NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29 - Rumah Tanpa Suara

Sementara itu, matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan Desa Sura, menyisakan langit jingga keemasan yang memudar sedikit demi sedikit menuju warna ungu kebiruan.

Di jalan utama desa yang masih ramai oleh aktivitas warga, Su Yan berjalan seorang diri sambil membawa pedangnya di pinggang. Biasanya, gadis itu akan terlihat ceria, ringan bicara, dan sulit diam, tetapi sore itu langkahnya terasa lebih lambat dari biasanya.

Ia melewati beberapa kios makanan, para pedagang kain, dan anak-anak kecil yang berlarian sambil tertawa di pinggir jalan. Namun semua keramaian itu seolah tidak benar-benar masuk ke dalam perhatiannya.

Wajah Su Yan tampak murung.

Tatapannya kosong.

Seolah ada sesuatu di dalam hatinya yang sedang ia pikirkan, tetapi tidak pernah ia ucapkan pada siapa pun.

Beberapa saat kemudian, ia akhirnya tiba di depan rumahnya yang berdiri di ujung jalan yang lebih sepi. Rumah itu tidak besar, tetapi tampak rapi dan terawat. Pintu kayunya tertutup rapat, dan halaman kecil di depannya dipenuhi beberapa pot tanaman yang tumbuh subur.

Su Yan berdiri sejenak di depan pintu, lalu mengetuknya pelan sambil berkata seperti kebiasaan lama yang belum bisa ia hilangkan.

“Aku pulang.”

Tidak ada jawaban.

Tentu saja tidak ada.

Rumah itu memang selalu sunyi.

Tak lama kemudian, Su Yan mendorong pintu dan melangkah masuk. Ruangan di dalamnya gelap dan sepi, hanya diisi perabot sederhana yang tertata rapi. Tidak ada suara langkah, tidak ada sapaan, tidak ada cahaya hangat dari seseorang yang menunggu kepulangannya.

Karena sejak lama, Su Yan memang hidup seorang diri.

Ia menutup pintu perlahan, lalu berdiri diam sesaat di tengah ruangan yang hening itu. Wajahnya tetap tenang, tetapi ada kesedihan tipis yang sulit disembunyikan di balik sorot matanya.

Mungkin itulah sebabnya ia sering berbicara terlalu banyak di luar rumah.

Mungkin itulah sebabnya ia selalu tampak ceria di hadapan orang lain.

Karena ketika malam datang, dan semua keramaian desa menghilang, yang tersisa hanyalah dirinya sendiri bersama kesunyian yang sudah terlalu akrab.

Su Yan mengembuskan napas pelan, lalu menaruh pedangnya di dekat meja sebelum duduk sendirian dalam keheningan malam yang perlahan turun.

Malam Hari – Latihan Tahap Kedua Dimulai

Ketika malam benar-benar menyelimuti Desa Sura, suasana di hutan sekitar rumah Guru Ling berubah jauh lebih sunyi dan menegangkan. Angin malam berembus pelan di antara pepohonan, membawa aroma tanah lembap dan dedaunan liar yang khas dari hutan pegunungan.

Di sebuah area terbuka yang jauh dari rumah, Cang Li berdiri tegak sambil menggenggam pedangnya. Bulan malam itu tampak redup, tertutup awan tipis, membuat suasana sekitar terlihat remang-remang dan penuh bayangan.

Ling berdiri di hadapannya sambil memegang selembar kain hitam.

“Inilah tahap kedua,” ucapnya tenang. “Kali ini, kau tidak akan berlatih melawan benda mati. Kau akan menghadapi makhluk hidup yang menyerang dengan naluri membunuh.”

Cang Li menelan ludah, tetapi sorot matanya tetap teguh.

Ling lalu melangkah mendekat dan mulai menutup mata Cang Li dengan kain hitam itu, memastikan tidak ada sedikit pun celah yang bisa digunakan untuk mengintip.

“Mulai sekarang, kau tidak boleh mengandalkan penglihatanmu,” lanjut Ling. “Kau harus belajar mengenali arah serangan dari getaran tanah, aliran udara, perubahan energi, dan insting bertarungmu sendiri. Di medan tempur yang sesungguhnya, mata sering kali bukan satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan nyawamu.”

Cang Li mengangguk pelan. “Saya mengerti, Guru.”

Ling mundur beberapa langkah dan menatap muridnya untuk terakhir kali sebelum menghilang ke balik pepohonan.

“Aku akan mengawasimu dari kejauhan,” katanya. “Sebentar lagi monster tingkat rendah akan datang. Bersiaplah.”

“Siap, Guru,” jawab Cang Li mantap.

Tak lama kemudian, langkah kaki Ling benar-benar menghilang dari sekitar area itu, menyisakan Cang Li seorang diri di tengah kegelapan hutan.

