Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.
Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.
Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.
Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Menghancurkan
"Hah...." Zara menghela nafas lemah, ia menjadi ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.
Namun semua keheningan yang menusuk itu tak berlangsung lama. Karena begitu mereka berjalan melewati lorong, lalu memasuki sebuah ruangan dengan pintu bernomor 59, Herdi kembali bersikap ramah dan sangat peduli pada Zara.
"Duduk dulu sini. Mau minum? Kopi? Teh? Sirup?" tanya Herdi, langsung mendikte Zara dengan beragam penawaran.
"Sarapan dulu ya? Om pesenin bubur, sebentar," ucap Herdi sembari bergegas mengambil gagang telepon yang ada di atas meja sudut di samping televisi besar tepat di hadapan mereka.
Zara yang terlihat masih sangat canggung, duduk dengan sungkan di sudut sofa.
"Om buatin dulu teh ya," tawar Herdi sembari beralih ke sebuah mini bar di samping ruangan itu. Seolah ia menyadari bahwa Zara sedang mencoba mengumpulkan tekad untuk mengungkapkan sesuatu.
Trak!
Secangkir teh yang masih mengepulkan asap di taruhnya di atas meja di depan Zara.
Hap!
Herdi pun duduk di sofa tepat di seberang Zara. Namun Zara terlihat tidak nyaman, menyadari hal itu, Herdi pun mendekat lalu bertekuk lutut di depan Zara.
"Sambil nunggu buburnya datang, minum dulu teh nya," ujar Herdi sembari menyentuh punggung tangan Zara.
"Ya ampun, tangan kamu dingin banget. Ayo minum dulu," ulang Herdi sembaru menyodorkan cangkir teh itu ke tangan Zara.
Dengan sungkan Zara pun meneguknya perlahan.
"Habisin, bibir kamu kering banget. Biasakan banyak minum biar gak gampang sakit, ya," ucap Herdi penuh perhatian.
Setelah memastikan Zara meminum tehnya, Herdi kembali duduk di sofanya. Namun belum sampai tubuhnya menyentuh kursi nyaman itu, sebuah ketukan terdengar dari arah pintu tempat mereka masuk.
"Food Service!" seru seorang pria sembari mengetuk kembali pintu itu.
"Nah! Buburnya datang, tunggu ya," seru Herdi semringah.
Tak lama kemudian Herdi datang dengan semangkuk bubur ayam yang juga mengepulkan asap dan aroma menggugah selera. Melihat bubur itu mendekat, Zara segera menegakkan duduknya dengan antusias. Ia begitu senang melihat makanan itu karena memang ia sudah cukup lama tak memakan makanan yang layak selama ia tinggal di bawah asuhan Susi, dan kendali Reno.
"Pelan-pelan makannya. Lapar ya?" ucap Herdi sembari mengusap pucuk kepala Zara, lalu menyentuh pipinya.
Zara mendongak menatap wajah Herdi.
"Om gak makan?" tanyanya malu-malu.
"Om udah tadi sebelum pulang," jawab Herdi singkat.
Tak banyak bertanya, Zara segera melahap makanannya. Suapan demi suapan masuk ke mulutnya. Setiap suapan dan kunyahan, ia merasakan beragam emosi yang bercampur aduk. Sesaat ia tersenyum haru merasakan kelezatan yang begitu jarang ia rasakan lagi. Lalu tiba-tiba ia berkaca-kaca, betapa ia sedih lantaran hanya karena hal seremeh bubur, ia merasa begitu bahagia.
"Hiks ... Hiks ... Makasih ya Om udah baik sama aku," bisiknya pada akhirnya.
Namun Herdi tak mendengar jelas apa yang Zara katakan.
"Kenapa kamu nangis?" tanya Herdi terkejut.
"Hiks ... Hiks ... Om harus lihat ini, Hiks, aku gak sanggup bilang langsung ke Om, jadi aku rekam semuanya di sini, hiks ... Semua perlakuan Tante sama Reno ke aku, selama Om gak ada di rumah," lirih Zara dalam isakan.
Dengan ragu Herdi meraih ponsel di tangan Zara.
"I-ini hape kamu? Kalo Smartphone yang waktu itu Om kirim mana?" tanya Herdi sembari mengerutkan dahi.
"I-iya Om. Aku cuma punya ini aja. Emangnya kapan Om kirim?" jawab Zara seadanya.
"Hah ... Padahal waktu itu Om udah titipin Smartphone buat kamu ke Tantemu, haduh ... Padahal udah dibilangin harus bersikap baik sama kamu," desah Herdi frustrasi, sembari menatap layar ponsel itu dengan gelisah.
"Apa ini?" tanya Herdi sembari memicingkan matanya mencoba melihat dengan baik video rekaman yang ada di layar ponsel Zara.
Meski kualitas videonya buram, dan suara dari speakernya kurang jelas, namun bisa dipastikan itu merupakan video penyiksaan yang dilakukan oleh Susi kepada Zara. Bahkan suara pukulan, tendangan, hingga benturan serta suara rintihan Zara, terdengar begitu keras hingga Herdi refleks mengecilkan volume suaranya.
"I-ini? A-apa ini?" gagap Herdi dengan wajah memucat.
"Hampir tiap hari Tante begitu. Gak cuma Tante, Reno, dia juga ...." lirihnya menggantung.
Zara seolah tak sanggung mengatakannya dengan mulut sendiri. Pada akhirnya ia hanya membantu Herdi menggeser ke video berikutnya yang kini menampilkan sosok Reno dan dirinya.
"Siapa aja?" tanya Herdi dengan wajah menegang saat melihat perlakuan Reno yang terekam jelas terlihat sedang membentur-benturkan kepala Zara lalu mengguntingi rambutnya, karena posisi kamera yang sepertinya di taruh di atas meja sudut.
"Hm?" Zara mengangkat kedua alisnya, tak mengerti akan pertanyaan Herdi.
"Siapa aja yang tahu video ini? Kamu udah bilang kesiapa?" tanyanya kini dengan kalimat lengkap.
"E-enggak ada om." Zara menatap Herdi dengan wajah bingung.
"Sama sekali?" tekan Herdi memastikan.
"I-iya, aku baru kasih lihat ke Om. Aku udah gak sanggup ngadepin mereka. Aku pengen mereka dihukum dengan sangat be ... rat," lirih Zara dengan suara terputus dan mata sayu.
"Bagus," ucap Herdi sembari mematikan ponsel lalu tiba-tiba ...
Prak!