Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Sebenarnya Ayah Kandung Arjuna?
Hujan badai mengguyur Jakarta, seolah langit sedang ikut bergolak bersama rahasia yang mulai terkuak. Di dalam ruko yang kini telah menjadi benteng teknologi, Vittorio duduk terdiam di depan sebuah meja kayu tua. Di hadapannya, terdapat sebuah amplop cokelat kusam yang ia ambil dari brankas tersembunyi milik Hadi Sujatmiko saat infiltrasi malam itu.
Selama ini, ia berasumsi bahwa Hadi adalah ayah kandung Arjuna—seorang pria kejam yang menelantarkan anaknya demi kekuasaan. Namun, data biometrik dan tes DNA lama yang ia temukan di dalam amplop itu menceritakan kisah yang jauh lebih mengerikan.
"Ada apa, Jun? Lu bengong kayak baru liat hantu," suara Karin memecah kesunyian. Ia mendekat sambil membawa sepiring pisang goreng yang masih mengepul.
Vittorio tidak menjawab. Ia menggeser selembar kertas hasil laboratorium bertarikh dua puluh tahun lalu ke arah Karin. "Baca ini."
Karin mengerutkan dahi, matanya memindai baris-baris teknis medis. "Hasil tes DNA... Pasien: Arjuna. Ayah Terduga: Hadi Sujatmiko. Hasilnya... 0% KEMUNGKINAN HUBUNGAN BIOLOGIS?!" Karin berteriak, hampir menjatuhkan piringnya. "Juna! Jadi selama ini lu bukan anak si botak itu?!"
"Bukan," jawab Vittorio, suaranya sedingin es. "Aku hanyalah 'proyek' bagi Hadi. Dia menikahi Ibuku, Sari, hanya untuk mendapatkan hak asuh legal atasku. Dia butuh anak laki-laki dengan identitas bersih untuk dijadikan tumbal politik dalam aliansinya dengan Lupi di Mare."
"Tapi kalau bukan Hadi... terus siapa bapak kandung lu yang asli?"
Vittorio membuka lembaran kedua. Di sana terdapat sebuah foto paspor lama seorang pria asing. Pria itu memiliki mata yang sangat mirip dengan Arjuna—tajam, melankolis, namun penuh dengan bara api. Di bawah foto itu tertera sebuah nama yang membuat jantung Vittorio yang tadinya tenang, kini berdegup kencang karena syok.
Alessandro Genovese.
Vittorio merasakan dunia di sekitarnya seolah berputar. Alessandro Genovese. Ayah kandung Vittorio di Italia adalah pria yang sama yang menjadi ayah kandung Arjuna di Indonesia.
"Ini tidak mungkin..." gumam Vittorio. "Jika ini benar, maka aku bukan hanya menghuni tubuh orang asing. Aku menghuni tubuh adik tiriku sendiri."
Memori-memori yang terkunci mulai menyeruak keluar dengan paksa. Ia mengingat cerita-cerita lama di Genoa tentang ayahnya yang pernah melakukan perjalanan panjang ke Asia Tenggara pada awal tahun 2000-an untuk memperluas jaringan The Pack. Alessandro selalu merahasiakan detail perjalanan itu. Ternyata, di Jakarta, Alessandro jatuh cinta pada Sari, seorang pelayan hotel sederhana, dan meninggalkannya dalam keadaan mengandung sebelum kembali ke Italia untuk memimpin klan.
Hadi Sujatmiko, yang saat itu hanyalah kaki tangan kecil Alessandro di Jakarta, diperintahkan untuk "mengurus" Sari. Namun, Hadi yang ambisius melihat peluang. Ia menikahi Sari secara formal untuk mengamankan posisi dalam klan Genovese, namun ia menyimpan rahasia identitas Arjuna sebagai senjata pemeras terhadap Alessandro.
"Juna... lu kenapa?" Karin memegang bahu Vittorio, cemas melihat wajah pria itu yang memucat.
