Wanita modern yang bertransmigrasi ke dalam sebuah novel kuno. Berjuang dari nol sampai akhirnya menjadi immortal, bagaimana kisahnya? Ikuti terus perjalanannya!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Limabelas
“Ugh… aw.. aw.”
Jessy terbangun saat matahari sudah tepat diatas kepala. Semalam dia benar-benar melakukan malam yang gila bersama Ziang, dia benar-benar tidak menyangka dengan ukuran milik Ziang tapi syukurlah dia masih hidup sekarang.
“Sudah bangun istriku yang cantik.” Suara bas dari belakang membuat Jessy tersentak kaget.
“K-kau belum pergi?.” Kaget Jessy.
“Pergi kemana? aku di peras sampai kering oleh istriku. Tidak ada tenaga tersisa untuk kabur, apa tidurmu nyenyak istriku?.” Ziang terlihat berubah dalam semalam.
“Hah? kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?.” Jessy tidak terbiasa dengan tatapan Ziang.
“Tidurlah lagi, masih terlalu pagi.” Ucap Ziang.
“Pagi apanya? di luar sudah panas.” Kesal Jessy.
“Tidak, itu Zhao yang sejak tadi sedang belajar mengendalikan mana api naga miliknya.” Ucap Zhao.
“Jangan jadi pemalas, aku harus pergi menyiapkan dagangan.” Ucap Jessy duduk dengan susah payah.
“Apa kau yakin bisa berjalan?.” Ziang menatap dengan khawatir.
“Ini sakit, tapi bukan berarti aku tidak bisa berjalan.” Jessy berjalan tertatih menuju kamar mandi.
Ziang ikut bangun, dia menggendong Jessy dan keduanya berendam air hangat bersama. Jessy menikmati pijatan lembut di punggung nya, sungguh dia merasa akan terbelah menjadi semalam tapi untunglah itu tidak terjadi.
“Kau terlihat senang ya.” Sindir Jessy.
“Aku tidak menyangka.. kutukan itu.” Gumam Ziang.
“Kutukan itu memang nyata.” Ucap Jessy.
“Apa maksudmu?.” Bingung Ziang.
“Jika bukan denganku maka mati, burungmu itu hanya mau denganku saja.” Ucap Jessy narsis.
“Pfttt aku rasa itu benar.” Ziang terkekeh.
“Kau jadi pergi?.” Jessy sedih, tidak suka LDR.
“Ada balasan surat dari relasiku, mereka mengatakan pangeran Kaisar Ruan sedang mencari seorang guru. Tapi dia ingin memilihnya sendiri, aku rasa tidak masalah jika aku mencoba nya.” Ucap Ziang.
“Istana Kekaisaran itu jauh dari perbatasan ini kan?.” Lirih Jessy.
“Aku akan mengirim surat setiap hari, uang bulanan juga pasti akan datang tepat waktu. Aku berjanji akan meminta waktu libur setiap satu tahun sekali.” Ucap Ziang.
“Satu tahun? kau gila ya, lebih baik aku menikah lagi saja.” Sinis Jessy.
“Jangan khawatir, belum tentu juga aku akan terpilih. Aku akan mencari pekerjaan yang bisa mengizinkan ku pulang setiap bulan di Ibu kota, aku juga akan mengajakmu berlibur ke sana saat aku cuti.” Ucap Ziang, Jessy jadi sedih karena hatinya terasa berat.
“Kau tidak akan menikahi wanita diam-diam kan?.” Lirih Jessy.
“Tidak. Aku bersumpah atas nyawaku, aku tidak akan pernah berani melakukan itu seumur hidupku.” Ucap Ziang.
“Kalau begitu berangkat bersama pagi ini, aku ingin mengantarmu ke pelabuhan.” Jessy berusaha menguatkan hati.
“Ya, jangan menangis. Terimakasih banyak untuk segalanya, dan aku tidak akan pernah melupakan malam ini.” Ziang memeluk Jessy dari belakang dengan erat.
Cup
Jessy menegang saat Ziang mengecup belakang lehernya, perasaannya jadi tidak karuan. Ditinggal suami merantau? Jessy harus hidup kesepian lagi meksipun ada Zhao yang menemaninya. Diam-diam meneteskan air mata, menegarkan hati untuk tidak menjadi wanita manja.
Selesai mandi Jessy mulai sibuk di dapur untuk memasak, sedangkan Ziang pergi ke halaman untuk melihat perkembangan Zhao. Ziang baru bisa merasa lega jika ada Zhao di sisi Jessy, setidaknya ada seseorang yang bisa menjamin keselamatan Jessy.
