NovelToon NovelToon
THE SILENCE OF ADORING YOU

THE SILENCE OF ADORING YOU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema di Lorong-Lorong Waktu

Dua tahun telah berlalu sejak peresmian Perpustakaan Nasional yang dramatis itu. Di Yogyakarta, Atelier Aksara bukan lagi sekadar firma arsitektur dan studio penulisan; ia telah berevolusi menjadi sebuah oase bagi para pemimpi. Perbukitan yang dulu sepi kini sering dikunjungi oleh mahasiswa, penulis pemula, dan arsitek muda yang ingin menghirup udara idealisme yang ditawarkan oleh pasangan Raka dan Alana.

Arka Aksara, yang kini sudah bisa berlari kecil, menjadi penghuni paling setia di lorong-lorong buku. Ia adalah jembatan hidup antara dunia garis dan dunia kata. Bagi Arka, rumah adalah tempat di mana aroma kertas lama dan suara ketukan *keyboard* ibunya berpadu dengan suara penggaris baja ayahnya di atas meja kayu.

Namun, ketenangan itu mulai terusik ketika sebuah undangan resmi datang dari Stockholm. Raka dan Alana dinobatkan sebagai penerima *Global Award for Humanistic Spaces*. Sebuah penghargaan internasional yang mengakui sinergi antara narasi sastra dan desain ruang.

"Stockholm, Raka. Itu jauh sekali," ujar Alana sambil mencoba menangkap Arka yang sedang berusaha memanjat rak buku kategori filsafat.

Raka meletakkan cangkir kopinya, menatap istrinya dengan tatapan yang penuh pertimbangan. "Ini bukan sekadar penghargaan, Lan. Mereka ingin kita memberikan kuliah umum tentang bagaimana 'Meja Nomor 15' menjadi fondasi bagi sebuah gedung nasional. Dunia ingin tahu rahasia kita."

Ketenaran membawa konsekuensi yang tak terduga. *Atelier Aksara* yang dulu tertutup kini sering didatangi wartawan. Alana, yang secara alami adalah seorang introvert, mulai merasakan sesak. Ia merindukan masa-masa ketika ia hanya seorang pengagum rahasia yang tidak perlu menjelaskan isi kepalanya kepada siapa pun.

"Aku merasa seperti komoditas, Raka," aku Alana suatu malam di teras rumah. "Orang-orang datang ke sini bukan untuk membaca atau belajar, tapi untuk mengambil foto sudut-sudut estetis rumah kita. Mereka mencari 'romantisme' yang kita tulis, tapi mereka tidak melihat keringat dan perdebatan di balik dinding-dinding ini."

Raka terdiam. Ia menyadari bahwa ia telah membangun sebuah mercusuar, dan kini cahaya itu menarik terlalu banyak perhatian. "Mungkin kita butuh 'ruang rahasia' baru, Lan. Sebuah tempat di mana hanya ada kita, tanpa kamera, tanpa wawancara."

Alih-alih bersiap untuk perjalanan ke Swedia, Raka justru memulai sebuah proyek rahasia di bagian paling belakang lahan Atelier Aksara. Ia membangun sebuah paviliun kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon bambu dan pohon kamboja tua.

Bangunan itu tidak menggunakan kaca-kaca besar atau struktur baja yang mencolok. Ia hanya menggunakan batu kali, kayu sisa konstruksi, dan atap rumbia. Di dalamnya hanya ada satu meja panjang tanpa nomor, tanpa label.

"Ini apa, Raka?" tanya Alana saat Raka menuntunnya ke sana suatu sore.

"Ini adalah 'Meja Nomor 0'," jawab Raka. "Tempat di mana kamu tidak perlu menjadi novelis terkenal, dan aku tidak perlu menjadi arsitek pemenang penghargaan. Tempat di mana kita kembali menjadi mahasiswa yang hanya punya mimpi dan kejujuran."

Di paviliun itulah, Alana mulai menulis naskah barunya. Bukan tentang cinta yang rumit atau mafia yang kelam, melainkan tentang kesederhanaan menjadi seorang ibu dan istri. Ia menulis tentang bagaimana sebuah rumah dibangun bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dirasakan.

Perjalanan ke Stockholm akhirnya dilakukan. Di sebuah aula megah yang dihadiri oleh para intelektual dunia, Raka dan Alana berdiri berdampingan. Raka berbicara tentang teknis "arsitektur empatik", sementara Alana membacakan esai tentang "ruang yang bernapas lewat kata".

