NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11.

Tanpa berpikir panjang, Zee melangkah masuk ke dalam pintu itu. Seketika, semuanya berubah.

Suara ombak bergulung lembut, angin laut berhembus menyentuh kulitnya, membawa aroma asin yang khas. Pasir halus terasa di telapak kakinya, hangat dan nyata.

Zee terdiam membeku, matanya melebar saat menyadari Dia sudah tidak lagi berada di tangga balkon apartemennya.

Dia kini berdiri di sebuah pantai. Beberapa detik berlalu dalam keheningan, hanya suara alam yang menemani. Seolah dunia ini memang sudah ada sejak lama dan Zee baru saja tersesat ke dalamnya.

Saat pikirannya masih berusaha mencerna apa yang terjadi, sebuah suara kecil memecah lamunannya.

"Hai, kak?"

Zee tersentak kaget. "Eh kodok loncat di pagar!" seru Zee refleks kaget bukan main. Dia menoleh cepat dengan jantung yang berdegup kencang.

Di sana berdiri seorang anak laki-laki yang tidak jauh darinya.

Wajah itu Zee mengenalnya. Anak itu adalah sosok yang muncul di foto yang Dia ambil sebelumnya.

Sedangkan anak itu hanya berkedip, sedikit bingung melihat reaksi Zee.

Zee menghela nafas, mencoba menenangkan dirinya. Dia mengusap wajahnya sebentar, lalu menatap anak itu dengan lebih serius.

"Hai, Dek... kamu sedang apa sendirian di pantai ini?" suaranya kini lebih lembut, meski masih ada sisa keterkejutan.

Zee menatapnya lebih lama, mencoba memastikan sesuatu di dalam pikirannya. "Anak ini... Benar-benar nyata." batinnya

Anak itu tersenyum kecil. "Kak nama aku Doni, nama kakak cantik siapa?"

"Eh..." Kaget Zee lagi

"Hai Doni, nama kakak Zee," jawab Zee dengan tersenyum

"Kakak dari Bangunan besar itu, ya?" tanya Doni

Zee mengernyit. "Bangunan... apa?" jawab Zee bingung.

Doni menunjuk ke arah belakang Zee dengan polos, matanya berbinar seperti seseorang yang akhirnya menemukan jawaban dari rasa penasarannya.

"Bangunan yang tinggi... besar... yang kemarin tiba-tiba muncul di sana, aku lihat kakak dari situ." kata Doni

Dunia Zee seakan berhenti sejenak. "A-apa masuk kamu dek?" suara Zee sedikit bergetar.

Doni menggaruk kepalanya, lalu melanjutkan dengan santai, seolah itu hal biasa.

"Kemarin aku juga ke sini... nungguin Ayah pulang melaut. Terus tiba-tiba ada bangunan tinggi muncul di antara pohon-pohon itu kak."

Doni berhenti terdiam sejenak, lalu menatap Zee kembali. "Aku juga melihat kakak di atas, berdiri di bangunan tinggi itu." lanjut Doni

Zee terdiam, dengan jantung kembali berdegup kencang. Jadi... bukan hanya Dia yang masuk ke dunia ini, tanpa sadar, Zee perlahan menoleh ke belakang dan saat itu juga, nafasnya tercekat.

Di antara pepohonan yang sebelumnya hanya terlihat alami dan sunyi... kini berdiri sebuah bangunan tinggi dan besar.

Itu ternyata apartemennya di lantai empat, hanya itu. Tidak ada air terjun, kolam air dan taman bunga.

Zee mundur selangkah. "Itu... nggak mungkin..." bisiknya.

Bangunan itu berdiri, menjulang tinggi di tengah alam liar. Menciptakan pemandangan yang terasa salah, seperti dua dunia yang menyatu.

Doni berjalan mendekat sedikit ke sisi Zee. "Kakak, bakal muncul lagi, kan?, soalnya kemarin bangunan itu dan kakak tiba-tiba hilang lagi" Tanya Doni polos.

Zee menoleh cepat. "Hilang?"

Doni mengangguk. "Iya kak, Aku tunggu lama, tapi bangunan itu pelan-pelan jadi nggak kelihatan... terus benar-benar hilang."

Doni tersenyum polos dan melanjutkan ceritanya lagi. "Makanya Aku ke sini lagi hari ini. Aku pikir... mungkin kakak dan bangunan tinggi itu bakal muncul lagi hari ini."

Zee menelan ludah sejenak, dengan pikirannya yang berputar cepat. Jadi bangunan itu... tidak menetap permanen disini.

Dan entah kenapa, hanya terhubung dengannya. Zee kembali menatap apartemennya di kejauhan.

Angin laut berhembus lebih kencang, membuat dedaunan berdesir halus. Untuk sesaat, bangunan itu terlihat sedikit bergetar.

