Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 – Ujian Penempatan
Pagi pertama di Akademi Aetherion dimulai dengan suara lonceng raksasa yang menggema di menara tinggi. Dentingannya terdengar hingga ke seluruh penjuru akademi. Ketiga kali lonceng itu berbunyi, para murid baru yang semalam masih sibuk membereskan kamar mereka kini berhamburan keluar menuju lapangan utama.
Udara pagi masih terasa sangat sejuk, kabut tipis juga masih menyelimuti halaman akademi yang dikelilingi oleh bangunan batu putih dan taman bunga berwarna-warni. Aurelia berdiri di depan asrama putri seraya membawa tas kecil di bahunya, matanya sibuk memandangi sekelilingnya, karena semua yang ada disana masih terasa asing bagi dirinya.
“Aurelia.” Lyra melambaikan tangan dari kejauhan. Pagi itu, gadis berambut merah muda tersebut mengenakan jubah abu-abu dengan pita biru di rambutnya, dan ia terlihat tengah berlari menghampiri Aurelia. “Untung ketemu, aku kira aku bakal nyasar.” Ucapnya seraya terkekeh.
“Aku juga sama.” Timpal Aurelia yang juga tertawa kecil.
Kini, keduanya pun berjalan bersama menuju lapangan utama. Di sepanjang perjalanan, para murid dari berbagai daerah saling memperkenalkan diri. Ada yang berasal dari Negeri Es di Utara, ada yang datang dari Kepulauan Angin, bahkan ada juga murid yang berasal dari gurun selatan yang membawa seekor rubah pasir kecil di bahunya.
Melihat murid dari berbagai benua dan melihat mereka tampak memiliki sesuatu istimewa membuat Aurelia berkecil hati, ia mulai merasa bahwa dirinya tidak istimewa dan tidak memiliki sesuatu yang berharga.
Lapangan utama telah dipenuhi hampir seribu murid baru. Ditengah lapangan berdiri lima buah kristal raksasa yang memancarkan warna berbeda, kristal tersebut berwarna merah, biru, hijau, ungu dan putih.
Seorang professor tua melangkah ke depan dengan jubah panjangnya yang menyapu lantai, rambut putihnya terlihat di ikat rapi dibelakang dan tatapannya sangat tajam meski wajahnya telah keriput.
“Aku professor Cedric. Mulai hari ini aku bertanggung jawab atas ujian penempatan kalian.” Ucapnya yang membuat suasana disana mendadak hening.
Cedric mulai mengangkat tongkat sihirnya, lalu kelima kristal itu perlahan melayang ke udara.
“Setiap murid akan menyentuh setiap kristal tersebut, kristal itu akan membaca elemen sihir dan tingkat bakat kalian berada dilevel berapa. Setelah itu, kalian akan ditempatkan di kelas masing-masing.” Terang Cedric.
Beberapa murid disana mulai saling berbisik, sebagian tampak terlihat percaya diri, dan ada juga yang terlihat gugup, sedangkan Aurelia hanya mampu menelan air liurnya, semua itu karena dirinya bahkan tidak tahu elemen sihirnya sendiri.
Kemudian, satu per satu murid mulai dipanggil ke depan dan murid yang dipanggil itu segera di minta untuk menyentuh kristal-kristal tersebut tanpa mengulur waktu sedikit pun. Saat mereka mulai menyentuh kristal, cahaya berwarna muncul sesuai dengan elemen yang mereka miliki.
“Api.”
“Air.”
“Angin.”
“Tanah. Hasilnya hampir sama seperti yang diperkirakan.” Ucap Cedric saat mendikte murid yang tengah menyentuh kristal tersebut.
Sesekali tepuk tangan terdengar setiap kali murid usai menyentuh kristal raksasa disana. Lyra mendapat elemen bunga dan penyembuhan, ia langsung melompat kegirangan usai mengetahui hasilnya.
“Aurelia.” Teriaknya dengan nada riang. “Aku masuk ke Divisi Penyembuh.” Sambungnya dengan wajah yang benar-benar bahagia.
“Selamat ya.” Aurelia tersenyum tulus atas kemampuan yang dimiliki oleh Lyra. Namun senyumnya perlahan hilang ketika namanya dipanggil.
“Aurelia Evandria.” Suasana pun mendadak sunyi.
Usai namanya dipanggil, Aurelia lekas melangkah perlahan untuk maju menuju kristal putih di tengah lapangan. Jantungnya berdetak semakin cepat, dan tangannya sedikit gemetar. Ia takut bahwa ia tidak memiliki elemen yang istimewa seperti murid yang lain.
“Sentuh kristalnya.” Suara Profesor Cedric terdengar tenang dan Aurelia mengangguk pelan. Perlahan ia meletakkan tangannya di permukaan kristal, awalnya tidak terjadi apa-apa, namun sebuah bisikkan pun mulai terdengar.
“Mungkin sihirnya lemah.”
“Aneh sekali dia.”
Beberapa menit kemudian tiba-tiba seluruh lapangan dipenuhi cahaya putih yang sangat menyilaukan, angin kencang berhembus dari arah kristal berada, rambut Aurelia terkibas, gaunnya pun ikut melambai mengikuti angin.
Kristal putih itu mulai bergetar, sebuah retakan kecil mulai bermunculan di seluruh permukaan kristal tersebut dan Profesor Cedric langsung membelalakkan kedua matanya melihat kejadian yang berada dihadapannya saat ini.
