NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

"Ayah." Panggil Adrian sekali lagi.

"Nona Nadira. Barang yang anda inginkan, sudah kami bawakan kemari." Kata Tuan Rendi yang masih saja keliatan takut. Mereka yang mengangkut peti jenazah itu pun berhenti tepat di depan Nadira dan yang lainnya.

"Ayah yang kurang perhatian." Kata Adrian.

Pada akhirnya, Nadira pun maju menuju peti jenazah tersebut sambil melewati Tuan Rendi dan Tuan Rayhan. Sedangkan, selanjutnya mereka akan melihat apa yang akan dilakukan oleh Nadira di depan peti jenazah tersebut.

Nadira, merentangkan tangan kanannya ke arah peti mati tersebut, sehingga muncul sinar keemasan dari telapak tangan Nadira, hingga setalah agak lama akhirnya Nadira pun mulai menggenggam sesuatu dan membukanya.

"Wow. Kenapa ada paku ? Bedebah mana yang melakukannya?" Tanya Adrian, sementara Tuan Rayhan begitu terkejut saat melihat apa yang ada di telapak tangan Nadira.

Nadira pun, langsung menoleh ke belakang dimana tempat tersebut adalah Keluarga Hutama, sambil terus menggenggam paku tersebut.

"No... Nona Nadira, bukan ibuku yang melakukannya. Aku sudah tanya. Saat dia baru saja membawanya pulang, sudah ketahuan olehku. Dia nggak ada waktu melakukan semua ini." Kata Tuan Rendi, yang menjelaskan situasi tersebut dengan apa yang dia lihat sebelumnya.

Tuan Rayhan langsung menggenggam tangannya sebagai tanda permintaan atau permohonan kepada Nadira untuk menyelidikinya dengan jelas.

"Mohon Nona Nadira selidiki. Ibuku memang aneh dan menyendiri, tapi dia belum sepenuhnya kehilangan akal hingga sejauh itu." Kata Tuan Rayhan yang terus menggenggam kedua tangannya.

Padahal, tidak tahu saja mereka kalau mereka itu sebenarnya salah paham. Nadira itu melihat ke arah rumah Keluarga Hutama, bukan ke arah Tuan Rendi untuk meminta penjelasan.

"Hmmm." Kata Nadira sambil melihat lagi ke arah paku yang berada di genggamannya, dan langsung melihat lagi ke arah Tuan Rendi.

"Apa kau tau dari mana dia membawanya?" Tanya Nadira.

"Aku.... Aku sudah bertanya pada pembantu. Ibu menemukannya saat kebaktian, ketika dia melewati kamar kosong dia menjadi penasaran, jadi dia membawanya pulang." Kata Tuan Rendi sambil terbata-bata menjelaskannya karena dia sudah merasa ketakutan, Nadira pun langsung melihat lagi ke arah peti jenazah tersebut.

"Nona Nadira, sekarang apa yang harus kami lakukan?" Sambung Tuan Rayhan.

"Serahkan pada keluarga Hutama untuk dimakamkan." Ucap Nadira, dan langsung berlalu dari hadapan mereka untuk kembali masuk ke dalam keluarga Hutama.

Tuan Rayhan, memerintahkan anak buah mereka untuk masuk sambil membawa peti mati tersebut.

"Layani Nona Nadira dengan baik mengerti?* Perintah Tuan Rendi.

"Aku mengerti." Kata Adrian sambil menggesekkan tangan telunjuk, dan jempol seakan kode minta uang kepada Sang Ayah.

"Kenapa? Uang sakumu sudah habis?" Tanya Tuan Rendi kepada Adrian.

"Tentu saja aku sudah cukup, tapi kebutuhan Nona Nadira masih jauh dari cukup." Kata Adrian, dan Ayahnya langsung melihat ke arah dimana tempat Nadira masuk tadi.

"Aku sudah tahu. Jangan lalai." Kata Tuan Rendi.

