Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Syok Berkelanjutan
Pukulan psikologis di dalam Grand Ballroom hotel bintang lima itu terlalu berat untuk ditanggung oleh Ibu Rosma. Saat melangkah keluar menuju selasar lorong utama yang berlapis marmer kilap, kedua lutut wanita tua itu mendadak melentur sepenuhnya.
"Ibu!" jerit Dion panik, mencoba menangkap tubuh ibunya.
BRUK!
Tubuh Rosma roboh pingsan di atas lantai marmer yang dingin. Matanya terpejam rapat, wajah tebal berdandannya pucat pasi tanpa dialiri darah. Hendra berlutut histeris, menepuk-nepuk pipi ibu mertuanya dengan tangan yang gemetaran hebat, sementara beberapa pengawal hotel dan tamu yang melintas hanya menatap skenario tragis itu dengan pandangan sinis dan meremehkan.
"Ibu! Bu, bangun, Bu!" teriak Dion dengan suara serak yang bergetar hebat. Rasa takut yang teramat sangat menyergap dadanya. Bayangan jeruji besi, ancaman kebangkrutan mutlak, serta fakta bahwa Rendy adalah pemilik tunggal Pradipta Group memutar otak dan mentalnya hingga mendekati batas kegilaan.
Clarissa berlutut di samping ibunya, mengelus dahi Rosma dengan jemari yang teramat dingin. Air mata tak berhenti menetes membasahi gaun backless merah marun yang dikenakannya. Di tengah riuh panik keluarga yang runtuh itu, suara derap langkah sepatu kulit yang mantap dan teratur mendadak bergema dari arah koridor VIP.
TAP! TAP! TAP!
Suara langkah kaki itu begitu berat, tenang, dan memancarkan wibawa dominan yang membekukan atmosfer di sekitar lorong.
Hendra dan Dion seketika mendongak. Dari balik pendar lampu gantung kristal lorong, Rendy Pradipta melangkah mendekat. Pria tegap itu masih dibalut tuxedo berhias benang sutra Siberia emas yang megah, diapit oleh Asisten Bagas dan dua pengawal berbadan kekar yang bersiap siaga di belakangnya.
Melihat kehadiran sang Presdir agung, Dion mendadak kehilangan seluruh sisa harga dirinya.
Tanpa peduli pada tubuh ibunya yang masih terkapar pingsan, Dion merangkak maju dua pijakan di atas lantai marmer dingin. Dengan mata memerah dan air mata ketakutan yang mengalir deras, pria yang dulu paling lantang memaki dan menyuruh Rendy membersihkan sepatunya itu kini bersujud berlutut di depan sepatu kulit mengilap Rendy.
"Mas... Mas Rendy! Ampun, Mas!" jerit Dion histeris, suaranya gemetaran hebat saat tangannya yang gemetar mencoba menggapai celana bahan mewah Rendy. "Saya mengaku salah! Saya buta! Saya tidak tahu kalau Mas Rendy adalah Presdir Pradipta Group! Tolong jangan hancurkan keluarga kami, Mas! Ampuni saya atas perlakuan masa lalu saya!"
Rendy menghentikan langkahnya tepat satu jengkal di hadapan kepala Dion yang tertunduk bersujud. Sorot mata hitamnya menatap Dion dari ketinggian dengan tatapan dingin yang amat merendahkan—seolah sedang menatap seekor serangga kecil yang tak berarti di bawah pijakan kakinya.
"Ampun?" suara Rendy mengudara, rendah dan begitu dalam. "Di mana rasa percaya diri dan kesombonganmu yang dulu, Dion? Bukankah dulu kamu yang paling rajin menyebutku sebagai sampah melarat yang tak berguna?"
Dion makin terisak, menempelkan dahinya ke lantai marmer. "Saya khilaf, Mas! Saya yang sampah! Saya yang kuli tidak tahu diri! Tolong tarik kembali ancaman pembekuan aset itu, Mas... Saya mohon..."
Hendra hanya bisa menunduk rapat di samping tubuh Rosma yang pingsan, tak berani menatap mata mantan adik iparnya. Kebanggaan dan kesombongan keluarga mereka telah dilumat habis hingga ke dasar bumi.
Rendy sama sekali tidak mengindahkan ratapan Dion. Langkah kakinya yang tegap bergeser, melewati Dion begitu saja dan berhenti tepat di hadapan Clarissa yang masih berlutut di samping ibunya.
