NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Jadi Ibu!

Tiba-tiba Jadi Ibu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Single Mom / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Susiajaaa

"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Ia mencoba menggendong satu bayi, tapi tubuhnya kaku, canggung. Tangisan malah semakin keras, membuatnya tambah bingung. Ia beralih ke bayi satunya, berharap yang satu ini lebih tenang. Tapi hasilnya sama. Suara tangis yang makin keras memantul di dinding tipis kamar kosnya.

"Aduh... aku harus gimana sih..." keluhnya, frustasi sendiri. Ia belum pernah mengurus bayi, bahkan memegang bayi pun baru kali ini.

Lalu terdengar suara ketukan di pintu. Tok tok tok.

Meli tersentak. "Duh! Jangan-jangan tetangga kosan pada keganggu..."

Ia buru-buru membuka pintu, dan di baliknya berdiri sosok perempuan paruh baya yang dikenal ramah namun juga cukup cerewet—Mbak Ayu, tetangga kosan sebelah.

"Eh... tumben, Mbak?" sapa Meli dengan senyum kikuk, menahan rasa gugup.

Mbak Ayu menyipitkan mata, lalu melirik ke dalam kamar Meli yang terbuka sedikit.

"Itu anak siapa, Mel?" tanyanya tajam tanpa basa-basi.

"Eh... itu, Mbak, anaknya... kakaknya temenku. Dia nitip karena ada kerjaan mendadak..." jawab Meli cepat, spontan, dan... bohong.

Mbak Ayu mengangkat alis, seolah tak sepenuhnya percaya, namun ia tidak mengomentari lebih jauh. Ia malah melangkah masuk dan langsung menatap dua bayi yang masih menangis di atas kasur.

"Kok dibiarin nangis kejer gini? Kasihan toh, Mel."

"Aku bingung, Mbak... nggak ngerti harus gimana." Meli akhirnya jujur, suara lirihnya nyaris tenggelam di antara tangisan bayi.

Tanpa banyak tanya lagi, Mbak Ayu mengambil salah satu bayi dan menimangnya perlahan. Tangisan pun mulai mereda.

"Lapar ini kayaknya. Coba kamu buatin susu, cepet."

"Iya, Mbak. Ini aku buatin."

Meli langsung melipir keluar kamar menuju dapur umum. Beruntung, ia masih punya kotak susu dan dua dot dari kardus kemarin malam. Tangannya gemetar saat menakar susu dan mencampurnya dengan air hangat. Tak ada alat sterilisasi, tak ada botol pemanas, hanya intuisi dan niat yang menjadi andalannya saat ini.

Sementara itu, dari balik pintu, suara lembut Mbak Ayu terdengar menenangkan bayi, menyanyikan lagu pengantar tidur dalam nada Jawa yang menenangkan:

"Nina bobo, oh nina bobo... Kalau tidak bobo, digigit nyamuk..."

Meli pun kembali ke kamar dengan dua botol susu hangat seadanya, menyerahkan satu kepada Mbak Ayu dan satu lagi ia coba suapkan sendiri. Setelah beberapa tegukan, tangisan pun berhenti. Udara kamar itu menjadi lebih tenang, meski hati Meli masih berkecamuk.

Di dalam benaknya, pertanyaan yang sama masih terus berputar

"Sampai kapan aku bisa jaga kalian?"

Namun untuk saat itu, ia memilih fokus pada satu hal dua bayi itu kenyang, tenang, dan tidak menangis lagi.

Setelah beberapa saat, tangisan dua bayi itu akhirnya mereda, dan mereka tertidur pulas dalam pelukan hangat Meli dan Mbak Ayu. Meli duduk di sebelah kasur, melihat dua makhluk kecil itu dengan perasaan campur aduk. Tangisan yang sebelumnya begitu memekakkan kini berubah menjadi kedamaian yang menyelimuti kamar kos sempitnya. Meli menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Mbak Ayu yang sudah kembali duduk di kursi sebelah kasur memandangi Meli dengan tatapan tajam.

"Beneran ini anak kakak temenmu, Mel? Bukan anak kamu kan?" tanya Mbak Ayu, nada suaranya lebih serius, seolah ingin memastikan.

Meli menunduk, merasa sedikit canggung. Ia menatap kedua bayi itu yang tampak begitu rapuh, tak berdaya, dan seolah memanggil perhatian. Dengan perlahan, ia menggelengkan kepala, berusaha meyakinkan dirinya sendiri sekaligus Mbak Ayu.

"Beneran, Mbak. Demi apapun, ini bukan anak Meli. Aku nggak tau siapa orang tua mereka." Jawab Meli, suaranya tegas meski masih ada kekhawatiran yang menggelayuti hatinya. Ia tak ingin ada kesalahpahaman, apalagi tuduhan yang salah.

