"Aku akan membayarmu" Ucap Vaya sahabatnya.
"Kamu bercanda Va" Tanya Maura memastikan.
Sebuah tawaran yang cukup gila, membuat Maura harus menjalani hari - harinya bersama Gilang. Seorang pria tampan yang mempunyai segudang pengagum.
"Kamu cukup menjadi asistennya, dan buat dia jatuh cinta"
"What.!!" Teriak Maura.
Apakah Maura setuju dengan tawaran yang diajukan oleh Vaya?
Apakah Maura sanggup menjalani hari - harinya bersama Gilang?
Lalu hubungan seperti apa yang akan terbentuk antara Maura dengan Gilang?
Yuk mampir, ikuti kisahnya😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inikah Cinta
Aku menyukai saat dirimu menggenggam jemariku. Ya.. seperti saat ini. Aku merasa kamu menjadi milikku. Walaupun itu hanya sesaat..
Biarkan aku merasakan ini, merasakan hatiku bergetar dengan wajah yang tersipu.
-Maura-
🌿🌿🌿
Langit tampak gelap, butiran air turun secara perlahan membasahi bumi. Gilang dan Maura bergegas pulang. Meninggalkan kantin kampus dan pergi menuju mobil Gilang.
"Kamu bisa berlari?" Tanya Gilang.
"Tentu saja aku bisa lari." Jawab Maura tampak kesal dengan pertanyaan Gilang padanya.
Di mata Maura, Gilang tampak meledek dirinya. Padahal tidak demikian. Gilang khawatir, merasa takut kalau nantinya Maura akan kelelahan kembali.
Gilang tersenyum akhirnya, membuka jaketnya dan menutup kepalanya dan kepala Maura. Maurapun terdiam dan terkejut melihat tindakan Gilang saat ini.
"Peganglah salah satu ujungnya." Pinta Gilang dengan senyum yang begitu manis menatap Maura.
Maurapun menurut, tampak canggung dan jantungnya berdetak tak karuan. Beberapa detik kemudian, tangan Gilang lainya meraih tangan Maura. Gilang menggenggamnya, jemari mereka sudah berpaut satu sama lain. Rasa hangat mulai dirasakan keduanya.
Dengan hati yang bergetar, Gilang dan Maura sekarang melangkah bersama. Mereka berlari pelan.. dengan senyum yang terukir satu sama lain.
"Hati-hati.." Ucap Gilang mengingatkan.
Gilangpun mengeratkan genggamannya. Membuat jantung Maura berdebar makin tak karuan. Tapi Maura menikmatinya, tanpa disadari ia menyukai keadaan seperti ini. Tak melakukan perlawanan, protes atau apapun namanya. Membiarkan Gilang tetap menggenggam tangannya.
Gilangpun merasakan yang sama. Rasa ingin melindungi Maura begitu menggelora. Wanita yang berlari bersamanya sekarang, yang sedang ia genggam jemarinya, membuatnya bahagia. Ia tak ingin mengakhiri momen ini. Andaikan waktu bisa berhenti.. Gilang ingin tetap seperti ini.
Namun itu hanya harapan dan sebuah angan-angan yang indah. Merekapun akhirnya tiba di mobil Gilang. Gilang membukakan pintu mobil untuk Maura sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil miliknya.
Mereka duduk bersama sekarang, tampak terengah-engah karena lari kecil yang barusan mereka lakukan.
Akhirnya hujanpun turun lebih lebat. Rasa dingin mulai dirasakan satu sama lain. Maura mulai mengeringkan sebagian tubuhnya dengan tisu saat itu. Gilangpun menatapnya. Tak berkedip dan terus menatapnya.
Maura tampak cantik, beberapa helai rambutnya tampak basah tak sengaja terkena tetesan air hujan saat itu. Kulit putihnya terpancar indah, bibirnya merahnya tampak sedikat pucat karena dingin yang mulai menerpa dirinya.
"Cantik." Ucap Gilang dalam hati.
Sampai akhirnya, lamunan Gilang terhenti. Saat Maura memanggil-manggil namanya. Entah sudah keberapa kali.
"Lang.. Gilang." Panggil Maura.
"Oh.. iya.." Jawab Gilang dan tampak terkejut sendiri akhirnya.
"Kita pulang sekarang." Lanjutnya dan segera menyalakan mesin mobil dan melaju menuju apartemen kembali.
Maura tersipu sendiri, ia mengalihkan pandangannya ke arah kaca mobil di sebelah kirinya. Ia tak berani menatap Gilang. Keterkejutan Gilang yang membuatnya ingin tertawa. Maura sadar bahwa Gilang sedang menatap dirinya sejak tadi. Mungkin Gilang sedang memikirkan dirinya. Itu yang ada difikiran Maura dan sebenarnya Gilang memang tengah memikirkan Maura sejak tadi.
