King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Malam telah berganti pagi, namun kegelapan di dalam ruang bawah tanah kastel mewah klan Stone seolah enggan beranjak.
Ruangan luas berlantai beton itu dipenuhi oleh gema suara hantaman yang berat, ritmis, dan sarat akan kemarahan yang tak tersalurkan.
Bugh! Bugh! Bugh!
King Stone berdiri di depan sebuah sanding bag kulit berukuran besar yang tergantung di tengah ruangan.
Pria itu benar-benar melakukan kegilaan yang melampaui batas nalar manusia normal.
Sesuai dengan ancamannya pada Olivier Martinez beberapa jam lalu, King nekat menandatangani surat pulang paksa dari Stone Hospital pada tengah malam.
Begitu kakinya kembali menginjak lantai kastelnya, ia tidak menuju kamar tidur utama untuk beristirahat. Ia justru turun ke ruang latihan pribadi ini, menanggalkan kemejanya, dan mulai melepaskan tinjunya tanpa henti hingga fajar menyingsing.
Kedua tangannya yang dipenuhi rajahan tato hitam pekat dibalut oleh handwrap kain putih yang kini telah berubah warna menjadi kemerahan di bagian buku jari.
Napas King memburu, berat dan pendek-pendek. Keringat bercucuran membasahi otot-otot dada dan punggungnya yang tegap, mengalir melewati lekukan perutnya yang kokoh.
Namun, pemandangan paling mengerikan ada pada sisi kanan perutnya. Perban putih tebal yang menutupi luka operasi pasca-penusukan dua hari lalu kini telah basah kuyup.
Warna merah pekat merembes dengan cepat, menembus lapisan kain kasa, menandakan bahwa jahitan di dalam kulitnya telah meregang paksa dan mengeluarkan darah akibat gerakan-gerakan ekstrem yang ia lakukan sejak semalam.
King mengabaikan rasa perih yang membakar itu; rasa sakit di perutnya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sesak yang menggerogoti dadanya sejak Olivier menolaknya dengan begitu dingin.
Brak!
Satu hantaman keras terakhir membuat samsak kulit itu berayun jauh ke belakang. King bersandar pada tiang besi di sampingnya, menundukkan kepala dengan napas yang terengah-engah, membiarkan tetesan keringat dan darah menetes ke atas lantai beton.
Prok. Prok. Prok.
Suara tepuk tangan yang lambat dan sarkastis memecah keheningan ruang bawah tanah. Dari balik tangga beton, Kendrick Stone melangkah masuk dengan tangan yang tenggelam di dalam saku celana kain hitamnya. Ia menatap pemandangan di depannya dengan gelengan kepala heran, sepasang matanya meneliti rembesan darah di perut sang kakak.
"Wah, gila kau..." ucap Kendrick, suaranya terdengar datar namun sarat akan sindiran tajam. "Aku tahu kau memiliki fisik monster, Kak, tapi merobek jahitan operasimu sendiri demi memukul samsak sepanjang malam? Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Apa kau sudah bosan hidup dan ingin segera memesan peti mati mewah?"
King tidak langsung menjawab. Ia meraih selembar handuk putih dari atas meja kecil, menyeka keringat di wajah dan lehernya dengan gerakan kasar, lalu mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat frustrasi.
"Aku ditolak, Ken!" seru King tiba-tiba, suaranya meninggi, bergaung keras memenuhi sudut-sudut ruangan bawah tanah.
Pria yang biasanya selalu tenang dan penuh perhitungan itu kini tampak seperti singa yang kehilangan arah. Ia berbalik, menatap adiknya dengan pandangan mata elang yang dipenuhi kilat kemarahan dan keputusasaan yang campur aduk.
"Dia menolakku lagi! Tidak ada kesempatan, katanya. Dia bahkan mengungkit semua kesalahan masa lalu dan menyebutku sebagai pria murahan yang mesum!"
Kendrick berjalan mendekat, bersandar pada salah satu tiang penyangga ruangan sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Tentu saja dia menolakmu. Jika aku menjadi Olivier, aku juga akan melakukan hal yang sama. Kau membuangnya sepuluh tahun lalu, dan sekarang kau datang kembali dengan membawa rintihan palsumu di kantin rumah sakit. Kau pikir si singa Betina itu akan langsung jatuh ke pelukanmu hanya karena ucapan manis?"
"Aku serius, Kendrick! Demi Tuhan, aku tidak pernah se-serius ini seumur hidupku!" King menghentakkan tinjunya ke tiang besi di sampingnya, tidak memedulikan rasa sakit yang menjalar di tangannya.
"Aku sudah menjelaskan padanya bahwa aku tidak lagi terikat dengan perjodohan sialan dari Grandmaman. Aku sudah memiliki kekuasaan penuh atas Chicago. Mommy juga sudah merestui kami. Tapi dia tetap menatapku seolah aku ini adalah sampah dermaga yang menjijikkan!"
