Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan
"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENEMPA TULANG MEMBAKAR JIWA
Tiga hari telah berlalu sejak penghinaan di halaman rumah Paman Fang Zhou. Desa Qinghe masih diselimuti kabut tipis saat fajar menyingsing, namun di belakang gubuk tua Tabib Lu, suasana terasa jauh lebih berat. Fang Han berdiri di atas satu kaki di atas batang kayu yang licin, sementara beban batu seberat dua puluh kilogram terikat di masing-masing lengannya.
Tabib Lu duduk dengan tenang di sebuah kursi bambu, menyesap teh pahitnya sambil menatap tajam ke arah murid barunya.
"Kau ingin kekuatan, Fang Han? Kekuatan bukan berasal dari amarah yang meledak-ledak seperti kembang api," suara Tabib Lu memecah keheningan pagi. "Amarah hanya akan membakar dirimu sendiri. Kekuatan sejati adalah sungai yang tenang namun mampu menghancurkan gunung batu selama ribuan tahun. Kau terlalu terburu-buru. Napasmu berantakan."
Fang Han menggeretakkan giginya. Keringat bercampur dengan debu mengalir masuk ke matanya, menimbulkan rasa perih yang luar biasa. Otot-otot pahanya bergetar hebat, dan paru-parunya terasa seperti terbakar.
"Paman Lu... aku tidak punya waktu ribuan tahun," jawab Fang Han dengan napas tersengal. "Dalam empat hari, Zhao Chenakan kembali. Jika aku tidak bisa menjatuhkan pengawalnya, Paman Zhou akan kehilangan segalanya. Bagaimana aku bisa tenang?"
Tabib Lu meletakkan cangkir tehnya dengan denting pelan yang entah bagaimana terdengar seperti lonceng peringatan di telinga Fang Han.
"Itulah masalahmu. Kau membawa jiwa dari tempat yang penuh dengan ketergesaan. Kau pikir dengan bermeditasi satu malam, kau bisa memindahkan gunung? Lihat telapak tanganmu."
Fang Han menurunkan kakinya dengan gemetar, mencoba berdiri tegak meski tubuhnya protes. Ia melihat telapak tangannya yang lecet dan memar.
"Dunia ini memiliki aturan yang disebut Qi," lanjut Tabib Lu sambil bangkit dan mendekati Fang Han. "Kau memiliki anugerah aneh, sebuah kemampuan untuk 'membengkokkan' apa yang kau lihat. Namun, wadahmu—tubuhmu ini—hanyalah sebuah botol retak. Jika kau menuangkan air samudera ke dalam botol retak, apa yang terjadi? Botol itu akan hancur."
Tabib Lu kemudian menyodorkan sebuah mangkuk berisi cairan hijau pekat yang berbau busuk.
"Minum ini. Ini adalah ekstrak akar Tulang Besi dan empedu ular kobra. Ini akan merobek jalur energimu dari dalam, membersihkan kotoran yang menyumbatnya. Jika kau tidak bisa menahan rasa sakitnya, menyerahlah sekarang dan pergilah meminta maaf pada Zhao Chen."
Tanpa ragu, Fang Han menyambar mangkuk itu dan meneggaknya hingga habis. Rasanya lebih buruk dari kematian. Seketika, ia merasa seolah-olah ada ribuan jarum panas yang mengalir di pembuluh darahnya. Ia jatuh tersungkur, mencengkeram rumput dengan kuku-kukunya hingga berdarah.
"Jangan berteriak!" bentak Tabib Lu. "Arahkan rasa sakit itu! Gunakan pikiranmu untuk menuntun panas itu ke pusar—pusat cakram energimu. Jika kau membiarkannya liar, jantungmu akan berhenti berdetak."
Dalam kegelapan rasa sakitnya, Fang Han kembali melihat kilasan kehidupannya yang lalu. Ia melihat dirinya sebagai Li Jun, yang bersimpah darah di bawah reruntuhan menara salju. Ia melihat wajah gadis kecil yang ia selamatkan, dan wajah Paman Fang Zhou yang penuh kasih.
"Aku tidak akan mati lagi sebagai pecundang," bisiknya dalam hati.
Dua jam berlalu sebelum rasa panas itu mereda menjadi denyutan yang hangat. Fang Han bangkit dengan susah payah, bajunya basah kuyup oleh keringat hitam yang berbau amis—kotoran tubuh yang keluar melalui pori-porinya.
"Bagus," puji Tabib Lu datar, meski ada secercah kekaguman di matanya. "Kau bertahan. Tapi itu baru pembersihan dasar. Sekarang, coba gerakkan batu di depanmu tanpa menyentuhnya."
Fang Han menatap sebuah batu kecil sebesar kepalan tangan. Ia memfokuskan pikirannya, mencoba memanggil kekuatan misterius yang ia rasakan sebelumnya. Namun, tidak ada yang terjadi. Batu itu tetap diam. Ia mencoba lagi, hingga pembuluh darah di pelipisnya menonjol. Tetap nihil.
"Kenapa? Kemarin aku bisa melakukannya dengan mudah!" seru Fang Han frustrasi.
"Kemarin kau melakukannya karena insting bertahan hidup yang putus asa," Tabib Lu menjelaskan sambil berjalan mengitari Fang Han. "Itu seperti meminjam kekuatan dari masa depanmu. Sekarang, aku ingin kau memilikinya secara permanen. Kau tidak bisa hanya 'menginginkan' batu itu bergerak. Kau harus merasa bahwa batu itu adalah bagian dari napasmu. Kau dan batu itu adalah satu kesatuan di bawah langit yang sama."
Fang Han mencoba lagi. Satu jam. Dua jam. Matahari mulai meninggi, membakar kulitnya. Berkali-kali ia gagal. Rasa frustrasinya memuncak, membuatnya ingin melempar batu itu dengan tangannya saja.