Mbak Ayu mengangguk, menatap dua bayi itu lagi. Ia membelai lembut kepala salah satu bayi yang tertidur di kasur, lalu menoleh ke Meli dengan ekspresi yang lebih lembut.

"Kembar ya? Tapi kok nggak mirip gini? Tapi ya sudah lah, mereka sudah tenang. Ini lebih baik. Kalau kamu nggak bisa ngurusin mereka dengan baik, nanti kasihan, Mel."

Meli hanya bisa mengangguk, merasa sedikit lega karena Mbak Ayu tidak melontarkan pertanyaan atau dugaan yang lebih keras. Namun, nasihatnya terasa berat. "Aku tahu, Mbak. Makasih banget sudah bantuin Meli."

Mbak Ayu tersenyum tipis, bangkit dari kursi, dan merapikan bajunya dengan tangannya yang sudah berumur. "Udah, aku kerja dulu ya. Jangan biarin mereka nangis kejer lagi, kalau nggak bisa nanganin, panggil aku, ya." Suaranya penuh perhatian, namun ada sedikit ketegasan, seolah memberi tanggung jawab besar pada Meli.

"Iya, Mbak. Terima kasih banyak." jawab Meli, rasa terima kasihnya tak terucapkan dengan sempurna karena mulutnya terasa kering, tetapi hati Meli benar-benar merasa berutang budi.

Setelah Mbak Ayu keluar dari kamar, pintu kos tertutup pelan, meninggalkan Meli yang kini sendirian bersama dua bayi yang tenang tidur. Ia duduk terpaku sejenak, merenung. Sebuah perasaan baru muncul dalam hatinya, perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: rasa tanggung jawab.

Pandangannya teralih ke dua bayi itu. Dengan tubuh mereka yang rapuh dan wajah yang polos, ia merasa seolah dunia ini terlalu berat untuk mereka. Bagaimana mungkin orang tua bisa membuang mereka seperti ini? Meli sendiri merasa bingung dan takut. Tak ada yang bisa membantunya sekarang, selain dirinya sendiri.

Meli menatap jam di dinding, merasa waktu berjalan lambat. "Seharusnya aku kuliah, tapi... mana mungkin aku ninggalin kalian berdua?" gumamnya pada dirinya sendiri. Pikirannya kacau. Harus bagaimana ia menghadapi ini semua? Kuliah? Haruskah ia pergi? Tetapi, meninggalkan bayi-bayi ini sendirian dalam keadaan seperti ini, rasanya tak mungkin.

Akhirnya, setelah beberapa menit berpikir, Meli memutuskan untuk tidak pergi ke kampus hari itu. Kuliah bisa menunggu, sementara dua bayi yang tergeletak di kasur ini, membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya.

Ia pun mendekat ke kasur, duduk dengan hati-hati di samping mereka. Perlahan, ia merengkuh tubuh kecil mereka dengan penuh kelembutan, berusaha memberi rasa aman meskipun dirinya sendiri masih merasa cemas dan bingung.

1
Lisa
👍 Papanya Riki bisa bantu nih..jdi masalah mereka cpt beres.
Lisa
Ga terasa 2 baby itu skrg umurnya udh 3 thn..Meli benar² jadi Mama utk mereka berdua.
Lisa
Ethan & Evan udh mulai mengerti klo Meli adl mama mereka
Lisa
ya Meli telpn sahabatmu utk jelasin ke ortumu
Evi Lusiana
knp melisa gk lgsg tlp diana dn riki bwt njlasin k ortuny
Lisa
Wah berarti 2 baby itu diculik seseorang yg mungkin punya dendam pada 2 keluarga itu
Lisa
Sekarang Ethan & Evan aman di daycare..utk Melisa semangat kuliah lg y Mel 😊👍
Lisa
👍👍 persahabatan yg indah..rukun selalu y kalian bertiga
Lisa
😊 duo heboh dtg nih..
Lisa
Kasihan Meli jadi dituduh dia yg membuang anak itu..
Lisa
Bersyukur Melisa diangkat jadi karyawan tetap yg diperhatikan oleh managernya juga..semangat y Melisa,kerja lbh rajin lg y 😊👍
Lisa
Siap² y ortunya Melisa utk surprise dr Melisa😊
Lisa
Melisa udh menganggap Evan & Ethan anaknya..semangat terus y Melisa..moga aj ortu kandung mereka g bisa menemukan mereka.
Lisa
Gimana nih kelanjutannya..siap² y Melisa utk mengatakan pd ortumu.
Evi Lusiana
jd ethan dn evan anak² dr dua kluarga berpengaruh y thor
Susiajaaa: bisa jadi sih🤔🤭
total 1 replies
Anto D Cotto
gak sabar nungguin kelanjutan ceritanya
Lisa
Semangat y Meli
Lisa
Awal yg bagus nih
Lisa
Aku mampir Kak
Anto D Cotto
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!