NovelToon NovelToon
BLACK AND WHITE

BLACK AND WHITE

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Chicklit / Enemy to Lovers
Popularitas:590
Nilai: 5
Nama Author: xyBubble

Pout for Me, Little Mouse.

Fraülein Keylana Reinhardt, Putri Raja perbankan Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.

Setelah bertunangan, mereka tinggal bersama di Berlin, Tidak ada satu hari pun tanpa pertikaian. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal.

Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan satu Perasaan yang dianggap tidak penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xyBubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Dingin

Panggilan telepon tersambung hampir seketika, Suara kakeknya terdengar jelas tanpa kantuk di jam larut malam ini.

Ada apa kau menelpon malam-malam begini?"

"Kakek, Aku harus memberitahu kelakuan calon menantu mu itu." Katanya penuh penekanan saat menyebut 'menantu'. Nada bicara si kakek langsung berubah menjadi serius dan khawatir. "Ada apa, Nak? Apakah ada masalah dengan Lana?"

"Semuanya tidak baik-baik saja," kata Julian sambil beranjak membuka pintu untuk menurunkan kakinya ke tanah. "Dia baru saja masuk ke klub bawah tanah. Penampilannya seperti sengaja memprovokasi."

"Apa? Jangan sembarangan bicara, kaulah penghuni tempat itu jangan melemparkan api pada orang lain!" Suara kakeknya menggelegar, terdengar tangannya memukul-mukul meja. Julian menghela nafas, berdiri di disana dengan frustasi.

"Jangan pilih kasih, Aku punya bukti kakek..... Dan jangan memukul meja, tangan mu akan terasa sakit." Dia memperingatkan dengan nada tidak sopan khas nya. Terdengar jeda singkat di ujung telepon sebelum Christoper berdehem lalu berbicara lagi, dengan nada suaranya yang khas dan penuh wibawa.

"Dan bagaimana ini bisa terjadi? Kau seharusnya mengawasi dia."

"Aku menyadari tanggung jawabku," jawab Julian dengan nada sedikit kesal, terlihat jelas bahwa kesabarannya mulai habis.

Diatas, Lana mencapai serambi penthouse, langkahnya kesal sementara lift tertutup di belakangnya. Semuanya terasa kacau malam ini, mulai dari Roy, Pria bernama Liam, dan Julian. Tapi tunggu,

Brooklyn, Dia masih di lounge, pasti sedang mabuk sekarang dan mobilnya juga disana.

"Astaga, Temanku ketinggalan!" Lana mengacak-acak rambutnya dan kembali memanggilnya lift dengan tergesa-gesa.

Julian masih menelpon kakeknya, Saling melemparkan obrolan yang ngotot ketika Lana muncul kembali ke pintu, memotong pembicaraan mereka di tengah-tengah. Gadis itu berlari ke arah mobil sambil mendorong, menghempaskan Julian yang sedang berdiri menghalangi jalurnya dengan kekuatan yang mengejutkan, Membuat pria itu terhuyung ke samping.

"Apa-apaan ini—" katanya, tetapi Lana sudah bergerak melewatinya, rambut hitam legamnya berkibar saat dia berlari. Dia mendorong Mark yang barusaja menyalakan rokok sambil bersandar di pintu kemudi. Pria itu juga terhuyung saat Lana menyingkirkannya.

"Fraülein, Mau kemana?!" Mark terhuyung dan segera dengan gugup menginjak rokoknya sementara Lana sudah masuk ke dalam dan memasang sabuk pengaman. Julian menegakkan tubuhnya dari pintu mobil, Wajahnya memerah karena marah, dan terkejut bahwa seseorang yang begitu kecil bisa mendorongnya.

"Lana, Mau kemana?!"

"Menjemput Brooklyn!"

Mobil itu bedecit pergi meninggalkan dua pria itu berdiri mematung disana, diam kaku selama beberapa saat. Julian menunduk, mencubit pangkal hidungnya sambil memejamkan dengan frustasi. Telepon di tangannya terasa sedikit getaran karena suara kakeknya.

"Julian.... Apa yang terjadi?........ Apa yang terjadi disana... Halo?"

Sejak hari itu, mereka tidak pernah berbicara satu sama lain....

Seminggu kemudian, Kastil Donnersmarck.

Ruang Keluarganya megah berarsitektur gergaji kuno. Di dinding tergantung lukisan-lukisan leluhur yang berwajah kaku. Suasana sangat hening, hanya terdengar dentang jarum jam dinding besar.

Lana duduk dengan anggun di sofa mewah ruang keluarga, Di sampingnya ada Julian yang juga duduk dengan patuh, Alasannya karena pria di depan mereka, Kakek. Lana tersenyum anggun di bawah tatapan menyelidik Christoper dengan tangan di lutut menyentuh kain gaun suspender yang ia gunakan. Julian di sampingnya tetap berwajah datar, rapatnya harus ditunda karena panggilan orang tua yang mengancam ingin pergi ke panti jompo.

Kakek tetap duduk sambil menyilangkan tangan. Johanna menyajikan teh dengan keanggunan yang sengaja mengejek Julian lalu pergi meninggalkan ruangan yang menegangkan itu.

