"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Pagi yang Khas, Isyarat Bahaya, dan Badai di Ruella Creative
"ASKA! YA AMPUN, ASKARA! KOK LO GAK BANGUNIN GUE SIH?!"
Jeritan histeris Nadira menggema memenuhi koridor lantai dua tepat pukul delapan pagi. Dengan rambut gelombang yang mencuat acak-acakan dan kemeja kerja yang baru terpasang setengah kancing, Nadira berlari tergesa-gesa menuruni tangga. Kakinya nyaris tersandung ujung celana kulotnya sendiri.
Di dapur bersih, Askara tampak begitu tenang dan rapi dalam balutan setelan kemeja putih yang dipadu celana kain hitam. Pria itu baru saja menata piring berisi omelette keju, sosis panggang, dan dua cangkir kopi hangat di atas meja makan.
"Gak usah lari-lari, Nadira," tegur Askara santai, menghentikan langkah panik istrinya dengan merengkuh pinggang wanita itu. "Nanti jatuh."
"Gimana gak lari-lari coba?!" cerocos Nadira heboh, matanya melotot menatap jam dinding. "Ini udah jam delapan lewat seperempat, Ka! Gue ada meeting penting sama klien jam sembilan! Kenapa lo gak membangunkankan gue dari jam enam pagi tadi?!"
"Lo ketiduran pulas banget karena makan mie instan semalam," sahut Askara santai, mengusap pipi Nadira yang panik. "Gue gak tega ngebangunin lo yang kelihatannya capek banget. Lagian semua kebutuhan kerja lo udah gue siapin."
Nadira tertegun. Matanya beralih menatap meja makan. Di sana, bukan hanya sarapan hangat yang tersaji, melainkan juga tas kerja kulit miliknya, iPad, hingga berkas dokumen yang biasanya berantakan di meja rias kini sudah tersusun rapi di dalam tasnya. Di sebelahnya, segelas air lemon madu hangat sudah mengepulkan uap tipis.
Perlakuan yang persis seperti yang biasa dilakukan Mama Dinan di rumah lamanya.
"Lo... lo yang menyiapkan semua barang-barang gue ini?" cicit Nadira, kepanikan di wajahnya perlahan luluh oleh rasa haru.
"Iya, Nyonya Pradipta," jawab Askara tersenyum manis, memiringkan kepalanya. "Tapi ada satu hal yang bikin gue harus ngomelin lo pagi ini."
"Hah? Ngomelin apa?"
Tangan Askara terulur menyentuh helaian rambut Nadira yang ternyata masih terasa basah dan dingin di bagian belakang lehernya. Raut wajah Askara mendadak berubah agak tegas dan protektif.
"Kebiasaan," omel Askara menggelengkan kepala. "Rambut belum kering sempurna udah main pakai baju kerja terus mau langsung keluar rumah. Mau bikin kepala lo pusing nanti siang?"
"Kan gue buru-buru, Aska—"
"Duduk di sini. Gak ada bantahan," pangkas Askara tegas namun lembut, mendudukkan Nadira di kursi makan.
Askara melangkah cepat mengambil hairdryer dari kamar mandi bawah, mencolokkan kabelnya ke stopkontak terdekat, lalu menyalakannya dengan tombol angin hangat. Dengan jemarinya yang panjang dan telaten, Askara menyisir helaian rambut gelombang Nadira sambil mengeringkannya perlahan-lahan.
Nadira mematung. Hati wanita itu bergetar hebat. Di tengah kepanikannya yang selalu mudah meledak setiap pagi, Askara selalu menjadi sosok jangkar yang menenangkan dan siap menghimpun kembali kekacauannya.
"Makasih ya, Suamiku..." bisik Nadira pelan, menyandarkan kepalanya di perut bidang Askara yang berdiri di sampingnya.
Askara mematikan hairdryer, lalu menunduk mengecup puncak kepala istrinya yang harum. "Sama-sama, Sayang. Sekarang minum air lemonnya, makan sarapannya, baru kita berangkat."
Perjalanan menuju area perkantoran berlangsung mulus. Askara mengantarkan Nadira terlebih dahulu ke gedung Ruella Creative. Sebelum Nadira turun dari mobil, Askara menarik tengkuk istrinya dan mendaratkan ciuman dalam di bibir Nadira yang manis.
"Semangat kerjanya, Istriku. Nanti sore gue jemput," pesan Askara penuh kehangatan.
"Semangat juga, Suamiku!" sahut Nadira tersenyum berbinar, lalu melangkah riang memasuki gedung kantornya.
...****************...
