Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.
Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.
Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 - Panggung Baru
Suara lonceng panjang menggema di seluruh Akademi Arvandor, memantul di antara pilar-pilar tinggi dan lorong batu yang dingin. Getarannya terasa sampai ke dada, berat dan dalam, berbeda dari panggilan rutin yang biasa menandai pergantian sesi latihan. Beberapa burung yang bertengger di atap aula beterbangan, seolah ikut terusik oleh nada yang tidak biasa itu. Para murid yang sedang berlatih segera menghentikan gerakan mereka, sementara percakapan kecil bermunculan di berbagai sudut dengan nada penasaran yang sulit disembunyikan.
Alverion Dastan yang berdiri di sudut halaman pelatihan mengangkat kepalanya sedikit, membiarkan suara itu mereda di telinganya. Ia mengenali iramanya tanpa perlu berpikir lama, karena lonceng seperti itu hanya dibunyikan untuk hal-hal yang tidak bisa dianggap remeh. Pandangannya beralih ke arah aula utama, tempat para instruktur biasanya memberikan pengumuman penting. Ia tidak bergerak, hanya menunggu, sementara suasana di sekitarnya perlahan berubah dari santai menjadi tegang.
Tidak lama kemudian, seorang instruktur tingkat tinggi muncul di balkon aula utama dengan langkah yang mantap. Jubah panjangnya bergerak pelan tertiup angin, sementara wajahnya tetap tenang dengan sorot mata yang tajam menyapu seluruh area latihan. Ia berdiri cukup lama tanpa bicara, memastikan perhatian semua murid benar-benar terarah padanya sebelum membuka suara.
“Perhatian seluruh murid Akademi Arvandor.”
Suaranya kuat dan jelas, menjangkau hingga ke sudut paling jauh tanpa perlu pengeras apa pun. Kerumunan yang sebelumnya dipenuhi bisikan segera mereda, menyisakan keheningan yang cukup untuk membuat kata-kata berikutnya terdengar lebih berat.
“Dalam tiga hari ke depan, akademi akan membuka seleksi untuk Kelas Elite Arvandor.”
Kalimat itu langsung memicu reaksi yang sulit ditahan. Bisikan berubah menjadi percakapan terbuka, beberapa murid saling menatap dengan ekspresi tidak percaya, sementara yang lain tampak langsung bersemangat.
“Serius?”
“Kelas Elite?”
“Itu yang hanya diisi murid terbaik setiap angkatan, kan?”
Instruktur itu tidak menunjukkan perubahan ekspresi, membiarkan reaksi itu berlangsung beberapa detik sebelum melanjutkan penjelasan. Suaranya tetap stabil, seolah semua yang ia katakan adalah hal yang sudah pasti terjadi tanpa ruang untuk diragukan.
“Hanya dua puluh murid yang akan diterima. Mereka akan mendapatkan akses ke sumber daya inti akademi, bimbingan khusus dari instruktur utama, serta kesempatan mengikuti misi tingkat tinggi.”
Ia berhenti sejenak, memberi waktu bagi para murid untuk mencerna arti dari setiap keuntungan itu. Beberapa wajah langsung menunjukkan ambisi yang jelas, sementara yang lain mulai terlihat gelisah, seolah menyadari betapa berat persaingan yang akan datang.
“Seleksi akan terdiri dari tiga tahap. Ujian kemampuan dasar, pertarungan terbatas, dan evaluasi strategi.”
Kali ini, kerumunan tidak lagi sekadar berbisik. Diskusi kecil muncul di berbagai tempat, beberapa murid bahkan langsung mulai membandingkan kemampuan satu sama lain secara terang-terangan. Suasana berubah cepat, dari penasaran menjadi kompetitif dalam waktu singkat.