"Mengapa diam?"

Suaranya berwibawa dan mengandung introgasi terhadap pasangan yang tampak tenang dan normal di depannya itu.

Julian mengedipkan mata ke samping dengan jengkel, Lana mengenggam kain gaunnya yang tertutup sopan sambil tetap tersenyum.

"Masih diam?" Suaranya sedikit meninggi, sepenuhnya ditujukan pada Julian bukan Lana. Julian menghela nafas kasar sambil mengambil kacamata dari pangkal hidungnya.

"Kakek, sudahlah, Anda membuat keributan. Saya da rapat dua jam lagi." Katanya sambil menengok arlojinya. Christoper langsung menghentakkan tongkatnya ke tanah.

"Rapat bisa menunggu, cucu menantuku tidak! Jangan coba membuat alasan dengan perusahaan itu. dia bisa berjalan tanpa kau sehari." Dia menunjuk-nunjuk Julian dengan jarinya, menuding. "Kau sengaja mengabaikannya bukan?!"

"Saya sibuk, Kakek. ada perbedaan."

"Omong kosong! Aku tahu dari wakil bahwa kau bekerja sampai larut malam, Bahkan tidak meluangkan waktu di akhir pekan. Kau pikir bisa seenaknya mengabaikan calon istrimu ini?!" Suaranya meninggi. Julian tampak tetap datar tidak melirik Lana di sampingnya sedikitpun.

"Lihat dia?! Sudah secantik itu masih diabaikan." menunjuk Lana yang masih mempertahankan keanggunannya. "Bagaimana jadinya saat dia jadi istrimu? hanya menjadi penghuni rumah sedangkan suaminya mencintai dokumen dan elektronik."

Julian tetap menatap lurus ke depan, Suaranya dingin. "Kakek, dialah yang pertama kali mendiamkan aku saat aku menegurnya karena datang ke pesta yang buruk."

"Maafkan saya kakek, Saya mengikuti ajakan seseorang. Saya tidak berpikir panjang sebelumnya. Ini sepenuhnya salah saya." Lana menunduk dengan anggun menatap pangkuannya sendiri. Kakek langsung membentak pada Julian.

"Bukan salahmu, Nak! Ini adalah salahnya, bahkan tidak bisa menjagamu dengan baik." Menunjuk Julian dengan tongkatnya. " Dia perlu diajari cara menjadi pria yang punya tangan dan mulut."

"Jadi arah kakinya melangkah pun sekarang pun sudah menjadi kesalahanku?" Julian tertawa dingin tanpa humor. "Lalu, lihat bagaimana dia akan menjelaskan tentang mendekati pria lain di pesta."

Lana menoleh perlahan dengan wajah frustasi, tak terima disalahkan. "Aku tidak melakukannya, Aku diganggu. mengapa kau pikir aku melakukan itu?" Julian menoleh tajam pada Lana.

"Dan itu terjadi karena pakaianmu terlalu minim."

"Itu adalah trend mode! Tidak seperti dirimu yang memakai pakaian yang sama sepanjang hidupmu."

​Kakek Menggebrak meja di depan mereka dengan keras

"CUKUP!"

​

Lana dan Julian seketika bungkam dan kembali duduk tegak. Kakek berdiri perlahan, menyandarkan tubuhnya pada tongkat, menatap cucunya dengan amarah.

"Julian! Kamu membawa darah keluarga Donnersmarck! Sejak kapan seorang pria dari keluarga ini membiarkan tunangannya diganggu pria lain sementara dia berdiri seperti manekin toko baju?!"

Mata Julian membelalak, kaget disalahkan. "Kakek! Dia yang membuat kekacauan lebih dulu!"

"Jika Lana terganggu oleh pria di tempat umum, Maka tugasmu untuk memegang kepala pria itu dan memukulnya! Bukan malah bersembunyi di balik mantel mahalmu! Lana adalah calon cucu menantuku, Jika kau tidak bisa menjaganya sebaiknya jangan menjadi pimpinan eksekutif perusahaan!"

Lana tersenyum tipis dan penuh kemenangan saat melirik Julian. Pria itu menghela napas frustrasi, memijat pangkal hidungnya dengan pasrah.

"Kakek, Kau terlalu memanjakannya. Dialah yang memulai silent treatment ini lebih dulu."

"Dan kau membiarkannya berlarut-larut sepanjang minggu?! Kalian berdua dipanggil ke kastil ini bukan untuk makan malam romantis. Pintu kastil ini sudah dikunci dari luar oleh para pengawal."

​Lana dan Julian serentak membelalak kaget.

"Apa?!"

"Kalian tidak akan melangkah keluar dari kastil ini, tidak akan menyentuh ponsel kalian, dan tidak akan mendapat kunci kamar terpisah... sampai kalian belajar saling bicara dan menyelesaikan ini seperti orang dewasa!"

Kakek Donnersmarck berbalik dengan anggun dan berjalan keluar ruangan, meninggalkan Lana dan Julian yang membeku dalam keheningan baru.

1
Jordin Yanti
semangat yha kakak othor ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!