“Zhao, selama aku pergi jaga Ibumu sebaik mungkin. Jangan biarkan dia dalam bahaya, aku bisa mengandalkanmu kan?.” Ujar Ziang.
“Ya, tapi Ayah pergi kemana?.” Tanya Zhao.
“Mencari pekerjaan, tidak mungkin Ayah mengandalkan Ibumu untuk mencari uang.” Untuk pertama kali nya Ziang menyebutkan dirinya sendiri Ayah.
“Kapan Ayah akan kembali?.” Zhao terlihat sedih.
“Tahun depan.” Jawab Ziang.
“Kenapa lama sekali? kalau begitu aku juga akan menghentikan umurku. Supaya saat Ayah kembali aku tetap di usia yang sama.” Ucap Zhao.
“Kau bebas melakukannya, Ayah akan mengirim surat setiap waktu. Lalu pakai ini, liontin ini berasal dari mana beku milikmu. Ayah dan Ibu juga memakai kalung yang sama, jangan sampai hilang.” Ucap Ziang memberikan kalung.
“Wahhhhh kalung tanda keluarga?.” Zhao memakai dengan senang hati.
Keduanya diam dengan canggung, harus mengucapkan kata perpisahan seperti apa? Karena suasana jadi kaku, Ziang hendak berbalik pergi tapi ucapan Zhao menghentikan nya.
“Jangan berani membuat Ibu menangis.” Ucap Zhao penuh ancaman.
“Ayah senang mendengar ancaman mu, terus lah seperti itu Zhao.” Ziang tersenyum lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Mereka berangkat persama menuju pelabuhan, Ziang bahkan membantu Jessy menata dagangan sebelum pergi naik ke kapal besar menuju kota seberang. Jessy sejak tadi sok sibuk untuk menahan air matanya, dia benar-benar sedih.
“Aku berangkat, jaga dirimu sampai aku kembali.” Ziang menatap Jessy tapi Jessy enggan menatapnya.
“Ya, hati-hati di jalan.” Jessy terdengar cuek, tapi sebenarnya dia sedang menahan tangis.
Greb.
Ziang memeluk dan mengecup ubun-ubun Jessy, meskipun Jessy tidak membalas pelukannya karena terus menunduk. Ziang menepuk pundak Zhao untuk berpamitan, setelah itu dirinya naik ke kapal besar di dermaga.
Zhao melihat Ziang naik ke kapal dengan tatapan yang sulit di artikan. Ziang menoleh melihat Jessy yang masih terus menunduk, dia tersenyum masam lalu masuk ke dalam hingga tidak terlihat lagi.
Setelah kapal mulai berlayar, Jessy tidak kuasa menahan tangisnya lagi. Zhao hanya bisa berdiri dengan bingung, tidak tau caranya menenangkan orang menangis.
“Ayah bilang akan kembali tahun depan, lalu Ayah juga akan mengirim surat jika ada waktu.” Ucap Zhao berusaha menghibur.
Jessy menghapus air matanya dengan kasar, lalu tersenyum profesional tiba-tiba. Dia tidak mau terlihat kecintaan, dia harus tetap memiliki harga diri tinggi.
“Zhao, saat surat itu datang jangan ada satu pun yang di balas.” Ucap Jessy tegas.
“Ibu?.” Kaget Zhao.
“Kita hanya akan menerima saat dia pulang, kita tidak menerima surat. Menurut saja, dengan begitu Ayahmu pasti akan terus mekikirkan keadaan kita dan tidak akan betah di kota. Maksud Ibu, Ayahmu tidak akan memiliki waktu untuk bermain wanita karena sibuk memikirkan kita. Apa kau mengerti?.” Ucap Jessy.
“Ya Ibu.” Zhao mengangguk.
Setelah itu Jessy berdagang seperti biasa meskipun matanya terlihat memerah, pulang dan menatap keheningan rumahnya. Baru satu bulan mereka hidup bersama, tapi terlalu banyak kenangan yang di ukir sampai membuat sesak jika diingat.
“Zhao, temani Ibu ke bukit.” Ajak Jessy.
“Tapi, Ayah melarang__
“Ayah tidak ada, jadi kita bebas pergi ke sana. Tenanglah, Ibu juga sudah tidak selemah dulu. Ada kekuatan naga emas di tubuh Ibu, meskipun hanya sedikit setidaknya Ibu kuat.” Ucap Jessy.
“Baiklah, jangan masuk terlalu dalam.” Zhao setuju.
Keduanya naik ke bukit di sisi timur rumah mereka. Ada banyak sayuran seperti terong, kangkung, pare, labu dan mentimun. Ada beberapa pohon singkong, ubi dan jagung, Jessy ingin memindahkannya ke kebun miliknya.