Alverion memperhatikan semua itu tanpa ikut terlibat. Ia memahami arti dari Kelas Elite lebih dari kebanyakan orang di sana, bukan hanya sebagai simbol status, tetapi juga sebagai jalur tercepat untuk berkembang. Tempat itu bukan hanya penuh peluang, tetapi juga sorotan, dan itu berarti risiko yang tidak kecil bagi seseorang yang belum ingin terlihat terlalu jauh.
Pandangannya sedikit menurun, sementara pikirannya mulai menyusun kemungkinan yang ada di depannya. Ia tahu ini kesempatan yang tidak datang dua kali, tetapi juga menyadari bahwa setiap langkah yang salah bisa membuatnya menjadi pusat perhatian yang tidak diinginkan. Menyeimbangkan keduanya bukan hal mudah, apalagi di tempat seperti ini.
“Semua murid berhak mengikuti seleksi. Persiapkan diri kalian.”
Pengumuman itu berakhir tanpa tambahan kata, tetapi efeknya tidak langsung mereda. Para murid mulai bergerak, sebagian menuju area latihan dengan langkah cepat, sementara yang lain berkumpul dalam kelompok kecil untuk membahas strategi dan peluang masing-masing. Akademi yang sebelumnya terasa teratur kini berubah menjadi lebih hidup, dengan energi yang jauh lebih tajam dari biasanya.
Kaelion Vareth muncul di samping Alverion tanpa suara, seolah sudah terbiasa menemukan posisinya di tengah kerumunan. Ia berdiri dengan santai, tetapi matanya jelas memperhatikan situasi dengan lebih dalam dibandingkan kebanyakan murid lain.
“Kamu ikut?” tanyanya singkat.
Alverion tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan, mengamati beberapa murid tingkat atas yang sudah mulai berdiskusi serius seakan seleksi sudah dimulai saat itu juga. Keputusan itu sebenarnya sudah ada di benaknya sejak pengumuman selesai, hanya saja ia tidak merasa perlu mengucapkannya dengan tergesa.
“Ya.”
Kaelion mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu. Ia melipat tangannya, lalu melirik ke arah lapangan utama yang mulai dipenuhi murid dengan tingkat kemampuan lebih tinggi.
“Aku juga. Tapi kali ini tidak akan mudah,” katanya sambil menghela napas ringan. “Apalagi dengan orang seperti Eryndor.”
Nama itu tidak diucapkan dengan tekanan khusus, tetapi cukup untuk membuat suasana terasa sedikit berbeda. Alverion memahami maksudnya tanpa perlu penjelasan tambahan, karena keberadaan seseorang seperti Eryndor memang tidak bisa diabaikan.
“Semakin tinggi targetnya, semakin jelas arah yang harus diambil,” jawab Alverion dengan nada tenang.
Kaelion tersenyum tipis, tidak menanggapi lebih jauh. Ia hanya menepuk bahu Alverion sekali sebelum melangkah pergi, meninggalkannya kembali sendiri di tengah perubahan suasana yang terus berlangsung.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang berbeda dari biasanya. Akademi tetap menjalankan kegiatan seperti biasa, tetapi intensitas latihan meningkat secara nyata di hampir semua area. Para murid berusaha menampilkan kemampuan terbaik mereka, tidak hanya untuk lulus, tetapi juga untuk menarik perhatian para instruktur yang akan menilai.
Alverion juga berlatih, tetapi dengan pendekatan yang tidak mencolok. Ia tidak meningkatkan intensitas secara berlebihan, melainkan menjaga ritme yang stabil dan terkendali. Setiap gerakan dihitung dengan cermat, setiap penggunaan energi disesuaikan agar tetap berada dalam batas yang terlihat wajar di mata orang lain.
Beberapa murid yang melihatnya hanya menganggap ia berusaha keras tanpa hasil yang berarti. Namun Kaelion, yang beberapa kali berlatih bersamanya, mulai memperhatikan perbedaan kecil yang tidak mudah dilihat oleh orang lain.
“Kamu menahan diri,” katanya suatu sore setelah sesi latihan selesai.
