Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Rahasia di Balik Sambal Bajak
Pagi itu, suasana di kantor baru PT Naga Properti di Surabaya sangat meriah. Gedung megah di pusat kota itu sudah dipenuhi karangan bunga. Guntur datang membawa rombongan keluarga dari Sidoarjo menggunakan bus pariwisata yang disewa khusus.
Begitu turun dari mobil, Bapak Suryo yang memakai batik rapi dan blangkon kesayangannya langsung celingak-celinguk menatap gedung tinggi itu. Di lobi, Pak Broto sudah berdiri rapi menyambut dengan setelan jas mahal.
"Lho, Pak Guntur, ini Bapaknya?" tanya Pak Broto sambil melangkah maju.
Bapak Suryo memicingkan mata, menatap Pak Broto dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tiba-tiba, wajah Bapak Suryo berubah sangar. "Lho! Sik... sik... iki Broto 'Kancil' sing biyen seneng nyolong pelem nang mburi omahku, kan?!"
Pak Broto kaget, ia menyesuaikan kacamatanya. "Lho! Suryo 'Gundala'? Sing biyen tak kalahkan pas lomba panco nang balai desa?!"
Seketika, suasana lobi yang tadinya formal mendadak panas. Tanpa aba-aba, Bapak Suryo langsung memasang kuda-kuda silat lawas khas Jawa Timuran. Pak Broto pun nggak mau kalah, dia melepas jas mahalnya, menyingsingkan lengan kemeja, dan memasang pose pesilat tangguh.
"Walah! Masih sombong kamu ya, To! Ayo, kita buktikan siapa yang masih sakti!" teriak Bapak Suryo sambil meluncurkan tendangan melingkar yang sangat cepat untuk ukuran orang tua.
PLAK! DUAK!
Pak Broto menangkis dengan gerakan tangkis bawah yang sangat rapi. Keduanya lalu jual beli pukulan dan tangkisan di tengah lobi. Suara benturan tangan mereka terdengar nyaring, menunjukkan kalau keduanya punya dasar ilmu bela diri yang sangat kuat.
Ratusan karyawan yang berdiri di lobi langsung melongo. Mereka bingung, ini mau syukuran kantor baru atau mau nonton film laga? Guntur yang melihat itu hanya bisa menepuk jidatnya sendiri.
"Waduh... dua singa tua ini malah kumat sengklek-nya," gumam Guntur sambil geleng-geleng kepala.
Setelah beberapa menit baku hantam yang seimbang, keduanya tiba-tiba berhenti dan malah tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata. Mereka langsung berpelukan dengan sangat erat, saling menepuk punggung dengan keras.
"Hahaha! Masih keras tanganmu, Yo! Pantesan anakmu, Guntur, saktinya kayak macan. Ternyata bapaknya masih gila silat!" tawa Pak Broto meledak.
"Halah! Kamu juga, To! Sudah jadi direktur di Jakarta tetap saja gerakannya masih lincah kayak kancil!" sahut Bapak Suryo sambil tertawa ngakak.
Seluruh karyawan yang tadi tegang langsung ikut tertawa lepas. Suasana kantor yang tadinya kaku jadi sangat cair dan penuh kekeluargaan. Guntur mendekat sambil membawa Sekar yang sejak tadi tertawa kecil melihat tingkah dua orang tua itu.
"Jadi... Bapak sama Pak Broto ini teman masa kecil?" tanya Guntur penasaran.
"Bukan cuma teman, Le! Dulu Bapakmu ini saingan Bapak buat dapetin perhatian kembang desa, eh ternyata dia malah menang dapetin Ibukmu!" jelas Pak Broto yang disambut teriakan "Cieeee" dari seluruh karyawan.
Ibu Siti yang baru masuk membawa rantang nasi jagung langsung menyahut, "Wes, wes! Sudah tua malah pamer silat di kantor baru anaknya! Ayo cepat potong tumpengnya, ini perut sudah lapar!"
Acara syukuran pun dimulai. Di depan seluruh karyawan di Surabaya, Guntur berdiri dengan gagah di samping Sekar. Ia mengumumkan kalau pusat Naga Properti resmi menetap di Surabaya.
"Terima kasih semua. Mulai hari ini, kita adalah keluarga besar di tanah Jawa Timur. Dan buat Bapak sama Pak Broto... tolong jangan berantem lagi, mending fokus bantu saya urus persiapan pernikahan bulan depan!" ucap Guntur yang langsung disambut tepuk tangan meriah.
Malam itu, di kantor baru yang megah, aroma kopi hitam dan asap rokok kretek murah kembali menyerbak. Guntur, Bapak Suryo, dan Pak Broto duduk melingkar sambil mengenang masa lalu, sementara Sekar dan Ibu Siti asyik menghitung daftar tamu undangan.
