NovelToon NovelToon
MUTIARA BUMI : Sang Kucing Putih & Sang CEO

MUTIARA BUMI : Sang Kucing Putih & Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: kawaichanopi

Mutiara Bumi: Sang Kucing Putih dan Sang CEO

Bai Xue adalah makhluk asing berwujud kucing berbulu putih cantik yang datang ke Bumi bersama empat temannya. Misi mereka adalah mengumpulkan Mutiara Energi untuk menyelamatkan planet asal mereka yang terancam punah. Mereka semua bisa berubah wujud menjadi manusia kapan saja.

Di Bumi, Bai Xue berubah menjadi gadis cantik berusia 20 tahun yang mungil, ceria, dan baik hati. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, seorang CEO muda kaya raya yang jenaka, tengil, agak ceroboh, dan memiliki keunikan: ia sangat alergi terhadap kucing.

Awalnya pertemuan mereka penuh insiden konyol, namun lama-kelamaan Xiao Chen mengetahui rahasia Bai Xue dan mulai jatuh hati padanya. Bersama teman-teman alien dan orang-orang kepercayaannya, mereka berusaha mengumpulkan energi sambil melawan musuh yang ingin mencuri kekuatan para alien dan menghancurkan perusahaan Xiao Chen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Menjelang Hari Penentuan

Tujuh hari terasa berjalan begitu cepat, namun terasa sangat panjang bagi mereka yang sedang bersiap menghadapi ancaman dari luar angkasa. Selama masa itu, kediaman keluarga Xiao berubah dari tempat tinggal mewah biasa menjadi pusat persiapan yang sibuk namun teratur. Tidak ada lagi waktu untuk bersantai atau bercanda—setiap detik digunakan untuk memperkuat kemampuan, mengumpulkan sisa energi, dan menyusun strategi.

Di halaman belakang yang luas, pagi itu diselimuti kabut tipis. Xiao Chen berdiri tegak di tengah lingkaran yang digambar dengan cahaya perak di tanah, matanya terpejam rapat. Di sekelilingnya, Ratu Lien dan Bai Xue berdiri pada posisi tertentu, mengalirkan energi mereka secara perlahan namun mantap untuk membimbingnya.

"Rasakan aliran itu, Nak. Jangan paksakan, jangan tahan. Biarkan energi dari liontin itu menyatu dengan darahmu, dengan napasmu, dengan seluruh keberadaanmu," suara Ratu Lien terdengar lembut namun tegas, membimbing putranya.

Xiao Chen mengangguk pelan, napasnya teratur dan dalam. Sejak mengetahui asal-usulnya, ia telah belajar mengendalikan kekuatan yang selama ini tersembunyi di dalam dirinya. Liontin di dadanya kini bersinar terang, memancarkan cahaya emas yang perlahan menyelimuti seluruh tubuhnya, membentuk lapisan pelindung yang kuat namun ringan.

Di sampingnya, Bai Xue juga memusatkan energi. Cahaya putih lembut memancar dari telapak tangannya, menyatu dengan cahaya emas milik Xiao Chen, membentuk lingkaran cahaya yang semakin luas dan terang.

"Kalian lihat?" kata Wu Gui yang mengamati dari pinggir dengan wajah puas. "Energi mereka menyatu sempurna, jauh lebih kuat daripada jika digunakan sendiri. Itulah kekuatan ikatan mereka—sesuatu yang tidak dimiliki oleh pasukan Armada Penegak yang hanya mengandalkan perintah dan kekuasaan."

Feng Huang dan Hu Die sedang memeriksa perisai energi yang telah dipasang di sekeliling seluruh area rumah. Perisai itu tidak hanya berfungsi melindungi dari serangan fisik, tetapi juga menyembunyikan keberadaan mereka dari deteksi teknologi luar angkasa.