Alverion tidak mencoba menyangkal. Ia hanya mengambil napas pelan, membiarkan udara dingin sore mengisi paru-parunya sebelum menjawab.
“Lebih aman seperti itu.”
Kaelion menggeleng pelan, meski tidak terlihat benar-benar menentang. Ia memahami alasan di balik keputusan itu, hanya saja ia juga tahu risiko yang menyertainya.
“Kalau terlalu aman, kamu bisa tersingkir sebelum sempat menunjukkan apa pun.”
Alverion menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lapangan yang mulai sepi. Ia tidak terlihat ragu, hanya tenang dengan keputusan yang sudah ia ambil sejak awal.
“Selama aku tidak jatuh, itu cukup.”
Jawaban itu sederhana, tetapi jelas menunjukkan bahwa ia sudah mempertimbangkan kemungkinan terburuk sekalipun. Kaelion tidak melanjutkan pembicaraan, karena ia tahu tidak ada gunanya mencoba mengubah keputusan yang sudah matang seperti itu.
Hari seleksi akhirnya tiba, membawa suasana yang jauh lebih tegang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Lapangan utama dipenuhi murid dari berbagai tingkat, sementara para instruktur berdiri di beberapa titik dengan ekspresi serius. Tidak ada yang bercanda, tidak ada yang santai, karena semua orang memahami bahwa ini bukan sekadar latihan biasa.
Tahap pertama dimulai dengan ujian kemampuan dasar yang mengukur kekuatan, kecepatan, dan kontrol energi. Satu per satu murid maju, menunjukkan kemampuan mereka dengan berbagai cara, beberapa di antaranya berhasil menarik perhatian dengan performa yang cukup mengesankan.
Ketika giliran Alverion tiba, bisikan kecil kembali muncul di antara penonton. Sebagian masih mengingat reputasinya di masa lalu, sementara yang lain hanya ikut-ikutan tanpa benar-benar peduli.
“Itu dia lagi.”
“Lihat saja, paling hasilnya biasa saja.”
Alverion melangkah ke tengah tanpa memperhatikan komentar itu. Ia berdiri di depan alat pengukur dengan sikap tenang, lalu mengalirkan energi ke dalamnya sesuai instruksi. Ia tidak mendorong lebih dari yang diperlukan, hanya cukup untuk melewati batas aman tanpa terlihat menonjol.
Hasilnya muncul dengan angka yang berada di atas rata-rata, tetapi tidak cukup tinggi untuk menarik perhatian lebih. Beberapa orang langsung kehilangan minat, sementara yang lain hanya mengangguk seolah hasil itu sudah sesuai dengan ekspektasi mereka.
Alverion mundur tanpa reaksi, kembali ke posisi semula dengan langkah yang tetap stabil.
Tahap kedua membawa tekanan yang berbeda, karena setiap peserta harus menghadapi lawan dalam pertarungan terbatas. Nama Alverion dipanggil, dan lawannya adalah seorang murid tingkat menengah yang dikenal cukup kuat di kalangan mereka.
Pertarungan dimulai dengan cepat, lawannya langsung menyerang dengan gaya agresif yang penuh tenaga. Alverion tidak mencoba menahan serangan secara langsung, melainkan menghindar dan menjaga jarak, membiarkan ritme pertarungan dikendalikan oleh lawannya.
Beberapa penonton mulai menunjukkan ekspresi tidak sabar, karena pertarungan itu tidak memberikan aksi yang mereka harapkan. Mereka melihat Alverion sebagai pihak yang terus bertahan tanpa berani mengambil inisiatif.
Namun di balik itu, Alverion mengatur jalannya pertarungan dengan tenang. Ia membaca pola serangan, memperhatikan perubahan napas, dan menunggu momen di mana lawannya mulai kehilangan kestabilan.