King menjambak rambut hitamnya yang basah oleh keringat, lalu mendudukkan tubuhnya di atas bangku panjang dengan kasar.
Bahunya yang tegap tampak merosot. "Aku harus bagaimana lagi agar dia memaafkanku, Ken? Aku sudah menurunkan seluruh harga diriku di depannya. Aku bahkan berlutut di depan perutnya demi memohon satu kesempatan. Tapi hatinya benar-benar sudah membeku menjadi es."
Kendrick menatap kakaknya selama beberapa detik. Melihat seorang King Stone—pria yang paling ditakuti di seluruh jalur pengiriman barat, pria yang bisa menggerakkan ratusan anggota bersenjata hanya dengan satu jentikan jari—kini tampak begitu rapuh dan hancur hanya karena penolakan seorang wanita, membuat Kendrick menggelengkan kepalanya pelan.
Kendrick mengubah posisi berdirinya, melangkah dua blok lebih dekat ke arah King, lalu melayangkan sebuah solusi yang keluar begitu saja dari kepalanya dengan nada suara yang teramat santai dan gampang, seolah ia sedang membicarakan strategi bisnis pelabuhan yang sepele.
"Hamili saja," kata Kendrick singkat tanpa beban.
Deg.
King Stone menghentikan gerakannya yang sedang menyeka leher. Ia mendongak, menatap Kendrick dengan sepasang mata elang yang melebar sempurna karena terkejut mendengarkan kalimat gila yang baru saja meluncur dari bibir adiknya.
"Apa kau bilang?" tanya King, memastikan pendengarannya tidak salah akibat kelelahan semalaman.
"Kukatakan, hamili saja dia, Kak," ulang Kendrick dengan ekspresi wajah yang tetap datar, sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan sarannya.
"Nanti kalau dia sudah hamil anakmu, dia juga pasti akan datang mencarimu dan meminta tanggung jawab. Wanita sekeras apa pun, jika sudah menyangkut darah dagingnya sendiri, benteng es di hatinya pasti akan runtuh. Kau tidak perlu repot-repot memohon atau berlutut sampai jahitanmu robek seperti ini. Tarik dia ke ranjangmu, buat dia mengandung keturunan Stone, dan masalahmu selesai. Dia akan terikat bersamamu seumur hidup."
King tertegun di tempat duduknya, menatap Kendrick dengan pandangan yang sulit diartikan. Solusi yang ditawarkan adiknya itu terdengar sangat praktis, tipikal cara berpikir klan Stone yang agresif dan selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Untuk beberapa detik, pikiran gelap di dalam kepala King sempat tergoda oleh ide gila tersebut.
Membayangkan Olivier Martinez mengandung anaknya, berada di dalam kastel ini di bawah pengawasannya selama dua puluh empat jam penuh, dan tidak akan pernah bisa melarikan diri lagi darinya... itu adalah fantasi tertinggi yang paling ia dambakan.
Namun, di detik berikutnya, King memejamkan matanya erat-erat, lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas untuk mengusir pikiran posesif yang berbahaya itu.
"Tidak, Ken. Aku tidak bisa melakukan cara sekotor itu lagi padanya," ucap King, suaranya merendah, kembali diisi oleh rasa hormat yang mendalam pada sang mantan kekasih.
"Aku memang berengsek, aku memang mesum dan murahan di depannya, tapi aku tidak akan pernah memaksa atau menjebaknya dengan cara seperti itu. Aku ingin dia kembali padaku karena dia masih mencintaiku, bukan karena dia terpaksa demi sebuah tanggung jawab anak."
Kendrick mendengus sinis, memutar bola matanya malas melihat sisi idealis kakaknya yang mendadak muncul jika sudah menyangkut Olivier.
"Terserah kau saja, Kak. Tapi jika kau terus menggunakan cara lembut dan membiarkan dirimu dipukuli oleh samsak ini sampai mati kehabisan darah, jangan salahkan aku jika suatu hari nanti ada dokter pria lain dari rumah sakit itu yang mengambil posisimu di hatinya."
King Stone tidak menanggapi kalimat provokatif adiknya lagi. Mata elangnya menunduk, menatap rembesan darah di perban perutnya yang kian meluas.
Di dalam kesunyian ruang bawah tanah itu, pikiran King kembali melayang pada ritual perpisahan kecil mereka kemarin sore, saat ia meletakkan tangannya di perut ramping Olivier dan berbisik pada bayangan anak-anak masa depan mereka.
King tidak pernah tahu, dan tidak akan pernah menduga, bahwa solusi gila yang ditawarkan Kendrick sebenarnya telah terwujud nyata sejak sepuluh tahun lalu di jantung kota Chicago, menunggu waktu yang tepat untuk meledak dan mengubah seluruh peta permainan hidupnya.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