NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Primadona Amsterdam

Lampu-lampu gantung crystal bernuansa vintage di restoran bintang lima de L'Europe Amsterdam memantulkan cahaya warm-yellow yang jatuh sempurna di atas meja marmer putih. Aroma truffle yang lembut berpadu dengan wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt menguar di udara, menciptakan atmosfer high-class yang begitu kentara. Di sinilah tempat di mana kaum elite dan sosialita kelas atas Amsterdam menghabiskan waktu luang mereka untuk sekadar menikmati sore yang tenang di pinggir kanal Amstel.

Namun, di salah satu sudut privat yang dikelilingi oleh tirai velvet merah marun, ketenangan itu justru terasa sarat akan ketegangan tak kasat mata.

Seorang pria dengan postur tubuh tinggi tegap, bahu bidang, dan rahang tegas seolah dipahat oleh seniman Renaisans tengah duduk menyilangkan kaki. Victor Thorne. Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, aura dominasi dan kekuasaan melekat begitu kuat pada dirinya tanpa perlu ia mengucapkan sepatah kata pun. Jas tailor-made dari Tom Ford membalut tubuh atletisnya dengan sempurna, membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung paham mengapa ia dijuluki sebagai salah satu raja bisnis paling disegani di Belanda.

Akan tetapi, sorot mata tajam sewarna hazel milik Victor saat ini sama sekali tidak mencerminkan antusiasme. Ia menatap lekat cangkir porcelain berisi Earl Grey tea di hadapannya, lalu melirik sekilas ke arah wanita anggun yang duduk tepat di seberangnya.

Wanita itu adalah Annelise van der Berg.

Jika dunia harus mendefinisikan arti kata "kesempurnaan seorang wanita bangsawan Eropa", maka nama Annelise akan berada di urutan paling atas. Wanita berdarah murni Belanda itu memiliki mahkota berupa rambut pirang (blonde) alami yang jatuh tergerai lembut di atas bahunya, berkilau setiap kali tertimpa pantulan lampu restoran. Kulit putih bersih tanpa cela, paras cantik berwajah oval dengan hidung mancung proporsional, serta bibir mungil berpoles lip gloss bernuansa nude-pink membuatnya tampak seperti lukisan hidup dari abad ke-18.

Annelise adalah definisi nyata dari old money aesthetic. Setiap gestur tubuhnya memancarkan keanggunan tingkat tinggi. Cara ia memegang sendok teh, cara ia tersenyum simpul tanpa memperlihatkan deretan giginya secara berlebihan, hingga cara ia menatap Victor—semuanya teramat santun, lembut, dan menenangkan.

Tidak heran jika Nyonya Valen, mami tercinta Victor, langsung jatuh hati pada pandangan pertama dan mati-matian menjodohkan mereka berdua. Bagi Valen, Annelise adalah satu-satunya wanita di Amsterdam yang "pantas" berdampingan dengan sang pewaris tunggal tahta kerajaan bisnis Thorne Group.

"Vic... kamu melamun lagi," suara Annelise mengalun lembut, merdu bagaikan alunan biola cello di malam hari. Nada bicaranya sama sekali tidak menyiratkan kekesalan, melainkan penuh kelembutan yang justru membuat Victor merasa kian terjebak di dalam ruang hampa.

Victor menarik napas pelan, meredam helaan napas berat agar tidak terdengar terlalu kasar di hadapan wanita berhati rapuh itu. Ia mendongak, menatap manik mata biru jernih milik Annelise yang tengah menatapnya penuh harap.

"Maafkan aku, Annelise. Pekerjaan di kantor akhir-akhir ini benar-benar menyita pikiranku," jawab Victor dengan nada suara bariton yang dalam, berusaha terdengar sopan meski otaknya tengah berteriak jenuh.

Annelise tersenyum kecil. Ia meletakkan cangkirnya perlahan di atas saucer, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Gaun midi dress berpotongan A-line berwarna sage green dari brand Dior yang melekat di tubuh rampingnya semakin mempertegas kesan anggun dan classy pada dirinya.

"Aku mengerti, Vic. Menjadi CEO dari perusahaan sebesar Thorne Group tentu bukan hal yang mudah. Mami sering bilang padaku bahwa kamu adalah tipe pria pencork yang selalu mendedikasikan seluruh waktunya untuk kesuksesan perusahaan. Tapi... kesehatanmu juga penting. Jangan terlalu diforsir," ujar Annelise tulus. Kalimat-kalimat yang keluar dari bibirnya selalu tertata rapi, sangat sopan, dan penuh perhatian.

Di mata dunia, Annelise adalah package deal yang sempurna. Ia pintar, lulusan universitas bergengsi di Leiden, aktif dalam kegiatan sosial, memiliki latar belakang keluarga terpandang di Amsterdam, dan yang terpenting: ia mencintai Victor dengan cara yang begitu sabar. Annelise tidak pernah menuntut hal-hal berlebihan. Ia selalu siap mendengarkan cerita Victor, selalu tersenyum setiap kali pria itu datang terlambat dalam kencan mereka, dan selalu memperlakukan Victor bak raja.

Namun, di sinilah letak masalahnya bagi Victor.

Semua kesempurnaan itu justru terasa hambar di lidah Victor. Hubungan mereka berjalan lurus, monoton, tanpa ada percikan api (spark) ataupun tantangan. Annelise terlalu rapi, terlalu terstruktur, dan terlalu mudah ditebak. Tidak ada misteri. Tidak ada adrenalin. Victor merasa hubungannya dengan Annelise bagaikan naskah film yang sudah dihafal di luar kepala—membosankan, dingin, dan kaku.

"Terima kasih atas perhatianmu, Annelise. Kamu selalu tahu cara membuat orang lain merasa tenang," balas Victor, mencoba memberikan senyuman tipis sekadar formalitas sosial.

Mendengar pujian kecil itu, rona merah muda langsung merayap di pipi putih mulus Annelise. Ia menundukkan kepalanya sejenak, memainkan jemari lentiknya di atas permukaan meja. Sikap malu-malu kucing yang ditunjukkannya itu sukses membuat ribuan pria di luar sana pasti akan berlutut demi mendapatkan senyumannya. Tapi bagi Victor, ekspresi itu justru semakin mempertegas seberapa jauh jarak di antara isi kepala mereka berdua.

"Aku melakukan ini semua karena aku peduli padamu, Vic. Mami juga... Mami sangat berharap hubungan kita bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius dalam waktu dekat. Beliau bahkan sudah membicarakan soal konsep pertunangan kita musim panas nanti," ucap Annelise dengan suara yang semakin mengecil di akhir kalimat, menyembunyikan rasa salah tingkah bercampur harap yang begitu besar.

Jantung Victor mendadak berdetak dua kali lebih cepat—bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya. Pernikahan. Kata itu mendadak menjadi momok paling menakutkan bagi seorang Victor Thorne. Menikah dengan wanita pilihan keluarga, hidup dalam lingkaran sosial kelas atas yang penuh kepalsuan, dan menjalani hari-hari tua dengan skenario yang sudah diatur rapi oleh Nyonya Valen.

Apakah hidupnya akan selamanya berjalan di atas rel yang membosankan ini?

Victor kembali menyesap tehnya yang kini sudah mulai mendingin. Pandangannya menerobos jendela kaca besar restoran, menatap lalulalang orang di trotoar jalanan Amsterdam yang basah oleh gerimis tipis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!