"Karin, aku adalah anak dari pria yang paling dibenci di dua benua," Vittorio menatap Karin dengan tatapan kosong. "Hadi menyimpan rahasia ini agar dia bisa mengklaim bahwa 'pewaris sah' klan Genovese ada di bawah kendalinya. Itu sebabnya dia menanamkan mikrodit itu. Dia ingin Arjuna menjadi boneka yang bisa ia gunakan untuk mengkudeta kepemimpinan di Italia."
Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah pintu ruko yang entah bagaimana sudah terbuka.
Di sana berdiri Don Lorenzo, ditemani oleh Bianca Sujatmiko. Lorenzo tidak membawa senjata, ia hanya membawa sebuah cerutu yang menyala.
"Ah, kau akhirnya mengetahuinya, Vittorio. Atau haruskah aku memanggilmu... Arjuna?" Lorenzo melangkah masuk dengan santai.
Tiger dan anak buahnya segera bersiaga, namun Vittorio memberi isyarat agar mereka tetap tenang.
"Kau sudah tahu sejak awal, bukan?" tanya Vittorio.
"Tentu saja," Lorenzo duduk di kursi plastik di depan meja Vittorio. "Alessandro adalah saudaraku. Aku tahu tentang perselingkuhannya di Jakarta. Dan aku tahu Hadi adalah ular yang mencoba mencuri darah biru Genovese untuk kepentingannya sendiri. Itu sebabnya kami membiarkanmu 'mati' di Mediterania, Vittorio. Kami ingin melihat apakah kau bisa bertahan hidup dalam tubuh adikmu yang lemah ini."
Bianca melangkah maju, menatap Vittorio dengan pandangan yang kompleks—antara benci dan kagum. "Ayahku memang gila, tapi dia benar tentang satu hal. Kau adalah predator yang sempurna karena kau memiliki darah Alessandro di nadimu, terlepas dari raga mana yang kau huni."
"Jadi kalian semua mempermainkanku?" geram Vittorio.
"Dunia ini adalah papan catur, Nak," Lorenzo mengembuskan asap cerutunya. "Sekarang kau tahu siapa ayahmu. Kau adalah pewaris tunggal dari seluruh kerajaan Genovese di Italia, dan kau juga pemegang kunci atas aset Sujatmiko di Asia. Pertanyaannya sekarang: kau mau menjadi siapa?"
Karin yang sejak tadi diam, tiba-tiba berdiri di depan Vittorio, melindungi pria itu. "Dia adalah Arjuna! Dan dia temen gue! Dia nggak peduli sama kerajaan-kerajaan kalian yang bau darah itu!"
Lorenzo menatap Karin dengan tatapan meremehkan. "Gadis kecil, kau sedang bicara dengan calon raja duni bawah. Jangan ikut campur atau kau akan berakhir di parit."
"Coba aja kalau berani!" tantang Karin, tangannya sudah memegang botol semprotan air cabai cadangannya.
Vittorio berdiri, aura kepemimpinannya meledak keluar hingga membuat Bianca mundur selangkah. "Cukup, Lorenzo. Aku tidak peduli siapa ayah kandungku. Alessandro Genovese adalah pria yang membuang Ibuku, dan Hadi Sujatmiko adalah pria yang menyiksa masa kecilku. Aku tidak akan menjadi pewaris bagi salah satu dari mereka."
"Lalu kau mau apa?" tanya Lorenzo.
"Aku akan menghancurkan keduanya," jawab Vittorio tegas. "Aku akan memulainya dengan Hadi. Aku akan menyerahkan data pengkhianatannya terhadap The Pack kepadamu, Lorenzo. Dan sebagai gantinya, kau akan meninggalkan Indonesia dan jangan pernah menyentuh Karin atau siapa pun di kost-an ini lagi."
Lorenzo menyipitkan mata. "Kau menawarkan kepala Hadi Sujatmiko untuk kebebasanmu sendiri?"
