Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Pukul 09.58, Alexander sudah berdiri di depan meja penggugat.
Laura Santoso juga sudah berdiri.
Tidak ada pemanasan.
"Majelis Hakim," suara Laura tajam, "sebelum pihak penggugat menyampaikan argumen penutup, kami keberatan terhadap cara mereka membangun perkara ini. Sejak awal, gugatan ini bukan gugatan ketenagakerjaan yang murni. Ini adalah simpati publik yang dipaksa memakai baju hukum."
Ruang sidang Pengadilan Hubungan Industrial di lingkungan Pengadilan Negeri Kota Cahaya langsung hening.
Di bangku belakang, puluhan pengemudi MakanYuk duduk rapat. Beberapa wartawan dari surat kabar kota dan portal berita hukum menulis cepat di buku catatan mereka. Tidak ada suara gaduh. Hanya pena, napas, dan kursi kayu yang menahan tubuh-tubuh lelah.
Alexander belum tidur lebih dari dua jam.
Tapi begitu Laura menyerang, kantuknya hilang.
Laura mengangkat satu bundel berkas. "Para saksi pengemudi memberi keterangan yang tidak seragam. Ada yang bekerja empat jam sehari, ada yang dua belas jam. Ada yang menerima pesanan banyak, ada yang sedikit. Ada yang pernah menerima insentif, ada yang tidak. Bagaimana mungkin kondisi yang berbeda-beda ini dipaksa menjadi satu gugatan kolektif?"
Ia menoleh ke arah bangku penggugat.
"Lebih jauh, sebagian pengemudi telah menerima tawaran penyelesaian individual. Itu menunjukkan mereka memahami hubungan mereka dengan perusahaan bersifat kemitraan bebas, bukan hubungan kerja."
Rafi, yang duduk dua baris di belakang Anwar, mengepalkan tangan. Wajahnya pucat. Alexander melihatnya sekilas, lalu menggeleng sangat kecil.
Jangan terpancing.
Laura belum selesai.
"Pihak penggugat juga terus mengaitkan perkara ini dengan putusan pidana terhadap Robert Salim dan Suster Melly Chandra. Padahal perkara pidana itu belum berkekuatan hukum tetap, dan lebih penting lagi, tidak membuktikan status ketenagakerjaan para pengemudi. Kami meminta majelis mengabaikan dramatisasi yang tidak relevan."
Gunawan Kusuma duduk di kursi pendamping. Tangannya tidak bergerak, tetapi matanya tertuju pada Alexander.
Ini serangan terakhir.
Kalau Alexander menjawab dengan marah, MakanYuk akan menang di wilayah kesan.
Kalau ia menjawab terlalu akademik, para pengemudi akan tenggelam dalam istilah.
Ketua majelis memandang ke meja penggugat. "Saudara kuasa penggugat, silakan."
Alexander berdiri.
Mapnya hanya satu.
Ia tidak membawa semua kertas ke mimbar. Ia membawa yang perlu menang.
"Yang Mulia, pihak tergugat benar dalam satu hal. Para pengemudi ini tidak identik."
Laura menoleh cepat.
Beberapa pengemudi ikut terkejut.
Alexander melanjutkan sebelum ruang sidang sempat bergeser.
"Ada yang bekerja empat jam, ada yang dua belas jam. Ada yang mendapat banyak pesanan, ada yang sedikit. Ada yang pernah memperoleh insentif, ada yang tidak. Tetapi gugatan ini tidak pernah meminta majelis menyatakan hidup mereka identik. Gugatan ini meminta majelis melihat satu pola yang sama: perusahaan mengatur cara kerja mereka, memberi sanksi ketika aturan itu dilanggar, mengambil manfaat ekonomi dari tenaga mereka, lalu menolak perlindungan ketika risiko muncul."
Ia membuka halaman pertama.
"Label dalam kontrak menyebut mereka mitra. Tetapi sistem operasional menentukan tarif, menentukan wilayah pesanan, menentukan batas pembatalan, menentukan penilaian performa, menentukan sanksi penonaktifan, dan menentukan siapa yang bisa bekerja esok hari."
Alexander mengangkat satu lembar rekap.
"Ini bukan kata-kata saksi. Ini data order, notifikasi sanksi, salinan klausul kontrak, dan tangkapan layar kebijakan operasional yang telah diajukan sebagai bukti."
Laura berdiri. "Keberatan, Yang Mulia. Pihak penggugat menyederhanakan hubungan platform digital menjadi hubungan kerja konvensional."
"Dicatat," kata ketua majelis. "Silakan lanjut, Saudara Alexander."
Alexander menatap majelis, bukan Laura.
"Hukum tidak membaca judul kontrak saja. Hukum membaca kenyataan yang dikunci di balik kontrak."
Kalimat itu jatuh pendek, keras, dan bersih.
Di bangku belakang, seorang wartawan berhenti menulis selama satu detik, lalu menunduk lebih cepat.
Alexander membuka halaman kedua.
"Pihak tergugat mengatakan adanya tawaran penyelesaian individual membuktikan kemitraan bebas. Kami justru melihat sebaliknya. Setelah saksi-saksi mulai ragu karena tekanan ekonomi, muncul tawaran Rp 7.500.000 kepada pengemudi tertentu agar menarik diri dari gugatan. Angka itu tidak datang sebagai pengakuan hak. Angka itu datang sebagai cara memecah barisan."
