Genre: Dark Romance / Reverse Harem / Thriller Psikologis.
Premis Utama: Althea, seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai pengarsip dokumen kuno, terjebak di dalam "Septem Foundation"sebuah yayasan elit rahasia di bawah kendali tujuh pria berkuasa dan manipulatif yang terinspirasi dari pesona member BTS.
Kehadiran Althea di mansion tersebut ternyata bukan kebetulan, melainkan sebuah jaring laba-laba yang sudah disiapkan sejak lama. Ketujuh pria ini memiliki masa lalu kelam yang terikat dengan Althea, dan kini mereka bersaing secara dingin sekaligus obsesif untuk saling memperebutkan hak "memiliki" dirinya. Cinta mereka yang awalnya terasa seperti perlindungan mewah perlahan berubah menjadi sangkar emas yang posesif, berbahaya, dan mematikan.
Ketegangan psikologis saat Althea mencoba mengungkap misteri ingatan masa lalunya yang hilang, sembari bertahan hidup di antara dominasi, manipulasi, dan cinta gila dari tujuh pria
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siasat Manis Park Jimin (3)
Setelah dua minggu penuh menjalani hukuman kurungan karena telah melanggar Protokol hari Rabu, Park Jimin akhirnya diizinkan kembali mengirup udara bebas dan berdiri di sisi Althea pada hari Kamis ini.
Namun, Jimin yang keluar dari masa isolasinya bukan lagi pria yang mengandalkan racun posesif yang mentah dan agresif. Ia telah bertransformasi menjadi rubah politik yang jauh lebih cerdik, tenang, dan mematikan.
Pukul tujuh malam, paviliun utama mansion diselimuti atmosfer yang formal namun mencekam. Althea berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun beludru hitam berleher tinggi yang melapisi Armor Taktis Ringan buatan J-Hope.
Jimin melangkah masuk ke dalam kamar, langkah kakinya tanpa suara di atas permadani. Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam dengan dasi kupu-kupu yang terpasang sempurna.
Sudut bibirnya yang setahun lalu sempat pecah kini telah sembuh, menyisakan senyuman bulan sabitnya yang khas manis, namun menyembunyikan rencana eksekusi di baliknya.
"Kau terlihat sangat menakjubkan, Ratu-ku," bisik Jimin, berjalan mendekat lalu berdiri di belakang Althea, menatap pantulan mereka di cermin. Kedua tangannya yang hangat perlahan turun, merapikan lipatan gaun di pinggang Althea dengan kelembutan yang tidak lagi mencengkeram kasar.
"Malam ini, beberapa menteri korup yang beraliansi dengan Acheron Group datang ke jamuan kita. Mereka mengira Septem sedang goyah karena isu peretasan kemarin."
Jimin menunduk, mengecup bahu Althea dari balik kain gaunnya.
"Mari kita tunjukkan pada mereka siapa yang sebenarnya memegang kendali atas leher mereka."
Di ruang perjamuan utama yang diterangi oleh lampu gantung kristal yang megah, suasana terasa sangat kaku. Tiga orang menteri pertahanan dan perbankan dari faksi oposisi duduk di meja panjang, dikelilingi oleh makanan mewah yang disiapkan oleh Seokjin.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menyentuh garpu mereka.
Althea duduk di kepala meja, sementara Jimin berada tepat di sebelah kanan kursinya, menuangkan anggur merah ke dalam cawan porselen dengan gerakan yang sangat anggun.
"Tuan-tuan," Jimin bersuara, nadanya beralun lembut seperti madu, membuat para menteri itu mendongak waspada.
"Aku mendengar desas-desus bahwa Acheron menjanjikan kalian perlindungan hukum dan suntikan dana segar jika kalian bersedia menarik dukungan politik dari Septem Foundation. Apakah itu benar?"
Salah seorang menteri paruh baya berjas abu-abu berdeham, mencoba mempertahankan wibawanya.
"Tuan Jimin, kami hanya mengkhawatirkan stabilitas yayasan Anda setelah mendengar rumor tentang kebocoran data siber kemarin. Kami harus memikirkan aset negara."
Mendengar kata-kata itu, senyuman di wajah Jimin mendadak membeku. Sorot matanya menggelap dalam hitungan detik, memancarkan aura intimidasi yang membuat suhu ruangan terasa drop seketika.
Di bawah meja mahoni yang panjang, Jimin perlahan meraih tangan kiri Althea, menggenggam jemari gadis itu dengan sangat lembut, seolah mencari kekuatan dari sang Ratu untuk melakukan pembantaian verbalnya.
"Aset negara?" Jimin terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat sinis dan dingin. Ia mengangkat tangan kirinya, memberikan kode kecil pada pelayan di sudut ruangan.
"Kalian mengkhawatirkan stabilitas kami, padahal data transaksi rahasia kalian di Swiss baru saja dibekukan oleh virus siber milik Suga dua jam yang lalu."
Jimin memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja, sementara matanya mengunci menteri tersebut dengan pandangan menjerat yang pekat.
"Ratu kami, Althea Septem, tidak menyukai laporan yang berbelit-belit, Tuan-tuan," bisik Jimin dengan nada manis yang manipulatif namun sarat akan ancaman mati.
"Jika besok pagi surat pengalihan dukungan militer dari faksi kalian belum sampai ke meja Rm... aku sendiri yang akan memastikan seluruh skandal korupsi kalian terpajang di halaman depan media internasional sebelum matahari terbit."
Ketiga menteri itu seketika pucat pasi, tubuh mereka bergetar hebat di bawah tekanan tatapan Jimin dan kehadiran dingin Althea di ujung meja. Mereka menyadari satu hal Septem tidak sedang melemah.
Di bawah kepemimpinan Althea dan taktik rubah milik Jimin, mereka justru menjelma menjadi monster politik yang jauh lebih efisien dan kejam.
Althea yang menyaksikan hal itu dari kursinya hanya melempar tatapan kosong yang penuh dominasi, sementara genggaman tangan Jimin di bawah meja semakin erat sebuah simbol bahwa pria itu kini telah sepenuhnya menjadi pion politik terbaiknya untuk membersihkan jalan menuju kekuasaan mutlak.
Bersambung~