“Panen secukupnya, lalu bawa bibitnya untuk di tanam di kebun kita.” Ucap Jessy.
“Baik Ibu.” Zhao menuruti.
Saat Zhao sibuk memanen sayuran dan umbi-umbian, Jessy diam-diam naik lebih tinggi untuk melihat-lihat. Karena entah kenapa sejak pertama kali datang ke sini bukit itu sangat menarik perhatian nya. Seakan bukit itu memanggilnya untuk datang.
“Akhirnya Datang.”
Deg.
Jessy celingukan dengan bulu kuduk meremang, apa ini yang dinamakan hantu hutan?. Jessy bergerak mundur perlahan, dia harus cepat-cepat pergi daripada bertemu hantu.
“Akhirnya datang.”
“Pemilik”
“Kembali.”
“Pemilik”
Suara itu semakin keras seakan berteriak agar Jessy berhenti. Jessy jadi merasa penasaran, sebenarnya siapa yang memanggil, dan kenapa bisa berada di hutan bukit seperti ini.
“Siaapa?!.” Suara Jessy bergetar.
Suaranya bersahutan lagi, arahanya dekat dari posisi Jessy berada. Setelah memantapkan hati, Jessy bergerak mencari sumber suara dan arahnya tertuju ke sebuah pohon beringin yang menghadap langsung ke matahari.
“Hantu penunggu pohon beringin?.” Gumam Jessy tidak takut karena sinar matahari disana panas.
“Di bawah!! Datanglah Pemilik.”
Lagi, suara itu terdengar lagi dari dalam tanah. Suaranya sedikit teredam, berbeda dengan suara pertama yang menggema sampai berdengung di kepala Jessy.
Jessy melepas tusuk rambut emas pemberian Ziang untuk menggali tanah. Menggali sekitar 30cm terlihat ada sebuah kota persegi berbentuk peti harta karun kuno. Jessy mengangkatnya ke atas, dan siapa sangka jika itu beratnya mungkin setara dengan LPG melon.
“Waahhhh apa ya? emas apa batu?.” Gumam Jessy, pertama kali dapat harta karun.
Jessy membuka kotak itu dengan mudah, tanpa perlu menggunakan kunci atau semacamnya. Di dalam kotak itu ada satu kotak hitam sepanjang 40cm, lalu ada gulungan-gulungan aneh dan permata mahal.
“Beneran harta karun.” Pekik Jessy.
Jessy membuka satu kotak hitam, begitu di buka asap hitam menguar dengan aroma besi yang menusuk hidungnya.
Uhuk.
Uhukk..
“Apa nih? debu?.” Jessy terbatuk.
“Woaahhhhh.”
Jessy terpana melihat ada sebuah pedang putih dengan ular kecil berwarna putih melingkar di gagang pedangnya. Terlihat sangat cantik dan elegant sekali, Jessy jadi ingin menyentuh nya tapi__
kraukkk
Akkkkkkhhhhhhhh
Jessy memekik dan jatuh ke belakang saat tiba-tiba ular di gagang pedang hidup dan mengigit tangannya.
“M-matilah aku.” Gumam Jessy ketakutan.
“Akhirnya anda datang pemilik, rasa darah anda masih saja sama. Selamat datang, saya sudah menunggu anda selama ini.” Ular itu bicara.
“Apa?.” Jessy masih syok.
“Saya adalah Spirit Beast milik anda di kehidupan dulu. Saya sudah menunggu anda bereinkarnasi selama belasan ribu tahun, kali ini saya pasti akan melindungi pemilik.” Ucap ular itu.
“Hah… oke.” Jessy ling-lung.
“Pemilik, tolong jalin kontrak darah dengan saya.” Ucap ular tadi.
“Bukankah kau tadi sudah menggigit tanganku.” Kesal Jessy menyentuh luka di punggung tangan kanannya.
“Saya hanya ingin memastikan darah anda.” Jawabnya.
“Dasar banyak mau.” Jessy mengigit ibu jarinya lalu meneteskan darah itu di kepala kecil si ular putih.
Tiba-tiba Jessy merasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan sampai menbuatbya tidak bisa bernafas. Jessy juga merasa seluruh tubuhnya kesemutan dan sakit luar biasa, Jessy tidak kuasa menahan rasa sakit itu dan menjerit keras.
AAAKKKKKKKHHHHHHHHHHHHH
Teriakan itu sampai terdengar oleh Zhao, Zhao terkejut dan langsung berlari cepat menyusul sumber suara. Di sana Jessy sedang terduduk dengan ngos-ngosan, Zhao langsung mendekat dengan panik.
“IBU!!!.” Teriak Zhao.
“Eh.. Zhao?.” Kaget Jessy.
