NovelToon NovelToon
Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Suami Tak Berguna / Trauma masa lalu
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sikumbang

Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Nasib, di Bawah Langit yang Sama.

Malam belum terlalu larut, tapi langit sudah terlihat gelap seolah menampung badai besar. Aini melangkah keluar dari rumah kontrakan kayu reyot itu dengan langkah mantap namun berat. Di tangan kanannya tergantung satu tas kain besar berisi baju-baju miliknya dan Syafa, juga sedikit sisa uang yang ia simpan diam-diam dari belanja harian selama berbulan-bulan. Di tangan kirinya, ia erat menggenggam tangan mungil putrinya.

Tekadnya sudah bulat. Ia tak bisa menunggu sampai besok sore. Ia takkan membiarkan anak laki-laki yang sedang ia kandung diambil hanya demi uang haram ratusan juta. Ia takkan membiarkan Dimas memenangkan permainan jahatnya. Malam ini juga, ia harus pergi. Pergi sejauh mungkin, ke tempat di mana Dimas tak akan bisa menemukannya lagi.

Di pinggir jalan raya yang sepi, Aini melambaikan tangan saat sebuah ojek payung lewat. "Pak, antar saya ke terminal kota, ya. Tolong cepat sedikit," pinta Aini dengan napas tertahan, berusaha menaiki motor itu dengan susah payah karena perutnya yang sudah sangat besar dan berat.

Sepanjang perjalanan, angin malam menerpa wajahnya yang dingin. Aini memeluk Syafa yang duduk di depannya makin erat. Di dalam hatinya, ia berdoa semoga ini keputusan yang benar, semoga mereka selamat sampai tujuan.

Namun, nasib seolah sedang menguji batas ketabahannya. Belum sampai separuh jalan, mesin motor tiba-tiba mendengung aneh, lalu mati total di pinggir jalan yang agak sepi dan minim penerangan.

"Maaf, Bu... sepertinya mesinnya bermasalah. Mogok nih, tidak bisa jalan lagi," kata tukang ojek itu sambil mencoba menyalakan kembali motornya berkali-kali namun sia-sia.

Aini menelan ludah, rasa cemas mulai menjalar.

"Lalu bagaimana ini, Pak? Tidak ada motor lain lewat di sini."

"Maaf sekali, Bu. Ibu lanjut jalan kaki saja ke depan sana, ada jalan raya besar. Nanti pasti ada kendaraan lewat. Saya harus dorong motor ini ke bengkel," jawab laki-laki itu, lalu bergegas pergi meninggalkan mereka.

Aini menghela napas panjang. Tak ada pilihan lain. Ia kembali menjinjing tas berat itu, lalu menggandeng tangan Syafa berjalan menyusuri jalan beraspal yang mulai terasa lembap. Kakinya pegal, pinggangnya nyeri luar biasa, tapi ia terus memaksakan diri. Ia harus pergi. Ia harus selamatkan anak-anaknya.

Belum jauh mereka berjalan, tiba-tiba langit di atas mereka bergemuruh keras.

Duar!!!!!

Suara guntur menggelegar begitu kuat hingga membuat Syafa tersentak dan menangis ketakutan. Tak lama berselang, butiran air besar mulai jatuh satu per satu, lalu dalam hitungan detik berubah menjadi hujan lebat yang turun bagai dicurahkan dari langit.

Air hujan membasahi sekujur tubuh mereka berdua. Dingin menusuk tulang, angin kencang membuat pandangan menjadi kabur.

Syafa mulai menangis keras kedinginan dan takut. Aini panik. Ia tak boleh membiarkan dirinya dan bayi dalam kandungannya sakit, apalagi dalam kondisi seperti ini. Dengan susah payah, ia membungkukkan badannya yang besar, mengangkat Syafa ke atas pelukannya....meski berat, ia berusaha sekuat tenaga menggendong anak itu agar tubuh kecilnya tidak terlalu kena air hujan.

"Sebentar lagi ya, Nak... sabar... kita cari tempat berteduh dulu," bisik Aini di sela-sela napasnya yang tersengal. Kakinya melangkah berat, seolah ada timbunan pasir yang menghalangi setiap langkahnya. Baju mereka basah kuyup, tas yang dibawanya pun kini berat karena menyerap air.

Di ujung jalan sana, samar-samar terlihat atap kecil berwarna biru pudar. Aini memaksakan sisa tenaganya. Ia berjalan cepat sambil tertatih-tatih, membelah derasnya hujan yang tak ampun. Akhirnya, setelah perjuangan yang terasa sangat lama, mereka sampai di sebuah halte bus tua yang terlihat kosong dan sepi.