Clarissa mendongak perlahan. Gaun backless merah marun yang membungkus ketat tubuhnya memamerkan leher jenjang dan punggung mulusnya yang putih bersih. Dalam jarak yang begitu dekat, aroma parfum maskulin berkelas milik Rendy seketika menyergap seluruh indra penciuman Clarissa, meruntuhkan sisa pertahanan batinnya.
Rendy membungkukkan sedikit tubuh tegapnya. Tanpa peduli pada puluhan pasang mata pengunjung dan pengawal yang menyaksikan dari kejauhan, Rendy mendekatkan wajahnya ke arah leher mulus Clarissa.
Jarak di antara mereka seketika menguap.
Hembusan napas hangat dan berat dari hidung Rendy menyapa lembut permukaan kulit leher dan tengkuk terbuka Clarissa. Seketika itu pula, gelombang getaran panas yang begitu dahsyat menjalar cepat, membuat seluruh bulu kuduk di tengkuk Clarissa meremang hebat. Persendian di perut bawahnya melentur pasrah, sementara dadanya yang membusung di balik gaun merah bergeser menyentuh halus kain jas mahal yang membungkus dada bidang Rendy.
Rendy mendekatkan bibirnya tepat di lipatan telinga Clarissa yang memerah.
"Bagaimana rasanya, Clarissa?" bisik Rendy dengan suara rendah yang amat dalam, desah hangat napasnya mengusap lembut kulit sensitif di belakang telinga mantan istrinya. "Melihat ibumu terkapar seperti bangkai dan adikmu merangkak memohon ampun di depan pria yang dulu kalian buang?"
DEG!
Sensasi intimasi yang dipadu dengan kata-kata dingin itu membakar seluruh kesadaran Clarissa. Bisikan bernada dominasi mutlak itu menyebarkan desir panas yang menggelora di dalam aliran darahnya, membangkitkan rasa haus yang membara akan kasih sayang suaminya yang dulu. Air mata Clarissa menetes kian deras, membasahi pipinya yang hangat.
"Mas... tolong..." desah Clarissa dengan suara serak yang patah-patah, kepalanya terkulai lemah mendekati bahu kokoh Rendy. "Jangan siksa kami seperti ini... Aku mohon..."
Rendy menyunggingkan senyum tipis di celah leher Clarissa. Ibu jarinya yang tegap terulur naik, menyapu pelan sisa air mata di pipi mulus mantan istrinya dengan usapan yang terasa begitu hangat namun amat membekukan jiwa.
"Ini belum ada apa-apanya, Clarissa," bisik Rendy lagi tepat di samping bibir Clarissa yang gemetaran. "Rasa sakit yang kurasakan selama tiga tahun... akan kubayar tuntas pada kalian, seribu kali lipat."
Rendy menegakkan kembali tubuh tegapnya secara perlahan. Kehangatan fisik dan buaian sensasi panas yang baru saja memabukkan Clarissa seketika terenggut lepas, menyisakan kebas dan dingin yang menusuk tulang.
Dion yang masih berlutut di lantai mendadak mendongak dengan mata penuh harapan yang menyedihkan. Dengan tangan gemetaran, Dion mengulurkan tangan kanannya ke atas, mencoba mengajak Rendy berjabat tangan sebagai bentuk kepatuhan dan permohonan ampun yang paling hina.
"Mas Rendy..." panggil Dion penuh ketakutan. "Tolong... berikan kami kesempatan kedua... Saya berjanji akan menjadi adik yang berbakti pada Mas Rendy..."
Rendy menatap tangan Dion yang terulur di udara dengan pandangan meremehkan yang teramat dingin.
Pria tegap berjas emas itu sama sekali tidak menggerakkan tangannya. Ia bahkan tidak sudi menyentuh jemari Dion meski hanya selapis kulit.
Dengan gerakan yang amat dingin dan penuh penghinaan, Rendy memutar tubuh tegapnya membelakangi Dion, Clarissa, dan tubuh Rosma yang terkapar. Ia melangkah pergi meninggalkan mereka yang tersungkur di atas lantai marmer, diiringi Asisten Bagas yang memberikan tatapan jijik terakhir pada keluarga yang telah hancur tersebut.