Seolah tidak benar-benar berada di sana, seperti hanya menjadi tamu di tempat ini. Maka mungkin Dia tidak bisa kembali kesini lagi, atau bisa datang lagi cuman bisa sebentar saja.

Dan bisa juga, kalau Dia terlalu lama di tempat ini, Dia bisa kehilangan jalan pulang ke rumahnya kapan saja.

Sedangkan di sampingnya, Doni masih menatap bangunan tinggi, besar itu dengan mata penuh rasa ingin tau.

Sementara Zee, mulai menyadari bahwa semua ini mungkin bukan sekedar kebetulan saja. Tapi bisa saja ada sesuatu yang jauh lebih besar, yang sedang menunggunya di tempat ini.

Zee masih menatap bangunan apartemennya yang berdiri di antara pepohonan itu. Angin laut berhembus pelan, namun pikirannya justru semakin berisik.

Dia menoleh ke arah Doni. "Dek... kamu lihat bangunan itu kemarin muncul jam berapa?" tanya Zee

Doni tampak berpikir sejenak, lalu menjawab dengan polos, "Sore Kak Zee, waktu itu matahari sudah mau turun, biasanya pas Ayah hampir pulang dari melaut."

Zee mengangguk pelan, mencoba menyimak semuanya. "Terus, menghilangnya kapan?" tanya Zee lagi

"Sebentar saja Kak, paling satu atau dua jam. Habis itu bangunan itu pelan-pelan hilang begitu saja Kak." jawab Doni

jawaban itu membuat dada Zee berdegup kencang untuk sesaat. "Satu atau dua jam, artinya waktunya di sini sangat terbatas." batinnya.

Zee terdiam sejenak, lalu mata kembali tertuju pada Doni. Kali ini Dia benar-benar memperhatikan Doni dengan intens.

Dan ternyata tubuh anak itu terlalu kurus untuk anak seusianya. Tulang pipinya terlihat jelas, muka kusam, rambut kering dan pakaiannya pun lusuh dengan banyak tambalan dimana-mana.

Ada sesuatu yang menusuk hati Zee. "Doni..." panggilnya pelan.

"Iya Kak?"

"Mau ikut Kakak sebentar ke bangunan itu?."

Doni terlihat ragu sejenak, tapi rasa penasarannya lebih besar. Dia pun mengangguk kecil.

Zee pun menggandeng tangan kecil Doni, mengajaknya berjalan menuju ke apartemennya. Setiap langkah terasa biasa saja, seakan ini semua sudah seharusnya terjadi.

Saat mereka sampai di dalam apartemennya, Doni langsung terdiam, dengan matanya membesar. "Wah.." gumam Doni pelan

Doni melihat sekelilingnya dengan takjub, dinding bersih, lantai rapi berkilau, sehingga Dia bisa melihat bayangan dirinya di dalamnya. Dan berbagai benda yang belum pernah Dia lihat sebelumnya.

Zee tersenyum tipis melihat reaksi Doni. Tanpa banyak bicara, Dia membuka aplikasi AetherShop dan mulai memesan berbagai kebutuhan. Jemarinya bergerak cepat, memilih pakaian anak laki-laki usia empat tahun, perlengkapan mandi, hingga sendal kecil.

Beberapa detik kemudian, semua pesanan itu muncul begitu saja di atas meja. Seolah-olah dunia tunduk pada satu perintah sederhana.

Saldo Koin tersisa : 0.80

Zee tidak mempermasalahkannya, perhatiannya kini sepenuhnya tertuju pada anak kecil di hadapannya.

"Don, kamu duduk dulu ya," katanya lembut.

Doni menurut tanpa banyak tanya. Zee lalu berjalan ke kamar mandi di samping dapur. Dia menyiapkan ember kecil, handuk, sampo, dan sikat gigi. Gerakannya cetakan, tapi ada ketelitian yang hangat di setiap sentuhannya, seperti seseorang yang sudah terbiasa merawat anak kecil.

Setelah semuanya sudah siap, Dia keluar dan memanggil Doni pelan. "Don, sini. Kakak bersihkan dulu tubuh kamu ya, setelah itu baru makan."

"Iya Kak," jawab Doni patuh.

Zee pun mulai memandikannya. Air mengalir perlahan, membersihkan kotoran yang melekat di tubuh kecil itu. Dia mencuci rambut Doni dengan lembut, menggosok giginya dengan sabar. Pertanyaan demi pertanyaan polos dari Doni mengalir tanpa henti, tentang sabun, sampo dan lain-lain yang berhubungan dengan kebersihan tubuh.

Zee menjawab semuanya dengan sabar, dan senyum. Seolah waktu bukanlah sesuatu yang memburunya.

Setelah selesai, Zee mengeringkan tubuh Doni dan memakaikannya baju baru yang tadi Dia pesan.

Kaos bersih, celana pendek yang pas, dan sandal kecil yang nyaman.

Doni berdiri kaku sejenak, menatap dirinya sendiri. "Wah... bajunya bagus sekali, Kak Zee ini untuk Doni?" suaranya pelan, nyaris tak percaya.