Ia menarik napas panjang, lalu memusatkan seluruh kesadarannya.

Meskipun matanya tertutup, ia bisa merasakan dinginnya malam yang menyentuh kulitnya. Ia bisa mendengar suara daun bergesekan, serangga malam yang berdesir, dan bunyi ranting kecil yang patah entah di mana.

Tangannya menggenggam pedang lebih erat.

Tubuhnya merendah sedikit dalam posisi siap tempur.

Lalu…

Suara langkah cepat terdengar dari belakang.

Sangat ringan.

Sangat cepat.

Namun cukup untuk membuat naluri Cang Li bereaksi.

Tanpa ragu, ia langsung memutar tubuh dan mengayunkan pedangnya ke belakang dalam satu tebasan tajam. Kilatan Petir Ungu menyambar singkat di ujung bilah, dan sesaat kemudian terdengar suara tubuh makhluk jatuh ke tanah.

Monster tingkat rendah pertama telah tumbang.

Meskipun tidak bisa melihat, Cang Li tahu serangannya tepat sasaran.

Belum sempat ia mengatur napas kembali, telinganya menangkap tiga pergerakan sekaligus dari arah yang berbeda. Kali ini, serangan datang lebih cepat.

Ia merasakan aliran udara yang berubah dari atas.

Mereka melompat.

Cang Li segera menekuk lutut dan menggeser kakinya setengah langkah ke belakang. Dalam sepersekian detik, ia memadatkan energi petir ke bilah pedangnya, lalu menghunuskan serangan menyilang ke arah atas dengan gerakan yang sangat cepat.

Kilatan ungu melesat membelah kegelapan malam.

Tubuhnya melintas di antara ketiga monster itu begitu cepat hingga seolah hanya meninggalkan bayangan samar. Sesaat kemudian, Cang Li telah berdiri beberapa langkah di belakang mereka dengan pedang masih terulur di samping tubuhnya.

Keheningan berlangsung selama satu napas.

Lalu tiga monster itu roboh hampir bersamaan.

Dari kejauhan, Ling yang mengamati dari balik pepohonan memperhatikan semuanya dengan sorot mata tenang. Di wajahnya, akhirnya muncul senyum tipis yang sangat jarang terlihat.

Dalam penilaiannya, perkembangan Cang Li memang jauh lebih cepat daripada yang ia bayangkan.

Meskipun sebagian besar kekuatan anak itu masih tersegel, kemampuan dasarnya untuk beradaptasi, membaca bahaya, dan memaksimalkan kekuatan yang tersedia sudah menunjukkan kualitas yang sangat langka. Cang Li mungkin belum menyadari betapa besar potensi yang tersembunyi di dalam dirinya, tetapi Ling bisa melihat dengan jelas bahwa anak itu tidak lagi bergerak seperti pemula biasa.

Ia mulai bergerak seperti seseorang yang ditempa oleh kehilangan, tekanan, dan tekad yang tidak mudah dipatahkan.

Pertarungan terus berlangsung sepanjang malam.

Monster demi monster berdatangan dalam jumlah kecil. Ada yang menyerang dari depan, ada yang berusaha menyergap dari samping, dan ada pula yang mencoba memanfaatkan suara untuk mengacaukan konsentrasi Cang Li. Namun seiring berjalannya waktu, gerakannya justru semakin mantap.

Setiap tebasan menjadi lebih bersih.

Setiap langkah menjadi lebih efisien.

Setiap keputusan yang ia ambil terasa lebih tepat.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Cang Li benar-benar mulai bertarung bukan dengan mata, melainkan dengan kesadaran dan naluri yang ditempa dalam tekanan.

Ketika cahaya pertama subuh mulai menyusup di sela pepohonan, latihan tahap kedua akhirnya berakhir.

Embun pagi menempel di rerumputan, dan udara yang dingin membuat napas Cang Li terlihat samar saat ia berdiri dengan tubuh lelah namun tetap tegak. Pakaiannya dipenuhi debu, dan tangannya terasa berat karena semalaman menggenggam pedang, tetapi di wajahnya ada kepuasan yang tidak bisa disembunyikan.

Tak lama kemudian, Ling berjalan keluar dari balik pepohonan dan mendekat dengan langkah tenang seperti biasa.

Cang Li segera melepaskan penutup matanya, lalu menatap gurunya dengan napas masih sedikit memburu.

“Guru,” ucapnya, “apakah saya… berhasil melewati tahap kedua?”

Ling tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu menatap area di sekeliling mereka yang dipenuhi jejak pertarungan, bekas cakaran, tanah yang terbelah, dan tubuh monster tingkat rendah yang sudah tak bergerak.

Barulah setelah itu ia mengalihkan pandangan kepada Cang Li.

