembali ke urutan."
Ada jeda sebelum pilot membaca ulang.
"Belok kiri heading 180, pertahankan 4.000 kaki, Samudera 712."
Laras lalu memberi Nusantara 3896 vector menuju localizer.
"Nusantara 3896, belok kanan heading 240, diizinkan melakukan pendekatan ILS runway 25R."
"Belok kanan heading 240, diizinkan melakukan pendekatan ILS runway 25R, Nusantara 3896."
Suara Arkan tenang. Tidak ada tanda ia mengetahui pesawat di depannya baru saja dikeluarkan dari urutan karena gagal menjaga kecepatan.
Namun, pilot Samudera 712 rupanya tidak menerima keputusan itu dengan tenang.
Sebelum Laras sempat memberikan vector berikutnya, suara laki-laki tersebut masuk lagi ke frekuensi.
"Approach, kenapa dia duluan? Ini nggak adil."