Aini masuk ke bawah atap halte itu dengan napas terengah-engah. Ia menurunkan Syafa yang menggigil kedinginan, lalu meletakkan tasnya yang basah kuyup di bangku kayu yang juga lembap. Di sana sepi, tak ada siapa-siapa, hanya suara hujan yang memukul atap dan jalan raya di depan mereka.

Aini duduk dengan hati-hati, menempelkan tubuh Syafa ke dadanya untuk memberikan kehangatan. Ia memandang keluar, menatap tirai air yang terus turun tanpa henti. Tubuhnya gemetar bukan hanya karena dingin, tapi juga karena rasa takut dan keputusasaan yang mulai merayap masuk.

Ia sudah lari. Ia sudah berani meninggalkan rumah. Tapi di sini, di tengah malam, hujan deras, di tempat asing dan sepi ini, Aini sadar betapa kecil dan lemahnya dirinya. Ia tidak punya uang banyak, tidak punya tempat tujuan pasti, dan sedang mengandung anak yang sangat diincar oleh suaminya sendiri.

Namun, saat ia merasakan gerakan halus di dalam perutnya.....gerakan bayi laki-laki yang menjadi penyebab semua ini.....tekadnya kembali bangkit. Aini mengusap wajah basahnya, menghapus air hujan dan air mata yang bercampur jadi satu.

"Tenanglah... Ibu tidak akan menyerah," bisiknya pelan, menatap kegelapan di balik derasnya hujan. "Di sini saja kita berteduh dulu. Besok, saat hujan reda, Ibu akan bawa kalian pergi lebih jauh lagi. Dimas tidak akan pernah mendapatkan kalian."

Di halte kosong itu, di tengah malam yang dingin dan badai yang mengamuk, Aini berjanji pada dirinya sendiri..... ia akan bertahan, seberat apa pun perjuangannya, demi dua nyawa yang bergantung padanya.

*******

Hujan masih turun deras, membasahi jalanan beraspal yang kini berubah menjadi jalur air keruh. Tak jauh dari halte reyot tempat Aini dan Syafa berteduh, berjarak sekitar seratus meter, berdiri kokoh sebuah bangunan megah berlantai tiga. Cat dindingnya berwarna krem bersih, pagar besi tempa yang tinggi menjulang, dan lampu taman yang terang benderang meski di balik tirai hujan.....rumah itu terlihat bagai istana kecil di tengah lingkungan itu.

Di lantai dua, tepat di ruang tengah yang luas dan hangat, seorang wanita berdiri diam di balik kaca jendela besar yang kedap suara. Ia menatap ke luar, menembus derasnya air hujan, menatap kegelapan malam. Wajahnya pucat, tubuh rampingnya terbalut daster sutra mahal berwarna biru muda. Matanya kosong, tak ada binar kehidupan di sana. Wanita itu ......Laras.

Pikirannya melayang kembali ke percakapan panas yang baru saja terjadi sepuluh menit yang lalu. Ibu mertuanya, wanita berwibawa yang memegang kendali penuh di keluarga itu, baru saja memberitahunya dengan nada yakin dan tak terbantahkan.

"Laras, kami sudah mengurus segalanya. Kami dapat kabar, akan ada seorang bayi laki-laki yang lahir tidak lama lagi. Sehat, kuat, dan jelas keturunannya. Kami sudah sepakat untuk mengadopsi anak itu untukmu. Agar ada penerus keluarga, dan agar rumah ini tidak sepi lagi. Kami sudah bayar di muka, semuanya beres. Tinggal tunggu waktu penyerahannya."

Kalimat itu masih terngiang jelas di telinga Laras. Mengadopsi anak laki-laki. Membawa masuk anak orang lain ke dalam rumah ini, membesarkannya seolah darah daging sendiri.

Laras menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Ia tidak mau. Hatinya berteriak menolak rencana itu. Dan ia yakin, suaminya, juga pasti tidak akan pernah setuju jika ia tahu. Suaminya adalah laki-laki berprinsip keras, jujur, dan sangat memegang nilai moral. Jika ia tahu anak itu didapatkan lewat transaksi uang dan pembelian diam-diam, ia pasti akan marah besar.

Namun, Laras sadar diri. Ia tahu dirinya takkan pernah bisa memberikan apa yang diinginkan keluarga besar ini.....seorang anak, penerus nama besar keluarga mereka.

Tangan kanannya bergerak perlahan, menyentuh perutnya yang rata, namun di balik kulit halus itu bersarang penyakit yang menggerogoti hidupnya perlahan namun pasti.......kanker rahim stadium empat.