"Perisai ini sudah diperkuat tiga kali lipat," lapor Feng Huang sambil menatap layar kecil di pergelangan tangannya. "Tapi kita tidak bisa bergantung sepenuhnya padanya. Armada Penegak memiliki teknologi yang sangat maju—mereka mungkin bisa menembusnya jika menyerang dengan kekuatan penuh."

"Karena itu kita harus memiliki pilihan lain," tambah Hu Die. "Jika perang tidak bisa dihindari, kita harus bisa mempertahankan diri sambil tetap membuka jalan untuk berbicara. Kita tidak ingin menjadi penyerang pertama."

Sementara itu, Tu Zi bergerak lincah di antara mereka, membawa peralatan kecil dan mencatat data yang diperlukan. "Saya sudah memeriksa semua sumber energi di sekitar sini—pohon, sungai, bahkan emosi penduduk kota yang damai. Semua bisa kita gunakan sebagai cadangan jika diperlukan!"

Hari-hari berlalu dengan latihan yang melelahkan namun bermanfaat. Xiao Chen belajar mengeluarkan gelombang energi, menciptakan perisai pelindung, dan bahkan mengubah energi menjadi bentuk fisik seperti pedang atau perisai. Setiap hari ia menjadi semakin kuat, semakin percaya diri dengan kekuatan yang dimilikinya.

Pada malam keenam, saat mereka sedang berkumpul di ruang tengah untuk membahas rencana terakhir, Sistem X-9 tiba-tiba berbunyi keras. Layar proyeksi menyala terang, menampilkan titik cahaya yang bergerak semakin cepat di peta langit.

"Peringatan! Sinyal deteksi semakin kuat! Armada Penegak telah memasuki sistem tata surya kita! Mereka akan tiba di orbit Bumi dalam waktu 24 jam!"

Suasana ruangan seketika menjadi hening. Waktu yang mereka miliki kini tersisa kurang dari satu hari.

"Jadi saatnya tiba," kata Ratu Lien dengan suara tenang, meski matanya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. Ia menatap putranya, lalu Bai Xue dan teman-temannya satu per satu. "Dengar baik-baik rencana kita. Begitu mereka tiba, saya akan pergi menemui mereka lebih dulu untuk berbicara, mencoba menjelaskan keadaan sebenarnya."

"Tidak, Ibu," potong Xiao Chen tegas. "Saya yang akan pergi. Saya adalah anakmu, saya adalah perwakilan dari dua dunia ini. Jika mereka datang untuk menuntut jawaban, mereka harus berbicara dengan saya."

"Tapi mereka bisa menyakitimu!" seru Ratu Lien cemas. "Mereka tidak mengenalmu, mereka hanya melihatmu sebagai keturunan yang tidak diinginkan, atau bahkan sebagai alat."

"Justru karena itu saya harus pergi," jawab Xiao Chen dengan tatapan mantap. "Jika saya bisa menunjukkan bahwa ada cara lain, bahwa damai itu mungkin, maka mereka akan mendengarkan. Dan jika tidak... saya akan kembali, dan kita akan bertahan bersama-sama."

Bai Xue mengangguk setuju. "Saya akan ikut bersamamu. Sebagai penjelajah yang dikirim untuk misi damai, saya juga memiliki hak untuk berbicara. Kita akan menunjukkan pada mereka bahwa kita tidak berniat berperang, tapi juga tidak akan mundur."

Wu Gui menghela napas panjang, lalu mengangguk. "Baiklah. Rencana disetujui. Kita akan membagi tugas: Ratu Lien akan tetap di sini untuk mengatur pertahanan dan cadangan energi. Feng Huang, Hu Die, dan Tu Zi akan berada di posisi siap siaga, siap membantu kapan saja diperlukan. Xiao Chen dan Bai Xue akan pergi menemui komandan Armada Penegak di orbit Bumi."

Malam itu, tidak ada yang bisa tidur nyenyak. Xiao Chen dan Bai Xue berdiri di teras rumah, menatap langit malam yang gelap dan penuh bintang. Angin malam berhembus lembut, membawa kesejukan namun juga rasa tegang yang tidak bisa dihilangkan.

