NovelToon NovelToon
JALANGKUNG JATUH CINTA

JALANGKUNG JATUH CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mata Batin
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
​Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misteri Suara Piano di Tengah Malam

Setelah hiruk-pikuk kencan ganda yang berakhir dengan kecupan di pipi—dan sorakan ghaib yang memekakkan telinga—Satria mengira ia bisa tidur nyenyak. Namun, SMA Wijaya Kusuma sepertinya memiliki jam biologis yang terbalik. Semakin sunyi dunia manusia, semakin berisik dunia mereka.

​Malam itu, tepat pukul 00.00, sebuah fenomena baru muncul. Suara dentingan piano mulai mengalun dari arah gedung kesenian. Melodinya tidak galau seperti lagu Raka, juga tidak megah seperti musik dansa Meneer Van De Berg. Melodi ini terdengar... patah-patah. Seperti seseorang yang sedang belajar menekan tuts, namun jarinya kaku dan penuh amarah.

​Satria terbangun karena Ucok menarik-narik jempol kakinya dengan panik.

​“Sat! Bangun Sat! Itu piano di sekolah bunyi lagi! Tapi kali ini auranya bukan biru atau putih, tapi hitam pekat kayak aspal panas!” seru Ucok dengan mata melotot.

​Satria mengucek matanya, mendengarkan dengan seksama. Benar saja, lewat hembusan angin malam yang masuk ke jendela kamarnya, ia mendengar nada C-Minor yang ditekan berulang-ulang dengan sangat keras. Teng... Teng... Teng...

​"Rin, lo denger?" Satria mengirim pesan singkat ke Arini.

​Hanya butuh dua detik bagi Arini untuk membalas. "Aku nggak cuma denger, Sat. Aku sekarang di depan jendela, dan aku liat ada cahaya merah redup dari jendela ruang musik. Kita harus ke sana."

Satria segera menyambar jaket hitam dan tas "tempur" ghaibnya yang kini sudah diisi ulang dengan garam dapur, air suci, dan tentu saja, jepit rambut merah pemberian Santi sebagai azimat keberuntungan. Ia memacu motornya dalam diam, bertemu Arini di gerbang belakang sekolah yang sudah lama ia ketahui cara membukanya tanpa kunci.

​"Sat, hawanya beda banget," bisik Arini saat mereka berjalan menyusuri koridor yang gelap gulita. "Ini bukan hantu sekolah kita. Ini sesuatu yang... asing."

​Langkah mereka terhenti di depan pintu ruang musik. Suara piano itu mendadak berhenti tepat saat tangan Satria menyentuh gagang pintu. Keheningan yang mengikuti jauh lebih menyeramkan daripada suara musik tadi.

​“Jangan dibuka dulu, Anak Muda,” suara Meneer Van De Berg muncul dari bayang-bayang pilar. Wajahnya tampak sangat serius, pedangnya sudah terhunus. “Ada entitas yang masuk lewat celah dimensi yang ditinggalkan Sang Kolektor kemarin. Dia adalah The Maestro of Silence. Dia tidak mencari sukma untuk dikoleksi, dia mencari jemari untuk 'dimainkan'.”

​"Maksudnya, Meneer?" Arini bergidik ngeri.

​“Dia mencari manusia yang memiliki bakat musik untuk ditarik ke dalam dunianya, agar dia bisa terus mendengarkan musik selamanya.”

Satria memberanikan diri mendorong pintu. Kreeeeet...

​Di tengah ruangan, di depan piano grand tua yang biasanya terkunci, duduk sesosok makhluk dengan sosok yang sangat tinggi dan kurus. Jari-jarinya panjangnya tidak masuk akal, menyerupai ranting pohon yang kering. Wajahnya tidak memiliki mata atau hidung, hanya sebuah lubang besar di bagian mulut yang terus-menerus mengeluarkan uap dingin.

​Makhluk itu menoleh—atau setidaknya mengarahkan kepalanya—ke arah Satria dan Arini.

​“Ah... sepasang cahaya baru...” suara makhluk itu terdengar seperti gesekan biola yang rusak. “Gadis itu... jemarinya lentik. Cocok untuk memainkan Sonata Kegelapan.”

​Tiba-tiba, Arini merasa kakinya bergerak sendiri. Ia berjalan perlahan menuju piano, matanya tampak kosong seolah terhipnotis oleh frekuensi suara yang hanya bisa didengar oleh sukmanya.

​"Rin! Berhenti!" Satria mencoba menarik tangan Arini, namun ia terpental oleh gelombang sonik yang tak terlihat.

​“Jangan ganggu resital ini, Bocah Indigo,” desis Sang Maestro.

Satria segera berdiri. Ia menyadari bahwa garam atau air suci tidak akan cukup melawan makhluk yang berbasis pada gelombang suara. Ia harus melawan musik dengan musik.

​"Ucok! Cari radio kecil di meja guru! Nyalain sekeras-kerasnya!" perintah Satria.

​Ucok dengan sigap menemukan radio pengeras suara yang biasa dipakai untuk senam pagi. Ia memutar knop volumenya ke angka maksimal dan mencari siaran acak. Suara static dan musik dangdut koplo mendadak memenuhi ruangan, memecah keheningan magis Sang Maestro.

​“BERISIK! MATIKAN SUARA MURAHAN ITU!” Sang Maestro berteriak, lubang mulutnya melebar.

​Arini tersentak sadar dan segera menjauh dari piano. "Sat! Kepalaku sakit banget!"

​"Tutup telinga lo, Rin! Pake energi liontin buat bikin barier suara!" Satria mengambil dua penggaris besi dari meja dan mulai memukul-mukul tiang piano, menciptakan suara dentingan logam yang kacau.