Tanpa disadari, Gilang diam-diam memperhatikan Maura. Gilang melihat Maura yang tersipu sendiri dan menyembunyikan wajahnya. Wajahnya yang tersenyum terlihat dari kaca spion yang ada di samping Maura. Dan akhirnya Gilangpun ikut tersenyum.
"Kamu pasti sedang memikirkanku." Ucap Gilang dalam hati.
Mereka hanya diam, namun hati tetap bergetar dan senyum tetap terukir.
Inikah cinta...
.
.
.
.
Tampak dari kejauhan Rian tengah menatap kebersamaan Gilang dengan Maura. Sebelum akhirnya Maura dan Gilang benar-benar pergi.
"Mungkinkah ku terlambat." Gumamnya.
Maura tampak bahagia bersama Gilang. Bahkan jari-jari mereka bersentuhan. Gilang sangat melindungi dirinya.
Rian menghela nafasnya, rasanya ia tak percaya melihat Maura dan Gilang bersama dan terlihat sangat dekat. Ia ingin masuk di antara kebersamaan mereka. Kebersamaan yang sedang mereka tunjukkan saat ini.
"Meraka tampak serasikan." Ucap Vaya tiba-tiba dan mengagetkan Rian saat itu.
Vaya diam-diam memperhatikan Rian. Ia menghampirinya dan sekarang sedang berdiri bersama menatap kepergian Maura dan Gilang.
Hujan sudah sangat lebat saat itu. Angin bertiup sangat kencang. Mereka sama-sama terdiam terpaku.
"Va.. berikan aku nomor handphone Maura." Pinta Rian tiba-tiba.
"Hemm.. .boleh, tapi enggak gratis." Jawab Vaya dan mencoba untuk tersenyum.
"Kamu mau apa?" Tanyanya.
"Aku mau kamu menggenggam tanganku, seperti mereka."
Rian tampak mengerutkan keningnya dan Vaya masih tetap tersenyum.
"Kamu aneh." Ucap Rian dan berlalu pergi meninggalkan Vaya begitu saja.
Vaya tersenyum menatap kepergian Rian saat itu. Namun Air matanya tiba-tiba turun tanpa diminta. Ya.. Vaya menangis.
"Aku memang aneh, bisa-bisanya aku menyukaimu." Bisik Vaya sambil menghapus air matanya itu.
Vayapun mengambil handphone miliknya, ia mencari nama Maura dalam kontak handphonenya. Iapun mengirim nomor Maura ke Rian.
Handphone Rian bergetar, tak lama setelah Ia pergi meninggalkan Vaya tadi. Sebuah pesan masuk untuknya. Rian membukannya dan kemudian membacanya.
Aku hanya bercanda tadi, pemarah sekali kamu.
Ini nomor Maura, simpan baik-baik. Jika kamu menghilangkannya.. aku tak akan memberikan untuk yang kedua kalinya.
Tanpa membuang waktu lama, Rian langsung menghubungi Maura. Maura yang tengah bersama dengan Gilang sekarang.
.
.
.
.
Maura mengangkat sebuah telepon, nomor tidak dikenal. Ia teringat dengan pesan Gilang, bahwa Gilang telah menyebarkan nomornya ke banyak orang yang berkaitan dengan pekerjaannya. Mungkin saja orang yang menghubunginya sekarang adalah orang yang Gilang maksud.
"Maura. Ini aku, Rian." Ucap Rian cepat setelah Maura mengangkatnya.
"Hei.. Rian." Jawab Maura dan membuat Gilang yang sedang mengemudi langsung menatap Maura segera setelah mendengar Maura menyebut nama Rian saat itu.
"Kamu baik-baik saja Ra, aku dengar kemarin kamu terkunci?"
"Iya.. aku baik-baik saja sekarang."
Gilang merasa tak tenang, melihat Maura yang selalu tersenyum saat berbicara dengan Rian. Bahkan mereka tertawa bersama sekarang.
Tiba-tiba Gilang menghentikan mobilnya saat itu, meminggirkannya dan membuat Maura terkejut lalu menatap Gilang dengan penuh pertanyaan.
.
.
.
.
Hemm ada yang marah😅
Maaf yaa.. baru bisa UP hari ini. Maapppppp🙏😊
Tinggalkan jejaknya dan likenya ya kak.
Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Supaya tambah semangat up nya.
💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Mau likenya ya kak 😊
Mau ratenya juga ya kak😇
di Vote Alhamdulilah😁
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉
Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊
lanjut
lanjut
semangat Thor, ceritanya bagus, penasaran laras maunya apa sekarang . . 💪
Tuan rumah ngebucinin Art sendiri