"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Runtuhnya Takhta Sang Predator
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela hotel dengan cahaya yang tajam, seolah siap menguliti setiap rahasia busuk yang tersimpan di balik nama besar keluarga Adhitama. Baskara sudah berdiri di balkon, kemejanya sudah rapi meski jasnya masih tersampir di kursi. Wajahnya dingin, matanya menatap lurus ke arah cakrawala kota dengan tatapan yang bisa membuat nyali siapapun menciut.
Ia meraih ponselnya dan menekan satu tombol cepat.
"Ya, Pak Jaksa?" suara asistennya, Doni, terdengar di seberang sana.
"Doni, dengarkan baik-baik. Ayahku akan mendarat di bandara tiga puluh menit lagi. Jangan jemput dia dengan supir pribadi. Kirimkan dua mobil operasional kejaksaan langsung ke depan pintu kedatangan," perintah Baskara tanpa nada ragu.
"Dua mobil, Pak? Apakah ini penjemputan resmi?"
"Ini penjemputan paksa," jawab Baskara dingin. "Siapkan tim penyidik. Aku sudah memiliki semua bukti digital dari kamar rahasia itu—video, foto, dan catatan medis Sari yang dipalsukan. Pastikan surat penangkapan sudah ditandatangani oleh atasan sebelum dia menginjakkan kaki di kantor."
"Baik, Pak. Tapi... ini Tuan Adhitama, Ayah Anda sendiri. Apakah Anda yakin tidak ingin bertemu beliau secara pribadi dulu?" Doni bertanya dengan suara pelan.
Baskara terdiam sejenak. Ia melirik Arini yang masih tertidur lelap di atas tempat tidur, wajah istrinya tampak begitu damai di balik selimut. Mengingat kengerian yang dialami Arini dan Sari di rumah itu, rahang Baskara mengeras.
"Di mata hukum, dia bukan ayahku. Dia adalah predator dan pembunuh. Lakukan sekarang," Baskara menutup teleponnya sebelum Doni sempat membantah.
Arini mengerjap, terbangun karena suara berat Baskara. Ia duduk dan merapikan rambutnya, matanya langsung menangkap sosok Baskara yang berdiri mematung di balkon. "Bas... jadi hari ini?"
Baskara berbalik, mendekati Arini lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia membelai pipi Arini, memberikan kecupan lembut yang penuh perlindungan. "Hari ini sejarah kelam itu berakhir, Sayang. Kamu tidak perlu ikut ke kantor. Aku ingin kamu tetap di sini, atau pergi ke rumah sakit jika kamu merasa sanggup. Aku sudah menempatkan dua orang pengawal di depan kamar ini."
"Aku ingin ikut, Bas," Arini memegang tangan Baskara. "Sari... dia ingin melihat ini berakhir. Dia berhak mendapatkan keadilannya lewat tanganmu."
Baskara menatap istrinya dalam-dalam. Sifat posesifnya sebenarnya ingin mengunci Arini di hotel agar aman, namun ia tahu Arini adalah saksi kunci dari sisi yang tidak bisa dijangkau oleh hukum manusia.
"Baiklah. Mandilah. Kita akan selesaikan ini bersama," ucap Baskara, sambil mencium punggung tangan Arini.
Tiga jam kemudian, di lobi kantor Kejaksaan Tinggi, suasana mendadak sunyi saat Tuan Adhitama melangkah masuk dengan setelan jas mahal dan senyum berwibawa. Ia tampak tenang, seolah tidak tahu bahwa dunianya akan runtuh dalam hitungan detik.
Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat Baskara berdiri di tengah lobi bersama Arini, dikelilingi oleh belasan petugas berseragam.
"Baskara? Ada apa dengan sambutan meriah ini? Kenapa menantu kesayanganku juga ada di sini?" tanya Tuan Adhitama dengan nada meremehkan.
Baskara maju selangkah, mengeluarkan sebuah tablet dan menunjukkan satu cuplikan video dari kamar rahasia. Wajah Tuan Adhitama yang tadinya angkuh, seketika berubah menjadi pucat pasi. Matanya yang licin mulai mencari celah untuk kabur.
"Tuan Adhitama," suara Baskara menggema di seluruh lobi, membuat semua staf berhenti bekerja. "Anda ditahan atas tuduhan child grooming, kekerasan seksual berat, dan pembunuhan berencana terhadap almarhumah Sari. Segala hak Anda sebagai warga negara akan diproses sesuai hukum yang berlaku."
Di belakang Baskara, Arini melihat sosok Sari muncul di samping Tuan Adhitama. Sari tidak lagi menyerang; ia hanya berdiri di sana dengan air mata darah yang mengalir, menatap tuannya yang dulu begitu ia takuti kini terpojok tanpa daya.
"Baskara! Aku ayahmu! Jangan kurang ajar!" teriak Tuan Adhitama saat petugas mulai memborgol tangannya.
Baskara tidak berkedip. Ia justru merangkul bahu Arini, menarik istrinya mendekat seolah ingin menunjukkan pada ayahnya bahwa Arini adalah wilayah suci yang tidak boleh dikotori.
"Ayahku sudah mati saat dia mulai menyentuh anak kecil di rumahnya sendiri," ucap Baskara dengan nada yang sangat tajam. "Bawa dia!"
Saat Tuan Adhitama diseret keluar, Arini merasakan hembusan angin dingin yang menenangkan. Mika tiba-tiba muncul di sampingnya, meski wajahnya masih agak pucat.
"Puas banget lihatnya, Rin," bisik Mika sambil nyengir. "Penjahat berdasi emang paling enak kalau diborgol di depan umum."
Baskara menarik Arini ke dalam pelukannya di tengah keramaian itu, mengabaikan tatapan semua orang. "Sudah selesai, Arini. Dia tidak akan pernah menyentuhmu lagi."
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