"Kau tidak takut?" tanya Bai Xue pelan, menatap wajah pemuda di sampingnya.

Xiao Chen menoleh, tersenyum tipis. "Takut tentu saja. Siapa yang tidak takut menghadapi pasukan yang bisa menghancurkan seluruh kota ini? Tapi... aku lebih takut jika kita tidak mencoba. Jika kita hanya bertahan dan membiarkan mereka datang dengan kekerasan, maka semuanya akan hancur."

Ia menggenggam tangan Bai Xue erat-erat. "Tapi selama kita bersama, aku merasa kuat. Seolah-olah tidak ada yang tidak bisa kita hadapi."

Bai Xue membalas genggaman itu, menempelkan kepalanya di bahu Xiao Chen. "Aku juga merasa begitu. Dulu aku datang ke sini sendirian, tidak tahu apa yang akan terjadi. Sekarang... aku punya keluarga, punya rumah, punya orang yang aku cintai. Dan aku akan melindunginya dengan sekuat tenaga."

Mereka berdiri berdua dalam keheningan, saling menguatkan satu sama lain. Di langit yang jauh, bayangan besar mulai terlihat samar-samar, semakin jelas seiring berjalannya waktu. Armada Penegak telah tiba.

Keesokan paginya, langit yang biasanya cerah berubah menjadi kelabu. Awan-awan bergerak dengan cepat, dan udara terasa berat. Di atas atmosfer Bumi, sebuah kapal induk raksasa berbentuk elips melayang dengan gagah, diikuti oleh ratusan pesawat tempur yang lebih kecil. Teknologi canggih mereka membuatnya tidak terlihat oleh mata telanjang manusia biasa, namun bagi mereka yang memiliki kepekaan energi, kehadiran mereka terasa seperti beban berat yang menindih seluruh bumi.

Di dalam kapal induk itu, di ruang komando yang luas dan megah, berdiri seorang pria berwibawa dengan pakaian perwira yang dihiasi lambang bintang. Itu adalah Komandan Kael, pemimpin Armada Penegak yang ditugaskan untuk membawa kembali Ratu Lien dan menegakkan perintah Dewan Tertinggi.

Di depannya, layar besar menampilkan gambar kediaman keluarga Xiao yang tersembunyi di balik perisai energi.

"Mereka sudah siap," gumam Komandan Kael dengan suara berat. "Tapi perisai mereka tidak akan bertahan lama. Sesuai perintah, jika mereka tidak menyerah dalam waktu dua jam, kita akan mulai menurunkan pasukan."

Namun, sebelum ia bisa memberi perintah lebih lanjut, alarm di ruang komando berbunyi pelan. Petugas di sebelahnya melaporkan:

"Komandan! Ada dua tanda energi yang mendekat! Mereka datang dengan pesawat kecil yang tidak bersenjata, dan mereka meminta izin untuk berbicara!"

Komandan Kael mengerutkan keningnya, lalu menatap layar yang menampilkan dua sosok yang mendekat. Seorang pemuda manusia dengan cahaya emas di dadanya, dan seorang gadis penjelajah dengan cahaya putih di sekelilingnya.

"Jadi mereka datang sendiri," gumamnya. "Baiklah. Biarkan mereka masuk. Aku ingin mendengar apa yang mereka katakan."

Di luar, di dalam pesawat kecil yang sederhana, Xiao Chen dan Bai Xue saling pandang, lalu mengangguk satu sama lain. Pintu masuk kapal induk raksasa itu terbuka perlahan, memancarkan cahaya terang yang menyambut mereka.

Hari penentuan telah tiba. Di depan mereka terletak pilihan yang akan menentukan nasib dua dunia: damai atau perang, persatuan atau kehancuran. Dan di tengahnya, dua hati yang terikat satu sama lain siap menghadapi apa pun yang akan datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!