"Kepala Hadi, seluruh asetnya di Jakarta, dan jalur logistik baru yang sudah kubersihkan dari suap," Vittorio melemparkan koper hitam berisi data digital yang asli. "Ambil ini, dan pulanglah ke Genoa. Katakan pada klan bahwa Vittorio Genovese sudah mati, dan Arjuna hanyalah mahasiswa hukum biasa yang tidak pantas mereka awasi."
Lorenzo terdiam cukup lama, menimbang-nimbang antara kekuasaan dan stabilitas bisnis. Ia melihat determinasi di mata Vittorio—mata yang sama dengan kakaknya, Alessandro, namun dengan jiwa yang jauh lebih kuat karena telah melewati kematian.
"Kau sangat mirip dengan ayahmu saat dia masih muda," Lorenzo berdiri, mengambil koper itu. "Baiklah. Kami akan mengambil Hadi. Dia sudah terlalu lama menjadi beban bagi kami. Tapi ingat satu hal, Arjuna... darah tidak pernah bisa berbohong. Suatu hari nanti, kegelapan akan memanggilmu kembali."
Lorenzo dan Bianca meninggalkan ruko. Hening kembali menyelimuti ruangan.
Karin langsung lemas dan terduduk di lantai. "Gila... Juna... jadi lu beneran anak mafia asli? Anak bosnya bos?"
Vittorio duduk di samping Karin, membiarkan kelelahan mentalnya mengambil alih sejenak. "Sepertinya begitu, Karin. Tapi itu tidak mengubah apa pun."
"Gimana nggak mengubah apa pun?! Lu itu pangeran mafia! Lu bisa beli seluruh tukang seblak di Jakarta kalau lu mau!"
Vittorio tersenyum tipis, mengusap kepala Karin yang masih berantakan. "Aku lebih suka menjadi Arjuna yang berhutang uang laundry pada Mbak Yanti daripada menjadi Vittorio yang harus membunuh saudaranya sendiri demi takhta."
Vittorio menatap lembaran hasil tes DNA itu, lalu ia mengambil korek api dan membakarnya hingga menjadi abu di dalam asbak. Bersama dengan itu, beban rahasia tentang siapa ayah kandungnya pun ikut musnah. Ia tidak butuh nama besar Alessandro atau Hadi untuk menentukan siapa dirinya.
"Karin," panggil Vittorio.
"Apa?"
"Besok... temani aku ke makam Ibu lagi."
"Mau ngapain?"
"Aku ingin memberi tahu beliau bahwa pria yang menyakitinya sudah tidak ada lagi. Dan bahwa anaknya... baik-baik saja."
Karin tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Vittorio. "Oke. Tapi habis dari makam, traktir bakso ya. Gue butuh asupan micin habis denger rahasia keluarga seserius ini."
"Iya, asisten."
Di luar, hujan mulai mereda. Aroma tanah basah kembali tercium, namun kali ini aroma dendam itu sudah benar-benar hilang. Vittorio Genovese mungkin adalah hantu dari masa lalu, namun Arjuna adalah masa depan yang ia pilih sendiri. Sang Predator telah memutuskan untuk menanggalkan taringnya, bukan karena ia lemah, tetapi karena ia telah menemukan sesuatu yang lebih berharga untuk dijaga daripada sekadar kekuasaan: sebuah persahabatan tulus di sebuah ruko kecil di tengah bisingnya Jakarta.
Namun, di sudut gelap pelabuhan, Hadi Sujatmiko yang sedang mencoba melarikan diri tiba-tiba dihentikan oleh mobil-mobil hitam milik Lorenzo. Jeritan Hadi malam itu menjadi penutup dari bab panjang penderitaan Arjuna.
Keadilan akhirnya datang, bukan melalui palu hakim, melainkan melalui dinginnya strategi seorang pria yang menolak untuk menjadi monster yang diciptakan oleh ayahnya sendiri.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