Guntur tersenyum puas. Naga sudah pulang ke kandangnya, aset aman, musuh sirna, dan yang paling penting... dua singa tua ini sudah berdamai untuk menyambut hadirnya sang cucu di masa depan.
Di tengah tawa para karyawan melihat Bapak Suryo dan Pak Broto berpelukan, tiba-tiba pintu lobi terbuka lagi. Muncul seorang pria gagah bersama istri dan anaknya yang masih kecil. Pria itu adalah Adit, putra kandung Pak Broto yang selama ini membantu mengelola aset di luar kota.
Adit menghentikan langkahnya saat melihat sosok pria yang berdiri di samping Sekar. Matanya membelalak, napasnya seolah tertahan. "G-Guntur? Guntur Hidayat?"
Guntur menoleh, dan seketika jantungnya berdegup kencang. Ia teringat sahabat masa kecilnya yang dulu selalu berbagi sebatang tebu dan lari-larian di pematang sawah sebelum keluarga Adit pindah ke kota. "Adit? Adit anak Pak Broto?!"
Tanpa banyak bicara, keduanya langsung merangsek maju. Bukannya bersalaman, mereka malah beradu silat sebentar sebagai tanda sapaan khas jagoan lama. Pukulan dan tangkisan mereka beradu cepat, sangat sinkron seolah sudah berlatih bersama selama bertahun-tahun.
PLAK! DUAK!
Setelah tiga jurus, mereka berdua berhenti bersamaan. Guntur mencengkeram bahu Adit, dan Adit memeluk Guntur dengan sangat erat. Keduanya menangis sesenggukan di tengah lobi kantor yang mewah itu.
"Yallah, Tur! Aku kira kamu sudah lupa sama aku! Aku cari kamu ke mana-mana setelah bapakmu pindah dari desa dulu!" tangis Adit pecah, nggak peduli lagi sama image-nya sebagai bos muda.
"Aku nggak pernah lupa, Dit! Ilmu silat yang kita pelajari dari kakekmu itu yang jaga nyawaku selama di Jakarta!" balas Guntur sambil menghapus air matanya dengan lengan baju.
Pak Broto yang melihat itu langsung merangkul Bapak Suryo. "Lho, Yo! Ternyata anak-anak kita ini sahabat sejati! Pantesan Guntur ini saktinya minta ampun, lha wong dulu latihannya bareng si Adit!"
Para karyawan yang tadi tertawa, kini ikut terharu. Beberapa mbak-mbak admin bahkan sampai sesenggukan pakai tisu melihat dua pria perkasa itu berpelukan sambil menangis.
Tiba-tiba, seorang staf senior Jakarta mendekat dengan ragu. "Maaf, Pak Guntur... kenapa kantor pusatnya harus pindah ke Surabaya? Kalau Bapak mau bawa keluarga ke Jakarta, perusahaan siap bayar semua biayanya, Pak. Jakarta-Surabaya itu jauh lho, operasional kita bisa repot."
Guntur melepaskan pelukannya dari Adit, ia berdiri tegak dengan wibawa Pak Bos yang tak terbantahkan. Ia tersenyum tipis sambil menatap staf itu.
"Dengar semuanya. Uang bisa dicari, tapi ketenangan hati nggak ada harganya. Di Jakarta, saya menang perang, tapi di Surabaya dan Sidoarjo, saya menemukan kedamaian. Saya mau kalian kerja bukan cuma cari gaji, tapi biar ngerasain suasana kekeluargaan seperti ini," ucap Guntur mantap.
Adit langsung menyahut, "Tenang saja! Saya yang akan pimpin tim operasional di sini. Jakarta-Surabaya memang jauh, tapi dengan teknologi sekarang, semua bisa diatur. Yang penting, Naga ini harus punya akar yang kuat di tanah Jawa Timur!"
Istri Adit kemudian mendekat membawa anaknya yang mungil, menyalami Ibu Siti dan Sekar dengan sangat sopan. Suasana kantor itu sudah nggak kayak kantor lagi, tapi kayak hajatan keluarga besar.
"Wis, wis! Ayo rek, tumpengnya dipotong! Ini Guntur sama Adit malah nangis-nangisan terus, kayak anak kecil rebutan kelereng saja!" goda Bapak Suryo yang disambut tawa ledak seluruh orang di lobi.
Malam itu, kantor baru di Surabaya resmi beroperasi. Guntur duduk di ruangannya yang menghadap ke jembatan Suramadu, ditemani Adit dan Pak Broto. Mereka merokok kretek bersama, menikmati kopi hitam, dan merencanakan masa depan yang gemilang.
