NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Patah Hati di Garis Depan

☘️ FLASHBACK

Udara pagi di wilayah pedalaman terasa dingin dan lembap, diselimuti kabut tipis yang perlahan menghilang diterpa sinar matahari yang baru naik.

Di sebuah pos pengawasan sementara yang dibangun sederhana dari kayu dan seng, Zehar sedang melaksanakan tugas operasi pengamanan wilayah bersama rekan‑rekannya.

Sebagai taruna yang sudah memasuki tahap pelatihan lapangan, ia harus siap siaga setiap saat, menjalani pengawasan rutin, patroli, dan pencatatan kondisi lingkungan sekitar selama tiga minggu berturut‑turut tanpa kesempatan pulang atau beristirahat lebih lama.

Setelah menyelesaikan tugas patroli pagi itu, ia mendapat giliran menjaga pos komunikasi yang satu‑satunya terhubung dengan jaringan luar.

Sebelum melanjutkan tugas berikutnya, ia membuka pesan masuk di ponselnya yang baru saja mendapatkan sinyal.

Jantungnya berdebar kencang, berharap ada kabar dari Alesha, kabar yang sudah sangat ia nantikan mengingat komunikasi mereka yang semakin jarang dan sering terputus.

Namun begitu matanya membaca baris demi baris tulisan di layar, seolah ada batu besar yang menghantam dadanya secara tiba‑tiba.

“…hubungan kita sebaiknya diakhiri saja mulai hari ini. Anggap saja semua janji dan kenangan kita sebagai pengalaman berharga yang telah berlalu. Semoga kamu bahagia dan sukses selalu. Jangan hubungi aku lagi mulai sekarang.”

Zehar terpaku tak bergerak. Tangannya menggenggam ponsel itu semakin erat, hingga buku‑buku jarinya memutih karena tekanan.

Ia membaca pesan itu berulang kali, berharap itu hanya kesalahan ketik, atau pesan yang salah terkirim, atau sekadar mimpi buruk yang akan segera hilang begitu ia mengedipkan mata.

Namun kata‑kata itu tetap sama, tegas dan tak menyisakan ruang untuk bertanya lebih lanjut.

“Kamu baik‑baik saja, Zehar?” tanya salah satu rekan kerjanya, melihat raut wajahnya yang berubah pucat dan matanya terlihat kosong menatap layar.

Zehar menggeleng perlahan, mencoba mengatur napas yang tiba‑tiba terasa sesak.

“Tidak ada apa‑apa… hanya kabar dari rumah saja,” jawabnya dengan suara yang terdengar berat dan serak, berusaha menyembunyikan gejolak hatinya agar tidak mengganggu tugas bersama.

Namun setelah rekan itu pergi, ia duduk bersandar di dinding pos, membiarkan rasa sakit itu meluap perlahan.

Selama ini, meski terpisah jarak ribuan kilometer dan sering terlibat kesalahpahaman, ia tetap memegang teguh keyakinan bahwa hubungan mereka akan tetap bertahan.

Ia tahu Alesha gadis yang setia, kuat, dan tidak akan mudah melepaskan apa yang telah mereka bangun selama bertahun‑tahun.

Pesan ini terasa begitu tiba‑tiba, tanpa penjelasan yang jelas, seolah semua perjuangan dan janji mereka tidak ada artinya lagi.

“Alasan sepele… terpisah jarak dan jalan hidup berbeda?” gumamnya lirih, matanya berkaca‑kaca namun ia berusaha menahan air mata agar tidak jatuh.

“Ini tidak mungkin. Alesha bukan orang yang mengambil keputusan sebesar ini hanya karena alasan itu saja. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku.”

Di dalam hatinya, rasa patah hati bercampur dengan rasa curiga dan kekhawatiran. Ia mengenal Alesha jauh lebih baik daripada dirinya sendiri.

Jika memang ada masalah, gadis itu biasanya akan berusaha berbicara, atau menjelaskan dengan alasan yang dapat diterima.

Namun kali ini semuanya tertutup rapat, seolah ingin memutuskan hubungan tanpa memberi kesempatan untuk dimengerti.

Sejak saat itu, Zehar terlihat lebih pendiam dari biasanya.

Di waktu luang, ia tidak lagi membayangkan pertemuan mereka nanti atau menulis pesan panjang untuk dikirim.

Ia lebih sering menyendiri, memikirkan kemungkinan‑kemungkinan yang membuat Alesha mengambil langkah seberat ini.

Apakah ada masalah keluarga yang sempat selintas hampir diceritakan?

Apakah dia tertekan oleh keadaan yang tidak diketahui?

Atau justru ada hal lain yang memaksanya untuk berpura‑pura membenci atau melepaskan?