"Kasih banyakan." Kata Adrian sambil tersenyum dan langsung pergi dari hadapan sang Ayah.

"Kau yang bawa Yuna pergi, benar nggak? Cuma kau yang tahu aku menaruh Yuna diruang bawah tanah." Tanya Nyonya Desi, kepada Heri. Sementara tangan Heri masih menggantung memegang gelas air untuk diminumkan kepada Nyonya Desi, yang mana sudah mulai tenang.

"Benar. Aku yang bawa." Jawab Tuan Heri mengangguk sambil meletakkan kembali gelas tersebut di meja.

Nyonya Desi, langsung saja menyerang Tuan Heri menggunakan gelas tersebut. Gelas tersebut dihantamkan Nyonya Desi ke kepala Tuan Heri hingga akhirnya kepalanya mengeluarkan darah.

Nafas Nyonya Desi terengah-engah, dia bernafas tidak karuan karena syok mengetahui fakta tersebut. Sedangkan Tuan Heri hanya bisa pasrah menerima keadaan tersebut.

"Desi, aku tahu kamu nggak bisa menerima kepergian Yuna. Aku juga merasakan hal yang sama seperti mu. Aku membawa Yuna pergi agar ada banyak orang yang mendoakannya. Yuna adalah putriku. Aku nggak akan mencelakainya." Kata Tuan Heri sambil memandang ke arah Nyonya Desi.

"Lalu kenapa kau membohongiku. Katanya ibumu sendiri menenggelamkan putrinya." Marah Nyonya Desi.

"Aku nggak membohongimu. Aku juga baru mendengar hal ini." Bantah Tuan Heri, karena dituduh berbohong.

"Menurutmu, apa semua ini benar?" Tanya Nyonya Desi.

"Entah itu benar atau salah, semuanya sudah berlalu." Tuan Heri menghela nafas panjang dan menjawabnya.

"Urusan kakakmu memang sudah berlalu, tapi Yuna belum." Teriak Nyonya Desi kepada Tuan Heri.

"Aku tahu. Kalau dia yang melakukannya, aku sama sekali nggak akan iba. Aku nggak akan ampuni pelaku yang sudah mencelakai putriku." Ucap Tuan Heri, sehingga membuat Nyonya Desi terdiam.

"Dia tetaplah dirinya. Aku seharusnya nggak meragukannya." Tutur Nyonya Desi dalam hati.

Nyonya Desi langsung maju, sehingga ia langsung di rangkul oleh sang suami, untuk saling menguatkan satu sama lain.

"Jadi, di hari kematian Yuna, kau sama sekali nggak pulang, benar nggak?" Tanya Nyonya Desi sambil menangis, dan sambil melihat ke arah sang suami.

"Nggak. Hari itu pencernaan ku sakit, aku terus istirahat di kamar, sampai kau membuka pintu kamarku. Kau lupa? Saat itu aku masih memakai baju tidur." Kata Tuan Heri kepada sang istri untuk memberikan penjelasan sesuai apa yang terjadi saat itu.

"Baju tidur?" Tanya Nyonya Desi setelah lepas dari pelukan sang suami.

"Kau lupa?" Tanya Tuan Heri.

"Tentu saja nggak." Jawab Nyonya Desi.

"Sudahlah, Desi. Hari ini kau sudah terlalu lelah. Tidurlah sebentar di kamar." Tutur Tuan Heri kepada istrinya.

"Nggak bisa. Kau tidur saja duluan. Aku mau keruang bawah tanah menemani Yuna." Kata Nyonya Desi pelan.

Pada akhirnya, Tuan Heri pasrah sambil menghela nafas pendek dan langsung pergi dari hadapan sang istri.

Sedangkan Nyonya Desi, masih duduk di sana seolah-olah merenungkan suatu kejadian.

