Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Tidak Sabar
Setelah selesai makan, susah payah Jeviza menaruh piring kotor itu ke tempat cucian, lalu berjalan dengan tertatih untuk kembali ke meja makan. Tidak lama Keandra datang dengan kotak obat juga kemeja miliknya. Jeviza kira Keandra akan pergi karena menenteng kemeja coklat muda miliknya, namun dugaan Jeviza salah. Keandra justru memberikan kemeja besar miliknya untuk dipakai olehnya.
"Pakai, lo kedinginan kan?"
Jeviza ragu menerima uluran kemeja itu, tetapi diamnya Jeviza sekarang malah membuat Keandra lagi-lagi bertindak diluar dugaan, Keandra menaruh kotak obat tersebut, lalu dengan telaten mengenakan kemeja miliknya pada tubuh Jeviza.
Untuk yang kesekian kalinya, jantung Jeviza hampir saja meledak rasanya saat tangan Keandra tanpa sadar bersentuhan dengan kulitnya, seperti ada sengatan listrik yang menjalar seluruh tubuhnya, namun ketegangan itu hanya berlaku beberapa detik saja, karena setelahnya Keandra menjauh, melangkah ke ruang tengah dengan kotak yang tadi dibawanya.
Jeviza terkesiap, ia menatap Keandra yang sudah duduk di sofa depan televisi, dengan langkah pelan, Jeviza mengikuti Keandra untuk ke sana.
"Duduk," ujarnya singkat, tetapi sudah mampu Jeviza baca arah tujuan kata singkat itu dari Keandra.
Tanpa banyak membantah, Jeviza menurut, gadis itu duduk di sofa dengan satu kakinya ia luruskan.
Sementara Kean mulai membuka kotak obat tersebut dan mengambil salah satunya di dalam sana. Saat Keandra turun ke bawah, Jeviza langsung menarik kakinya dengan ringisan lirih.
"Ish."
Keandra diam, tidak menatap Jeviza, tetapi justru mengamati kaki Jeviza yang sudah bengkak dan terlihat sangat merah.
"Tahan, Je," ujarnya mengambil pergelangan tangan Jeviza.
"Nggak perlu, kak. Tadi udah diobati kok," tolaknya merasa tidak enak.
"Obat yang lo pakai salah." Keandra akhirnya menatap pada Jeviza. "Atau, lo mau gue bawa ke tukang urut langganan mas Arlo aja?" tawar Keandra langsung mendapat gelengan kepala Jeviza.
Yang benar saja Keandra? Jeviza hanya terjatuh karena tertabrak orang tadi, bukan jatuh dari lantai dua atau tangga. Rasanya sangat berlebihan jika harus sampai di urut atau pijat segala.
Melihat gelengan kepala Jeviza, Keandra dengan sabar kembali memegang pergelangan kaki Jeviza, ia mengamati sebentar kaki Jeviza itu.
"Kalau gitu, biar gue obati."
"Tahan ya, Je?"
Jeviza mengangguk pelan, ia menyembunyikan bibirnya saat tangan Keandra mulai mengolesi sesuatu yang entah tidak dia ketahui, lalu dengan sekali gerakan, Keandra memutar pergelangan kakinya sampai terdapat bunyi kecil dari dalamnya.
Jeviza menjerit, ia hampir saja menangis jika saja rasa itu bertahan lama, tetapi anehnya rasa sakit yang luar biasa itu hanya bertahan beberapa detik saja, setelahnya Jeviza merasa tidak ada lagi nyeri pada pergelangan kakinya.
"Coba berdiri," titah Keandra dituruti Jeviza dengan ragu.
Perlahan Jeviza berdiri, ia masih sedikit kaku menggerakan bagian kaki kanannya, tetapi setelah dirasa kakinya normal seperti sedia kala, wajah Jeviza tidak bisa bohong, ia menatap Keandra dengan takjub.
"Sumpah, kak. Kaki gue udah nggak sakit lagi," ujarnya menggerakan kakinya dengan bebas.
"Eh, masih sedikit sih, tapi udah nggak kaya tadi, kaku dan nyeri banget."
Keandra tersenyum tipis, ia merapihkan kotak obat yang tadi dibawa olehnya, lalu menatap Jeviza yang masih menggerak-gerakan kakinya .
"Je."
"Makasih, kak."