Di tengah pidatonya, Alana melihat ke arah penonton dan melihat Arka yang sedang digendong oleh Dinda di barisan belakang. Anak itu menatap lampu gantung kristal yang mewah dengan rasa ingin tahu yang sama seperti saat ia menatap kubah kaca di Jakarta.

"Keberhasilan sebuah bangunan," ucap Alana ke arah mikrofon, suaranya mantap, "bukan diukur dari berapa banyak penghargaan yang ia terima. Tapi dari berapa banyak anak kecil yang merasa aman untuk bermimpi di bawah atapnya. Suami saya membangun dinding, saya memberikan jiwa pada dinding itu. Tapi anak kami... dialah yang membuat dinding-dinding itu menjadi rumah."

Tepuk tangan berdiri memenuhi aula itu. Di saat itulah, Raka menyadari bahwa mereka telah melampaui "Meja Nomor 15". Mereka telah menciptakan bahasa baru—bahasa di mana garis dan kata tidak lagi saling mendahului, melainkan berjalan beriringan.

Sekembalinya dari Swedia, tawaran proyek global mulai berdatangan. Firma arsitektur besar dari London dan New York ingin bekerja sama. Namun, Raka dan Alana membuat keputusan yang mengejutkan banyak orang. Mereka memilih untuk membatasi operasional Atelier Aksara.

Mereka kembali ke desa-desa di sekitar Yogyakarta. Raka membantu warga membangun sistem pengairan yang artistik dan fungsional, sementara Alana mendirikan taman-taman baca di balai desa.

"Kita sudah melihat puncak gunung, Lan," kata Raka saat mereka sedang menanam bibit pohon di halaman depan perpustakaan desa yang baru selesai mereka bantu. "Ternyata udaranya terlalu tipis di sana. Aku lebih suka udara di sini, yang bau tanah dan basah."

Alana tersenyum, menyeka keringat di dahi Arka yang ikut membantu menyiram tanaman dengan gembor kecilnya. "Di sini, suara kita lebih terdengar, Raka. Karena di sini, orang benar-benar mendengarkan, bukan hanya menonton."

Alana duduk di paviliun pribadi yang ia namai "Meja Nomor 0," tempat tersembunyinya inspirasi. Buku catatan di tangannya kini hampir penuh, halaman demi halaman menjadi saksi perjalanan pikirannya. Ia mulai menulis satu refleksi terakhir, sebuah paragraf penutup untuk buku terbarunya:

"Dulu, aku percaya cinta adalah tentang menemukan seseorang yang mampu menyelesaikan kalimat-kalimatku. Namun, kini aku memahami bahwa cinta sejati adalah menciptakan sebuah ruang, di mana kesunyian tak lagi terasa sendiri. Dalam kehidupanku, Raka telah menghadirkan ribuan meter persegi ruang luas dan tak berbatas. Tetapi, yang paling aku cinta tetaplah celah kecil di antara jemari tangannya saat kami berjalan bersama menuju rumah."

Di luar sana, Arka dengan gembira menjerit antusias kunang-kunang pertama malam itu mulai bermunculan di antara batang-batang bambu yang anggun. Tak berselang lama, Raka kembali dengan dua cangkir teh hangat, lalu duduk di samping Alana. Tanpa kata-kata, kehadirannya sudah cukup untuk melengkapi suasana.

Perjalanan mereka masih panjang tak diragukan lagi. Tapi, kini langkah mereka terasa lebih teratur, lebih damai. Mereka telah melepaskan kebutuhan untuk terburu-buru. Sebab mahakarya terbesar bukanlah gedung tinggi penuh prestise atau tropi penghargaan internasional. Mahakarya sejati milik mereka adalah ketenangan yang hadir begitu alami sebuah alur kehidupan yang terus mengalir tanpa henti, sebuah rancangan yang terus berkembang tanpa paksa, dan sebuah cinta yang akhirnya tiba di pusat keseimbangannya sendiri.

1
Bunga
penggambaran keadaan n hati Alana seperti aku di masa kuliah
jadi nostalgia😍
Bunga
lanjut Thor
cerita yang bagus
🌷tinull💞
semangat terus Thor, terus berkarya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!