“Ibu ada apa? apa terjadi sesuatu?.” Zhao mendekat pada Jessy.
“Tidak apa-apa semuanya aman, Ibu hanya terkejut karena mendapatkan harta karun sebanyak ini.” Jessy menjelaskan setenang mungkin.
“Ibu?.” Zhao menatap Jessy lamat-lamat.
“Ya? ada apa Zhao?.” Bingung Jessy.
“Apa benar ini Ibu?.” Zhao kebingungan.
“Huh? tentu saja ini Ibu, memangnya siapa lagi?.” Heran Jessy.
“Tapi Ibu berbeda.” Jujur Zhao.
“Hmm?.” Jessy bingung.
Zhao celingukan mencari sesuatu untuk bercermin, melihat ada batu berlian raksasa akhirnya Zhao mengambil itu dan menyerahkannya pada Jessy.
“Lihat.” Ucap Zhao.
Jessy melihat pantulan wajahnya di batu berlian itu, terkejut? tentu saja. Jessy benar-benar tidak menyangka jika wajahnya akan jadi seperti dewi yang turun dari khayangan. Rambutnya panjang lebat sehat dan lurus, hidungnya mancung meskipun mungil, tanda di dahinya berbentuk naga emas dan ular putih, lalu kulitnya seputih salju.
“Ahh Ibu baru saja berkontrak dengan hewan kecil ini.” Jessy menujukan ular kecil di tangannya.
“Cacing?.” Bingung Zhao menyipitkan matanya.
“DASAR TIDAK SOPAN!!! AKU ULAR PUTIH YANG AGUNG AKU DEWA PARA ULAR!!!.” Teriak ular itu kesal.
“Tapi kecil sekali seperti cacing, aku jadi ingin memakannya.” Ucap Zhao jujur dari hati.
“Ini bukan makanan.” Jessy terkekeh lucu.
“Baiklah karena warna mu putih, aku akan memberikan nama OCONG untukmu. Baiklah Ocong apa kau bisa berubah menjadi manusia atau benda?.” Tanya Jessy.
“Saya bisa menjadi apapun yang anda inginkan, Pemilik.” Jawabnya sombong.
“Panggil nona saja, untuk sekarang lebih baik seperti ini saja. Baiklah ayo kembali ke rumah, hari sudah mulai sore.” Ucap Jessy membiarkan ular itu melilit tusuk rambutnya.
Zhao membantu Jessy membawa peti harta karun beserta isinya. Mereka turun gunung dengan wajah berseri-seri, siapa yang tidak senang setelah mendapat harta karun?.
Sampai di rumah Jessy langsung menanam semua bibit yang sudah di petik, kebun miliknya bersih dan terawat dengan sangat baik. Jessy menyimpan sayur dan umbi-umbian di bawah kolong meja dapur.
“Hei karena kau sakti mandraguna, seharusnya kau bisa kan membantuku membangun istana dalam semalam?.” Ucap Jessy, sudah siap jadi kayaraya.
“Tentu nona.” Jawab Ocong dengan semangat.
“Baiklah Ocong, kau lihat rumahku ini diapit hutan dan bukit kan? aku ingin membuat surga yang tertutup hahahahah.” Jessy tertawa senang.
“Tentu, katakan perintah anda nona.” Ucap Ocong.
“ Pertama buat rumah ku jadi lebih megah lagi, lalu bangun tembok memutar dengan gerbang tinggi berwarna serba putih di depan sana.” Ucap Jessy memerintah.
“BAIK.” Jawab Ocong.
Cliingggg\~\~
Selayaknya sihir di buku dongeng, Jessy melihat bagaimana rumah yang tadinya masih setengah jadi berubah menjadi tembok kokoh dan lebih luas dengan tembok tinggi yang mengelilinginya.
Tinggi rumah sekitar 4m sedangakan tinggi tembok pagar 3m artinya dari luar atap rumah Jessy bisa terlihat. Rumah megah tema modern dengan cat serba putih memang luar biasa.
“Ibuuu\~\~.” Zhao melambaikan tangan dari atas atap.
“Astaga!! Apa yang kau lakukan disana, cepat turun!! Berbahaya jika jatuh.” Teriak Jessy jantungan.
“Hihihihi wohooo\~.”
“ZHAOLONG!!!.”
Jessy berteriak terkejut saat Zhao main prosotan di atap lalu mendarat di halaman rumah. Meskipun baik-baik saja tetaplah membuat Jessy senang jantung. Zhao hanya nyengir lalu berlari ke arah anyunan miliknya yang kini berada di dalam pagar, ayunan buatan Ayahnya yang tidak akan pernah boleh di hilangkan.