NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.

Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.

Misinya satu: BALAS DENDAM.

Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.

Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?

[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang Menghancurkan

"Hah...." Zara menghela nafas lemah, ia menjadi ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.

Namun semua keheningan yang menusuk itu tak berlangsung lama. Karena begitu mereka berjalan melewati lorong, lalu memasuki sebuah ruangan dengan pintu bernomor 59, Hardi kembali bersikap ramah dan sangat peduli pada Zara.

"Duduk dulu sini. Mau minum? Kopi? Teh? Sirup?" tanya Hardi, langsung mendikte Zara dengan beragam penawaran.

Zara berdiri kaku. Meski kebaikan adalah hal yang selalu ia harapkan, namun karena ia terbiasa diperlakukan buruk, sikap baik Hardi jadi terasa tidak nyaman baginya. Bukannya menjawab, ia hanya memutar-mutar kakinya canggung seperti kebingungan.

"Sarapan dulu ya? Om pesen bubur, sebentar," ucap Hardi sembari bergegas mengambil gagang telepon yang ada di atas meja sudut di samping televisi besar tepat di hadapan mereka.

Zara yang terlihat masih sangat canggung, duduk dengan sungkan di sudut sofa.

"Om buatin dulu teh ya," tawar Hardi sembari beralih ke sebuah mini bar di samping ruangan itu. Seolah ia menyadari bahwa Zara sedang mencoba mengumpulkan tekad untuk mengungkapkan sesuatu.

Trak!

Secangkir teh yang masih mengepulkan asap ditaruhnya di atas meja di depan Zara.

Hap!

Hardi pun duduk di sofa tepat di seberang Zara. Namun Zara terlihat tidak nyaman, menyadari hal itu, Hardi pun mendekat lalu bertekuk lutut di depan Zara.

"Sambil nunggu buburnya datang, minum dulu tehnya," ujar Hardi sembari menyentuh punggung tangan Zara.

"Ya ampun, tangan kamu dingin banget. Ayo minum dulu," ulang Hardi sembari menyodorkan cangkir teh itu ke tangan Zara.

Dengan sungkan Zara pun meneguknya perlahan.

"Habisin, bibir kamu kering banget. Biasakan banyak minum biar gak gampang sakit, ya," ucap Hardi penuh perhatian.

Setelah memastikan Zara meminum tehnya, Hardi kembali duduk di sofanya. Namun belum sampai tubuhnya menyentuh kursi nyaman itu, sebuah ketukan terdengar dari arah pintu tempat mereka masuk.

"Food Service!" seru seorang pria sambil mengetuk kembali pintu itu.

"Nah! Buburnya datang, tunggu ya," seru Hardi semringah.

Tak lama kemudian Hardi datang dengan semangkuk bubur ayam yang juga mengepulkan asap dan aroma menggugah selera. Melihat bubur itu mendekat, Zara segera menegakkan duduknya dengan antusias. Ia begitu senang melihat makanan itu karena memang ia sudah cukup lama tak memakan makanan yang layak selama ia tinggal di bawah asuhan Susi, dan kendali Reno.

"Pelan-pelan makannya. Lapar ya?" ucap Hardi sembari mengusap pucuk kepala Zara, lalu menyentuh pipinya.

Zara mendongak menatap wajah Hardi. "Om gak makan?" tanyanya malu-malu.

"Om udah tadi sebelum pulang," jawab Hardi singkat.

Tak banyak bertanya, Zara segera melahap makanannya. Suapan demi suapan masuk ke mulutnya. Setiap suapan dan kunyahan, ia merasakan beragam emosi yang bercampur aduk. Sesaat ia tersenyum haru merasakan kelezatan yang begitu jarang ia rasakan lagi. Lalu tiba-tiba ia berkaca-kaca, betapa ia sedih lantaran hanya karena hal seremeh bubur, ia merasa begitu bahagia.

"Hiks ... Hiks ... Makasih ya Om udah baik sama aku," bisiknya pada akhirnya.

Namun Hardi tak mendengar jelas apa yang Zara katakan.

"Kenapa kamu nangis?" tanya Hardi terkejut.

"Hiks ... Hiks ... Om harus lihat ini, Hiks, aku gak sanggup bilang langsung ke Om, jadi aku rekam semuanya di sini, hiks ... Semua perlakuan Tante sama Reno ke aku, selama Om gak ada di rumah," lirih Zara dalam isakan.

Dengan ragu Hardi meraih ponsel di tangan Zara.

"I-ini hape kamu? Kalo Smartphone yang waktu itu Om kirim mana?" tanya Hardi sembari mengerutkan dahi.

"I-iya Om. Aku cuma punya ini aja. Emangnya kapan Om kirim?" jawab Zara seadanya.

"Hah ... Padahal waktu itu Om udah titipin Smartphone buat kamu ke Tantemu, haduh ... Padahal udah dibilangin harus bersikap baik sama kamu," desah Hardi frustasi, sembari menatap layar ponsel itu dengan gelisah.

"Apa ini?" tanya Hardi sembari memicingkan matanya mencoba melihat dengan baik video rekaman yang ada di layar ponsel Zara.

Meski kualitas videonya buram, dan suara dari speakernya kurang jelas, namun bisa dipastikan itu merupakan video penyiksaan yang dilakukan oleh Reno kepada Zara. Bahkan suara tamparan hingga serta suara rintihan Zara, terdengar begitu keras hingga Hardi refleks mengecilkan volume suaranya.

"I-ini? A-apa ini?" gagap Hardi dengan wajah memucat.

"Hampir tiap hari Reno begitu. Gak cuma Reno, Tante...." lirihnya menggantung.

Zara seolah tak sanggup mengatakannya dengan mulut sendiri. Pada akhirnya yang bicara hanya bulir-bulir air mata yang mengalir deras di kedua pipi Zara.

"Siapa aja?" tanya Hardi dengan wajah menegang saat melihat perlakuan Reno yang terekam jelas terlihat sedang menoyor-noyor kepala Zara lalu menggunting rambutnya, karena posisi kamera yang sepertinya ditaruh di atas meja sudut.

"Hm?" Zara mengangkat kedua alisnya, tak mengerti akan pertanyaan Hardi.

"Siapa aja yang tau video ini? Kamu udah bilang ke siapa?" tanyanya kini dengan kalimat lengkap.

"E-nggak ada om." Zara menatap Hardi dengan wajah bingung.

"Sama sekali?" tekan Hardi memastikan.

"I-iya, aku baru kasih lihat ke Om. Aku udah gak sanggup ngadepin mereka. Aku pengen mereka dihukum dengan sangat berat…." lirih Zara dengan suara terputus dan mata sayu.

"Bagus," ucap Hardi sembari mematikan ponsel lalu tiba-tiba ...

Prak!

Dilemparnya ponsel mungil itu hingga memantul dari dinding ke lantai dan pecah berserakan.

1
jamescortis
semangat thor 🔥🔥
Key Kastara: Trimakasih kakak 🔥✨
total 1 replies
Musea
wihh semangat yaa dari sesama author
Key Kastara: Trimakasih kakak siap 🤗✨
total 1 replies
Wawan
Salam kenal buat Zara ✍️
Key Kastara: Salam kenal kakak 🤗✨
total 1 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Aku mau kopi tubruk sama 76🚬🗿👍🏻
Key Kastara: Otewe, dimana 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!