Rafi menunduk. Anwar menyentuh bahunya.
"Kami tidak meminta majelis menghukum perusahaan karena menawarkan perdamaian. Perdamaian sah jika dilakukan dengan posisi setara. Tetapi dalam perkara ini, tawaran muncul ketika sebagian pengemudi tidak punya uang untuk membeli obat anaknya, membayar kontrakan, atau memperbaiki motor yang dipakai bekerja untuk perusahaan yang sama."
Laura hendak berdiri lagi.
Ketua majelis mengangkat tangan lebih dulu. "Saudara tergugat akan mendapat kesempatan dalam duplik singkat bila perlu. Lanjutkan."
Alexander membalik halaman ketiga.
"Terkait perkara pidana Robert Salim dan Suster Melly Chandra, kami tidak meminta majelis menjadikannya satu-satunya dasar putusan ketenagakerjaan. Kami paham batasnya. Putusan pidana tingkat pertama masih dapat ditempuh upaya hukum."
Ia berhenti setengah detik.
"Tetapi fakta bahwa kekerasan dan upaya membungkam terjadi setelah para pengemudi memperjuangkan haknya menunjukkan konteks tekanan yang menyelimuti perkara ini. Ia bukan dasar tunggal. Ia adalah cermin yang memperlihatkan betapa berat risiko yang ditanggung orang-orang di belakang gugatan ini."
Tidak ada nada menangis dalam suaranya.
Justru karena itu, kalimatnya lebih tajam.
Alexander menunjuk bundel kesaksian.
"Puluhan pengemudi datang ke persidangan ini setelah bertahun-tahun diberi perintah seperti pekerja, diawasi seperti pekerja, dan dihukum seperti pekerja. Saat kecelakaan, sakit, dan kematian datang, mereka disebut mitra yang menanggung semuanya sendiri."
Yanti Halim, yang duduk di samping Anwar, menggenggam ujung tasnya kuat-kuat.
Alexander mengambil napas.
"Yang Mulia, Anwar Halim tidak meminta perusahaan membayar kesedihannya. Kesedihan tidak bisa dihitung. Para pengemudi tidak meminta majelis mengubah teknologi menjadi musuh. Mereka meminta satu hal yang sangat sederhana: jangan biarkan kata 'mitra' dipakai sebagai pagar untuk mengusir tanggung jawab."
Laura menatap meja. Hari itu, baru kali ini ia tidak segera memotong.
Alexander menutup mapnya.
"Karena itu, kami memohon majelis menyatakan adanya hubungan kerja yang terselubung antara MakanYuk dan para pengemudi penggugat dalam unsur-unsur pengendalian yang terbukti; memerintahkan pembayaran ganti rugi kolektif sesuai perhitungan yang telah diajukan; memerintahkan pemulihan hak perlindungan kerja yang relevan; dan menyatakan penonaktifan sepihak terhadap pengemudi yang ikut menggugat sebagai perbuatan yang tidak dapat dibenarkan."
Ia menatap majelis satu per satu.
"Mereka tidak selalu benar. Namun perusahaan yang kuat tidak boleh selalu kebal."
Sunyi.
Sunyi itu bukan kosong.
Sunyi itu seperti palu yang belum diketuk.
Di sisi meja, Gunawan menunduk sedikit. Bukan untuk menyembunyikan wajah. Untuk menyembunyikan senyum.
Panel Status muncul di tepi pandangan Alexander.
Ting!
Debat Persidangan mencapai performa puncak Jilid 1.
Ting!
Level meningkat: Lv13 Advokat Pemula.
Alexander tetap berdiri tegak. Tidak ada satu pun orang di ruang sidang yang tahu dadanya baru saja seperti dihantam lonceng.
Ketua majelis berunding singkat dengan dua hakim anggota. Lalu ia kembali menatap ruang sidang.
"Majelis telah mencatat argumen penutup para pihak. Putusan akan dibacakan lusa, pukul sepuluh pagi, di ruang sidang ini."
Bisik-bisik pecah pelan di belakang.
Anwar memejamkan mata.
Yanti menunduk.
Rafi menarik napas seperti orang yang baru keluar dari air.
Alexander duduk.
Tangannya baru terasa gemetar setelah semuanya selesai.
Gunawan menyodorkan botol air tanpa melihatnya. "Minum."
Alexander menerimanya. "Bagaimana tadi, Pak?"
Gunawan menatap ruang sidang yang mulai bergerak.
"Kalau kau menulis argumen itu minggu depan, mungkin bagus."
Alexander menoleh.
Gunawan tersenyum tipis.
"Karena kau menulisnya untuk besok, itu berbahaya."
Di depan, palu hakim sudah tidak bergerak.
Tetapi dua hari lagi, palu itu akan menentukan apakah ribuan kilometer jalanan yang ditempuh para pengemudi hanya dianggap debu di bawah ban, atau akhirnya dihitung sebagai kerja manusia.
Alexander menutup botol air.
Kali ini, ia tidak ingin tidur.
Ia ingin menunggu palu jatuh.