Ketika celah itu muncul, ia bergerak tanpa ragu. Satu serangan cepat yang tepat sasaran cukup untuk menjatuhkan lawannya, mengakhiri pertarungan tanpa perlu gerakan tambahan.
Instruktur yang mengawasi mengangguk kecil, lalu memberikan keputusan singkat.
“Lolos.”
Alverion kembali mundur, menjaga ekspresi tetap netral meskipun beberapa orang mulai menunjukkan reaksi berbeda dari sebelumnya.
Tahap terakhir menguji kemampuan strategi, memberikan simulasi situasi yang membutuhkan keputusan cepat dan tepat. Banyak peserta memilih pendekatan langsung dengan menyerang tanpa ragu, mengandalkan kekuatan untuk menyelesaikan masalah.
Alverion memilih jalur yang berbeda, menghindari konfrontasi langsung dan memanfaatkan posisi serta lingkungan yang ada. Ia tidak mencoba mengalahkan lawan dengan cepat, melainkan memastikan setiap langkah yang diambil tidak membuka celah yang bisa dimanfaatkan.
Beberapa instruktur saling bertukar pandang saat mengamati pendekatan itu. Tidak ada yang spektakuler, tetapi tidak ada kesalahan yang berarti.
Ketika hasil akhir diumumkan, suasana kembali tegang. Nama-nama mulai disebut satu per satu, diiringi reaksi yang berbeda-beda dari kerumunan.
Varian Zevran disebut lebih awal, disusul oleh Kaelion Vareth dan beberapa nama lain yang sudah diperkirakan sebelumnya. Setiap nama yang dipanggil mempersempit peluang bagi mereka yang belum disebut.
Alverion berdiri di antara kerumunan tanpa menunjukkan perubahan ekspresi. Ia tidak mencoba menebak, karena ia tahu hasilnya tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Ketika daftar hampir selesai, instruktur membuka lembar terakhir dan menyebut satu nama lagi dengan suara yang tetap stabil.
“Alverion Dastan.”
Reaksi yang muncul tidak seragam. Beberapa murid tampak terdiam, sementara yang lain menunjukkan kebingungan yang tidak disembunyikan.
“Dia?”
“Bagaimana bisa?”
Alverion sendiri hanya menarik napas pelan sebelum melangkah maju. Ia bergabung dengan kelompok yang lolos tanpa melihat ke arah kerumunan, seolah semua itu tidak memiliki arti lebih dari sekadar hasil yang sudah diperkirakan.
Kaelion mendekat dengan senyum tipis yang tidak sepenuhnya bisa disembunyikan.
“Kamu benar-benar melakukannya dengan cara yang tidak biasa.”
Alverion menoleh sedikit, lalu menjawab dengan nada yang tetap tenang.
“Selama hasilnya sama, caranya tidak terlalu penting.”
Di balik ketenangan itu, ia menyadari bahwa menahan diri membutuhkan kontrol yang jauh lebih besar daripada menunjukkan kemampuan secara penuh. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat, karena sedikit kesalahan saja bisa mengubah cara orang lain memandangnya.
Saat kerumunan mulai bubar, beberapa tatapan kembali tertuju padanya dengan arti yang berbeda. Tidak lagi sekadar meremehkan, tetapi juga tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang mereka lihat.
Salah satu instruktur bahkan memperhatikannya lebih lama dari yang lain, seolah mencoba memahami sesuatu yang belum sepenuhnya terlihat.
Alverion merasakannya, tetapi tidak menoleh. Ia berjalan keluar dari lapangan bersama peserta lain yang lolos dengan langkah yang tetap tenang, membiarkan suasana di belakangnya perlahan memudar.
Perjalanan ini masih panjang, dan setiap langkah yang diambil akan menentukan seberapa jauh ia bisa melangkah tanpa kehilangan kendali. Ia tidak terburu-buru, karena ia tahu bahwa waktu akan membuka jalan dengan caranya sendiri, selama ia tetap berada di jalur yang sudah ia pilih.