Itu rahasia terbesar dan tergelap dalam hidupnya. Tak ada satu pun manusia di dunia ini yang tahu. Orang tuanya, Ibu mertuanya, dan yang paling penting.....suaminya. Ia menyembunyikan diagnosis itu mati-matian. Dokter sudah memperingatkannya berbulan-bulan lalu...... kondisinya sudah parah, harapan hidup tak lama lagi, dan kemungkinan hamil adalah hal yang mustahil, bahkan berbahaya.

Laras meneteskan air mata hening yang langsung ia hapus cepat. Tak boleh ada yang tahu. Jika suaminya sampai mengetahui penyakitnya, ia yakin laki-laki itu akan semakin menjauh. Padahal sekarang saja, kehadiran Laras di mata suaminya sudah seperti piala pemberian orang tua, bukan istri yang dicintai.

Sudah tiga tahun mereka menjalani pernikahan ini. Tiga tahun pernikahan tanpa cinta. Dijodohkan oleh kedua orang tua yang bersahabat lama, disatukan demi alasan sosial dan bisnis. Suaminya.... laki-laki yang tampan, cerdas, dan mapan, memang selalu bersikap sopan, ramah, dan perhatian pada Laras. Namun, Laras tahu betul, semua itu hanya karena rasa hormat pada orang tua mereka dan rasa tanggung jawab sebagai seorang suami.

Tak ada cinta di matanya. Tak ada kehangatan. Suaminya lebih sering berada di luar kota, sibuk dengan pekerjaannya, dinas ke sana ke mari. Ia seolah lebih memilih menikmati tugas dan kesibukan kantor daripada pulang ke rumah besar yang sepi ini, menghabiskan waktu bersama istrinya sendiri. Pulang sebulan sekali saja sudah dianggap rezeki.

"Jika dia tahu aku sakit... jika dia tahu aku takkan lama lagi hidup... dia pasti akan pergi sepenuhnya. Dia takkan punya alasan lagi untuk tetap bertahan di sini," batin Laras....lirih, rasa sakit di ulu hatinya bercampur dengan nyeri samar yang mulai menjalar di perut bagian bawahnya, efek dari penyakit ganas itu.

Di luar jendela, pandangannya samar karena air hujan yang menempel pada kaca. Namun, di kejauhan, samar-samar di bawah sinar lampu jalan yang remang, matanya menangkap bayangan samar di halte bus tua itu. Ia melihat sesosok wanita yang duduk membungkuk, memeluk erat anak kecil yang tampak menggigil kedinginan. Wanita itu terlihat lemah, dan dari bayangannya, Laras bisa melihat perutnya yang sangat besar....sedang mengandung.

Laras mengernyitkan dahi, rasa iba tiba-tiba menyelinap masuk ke hatinya yang sedang kacau.

"Wanita itu... dia sedang hamil besar, tapi kenapa ada di luar di malam begini? Di tengah hujan deras? Sendirian membawa anak kecil?"

Pikirannya kembali melayang ke ucapan ibu mertuanya tadi. "Kami sudah bayar di muka... anak laki-laki..."

Tiba-tiba ada rasa dingin yang menjalar di sekujur tubuh Laras.

"Andai saja anak yang dijual itu adalah anak wanita di halte itu? Dia tidak bisa bayangkan, betapa beratnya perjuangan seorang Ibu."

Di satu sisi, ada dirinya yang sekarat, tak berdaya, terkurung dalam kemewahan namun kesepian, dipaksa menerima anak hasil transaksi karena tubuhnya sendiri rusak. Di sisi lain, ada wanita itu, menderita di tengah hujan, mengandung nyawa yang diincar orang-orang kaya, mungkin dipaksa atau dijual demi uang.

Laras menempelkan tangannya ke kaca jendela yang dingin. Di dalam hatinya, ia berjanji pada diri sendiri untuk mencari tahu. Ia tak mau menjadi bagian dari dosa ini. Ia mungkin sakit, mungkin tak punya masa depan panjang, tapi ia masih punya hati nurani.

"Siapa pun kau, Ibu... semoga kau selamat," bisik Laras pelan, sementara hujan di luar masih terus mengguyur tanpa ampun, memisahkan dua wanita itu dengan jarak yang dekat namun dunia yang begitu jauh berbeda.

*******

1
Ariany Sudjana
makanya kamu jangan egois Arini, kamu menyesal kan ?
Ariany Sudjana
menyesal kan kamu Aini? kamu egois dan bodohnya kebangetan
Putri Sikumbang: 😭 iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!