Namun di tengah rasa sakit yang melilit itu, Zehar sadar satu hal, jika ia larut dalam kesedihan, ia hanya akan menyia‑nyiakan semua perjuangannya selama ini.

Ia baru memulai jalan sebagai polisi, memiliki tanggung jawab besar yang harus dijalankan, dan ia tidak ingin kegagalan dalam hubungan membuatnya gagal dalam kariernya pula.

Maka, dengan tekad yang kuat, ia memutuskan untuk menyalurkan seluruh rasa sakit dan energinya ke hal yang lebih bermanfaat, yaitu fokus sepenuhnya pada pendidikan dan tugasnya.

“Kalau memang dia ingin aku sukses dan maju, seperti yang tertulis dalam pesannya, maka itulah yang akan aku lakukan,” ucapnya pada dirinya sendiri dengan nada tegas.

“Aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi orang yang dicita‑citakan."

"... sekaligus mencari tahu kebenaran di balik semua ini.”

Sejak hari itu, Zehar berubah menjadi taruna yang lebih gigih dan berprestasi.

Dalam latihan fisik yang berat, ia selalu menjadi yang terdepan, tidak pernah mengeluh meski tubuhnya lelah hingga tulang terasa nyeri.

Dalam pelajaran teori, ia mencatat setiap materi dengan teliti, menghafal aturan hukum dan prosedur tugas hingga benar‑benar menguasainya.

Komandan pelatihan dan sesama taruna mengakui perubahannya beberapa hari ini, ia terlihat lebih tegas, tenang, dan penuh kendali, seolah tidak ada masalah pribadi yang mengganggu pikirannya.

Padahal, setiap malam sebelum tidur, ia masih teringat akan kenangan mereka, teringat senyum dan suara Alesha, namun ia segera menepisnya dan kembali memantapkan hati.

Sambil fokus melatih diri, Zehar juga diam‑diam mencari cara untuk mengetahui kabar di kota tempat Alesha tinggal.

Mengingat keterbatasan akses dan aturan yang ketat, ia tidak bisa pergi sendiri atau memeriksa langsung. Ia mulai menghubungi teman‑teman lama yang masih berada di ibu kota, meminta tolong untuk mengamati keadaan keluarga Alesha tanpa menarik perhatian.

Ia tidak ingin bertanya secara terang‑terangan agar tidak mempermalukan atau mengganggu kehidupan mereka, namun ia ingin memastikan apakah ada perubahan besar yang terjadi selama ia pergi.

“Tolong pantau saja secara diam‑diam,” pesannya kepada salah satu temannya lewat pesan singkat.

“Lihat apakah keluarga mereka masih tinggal di tempat yang sama, apakah ada masalah atau perubahan keadaan yang mencolok. Jangan sampai diketahui oleh siapa pun, apalagi oleh Alesha sendiri. Aku hanya ingin memastikan dia baik‑baik saja.”

Setiap kali mendapat balasan yang mengatakan bahwa sekilas terlihat seperti biasa saja, Zehar tetap tidak percaya sepenuhnya.

Ia tahu Alesha pandai menyembunyikan kesedihan dan beban di balik senyumnya.

“Jika dia memang bahagia dan hidup tenang, maka keputusannya akan lebih masuk akal. Tapi jika ada sesuatu yang ditutupi, suatu saat nanti kebenaran itu akan terungkap juga,” pikirnya.

Hari‑hari berlalu dengan pola yang sama, pagi hingga malam diisi dengan tugas dan latihan yang menguras tenaga, waktu istirahat digunakan untuk memikirkan rencana masa depan dan menunggu kabar dari teman‑temannya.

Rasa sakit karena putus cinta perlahan berubah menjadi semangat yang membara untuk membuktikan kemampuan dirinya.

Ia sadar, meski hubungan mereka kini terputus secara resmi, rasa sayang dan rasa ingin tahu itu belum hilang begitu saja.

Ia ingin menjadi seseorang yang kuat, agar suatu hari nanti jika kesempatan datang, ia bisa berdiri dengan kepala tegak dan bertanya langsung kepada Alesha, apa alasan sebenarnya di balik keputusan itu.

Di akhir masa operasi tiga minggu itu, saat ia kembali ke asrama dengan membawa nilai tugas yang sangat memuaskan, Zehar merasa ada kekuatan baru dalam dirinya.

Patah hati tidak membuatnya hancur, melainkan mengasah keteguhan hatinya.

Ia terus melanjutkan pendidikan dengan catatan terbaik, menjadi contoh bagi rekan‑rekannya, dan mulai diperhitungkan oleh para pengajar sebagai calon perwira masa depan yang andal.

1
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
Rosella
emosian lngsung pas baca bab ini
Rani: sabar😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!