Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.
Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.
Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Dimana?
"Han! Han! Bicara!!" Tubuh Jenderal Lu Jingyuan terlihat sangat tegang. Tangannya yang kekar dan berurat itu mencengkram gagang telepon dengan kuat.
"Nyonya diculik!" Suara napas yang terengah-engah dan derasnya hujan tak mampu menutupi kejelasan fakta yang diberikan ajudan terpercayanya itu.
"Dimana?! Dimana Kau sekarang!" Jingyuan terlihat gelisah, ia terus memijat keningnya sambil mundar mandir dengan telepon kabel yang masih bertengger di tangan dan telinganya.
Setelah mendengarkan titik lokasi yang akurat, Jingyuan memerintahkan dua ajudannya untuk ikut dengannya. Bai Yueran yang melihat kegelisahan dan kepanikan Jingyuan merasa heran dengan itu semua.
"Yuan-Yuan, Aku ikut ya??"
Jingyuan tidak menghiraukan perkataan perempuan itu, ia dengan cepat menutup pintu mobil dan memerintahkan ajudannya yang berada di kursi kemudi untuk berjalan cepat. Mobil itu melaju kencang menerobos derasnya hujan. Bai Yueran mengepalkan kedua tangannya kesal, "Wanita kampung sialan itu terus mengangguku, sepertinya Aku sudah tidak bisa meremehkan dia lagi."
Sementara itu, mobil yang dikendarai oleh ajudan Jingyuan melaju sangat kencang tanpa rem menuju lokasi yang dijelaskan. Jingyuan masih berbalutkan pakaian yang basah kuyup terus mengepalkan kedua tangannya erat, ada sedikit rasa sesak dan cemas di dadanya.
"Jenderal, baiknya Jenderal ganti pakaian dulu, takutnya nanti Jenderal sakit." Salah satu Ajudan yang duduk di samping kursi kemudi menyerahkan satu set pakaian yang siap pakai untuk Jingyuan. Jingyuan yang mendapati itu menggeleng dan menepis perlahan pakaian itu. Pikirannya terus berkecamuk memandangi betapa derasnya hujan itu.
"Sialan, harusnya Aku tau ini semua akan terjadi. Harusnya tidak kubiarkan semua ini terjadi!" Jingyuan menggumamkan kekesalannya sembari terus menahan emosi dalam dirinya. Derasnya hujan itu kembali mengingatkan dirinya pada senyuman indah Wanqing disaat mereka memakai pakaian couple pertama kali dan hendak berfoto. Senyuman tulus itu, tubuh mungil itu.. Jingyuan tidak mampu membayangkan betapa kedinginan dan ketakutannya Wanqing saat ini pasti.
"Cepat!" Jingyuan memberikan instruksi dengan tegas.
Mobil itu akhirnya sampai di tengah jalanan sepi penuh pepohonan dekat salah satu rumah desa perbatasan yang kini jalanannya terhalang pohon tumbang dan mobil yang berasap di depannya. Jingyuan turun dari mobil dan berlari menuju mobil yang ia kenali itu.
Supir yang membawa mobil itu terlihat tidak sadarkan diri, pintu belakang mobil terbuka dan pintu samping kursi kemudi terbuka. Jingyuan mengisyaratkan salah satu ajudannya untuk menyelamatkan supir yang terluka parah dan tidak sadarkan diri itu, sementara satunya lagi ia minta menyusuri jejak atau jalanan sekitar untuk mencari clue keberadaan Wanqing. Jingyuan sendiri berlari mengikuti bercak lumpur sepatu tentara yang ia kenal betul.
Berhenti di depan sebuah tempat telepon umum milik desa itu, Jingyuan melihat Ajudan Han yang bersandar di dalamnya. Tanpa banyak berbicara ia bergegas masuk dan menutup pintu ruangan telepon itu dengan kasar.
"Apa yang terjadi?!" Jingyuan masih berdiri menatap ajudannya yang terduduk lemas dengan luka nyata berdarah di area perut dan lengannya.
"Tadi hujan deras, tiba-tiba pohon tumbang padahal tidak ada petir atau angin yang sekencang itu. Pohon besar berusia puluhan tahun itu entah kenapa tumbang dan langsung menimpa sebagian besar depan mobil dan menutupi jalanan. Mobil berhenti dan--"
"Langsung intinya!" Tukas Jingyuan tak sabaran.
"Ada beberapa orang berpakaian hitam dengan senjata laras panjang dan mobil van yang entah datang dari mana, mereka mengambil Nyonya dengan paksa, Nyonya sedang tidur saat kejadian, dia tidak tahu apa yang terjadi. Aku berusaha menyelamatkannya Jenderal, tapi mereka terlalu banyak, senjataku hanya pistol, Aku tertembak dan kabur untuk melapor."