​Meneer Van De Berg ikut membantu dengan menghentakkan kakinya ke lantai kayu dengan irama militer yang berat. “Satu... Dua... Tiga... Serbu!”

​Ruang musik itu kini menjadi medan perang akustik. Sang Maestro mencoba memainkan nada-nada tinggi yang bisa memecahkan pembuluh darah, sementara Satria dan tim ghaibnya menciptakan "polusi suara" yang menghancurkan struktur sihir Sang Maestro.

Di tengah kekacauan itu, Arini melihat sesuatu. Di bawah kaki Sang Maestro, ada sebuah partitur musik tua yang tampak terbakar di bagian pinggirnya. Kertas itu seolah menjadi jangkar bagi makhluk tersebut di dunia ini.

​"Sat! Kertas di bawah kakinya! Itu sumber kekuatannya!" Arini menunjuk dengan berani.

​Namun, Sang Maestro meluncur cepat ke arah Arini, jari-rantingnya siap mencengkeram leher Arini. Satria tidak punya waktu lagi. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan garam yang sudah ia campur dengan bubuk kemenyan—resep baru hasil eksperimennya.

​"Makan nih, Surround Sound ghaib!" Satria melemparkan garam itu bukan ke arah wajah makhluk itu, melainkan ke dalam lubang piano.

​Garam itu bereaksi dengan dawai-dawai piano yang sedang bergetar hebat. Terjadi ledakan energi kinetik yang membuat tuts-tuts piano itu beterbangan keluar. Sang Maestro terhuyung mundur, kehilangan kendali atas instrumennya.

​Arini memanfaatkan celah itu. Ia melompat dan menyambar kertas partitur tersebut.

​“JANGAN SENTUH ITU! ITU ADALAH SIMFONI KEMATIANKU!” raung Sang Maestro.

"Rin! Bakar!" teriak Satria.

​Arini mengeluarkan korek api gas yang selalu ia bawa (untuk berjaga-jaga jika perlu membakar dupa atau kemenyan). Ia menyulut ujung kertas partitur itu. Saat api mulai melahap kertas tersebut, tubuh Sang Maestro mulai retak-retak. Suara teriakan makhluk itu perlahan berubah menjadi nada-nada rendah yang merintih, hingga akhirnya ia hancur menjadi debu hitam yang tertiup angin malam.

​Ruang musik mendadak menjadi sangat sunyi. Radio yang tadi diputar Ucok pun mendadak mati karena baterainya habis.

​Satria terduduk di lantai, napasnya tersengal. "Gue... gue benci pelajaran seni musik mulai sekarang."

​Arini mendekati Satria, ia tampak gemetar tapi lega. "Kamu hebat, Sat. Taktik 'dangdut koplo' tadi bener-bener jenius."

​“Iya! Goyang ghaib selalu berhasil mengusir kegalauan!” seru Ucok sambil berjoget kecil di atas piano yang kini sudah rusak parah.

Meneer Van De Berg memeriksa sisa-sisa debu di lantai. “Makhluk ini adalah parasit emosi. Dia tertarik pada sekolah ini karena banyaknya sisa-sisa kesedihan dari arwah seperti Santi dan Raka. Kita harus lebih waspada, Anak Muda. Celah itu belum sepenuhnya tertutup.”

​"Gue tahu, Meneer. Tapi sekarang, masalah utamanya adalah gimana cara jelasin ke guru seni musik kenapa pianonya hancur begini?" Satria menatap piano grand yang kini tutsnya berantakan di lantai.

​"Bilang aja ada tikus raksasa masuk, Sat," canda Arini.

​Tiba-tiba, Suster Lastri muncul dari balik tirai panggung. “Tikus raksasa? Sini saya suntik biar jadi tikus percobaan! Ngomong-ngomong, telinga kalian nggak apa-apa? Suara tadi bener-bener bikin budeg ghaib.”

​Suster Lastri memberikan "minyak angin ghaib" pada Arini dan Satria untuk meredakan pusing akibat gelombang sonik tadi.

Pukul 02.00 dini hari. Satria mengantar Arini kembali ke rumahnya. Jalanan sangat sepi, namun kali ini tidak ada suara piano yang mengikuti mereka.

​"Sat," panggil Arini sebelum turun dari motor.

​"Ya?"

​"Makasih ya udah bangunin aku tadi. Kalau nggak, mungkin jemari aku udah jadi koleksi di piano itu."

​Satria menatap tangan Arini, lalu menggenggamnya erat sejenak. "Jari lo itu buat nulis laporan OSIS dan pegangan tangan sama gue, Rin. Bukan buat main piano hantu."

​Arini tersenyum lebar, rasa takutnya menguap seketika. "Dasar. Ya sudah, kamu pulang ya. Tidur yang nyenyak. Jangan dengerin lagu apa-apa lagi malem ini."

​Satria mengangguk. Saat ia menempuh perjalanan pulang, ia sengaja tidak memakai earphone. Ia menikmati kesunyian malam yang murni. Ia menyadari bahwa sebagai indigo, kadang "suara" yang paling indah bukanlah melodi yang rumit, melainkan keheningan saat semua bahaya telah berhasil dihalau.

​Bab 34 ditutup dengan pemandangan ruang musik yang kini tenang. Piano tua itu memang rusak secara fisik, namun secara spiritual, ia telah bersih dari kegelapan. Di atas tutup piano yang terbuka, Ucok tertidur pulas, menggunakan sisa partitur yang terbakar sebagai bantal, sementara Mbak Suryani duduk di kejauhan, bersenandung pelan—sebuah melodi sederhana tentang kehidupan yang terus berjalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!