Namun, begitu mobil SUV hitam Askara tiba di pelataran parkir gedung utama Pradipta Group, atmosfer di sekitar Askara berubah drastis menjadi dingin dan penuh kewaspadaan. Bimo sudah berdiri menunggu di depan pintu lift pribadi dengan wajah tegang.
"Pak Askara," panggil Bimo setengah berbisik saat mereka berdua memasuki lift.
"Gimana pergerakan Jaster?" tanya Askara langsung pada inti masalah.
"Jaster Adiguna tidak hanya main ancaman lewat surat, Pak," terang Bimo menyerahkan sebuah tablet digital. "Pagi ini, perwakilan konsorsium Dubai kembali menghubungi kita. Mereka mengabarkan bahwa pihak Adiguna Corp mencoba melakukan intervensi hukum, menuduh Pradipta Group melakukan praktik monopoli tak sehat dalam proses bidding proyek mega-resort kemarin."
Askara menyunggingkan senyuman dingin nan meremehkan. "Trik gertakan murahan. Jaster panik karena kehilangan proyek triliunan itu. Hubungi tim kuasa hukum kita di Dubai, persiapkan semua draf transparansi investasi. Jangan biarkan gertakan Jaster mengganggu jadwal penandatanganan kontrak minggu depan."
"Baik, Pak Askara! Lalu bagaimana dengan pengawalan Bu Nadira?"
"Tetap jalankan sesuai perintah semalam," tegas Askara dengan mata menajam. "Jaster itu licik. Kalau dia gagal menjatuhkan gue lewat jalur bisnis, sasaran utamanya pasti Nadira."
...****************...
Sementara itu, di lantai lima gedung Ruella Creative, suasana kerja yang biasanya santai dan kreatif mendadak berubah menjadi panggung kekacauan yang chaos.
"Nadira! Akhirnya sampai juga!" jerit Odelia heboh begitu Nadira melangkah masuk ke dalam ruang utamanya. Wajah Odelia tampak pucat dan panik.
Nadira mengerutkan dahi, meletakkan tas kerjanya. "Ada apa sih, Del? Pagi-pagi kok udah kayak ada kebakaran?"
"Ini lebih parah dari kebakaran, Nad!" Odelia menyodorkan iPad-nya ke hadapan Nadira. "Lihat ini! Agensi kreatif baru yang baru rilis kemarin—Vogue&Co—baru saja menerbitkan rilis pers dan somasi terbuka buat Ruella Creative!"
Nadira melebarkan matanya saat membaca judul berita utama di media sosial bisnis:
'Ruella Creative Dituduh Melakukan Plagiarisme Konsep Desain Terhadap Perusahaan Senior Vogue&Co'
"Plagiat?!" pangkas Nadira dengan nada suara yang membumbung tinggi, dadanya mendadak bergemuruh hebat oleh amarah. "Konsep kampanye mana yang mereka tuduh plagiat?!"
"Konsep kampanye produk skincare merek Arabelle yang baru minggu lalu kita launching dan sukses besar di pasaran, Nad!" jelas Odelia berapi-api. "Pihak Vogue&Co mengklaim bahwa seluruh papan moodboard, skrip video, sampai konsep pencahayaan fotografi kita adalah hasil jiplakan murni dari draf rahasia mereka yang bocor!"
"Gila! Itu murni ide dan kerja keras tim kita selama tiga bulan berturut-turut!" tegah Nadira mengepalkan tangannya di atas meja kerja, napasnya memburu cepat. "Siapa pemilik atau pimpinan dari Vogue&Co ini?!"
Odelia menggeser layar iPad-nya ke bawah, menampilkan struktur organisasi dan pemilik saham utama dari agensi pesaing baru tersebut.
"Pemilik saham utamanya terdaftar atas nama sebuah anak perusahaan investasi Adiguna Group, Nad," bisik Odelia ragu-ragu. "Dan direktur operasional yang ditunjuk di lapangan adalah... Rebecca."
Seketika itu juga, darah di sekujur tubuh Nadira serasa membeku.
Nama Rebecca—wanita yang menjadi musuh lamanya—berpadu dengan nama Adiguna Group, musuh besar Askara. Nadira menyadari satu hal dengan sangat jelas: serangan tuduhan plagiarisme yang tiba-tiba ini bukanlah sekadar persaingan bisnis biasa, melainkan awal dari perang terencana yang dirancang untuk menghancurkan dirinya dan menjatuhkan Askara Pradipta.
andre yang sudah jumawa menggantikan posisi askara langsung syok....mati berdiri melihat orang yang sudah meninggal hidup lagi...
semangat terus thor...
/Heart/