"Dia. Saat kau tidur hari itu. Kau mengenakan piyama hitam. Tapi ketika aku memanggilmu, kau mengenakan piyama putih." Kata Nyonya Desi, sambil berbicara sendiri untuk memahami kenapa sang suami begitu berbohong padanya, dihari meninggalnya Yuna.

"Sayang? Kenapa kau membohongiku?" Tanya Nyonya Desi kepada dirinya sendiri sambil menangis.

"Sudah puas menangis? Kalau kau sudah puas menangis, mari mulai urusan yang sebenarnya." Kata Nadira.

Saat Nyonya Desi menangis, sinar keemasan muncul di samping Nyonya Desi, dan muncul suara Nadira, untuk melanjutkan ke fakta yang sebenarnya. Nyonya Desi tentu kaget dan mencari-cari sumber suara tersebut.

Hingga pada akhirnya, sinar keemasan itu muncul lah Nadira yang sudah duduk menyamping sambil memegang kepalanya, tentu saja tidak lupa dengan payung kesayangannya berada di pangkuannya.

"Kau." Nyonya Desi kaget dan langsung berdiri, karena dia tidak tahu kapan Nadira masuk dan duduk disampingnya, sedangkan dia tidak mendengar suara melangkah.

"Bagaimana kau bisa masuk?" Tanya Nyonya Desi, saat Nadira mengangkat kepalanya dan langsung melihat ke arah Nyonya Desi, entah kenapa Nyonya Desi ketakutan hingga dia ketakutan, padahal Nadira nggak ngapa-ngapain.

"Maaf. Sebelumnya, aku melakukan kesalahan bodoh, itu sebabnya aku mengatakan hal-hal itu. Aku mohon padamu, Bantu aku." Kata Nyonya Desi yang masih saja bersimpuh di depan Nadira.

"Aku hanya membantu orang mati untuk menyelesaikan keinginan terakhir mereka. Daripada memohon padaku, coba lebih baik kau pikirkan baik-baik apa keinginannya yang belum terpenuhi."Kata Nadira yang mana Nadira masih saja tetapi duduk.

"Apakah, kalau aku memenuhi keinginannya, aku nggak akan pernah bertemu Yuna lagi? Lalu, apakah bisa nggak memenuhinya? Aku nggak ingin kehilangan dia." Ucap Nyonya Desi sambil terus melihat ke arah Nadira.

Sedangkan Nadira, malah menatap Nyonya Desi iapun akan memandang orang yang akan dia ajak bicara. Nyonya Desi menjadi ketakutan karena Nadira melihatnya begitu intens seakan-akan akan mem-bu-nuh-nya sekarang juga.

"Maaf. Aku bertindak bodoh lagi. Kematian Yuna terlalu mendadak bagiku. Dia pasti ingin membalas dendam untuk dirinya sendiri, kan?" Tanya Nyonya Desi yang masih saja bersimpuh di depan Nadira.

"Menurutmu, siapa yang mencelakainya?" Tanya Nadira.

"Aku masih nggak percaya. Dia yang melakukan hal ini. Dia sangat mencintai Yuna. Mana mungkin dia mencelakai Yuna. Selain itu, dia juga pernah bilang, seumur hidup cuma menginginkan aku dan juga Yuna. Asalkan kami bisa bahagia." Kata Nyonya Desi sambil menggelengkan kepalanya pertanda dia nggak percaya akan hal apa yang dia pikirkan.

Nyonya Desi langsung berdiri, dan langsung menunjuk ke arah Nadira yang masih duduk itu.

"Kau, kau. Mengapa kau mengatakan ini padaku? Apa kau mau merusak kebahagiaan kami?" Histeris sudah Nyonya Desi.

"Nggak benar." Kata Nadira.

Nadira pun langsung mengambil payungnya dan mengibaskan ke arah Nyonya Desi, sehingga payung tersebut mengeluarkan sinar emasnya dan juga di tubuh Nyonya Desi juga keluar asap hitam.

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!