Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Skakmat Di Kantin
Di kantornya, Arka mengetuk jari jemarinya di meja dengan gelisah, sesekali matanya melirik ke arah Sael yang tepat di depannya.
Sejujurnya, ada rasa canggung yang menggelitik dadanya, tetapi egonya enggan untuk mengakui. Ia sadar betul bahwa kemenangan di sidang arbitrase kemarin serta apresiasi memuaskan dari Pak Hamdan, semuanya berkat ketelitian Sael.
"Berisik, Arka!" tegur Sael yang akhirnya jengah dengan suara ketukan jari pria itu.
"Apa?!" Arka tersentak, kaget setengah mati.
"Jarimu itu loh. Mau aku pelintir?" ujar Sael sambil mendengus kesal tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.
"Ya, maaf. Aku enggak sengaja," gumam Arka pelan. Namun, dasarnya tidak mau kalah, ia kembali menimpali, "Tapi ya jangan membentak begitu, aku kan kaget."
"Hah..." Sael mengembuskan napas panjang, lelah. "Terserah kamu, deh."
Orang-orang di divisi mereka yang berada di sekitar sana sudah tidak heran lagi. Mereka mengira setelah keduanya sukses bekerja sama, suasananya akan jauh lebih mencair, tetapi ternyata riak-riak rivalitas itu masih sama seperti biasanya.
"Kalian ini, ya. Habis menang sidang bukannya makan-makan bareng, malah adu mulut di sini," seloroh Pak Budi, salah satu rekan senior mereka yang kebetulan lewat.
"Maaf, Pak," ujar Sael dan Arka bersamaan.
"Giliran minta maaf saja kompak. Aneh kalian," geleng Pak Budi seraya berlalu dari hadapan mereka.
Keesokan harinya, suasana kantin pada jam makan siang itu sangat padat. Arka, yang baru saja keluar dari ruang arsip dengan tumpukan dokumen, berusaha menembus kerumunan.
Sialnya, saat ia berbelok di dekat meja ujung, bahunya tak sengaja menyenggol lengan Pak Surya yang sedang memegang cangkir kopi panas.
𝘉𝘺𝘶𝘳
Kopi itu tumpah di meja kantin dan percikannya sedikit mengenai kemeja putih Pak Surya. Pria itu langsung berdiri dengan wajah memerah.
"Kamu punya mata tidak, Arka?!" bentak Pak Surya sambil menghempaskan cangkir ke meja. "Ini kemeja mahal, kamu pikir bisa diganti dengan gaji kecilmu itu?"
Arka segera menaruh berkasnya dan membungkuk panik. "Maaf, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja, terlalu banyak orang di kantin."
"Tidak sengaja?" Pak Surya mendekat, mendorong bahu Arka hingga ia terhuyung mundur. "Kamu selalu cari gara-gara. Kemarin menang sidang, sekarang mulai belagu ya, mau sok jagoan?"
Arka menegakkan badannya, berusaha membela diri. "Saya sudah minta maaf, Pak. Itu murni kecelakaan karena desakan orang-orang, bukan karena saya sengaja."
"Oh, berani melawan sekarang?" Pak Surya melangkah maju, memojokkan Arka ke dinding kantin.
Arka menelan ludah kelu. Pemandangan memalukan ini kini disaksikan oleh puluhan pasang mata orang kantor.
"Nanti saya urus untuk mencucikan baju Bapak ke 𝘭𝘢𝘶𝘯𝘥𝘳𝘺," tawar Arka lagi, menahan emosinya.
"Lalu selama dicuci aku harus pakai apa? Telanjang? Mikir dong!" bentak Pak Surya kasar.
"Lha terus gimana, lagian nodanya nggak banyak-banyak amat" Arka melirik noda kopi yang sebenarnya hanya berupa cipratan kecil di bagian perut kemeja Pak Surya.
Sebuah seringai merendahkan muncul di wajah Pak Surya. "Kamu lepas bajumu di sini sekarang. Berikan padaku."
"Hah?" Arka terbelalak, tidak percaya dengan tuntutan absurd sang senior.
"Buruan lepas bajumu!" bentak Pak Surya lagi, sengaja mengeraskan suara untuk mengintimidasi.
Pak Surya memang terkenal sebagai tipe orang yang suka membesarkan masalah sepele dan kerap menyalahgunakan kekuasaan untuk merundung para junior demi memuaskan egonya.