Zee tersenyum, "Iya Doni, ini semua untuk Doni. Doni sudah tahu kan cara membersihkan diri dengan benar, seperti yang tadi kakak lakukan?"

Doni mengangguk cepat, matanya mulai berkaca-kaca. "Tahu Kak, Kak Zee makasih banyak ya kak"

Ada rasa haru yang begitu jelas di wajahnya. Seakan-akan kebahagiaan sekecil ini adalah sesuatu yang sangat jarang Dia rasakan.

Zee lalu mengalihkan suasananya. Dia mengajak Doni ke dapur dan menyodorkan segelas susu hangat serta roti.

"Kamu makan dulu ya, setelah itu baru kakak antar kamu kembali. Karna waktu kakak disini juga tidak lama."

"Makasih Kak."

Tanpa menunggu lama, Doni langsung makan. Cepat tapi tetap rapi, seperti anak yang sudah terbiasa menahan lapar.

Roti itu habis dalam hitungan menit dan susunya pun tak tersisa setetes pun.

Zee terdiam sejenak, merasa ada sesuatu yang menghangat di dalam dadanya. Namun di saat yang sama juga terasa sesak.

"Enak Kak," kata Doni sambil tersenyum lebar.

Zee membalas dengan senyum kecil. "Ok, tunggu sebentar ya, kakak ke dalam dulu."

Dia masuk ke kamar, lalu kembali beberapa saat kemudian dengan sebuah tas ransel kecil berwarna cerah.

Di dalamnya sudah Dia masukkan sisa pakaian sembilan pasang baju dan celana, handuk kecil, sandal cadangan, perlengkapan mandi, sisir kecil, bedak, hingga beberapa makanan seperti susu dan roti isi cokelat serta daging.

Zee berlutut di depan Doni. "Ini buat kamu, anggap saja hadiah untuk pertemuan pertama kita."

Doni terdiam, matanya menatap tas itu lama, lalu berpindah ke kantong plastik di tangan Zee.

Air mata kembali menggenang. "Buat aku Kak?" suaranya bergetar.

Zee mengangguk pelan. Dia kemudian memakaikan tas itu ke pundak Doni, memastikan talinya pas. Kantong plastik itu Dia serahkan ke pelukan Doni, sehingga Doni memeluknya erat. Seolah takut semua ini akan hilang jika di lepaskan.

Zee pun melirik ke arah jendela, cahaya di luar mulai berubah. Langit perlahan menguning, tanda sore mulai turun.

Jantungnya berdegup lebih cepat. "Bagaimana kalau bangunan ini tiba-tiba menghilang?" batinnya

"Don, Kakak antar kamu pulang, ya." Ujar Zee, kali ini sedikit lebih serius.

Doni mengangguk, masih dengan air mata yang tersisa di wajahnya, meski matanya belum sepenuhnya kering.

Mereka pun berjalan keluar dari apartemen. langkah kecil dan langkah tentang berjalan berdampingan. Menuju tempat di mana Doni biasa menunggu Ayahnya.

Dan di antara senja yang perlahan turun, sebuah pertemuan singkat itu meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam dari yang seharusnya.

Langit sudah mulai berwarna jingga, suasana pantai kembali terasa tenang.

"Doni, kakak balik dulu ya, nanti kalau ada waktu kita ketemu lagi ok." ucap Zee sambil tersenyum

"Siap kakak Zee." jawab Doni dengan senyum lebarnya

Doni tampak sangat senang. Zee mengangguk pelan, lalu melangkah mundur.

Dia menoleh sekali lagi ke arah Doni, memastikan anak itu baik-baik saja. Kemudian Zee berbalik, berjalan kembali menuju apartemennya.

Langkahnya sedikit lebih cepat kali ini, karena di dalam hatinya ada satu ketakutan yang terus menghantuinya. Jangan sampai pintu itu hilang sebelum Dia kembali.

1
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Ida Kurniasari
Doble up thor
Ida Kurniasari
Doble up dong thorr😍
keyza formoza
lanjut thoorr
Ida Kurniasari
sangat sangat menarik thor
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
bagus banget thorr,lanjutt up😍
Ida Kurniasari
😍
Chen Nadari
The best Thorr
SyahLaaila: makasih kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
baru bab satu aja udah deg degan thor,ceritamu bikin penasaran
Musdalifa Ifa
menguji kesabaran
Andira Rahmawati
mau nabung dulu biar puas entar bacanya👍👍💪💪💪
Andira Rahmawati
trusss semangat💪💪💪 lanjuttt
Andira Rahmawati
lama amattt jadi penasaran...
Andira Rahmawati
hadir thorr
Twis G
semangat author 🌹🌹🌹
Narina
lanjut thor semakin penasaran 😍😍
Narina
cerita nya seru thor lanjut 🌷🌷🌷
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!