"Tur, habis ini nikahanmu sama Mbak Sekar biar aku yang urus semua vendornya. Pokoknya harus jadi pesta paling mewah se-Jawa Timur!" ucap Adit semangat.
Guntur hanya nyengir sengklek. "Mewah boleh, Dit. Tapi jangan lupa, menu utamanya harus tetap ada dadar jagung Ibuk. Kalau nggak ada itu, aku nggak mau akad!"
Suasana makan siang di kantor baru Surabaya itu makin hangat. Aroma dadar jagung dan sambal bajak buatan Ibu Siti bener-bener menggoda selera. Saat semua sudah duduk, Pak Broto memperkenalkan istrinya yang baru saja datang dengan pakaian sangat anggun.
"Nah, ini istri saya. Namanya Sari. Dia ini aslinya juga orang Jawa Timur, tapi sudah lama menetap di Jakarta," ucap Pak Broto dengan bangga.
Begitu Ibu Sari melangkah masuk dan melihat sosok Ibu Siti yang lagi sibuk nata nasi tumpeng, langkah kakinya mendadak lemas. Matanya langsung berkaca-kaca, bibirnya bergetar hebat.
"M-Mbak Siti?" panggil Ibu Sari dengan suara serak.
Ibu Siti menoleh, matanya membelalak. Sendok kayu di tangannya sampai lepas. "Ya Allah... Sari? Kamu Sari, adikku?"
Ibu Sari langsung lari dan bersimpuh memeluk kaki Ibu Siti sambil menangis sesenggukan. "Mbak... maafin Sari, Mbak! Sari jahat nggak pernah kasih kabar puluhan tahun! Sari malu mau pulang sebelum bisa jadi orang, Mbak!"
Seluruh ruangan mendadak sunyi senyap. Guntur, Adit, Bapak Suryo, dan Pak Broto semuanya melongo kayak patung.
"Lho, Yo! Jadi istrimu itu adiknya istriku?" Bapak Suryo kagetnya nggak ketulungan sampai blangkonnya hampir miring. "Berarti kita ini Besan sekaligus Ipar, To!"
Pak Broto juga nggak kalah syok. "Walah! Aku bertahun-tahun kerja sama Bang Soni, malah nggak tahu kalau istriku sendiri itu tantenya Guntur! Sari, kok kamu nggak pernah cerita kalau Mbak Siti itu kakakmu?"
Ibu Sari masih nangis sesenggukan. "Aku takut Mbak Siti masih marah karena dulu aku kabur merantau tanpa pamit, Pak... aku takut dianggap adik durhaka."
Ibu Siti langsung memeluk adiknya itu erat-erat. "Walah, Ri... Ibu di kampung itu setiap hari nanyain kamu. Sampai beliau meninggal, namamu selalu disebut dalam doanya. Ibu nggak marah, Ibu cuma kangen!"
Mendengar itu, tangisan Ibu Sari makin pecah. Guntur dan Adit yang tadi sempat adu silat, sekarang malah saling rangkul sambil geleng-geleng kepala.
"Duh Dit... pantesan kita dari kecil sudah cocok banget main bareng. Ternyata darah kita ini satu aliran! Kamu itu sepupuku dewe, Dit!" ucap Guntur sambil nepuk pundak Adit.
"Gila Tur! Dunia ini bener-bener kayak selebar daun kelor. Aku nggak nyangka, orang yang paling aku hormati sebagai jagoan ternyata saudaraku sendiri!" balas Adit penuh haru.
Bapak Suryo langsung menengahi sambil ketawa ngakak. "Wis, wis! Jangan nangis terus! Ini tandanya Gusti Allah sudah mengatur semuanya. PT Naga Properti ini sekarang bukan cuma perusahaan, tapi Kerajaan Keluarga! Ayo, dimakan sambalnya, ini sambal spesial buat ngerayain kembalinya adik yang hilang!"
Malam itu, suasana kantor Surabaya bener-bener pecah. Nggak ada lagi sekat antara atasan dan bawahan, semuanya merayakan bersatunya kembali keluarga besar Sidoarjo. Guntur duduk di antara dua orang tuanya dan keluarga barunya, merasa sangat bersyukur.
"Bismillah... kalau keluarga sudah kumpul begini, makin mantap langkahku buat nikahin Mbak Sekar. Dit, kamu siap kan bantu sepupumu ini buat pesta paling gila se-Sidoarjo?" goda Guntur.
"Siap, Pak Bos! Eh, maksudku, siap Mas Guntur! Kita bikin Sidoarjo macet total karena pestamu!" jawab Adit penuh semangat.