Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Sekoci itu terombang-ambing di atas permukaan laut yang kini dipenuhi jelaga dan puing-puing baja. Di belakang mereka, sisa-sisa The Hive tenggelam ke dasar palung, membawa pergi jeritan mekanis dan rahasia-rahasia terkutuk yang tak seharusnya ada. Adella memeluk ibunya erat, merasakan detak jantung wanita itu yang tidak beraturan. Udara pagi yang asin menusuk paru-parunya, memberikan sensasi dingin yang menyakitkan namun sekaligus membebaskan.
"Kita sudah bebas, Bu," bisik Adella, meski ia tahu kata-kata itu adalah kebohongan yang paling manis yang pernah ia ucapkan.
Ia menatap telapak tangannya. Masih ada sisa darah di sana—darah Julian, darah para penjaga, dan mungkin darah yang sama yang mengalir di nadinya. Ia telah menghancurkan satu monster, namun ia baru saja menyadari bahwa di dunia yang dikelola oleh angka dan data, monster tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya melakukan update.
Dua hari kemudian, Adella terbangun di sebuah kamar kecil dengan dinding beton telanjang di pinggiran Singapura. Bau disinfektan dan kopi murah memenuhi ruangan. Ia tidak lagi mengenakan gaun biru atau hoodie kotornya; ia mengenakan pakaian santai yang dibelikan oleh Zero.
Viona duduk di pojok ruangan, wajahnya diterangi oleh cahaya tiga monitor laptop yang masih menyala. Matanya merah karena kurang tidur. Begitu melihat Adella bergerak, Viona segera mendekat.
"Ibumu ada di kamar sebelah. Dia sedang tidur di bawah pengaruh penenang ringan. Fisiknya lemah, tapi mentalnya... dia mulai stabil," lapor Viona.
Adella bangkit dari tempat tidur, mengabaikan rasa nyeri di sekujur tubuhnya. "Berapa banyak yang selamat dari platform itu?"
Viona terdiam sejenak, lalu memutar sebuah video berita internasional di layar utama.
"...Ledakan di platform pengeboran lepas pantai milik konsorsium swasta dinyatakan sebagai kecelakaan teknis akibat kebocoran gas. Pihak otoritas menyatakan tidak ada korban jiwa yang ditemukan, namun sumber internal menyebutkan beberapa petinggi perusahaan menghilang tanpa jejak."
"Aristho?" tanya Adella pendek.
"Tidak ada mayat, tidak ada jejak digital. Tapi aku menemukan sesuatu yang lebih buruk," Viona menekan beberapa tombol. "Begitu The Hive hancur, sebuah protokol otomatis bernama 'Cradle' aktif. Itu adalah sistem cadangan yang tersebar di sepuluh kota besar dunia—London, New York, Tokyo, termasuk Jakarta. Mereka memindahkan seluruh data subjek ke server yang lebih kecil dan lebih sulit dilacak."
Adella berjalan menuju meja kerja Viona. Di layar, ia melihat peta dunia dengan titik-titik merah yang berkedip. "Jadi pertempuran di laut itu hanya menghancurkan pusat kendalinya, bukan otaknya."
"Lebih dari itu," Viona menelan ludah. "Adella, lihat ini."
Viona membuka sebuah file yang berhasil diunduh sesaat sebelum Logic Bomb meledak. Itu adalah daftar 'Proyek Origin' yang baru. Di urutan paling atas, bukan lagi nama Adella.
SUBJEK 001-A (REBOOT): LUKAS MAHENDRY.
Adella mengerutkan kening. "Lukas? Siapa dia?"
"Anak angkat Julian yang selama ini disembunyikan. Dia baru berusia delapan tahun, dan berdasarkan data ini, dia adalah versi 'perbaikan' darimu. Aristho tidak lagi membutuhkanmu, Adella. Kamu dianggap sebagai produk yang cacat karena memiliki empati dan keinginan untuk melawan. Lukas adalah subjek yang dirancang tanpa kelenjar emosi yang berfungsi penuh."
Adella merasa dingin merayapi tulang belakangnya. Aristho tidak berhenti; dia hanya mengganti bidaknya dengan sesuatu yang lebih patuh. Rasa tanggung jawab yang besar menghimpit dadanya. Jika ia membiarkan ini, maka ribuan anak lain akan berakhir seperti dirinya, atau lebih buruk lagi: menjadi mesin tanpa jiwa.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan pola tertentu. Zero masuk dengan wajah tegang.
"Kita harus pindah. Sekarang," ujar Zero. "Sebuah transmisi baru terdeteksi di jaringan bawah tanah. Seseorang menggunakan akun lama Pak Adwan untuk mengirimkan pesan ke seluruh forum peretas."
"Pak Adwan masih hidup?" Adella tersentak.
"Bukan dia. Seseorang menggunakan 'hantu'-nya," Zero menunjukkan pesan singkat di ponselnya.
"Untuk Adella: Arsitek tidak pernah membangun satu rumah tanpa menyiapkan kunci cadangan. Temui aku di Perpustakaan Tua Persada dalam 24 jam, atau Lukas akan memulai 'Pelajaran Pertama'-nya."
Adella mengepalkan tangan. Perpustakaan Tua Persada. Tempat di mana semua mimpi buruknya dimulai. Ia tahu ini adalah jebakan. Ia tahu Aristho—atau siapa pun yang mengirim pesan itu—sedang memancingnya kembali ke awal cerita.
"Jangan pergi, Adella. Itu bunuh diri," cegah Viona.
"Jika aku tidak pergi, anak itu akan menjadi sepertiku. Dan dunia tidak butuh Adella kedua yang dikendalikan oleh mereka," Adella mengambil pulpen hitam yang kini sudah ia modifikasi dengan peluncur jarum beracun.
Ia menatap bayangannya di layar monitor yang gelap. Matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan. Ia telah melewati api, pengkhianatan, dan rahasia darah. Kini, ia bukan lagi seorang murid yang mencari perlindungan.
Ia adalah pemburu.
"Viona, siapkan jalur komunikasi satelit. Zero, aku butuh perlengkapan paling mutakhir yang kamu punya," perintah Adella. Suaranya kini memiliki otoritas yang bahkan membuat Zero tertegun.
Adella berjalan keluar kamar, berhenti sejenak di depan pintu kamar ibunya. Ia tidak masuk, takut jika ia melihat wajah ibunya, tekadnya akan goyah. Ia hanya membisikkan janji pelan di balik pintu kayu itu.
"Kali ini, aku akan membakar akarnya sampai habis, Bu."
Bab 26 berakhir dengan Adella yang berdiri di dermaga Singapura, menatap ke arah selatan. Di ufuk sana, badai lain sedang menunggu, namun kali ini, Adella adalah badai yang sebenarnya.
Permainan belum berakhir. Ini hanyalah pembukaan dari musim baru di mana sang mahakarya memutuskan untuk menghancurkan tangan yang ingin melukisnya.