Arka mengepalkan tangannya, dilanda kebingungan hebat. Bisa saja ia melepaskan kemejanya saat itu juga, hanya saja... ia memiliki beberapa bekas luka mengerikan di punggungnya. Memperlihatkan cacat fisik itu di depan seluruh rekan kantor akan mengoyak privasi dan harga dirinya.
Tiba-tiba, suara denting sendok yang dipukulkan ke piring terdengar nyaring di tengah heningnya kantin.
"Wah, ramai sekali, ada apa ini? Aku yang mau makan jadi bingung."
Sael berjalan santai ke arah mereka, memegang nampan makan siangnya. Ia berhenti tepat di belakang Pak Surya, lalu menaruh nampannya dengan suara keras di meja terdekat.
"Sael, jangan ikut campur," desis Pak Surya tanpa menoleh.
Sael mengabaikan peringatan itu. Ia berdiri tepat di samping Arka, matanya menatap tajam ke arah Pak Surya.
"Saya baru saja dari ruangan Pak Hamdan, dan beliau menanyakan keberadaan Arka karena laporan yang 'Bapak' minta revisi kemarin sudah siap," Sael berbohong dengan sangat tenang.
Sael kemudian melirik ke arah kemeja Pak Surya, lalu melepaskan tawa kecil yang terdengar sangat meremehkan. "Lucu sekali, ya. Kemeja terkena sedikit cipratan kopi saja hebohnya sampai satu kantin. Tapi saat hasil analisis kerja keras Arka menyelamatkan bonus performa Bapak minggu lalu, Bapak pura-pura tidak kenal. Apa harga diri seorang Pak Surya cuma seharga kemeja tiruan ini?"
"Kamu lancang sekali, Sael!" bentak Pak Surya, suaranya meninggi hingga urat lehernya menonjol.
Sael melipat kedua tangan di depan dada dengan santai. "Kalau Bapak masih ingin melanjutkan perundungan ini, silakan saja. Tapi saya hanya ingin mengingatkan kalau kamera pengawas di sudut itu sedang aktif." Sael menunjuk ke arah kamera CCTV yang berkedip di langit-langit kantin.
"Akhir-akhir ini, Pak Hamdan banyak memuji kinerja saya. Menurut Bapak, bagaimana kalau prestasi saya ditambah dengan laporan mengenai tindakan perundungan fisik dan verbal yang dilakukan seorang senior terhadap juniornya di tempat umum? Bayangkan betapa kagumnya Pak Hamdan pada integritas saya," seloroh Sael dengan nada dramatis yang dibuat-buat, membuat Arka yang berdiri di sampingnya sampai melongo.
"Apa maksudmu perundungan?! Dari tadi tidak ada perundungan, aku hanya sedang menegur kesalahan junior yang ceroboh!" Pak Surya mencoba membela diri karena mulai panik.
"Apa yang bapak lakukan tadi jelas-jelas tindakan intimidasi di tempat umum. Di tambah lagi... meminta seorang junior bertelanjang dada di kantin terbuka? Kalau orang-orang salah paham dan mengira Bapak punya kecenderungan yang 'aneh' pada sesama jenis, bagaimana? Bisa jatuh harga diri Bapak sebagai senior."
"SAEL! Jangan kurang ajar kamu!" potong Pak Surya, wajahnya memerah padam antara marah dan menanggung malu karena bisik-bisik di sekitar mereka mulai terdengar.
Pak Surya melirik Arka dengan tajam. "Urusan kita belum selesai, Arka," ancamnya setengah berbisik, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi dengan hentakan kaki yang penuh dengan kekesalan.
"Pfft... Hahaha!" Sael langsung meledakkan tawanya, bahkan sampai menyeka sudut matanya yang sedikit berair karena menahan tawa melihat ekspresi panik Pak Surya tadi.
Arka berdehem canggung, memecah tawa gadis itu. "Makasih," ucapnya dengan nada pelan dan wajah yang sedikit memerah akibat malu.
Sael menghentikan tawanya, mendengus, lalu menyodorkan sebotol air mineral dari nampannya ke arah Arka. "Jangan kegeeran. Aku cuma lapar dan malas mendengar keributan yang bisa merusak nafsu makanku."
Arka menerima air itu, dengan senyum merekah di wajahnya.
apakah yang ketujuh ini mereka akan.. 🤔
kenapa aku malah jadi ngitungin😄
kael menganggu aja🤣
pengen liat visualnya
ada ngga thor😍😍
apakah bakal ada cowok baru lagi...
mungkin cowok yang di luar negeri itu, yang aeros singgung di bab 1🤔🤔
semua love language dia ambil
titip pacar saya😍
jadi ikut digelitik kupu-kupu😄