Jingyuan mengencangkan rahangnya tanda kesal dan berpikir keras. Urat-uratnya terlihat jelas di lehernya yang jenjang dan kekar. "Van warna apa? Arah mana?"
"Tidak jelas, sepertinya hitam atau biru tua, tidak ada plat nomornya, van itu pergi ke arah hutan, seolah tau ranah hutan tanpa menabrak pepohonan."
Jingyuan mengangguk, ia melemparkan satu kotak p3k. "Luka tembus atau peluru masuk?" Tanya Jingyuan singkat. Ajudan Han menggeleng, "Terkena goresan peluru meleset." Jingyuan mengangguk.
"Jahit sendiri." Ujarnya dingin sambil berbalik.
"Kembali sendiri ke markas dan lakukan kode 3 merah. Hubungi Lu Tua dan Ibu Mei."
Setelah memberikan instruksi, Jingyuan pergi sendiri entah kemana, Ajudan Han yang masih lemas hanya bisa bergegas menjahit luka di tubuhnya tanpa menghiraukan dulu kepergian Jenderalnya itu.
"Jenderal, Lapor!" Ajudan yang sedari tadi menyisir area menghadap.
"Ada jejak ban besar seperti mobil besar menuju hutan."
Jingyuan mengangguk. "Kau bawa senjata?" Tanyanya singkat.
"Pistol dan p3k." Jawab ajudannya. Jingyuan lagi lagi mengangguk perlahan. "Ayo!" Mereka berjalan memasuki hutan itu dengan bantuan senter dari tas kecil yang selalu menempel di tubuh ajudannya itu.
"Bukannya sebaiknya kita hubungi markas dan lapor pada polisi?"
Jingyuan terkekeh kecil, "Istriku tidak akan bertahan selama itu, lagipula, Han sudah mengurus semuanya."
"Ayo kita tangkap dan bunuh bajingan ini." Genggamannya erat pada pistol di hadapannya, lengannya yang berurat terlihat kekar dan tangguh. Diguyur hujan deras itu, Jingyuan bahkan tak bergetar sedikit pun.
...****************...
Sementara itu,
Wanqing tersadar, seluruh tubuhnya terasa kaku dan sakit. Ia baru sadar ketika dirinya merasakan matanya yang ditutup dan mulutnya ditutup oleh kain yang menghambat dan meredam suaranya. Tangannya diikat ke belakang dan sepertinya kakinya juga terikat di kursi yang entah ada di mana dirinya saat ini.
Wanqing merasakan sepertinya kepala dan tangannya sakit dan perih, selayaknya rasa luka terbuka yang terkena air atau angin. Dia pasti terluka saat dibawa paksa tadi. Seluruh tubuhnya terasa basah dan kotor. Ia tidak tahu dimana dirinya saat ini dan apa yang sebenarnya terjadi. Siapa yang menculik dirinya dan apa motifnya.
Wanqing terus menggeliat mencoba menjatuhkan dirinya, setidaknya mencari keributan agar ada orang yang datang, Wanqing ingin mencoba mencari sedikit informasi dimana dirinya berada, namun sayangnya sepertinya ia berada di ruangan yang padat atau sangat sempit, semuanya terasa penuh dan terganjal.
Wanqing berusaha berteriak, namun suaranya seperti diredam kencang. Ia tidak tahu harus berbuat apa dalam kondisi seperti ini. Seharusnya ia mengikuti kelas bertahan diri dari Ajudan Han yang menawarkannya beberapa minggu lalu saat ia baru tiba dan berkenalan dengannya.
Merasa tidak ada yang bisa ia lakukan selain berharap dapat diselamatkan, Wanqing berusaha menajamkan pendengarannya. Ada beberapa suara langkah kaki di luar yang terbalut dengan suara dentikan air hujan. Beberapa suara itu bisik-bisik dan tidak jelas, Wanqing tidak dapat mengenali suara-suara itu.
Pikirannya terus bergemul dengan segala kemungkinan, apakah ini semua ulah ayahnya? Jika iya, kenapa? Kenapa harus dirinya menderita lagi dan lagi setelah apa yang selalu ia alami selama ini di kediamannya?
Wanqing mendengar suara tegas seseorang yang terdengar seperti memberikan perintah.
"Jangan sampai Nyonya tahu."
Nyonya? Wanqing yang mendengar itu merasa kebingungan, Nyonya siapa yang mereka maksud? Ibu pejabat mana yang ia singgung? Atau mungkinkah? Ibu tirinya? Apa yang sebenarnya terjadi.
Dalam ketakutannya, Wanqing terus berdoa, ada nama yang terus ia panggil dalam isakannya. "Jingyuan.. Jenderal.. Tolong Aku.."
*BERSAMBUNG*
Support aku terus yaa my love!