“Tidak mungkin…” Kalimat Cedric menggantung kala melihat cahaya dari kristal itu semakin membesar. Bahkan empat kristal lainnya juga ikut bereaksi, kristal merah, biru, hijau, ungu, semuanya benar-benar menyala secara bersamaan dan para murid pun mundur ketakutan.
“Apa yang terjadi?” Tanya salah seorang murid.
“Kenapa ini? Apa dia menggunakan mantra?” Kata murid lainnya yang tampak panik.
“Aku tidak merasakan mantra apapun.”
Para murid semakin gusar saat melihat cahaya itu semakin lama semakin besar, detik berikutnya terjadi sebuah ledakan cahaya yang memenuhi seluruh lapangan. Kristal putih pecah menjadi ribuan serpihan kecil. Semua orang terdiam kaku dan tidak berani untuk bergerak, sedangkan Aurelia sendiri tampak tengah menatapi kedua tangannya dengan bingung.
“Aku…” Aurelia menggantung. “… aku tidak melakukan apa-apa…” Sambungnya yang merasa ketakutan.
Di balkon gedung utama, Kepala Akademi perlahan berdiri, tatapannya sulit di artikan. Di sampingnya, pemuda bermata abu-abu itu ikut memandangi ke arah lapangan, ekspresi yang biasanya tenang pun berubah menjadi serius.
“Bangkit lebih cepat dari perkiraan.” Pria bermata abu-abu itu bergumam dan membuat Kepala Akademi mengangguk pelan.
“Kau benar. Dia benar-benar pewaris itu.” Sahut Kepala Akademi dan membuat pria bermata abu itu mengepalkan tangannya, tatapannya juga tidak pernah ia lepas dari Aurelia.
“Aku harus menjaganya.” Begitulah tekadnya saat ini.
Di bawah, Profesor Cedric masih memandangi pecahan kristal, tangannya sedikit gemetar, karena selama lebih dari enam puluh tahun mengajar di Aetherion, baru kali ini ia melihat kristal pengukur sihir hancur, ia pun menarik napas panjang sebelum akhirnya menatap ke arah Aurelia.
“Gadis muda. Apa elemen sihirmu?” Aurelia hanya menggeleng pelan, karena dia sendiri juga tidak tahu.
“Aku tidak tahu.” Cedric menatapnya beberapa detik, lalu memejamkan kedua matanya.
“Kalau begitu, mulai hari ini kau akan ditempatkan di kelas khusus.” Mendengar pernyataan Cedric membuat seluruh murid langsung ricuh.
“Kelas khusus? Itu kelas elit.” Pungkas salah seorang murid yang mendengar pernyataan Cedric.
“Hanya murid berbakat yang bisa masuk sana.” Timpal murid lainnya.
Lyra ikut terkejut, namun ia juga tetap tersenyum bangga bahwa teman pertamanya itu akan masuk ke kelas khusus. Sedangkan Aurelia, ia justru tengah bingung dengan keputusan yang diucapkan Professor Cedric.
“Aku? Masuk kelas khusus?” Tanya Aurelia yang masih tidak menyangka dan membuat professor Cedric mengangguk singkat.
“Ini keputusan akademi. Mulai besok, kau akan belajar di Gedung Astralis.”
Mendengar nama itu, wajah Kepala Akademi yang sedang memantau di atas balkon pun berubah, begitu pula dengan pria bermata abu-abu yang tengah berdiri disampingnya. Gedung Astralis, gedung yang telah ditutup selama puluhan tahun, gedung yang dulu hanya digunakan oleh satu orang—pewaris terakhir sihir bintang.
Siang itu, seluruh akademi dipenuhi gosip tentang murid baru yang menghancurkan kristal penilaian. Nama Aurelia mulai dikenal dimana-mana, ada yang mengaguminya, ada yang iri, ada pula yang mulai takut mendekatinya. Sedangkan Aurelia sendiri tengah duduk di tepi danau akademi, tatapannya kosong dan ia hanya memandangi dirinya dari pantulan permukaan air.
“Apa yang sebenarnya terjadi padaku?” Aurelia bertanya bingung.
Angin mulai bertiup pelan, daun-daun pun berguguran ke permukaan danau dan tiba-tiba seekor kupu-kupu putih hinggap di atas lututnya, persis seperti yang terjadi di festival bintang beberapa hari lalu.
Aurelia mengangkat tangannya, kupu-kupu itu terbang secara perlahan, namun kali ini ia tidak sendirian. Satu demi satu kupu-kupu putih bermunculan dari balik pepohonan, bukan puluhan, tapi ratusan kupu-kupu, mereka mengitari Aurelia tanpa suara.
Pemandangan itu sangat indah, hingga beberapa murid yang lewat berhenti untuk melihat. Namun sebelum ada yang mendekat, seluruh kupu-kupu itu berubah menjadi serpihan cahaya dan menghilang bersama angin.
Aurelia kemudian memegangi liontin yang melingkar pada lehernya, liontinnya terasa sangat hangat, dan disaat yang sama, jauh dari tempat itu, pria bermata abu-abu berdiri dibalik jendela sebuah ruangan tua. Tatapan pria itu terus mengikuti setiap gerak-gerik Aurelia dari kejauhan.
“Sebentar lagi kau akan mengingat semuanya.” Pria itu tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari Aurelia.
Sementara itu, langit Aetherion perlahan berubah jingga. Tak ada yang menyadari bahwa dibalik keheningan sore itu, takdir mulai bergerak menuju pertemuan yang telah tertunda selama empat belas tahun.