Keandra mengangguk, sejujurnya Keandra ingin mengajak bicara Jeviza empat mata, dan mumpung momennya sangat pas, tidak ada Puspa dan Arlo di rumah itu. Tapi melihat Jeviza yang baru saja sakit kakinya, Keandra mengurungkan niatnya.
"Kak," lirihnya.
Keandra menoleh, ia kembali tersadar dengan pakaian yang dikenakan Jeviza malam ini, daster yang menampilkan lekuk tubuh gadis itu, bukan daster yang sering Puspa kenakan, daster jumbo yang sama sekali tidak semenarik daster Jeviza di mata Keandra saat ini, tetapi Keandra merasa sedikit lebih lega saat kemeja besar miliknya menutupi daster yang dikenakan oleh Jeviza.
"Umm?" Keandra menatap Jeviza yang terdiam di tempatnya.
Gadis itu meremat jemarinya, Kean dapat melihat bagaimana Jeviza menahan dirinya untuk tidak mengatakan sesuatu yang mungkin saja membuat gadis itu malu.
"Lo, mau pergi kak?"
Pertanyaan yang sangat hati-hati dan terkesan tetap menjaga gengsinya.
Keandra terdiam beberapa saat, lalu menatap Jeviza dengan diam. "Mungkin."
Raut wajah Jeviza seketika berubah, dan Keandra tahu itu.
"O-oke, gue ke atas dulu." Jeviza baru saja akan melangkahkan kakinya, namun suara Keandra seketika berhasil menghentikan langkahnya.
"Lo sendiri berani kan? Kalau denger suara aneh, jangan pernah keluar kamar, Je."
Seketika tubuh Jeviza menengang di tempatnya. Ia membalikan tubuhnya dengan pandangan nanar pada Keandra.
Keandra sengaja, ia ingin mendengar Jeviza menahannya, tentu saja apa yang Keandra katakan itu hanya karangannya saja, di rumah itu aman, tidak ada mahluk kasat mata yang menakuti, jika pun ada Keandra juga belum pernah melihat atau mendengar.
"Kak, sumpah?" suara Jeviza terdengar bergetar menahan tangis.
Entah kenapa melihat itu membuat Keandra yang tadinya sengaja mengerjai Jeviza justru tidak tega.
Ia mendekat, menarik pergelangan tangan Jeviza untuk ikut dengannya.
"Gue temenin lo sampai masuk kamar."
Jeviza menggeleng, ia menolak ajakan Keandra, meski ia sudah berada di kamarnya, tidak menutup kemungkinan ia akan mendengar suara yang tadi dimaksudkan Keandra.
"Gu-gue, boleh minta tolong?"
Keandra menghentikan langkahnya, ia menatap Jeviza beberapa saat, sebelum akhirnya menganggukan kepalanya.
"Antar, gue ke kost temen aja, kak," cicitnya.
Menghembuskan napasnya panjang, Keandra jadi tidak sabar menghadapi Jeviza yang masih saja mengelak keberadaannya, tidak ada ucapan yang keluar dari mulut gadis itu untuk menahan Keandra agar tetap berada di sana.
"Je," panggilnya serius.
"Lo yakin mau ke kost temen lo itu dengan baju kaya gitu?" suara Keandra terdengar tidak setenang tadi.
Jeviza melirik dirinya yang memang memakai baju tidak pantas jika keluar rumah.
Anehnya, ia merasa Keandra sedang menahan kesal.
Tetapi apa yang membuat Keandra kesal? Apa karena ia meminta tolong untuk diantarkan ke kost-san Sisil?
Tidak sabar lagi menghadapi Jeviza. Pada akhirnya Keandra menarik Jeviza, menghimpit gadis itu di antara dirinya dan dinding ruangan tengah.
Bukannya melawan, tubuh Jeviza justru kaku dan sulit digerakan. Napasnya bahkan mulai tidak beraturan seakan sedang menghadapi maut di depannya. Terputus-putus sampai suara Kean dengan jarak sedekat itu membuat Jeviza menahan napasnya dengan mata tertutup.
"Kenapa lo anggap, gue jahat?"
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Keandra, tetapi tangan Keandra masih mengungkung gadis itu di samping. Tidak memberi kesempatan untuk Jeviza kabur sebelum menjawab pertanyaannya.
"Kak, ini bukan waktu yang tepat buat bahas itu."
"Kapan? Nunggu kapan lagi Je? Gue udah coba nahan dari pertama kali kita ketemu."
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!