“Ya,” jawabnya singkat namun tegas. “Kau lolos.”

Mata Cang Li langsung membesar.

“Benarkah, Guru?”

“Kau berhasil menyelesaikannya hanya dalam satu percobaan,” lanjut Ling. “Itu berarti tubuhmu mulai memahami apa yang tidak bisa diajarkan hanya dengan kata-kata. Kau bukan lagi anak yang hanya mengandalkan serangan lurus dan keberanian bodoh.”

Mendengar itu, Cang Li tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Meskipun wajah Ling tetap datar seperti biasa, pengakuan itu tetap terasa sangat berarti baginya.

Selama ini, ia selalu merasa tertinggal.

Selalu merasa lemah.

Selalu merasa belum cukup.

Karena itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Cang Li benar-benar merasakan bahwa dirinya sedang bergerak maju.

Ia mengepalkan tangan dengan semangat yang kembali menyala.

“Kalau begitu, Guru,” katanya dengan suara penuh tekad, “saya siap untuk latihan terakhir.”

Ling mengangkat alis tipis. “Latihan terakhir?”

“Ya,” jawab Cang Li mantap. “Latihan di bawah air terjun puncak gunung saat badai petir datang.”

Ling menatap muridnya dalam diam selama beberapa saat. Setelah itu, ia berbalik dan mulai berjalan kembali ke arah rumah.

“Latihan itu tidak akan dimulai sekarang,” ucapnya.

Cang Li segera mengikuti dari belakang. “Kenapa, Guru?”

Ling berhenti sejenak, lalu menjawab dengan nada tenang namun serius, “Karena tahap terakhir bukan sekadar soal bertahan menerima rasa sakit. Jika tubuh, energi, dan teknikmu belum cukup matang, maka petir alami dari langit tidak akan menempamu menjadi lebih kuat.”

Ia lalu menoleh setengah ke arah Cang Li.

“Petir itu justru akan menghancurkanmu.”

Cang Li terdiam.

Nada suara Ling kali ini tidak mengandung ancaman kosong. Ia tahu gurunya benar-benar serius.

“Latihan tahap terakhir akan dilaksanakan minggu depan,” lanjut Ling. “Sebelum hari itu tiba, kau harus terus mengasah dasar pedangmu sampai benar-benar stabil. Selain itu, aku ingin kau mulai memikirkan satu hal yang jauh lebih penting.”

Cang Li menatapnya penuh tanya. “Apa itu, Guru?”

Ling menjawab sambil menatap langsung ke matanya.

“Ciptakan teknik pedangmu sendiri.”

Jantung Cang Li berdetak lebih cepat.

“Teknik… milik saya sendiri?”

Ling mengangguk pelan. “Seorang kultivator tidak bisa terus bergantung pada teknik orang lain jika ia ingin berdiri di puncak. Teknik yang benar-benar kuat bukan hanya soal bentuk atau kecepatan, tetapi lahir dari pemahaman, pengalaman, dan jalan yang kau pilih sendiri.”

Ia melanjutkan dengan suara yang lebih dalam.

“Kau memiliki elemen petir, kecepatan yang terus berkembang, dan naluri bertarung yang mulai terbentuk. Gunakan satu minggu ini untuk mengasah pedangmu, memahami aliran energimu, dan mulai menciptakan teknik yang benar-benar cocok dengan dirimu.”

Cang Li berdiri diam beberapa saat.

Kata-kata itu terasa jauh lebih berat dibanding latihan fisik mana pun yang telah ia jalani.

Membelah bambu bisa dilakukan dengan kerja keras.

Mengalahkan monster bisa dilakukan dengan keberanian dan latihan.

Namun menciptakan teknik sendiri berarti ia harus memahami dirinya sendiri lebih dalam dari sebelumnya.

Itu bukan tugas yang mudah.

Tetapi justru karena itulah, mata Cang Li perlahan kembali dipenuhi semangat.

Ia menundukkan kepala dengan hormat.

“Saya mengerti, Guru. Saya akan melakukannya.”

Ling tidak menjawab lagi. Ia hanya melangkah masuk ke rumah kayunya, meninggalkan Cang Li yang masih berdiri di halaman dengan pedang di tangannya.

Cahaya matahari subuh mulai menghangatkan ujung pepohonan.

Angin pagi berembus pelan di antara rumpun bambu hitam yang telah menjadi saksi perkembangan seorang anak yang dulu lemah, bingung, dan penuh luka.

Kini, satu tahap lagi menunggunya.

Dan sebelum hari itu tiba, Cang Li harus menemukan sesuatu yang lebih penting daripada kekuatan semata.

Ia harus menemukan jalannya sendiri sebagai pendekar pedang.

End Chapter 29

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!