"Paman Lu, ini sia-sia! Metodemu terlalu lambat! Berikan aku sesuatu yang lebih cepat, obat terlarang atau teknik rahasia apa pun!" teriak Fang Han kalap.
Tabib Lu berhenti berjalan. Ia menatap Fang Han dengan tatapan yang sangat dalam, penuh kesedihan sekaligus ketegasan.
"Fang Han, dengarkan aku baik-baik," kata Tabib Lu, suaranya kini melunak. "Tahukah kau kenapa Paman Zhou-mu cacat? Dia mencoba mengambil jalan pintas saat berperang. Dia menggunakan teknik terlarang untuk mendapatkan kekuatan instan demi menyelamatkan pasukannya. Hasilnya? Dia memang menang, tapi meridiannya hancur selamanya. Dia hidup dalam kesakitan setiap malam, hanya agar kau bisa memiliki atap untuk berteduh."
Fang Han membeku. Ia tidak pernah tahu rahasia itu. Paman Zhou selalu tersenyum, meski kadang ia melihat pamannya memijat kakinya dengan wajah meringis saat mengira Fang Han sudah tidur.
"Jika kau mengambil jalan pintas, kau mungkin bisa mengalahkan Zhao Chendalam empat hari," lanjut Tabib Lu. "Tapi kau akan mati dalam setahun. Apakah itu yang kau inginkan? Meninggalkan Paman Zhou sendirian lagi? Kekuatan sejati membutuhkan kesabaran. Tanpa fondasi yang kuat, kau hanyalah istana pasir yang akan runtuh saat badai pertama datang."
Fang Han menundukkan kepalanya. Rasa malu menyelimuti hatinya, lebih tajam dari rasa sakit obat tadi.
"Maafkan aku, Paman Lu. Aku... aku hanya takut tidak bisa melindunginya."
"Ketakutan adalah guru yang baik, tapi tuan yang buruk," balas Tabib Lu. "Duduklah. Jangan gunakan matamu. Gunakan perasaanmu. Rasakan getaran tanah di bawahmu, rasakan gesekan angin pada batu itu. Jangan paksa batu itu bergerak, tapi 'mintalah' energi di sekitarnya untuk menggesernya."
Langkah Pertama di Jalan Berliku
Fang Han kembali bersila. Kali ini, ia tidak mencoba memaksa. Ia memejamkan mata dan mulai mengatur napasnya sesuai instruksi Tabib Lu. Satu... dua... tiga...
Dunia di sekitarnya mulai berubah. Ia tidak lagi melihat kegelapan, melainkan aliran cahaya redup yang melayang di udara. Ia melihat aliran energi dari pohon, dari tanah, dan dari batu di depannya. Ia menyadari bahwa segala sesuatu di dimensi ini terhubung oleh benang-benang energi yang halus.
Ia mencoba menyentuh benang energi di sekitar batu itu dengan pikirannya. Sangat perlahan. Seperti menyentuh sayap kupu-kupu.
Srek.
Batu itu bergeser satu milimeter.
Hanya satu milimeter, namun bagi Fang Han, itu terasa seperti memindahkan gunung. Ia membuka matanya, kilatan kebahagiaan terpancar di sana.
"Aku melakukannya! Paman Lu, kau lihat?!"
Tabib Lu tersenyum tipis, senyuman pertama yang ia berikan sejak latihan dimulai. "Satu milimeter adalah awal dari seribu mil. Tapi jangan sombong. Kapten Iron bisa menghancurkan batu sebesar rumah dengan sekali pukul. Kau masih butuh ribuan 'satu milimeter' lagi untuk bisa berdiri sejajar dengannya."
Sepanjang sisa hari itu, Fang Han terus berlatih. Ia jatuh, ia bangkit. Ia gagal, ia mencoba lagi. Ia tidak lagi mengeluh tentang waktu yang singkat. Ia menyadari bahwa untuk mengalahkan raksasa, ia harus memiliki ketenangan seorang pemburu, bukan amukan seorang binatang buas.
Saat malam tiba, Fang Han berjalan pulang ke rumahnya dengan tubuh yang terasa remuk. Di depan pintu, Paman Fang Zhou sudah menunggunya dengan handuk hangat dan semangkuk sup jagung.
"Han-er, kau terlihat sangat lelah," kata Paman Zhou, matanya memancarkan kecemasan yang mendalam. "Mungkin kau tidak perlu memaksakan diri berlatih dengan Tabib Lu. Paman punya sedikit tabungan rahasia... mungkin kita bisa pergi dari desa ini malam-malam."
Fang Han menatap tangan pamannya yang gemetar—tangan yang hancur demi sebuah kemenangan di masa lalu. Ia memegang tangan itu erat-erat.
"Paman, kita tidak akan lari," ucap Fang Han dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan. "Dulu Paman melindungiku dengan menghancurkan diri sendiri. Sekarang, biarkan aku yang melindungi Paman dengan membangun diriku menjadi lebih kuat. Percayalah padaku."
Paman Zhou menatap mata keponakannya dan melihat sesuatu yang berbeda. Ada api yang membara di sana, bukan api kemarahan yang liar, melainkan api tungku yang sedang menempa baja. Ia hanya bisa mengangguk pelan, air mata haru menggenang di sudut matanya.
Di bawah langit malam Qinghe, Fang Han tahu bahwa perjalanannya masih sangat panjang. Ia masih lemah, ia masih lambat, dan musuhnya masih sangat kuat. Namun, ia tidak lagi merasa seperti pelayan yang pasrah pada nasib. Ia adalah seorang pengrajin, dan hidupnya adalah karya yang sedang ia bentuk dengan tangannya sendiri.