Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
...Perjalanan menuju Bandung yang seharusnya diisi dengan pembahasan teknis proyek mendadak berubah menjadi tegang saat Rangga memecah keheningan dengan pertanyaan yang sangat personal. ...
...Ia melirik Stella melalui spion tengah, mencoba membaca ekspresi wanita itu....
..."Bagaimana kabar mantan suamimu, Abbas?" tanya Rangga tiba-tiba. Suaranya terdengar santai, namun pertanyaan itu terasa seperti hantaman keras bagi Stella. ...
..."Aku dengar setelah perceraian itu, dia cukup kesulitan memulihkan nama baiknya di kalangan pebisnis."...
...Mendengar nama itu disebut, tubuh Stella seketika menegang. ...
...Memori tentang masa lalu yang pahit dan perjuangannya untuk bangkit dari kegagalan pernikahan dengan Abbas seolah berputar kembali di benaknya. Nama itu adalah luka yang sudah susah payah ia tutup....
...Stella menggelengkan kepalanya dan meminta Rangga untuk tidak membahas Abbas. ...
...Ia mengepalkan tangannya di atas pangkuan, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil dan tidak bergetar....
..."Pak Rangga, saya di sini untuk bekerja, bukan untuk melakukan napak tilas masa lalu," ucap Stella dengan nada dingin yang menusuk. ...
..."Saya mohon, jangan pernah sebut nama itu lagi atau membahas apa pun yang berkaitan dengan mantan suami saya. Itu bukan urusan Anda, dan sama sekali tidak relevan dengan proyek kita."...
...Rangga terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan reaksi defensif Stella yang begitu kuat. ...
...Ia bisa merasakan aura kemarahan sekaligus luka yang memancar dari wanita di sampingnya....
..."Maaf," ucap Rangga pendek, meski senyum tipis di bibirnya menunjukkan bahwa ia sengaja melakukan itu untuk menguji ketenangan Stella. ...
..."Aku hanya penasaran apakah luka lama itu sudah benar-benar sembuh."...
..."Luka itu sudah sembuh karena saya memilih untuk melangkah maju, bukan karena saya ingin menjadikannya bahan obrolan santai di dalam mobil," balas Stella tajam....
...Ia kembali memalingkan wajah ke arah jendela, menatap deretan pepohonan yang berlari cepat di sepanjang jalan tol. ...
...Stella menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya yang kembali terusik. ...
...Di tengah rasa kesalnya, ia merindukan Khan—pria yang tidak pernah mengungkit masa lalunya sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari perjalanan yang membawa Stella ke pelukannya....
...Keheningan di dalam mobil kembali menyelimuti, namun kali ini terasa jauh lebih berat dan menyesakkan. ...
...Rangga mencengkeram kemudi dengan erat, matanya menatap lurus ke depan seolah sedang bertarung dengan pikirannya sendiri sebelum akhirnya ia mengeluarkan pengakuan yang mengejutkan....
..."Apakah kamu tahu, Stella. Dari dulu aku mencintaimu tapi takdir sepertinya mempermainkan aku lagi. Kamu sekarang calon istri Khan," ucap Rangga dengan nada suara yang rendah namun penuh penekanan. Tidak ada nada mengejek kali ini; yang terdengar hanyalah kejujuran yang pahit....
...Stella menoleh ke arah Rangga dengan mata terbelalak. ...
...Jantungnya berdegup kencang bukan karena debaran cinta, melainkan karena rasa tidak percaya. Ia tidak menyangka bahwa di balik sikap kompetitif dan genit pria itu, tersimpan perasaan yang telah dipendam sejak lama. ...
...Stella ingin menyela, namun tenggorokannya terasa tercekat....
...Tanpa memberikan kesempatan bagi Stella untuk merespons, kemudian Rangga menghentikan mobilnya depan hotel sebelum mereka ke lapangan. ...
...Deru mesin mobil sport itu mati seketika, menyisakan kesunyian yang mencekam di antara mereka....
..."Kenapa berhenti di sini? Kita harusnya langsung ke lokasi proyek," tanya Stella dengan suara yang mulai bergetar karena rasa tidak nyaman yang memuncak....
...Rangga tidak langsung menjawab. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan menoleh sepenuhnya ke arah Stella, menatapnya dengan tatapan yang intens dan penuh luka....
..."Kita butuh waktu untuk bicara, Stella. Bukan sebagai rekan bisnis, tapi sebagai dua orang yang pernah berselisih jalan," sahut Rangga dingin. ...
..."Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi ke lapangan sebelum kamu mendengarkan apa yang seharusnya aku katakan bertahun-tahun yang lalu."...
...Stella menatap bangunan hotel mewah di depannya dengan perasaan was-was. ...
...Bayangan Khan dan janji setianya melintas di benaknya, membuat Stella sadar bahwa ia harus bersikap lebih tegas daripada sebelumnya untuk menjaga apa yang baru saja ia bangun bersama calon suaminya....
...Suasana lobi hotel bintang lima itu terasa sangat mewah, namun bagi Stella, setiap langkah menuju restoran terasa seperti berjalan di atas bara api. ...
...Ia bisa merasakan tatapan beberapa tamu hotel yang tertuju pada mereka—seorang pria dengan setelan mahal dan seorang wanita cantik yang tampak tegang....
...Mereka berdua turun dari mobil menuju ke restoran yang terletak di lantai dasar. ...
...Rangga menarikkan kursi untuk Stella dengan gerakan yang sangat sopan, namun Stella duduk dengan tubuh kaku, tasnya ia letakkan di pangkuan seolah menjadi perisai....
...Setelah pelayan pergi meninggalkan daftar menu, Stella langsung menatap mata Rangga tanpa ragu. Ia tidak ingin berbasa-basi lagi....
..."Sekarang apa yang ingin kamu bicarakan, Ngga?" tanya Stella dengan nada suara yang rendah namun menuntut penjelasan. ...
..."Kita tidak punya banyak waktu. Lokasi proyek sudah menunggu, dan aku tidak ingin profesionalismeku dipertanyakan hanya karena drama pribadi yang kamu buat."...
...Rangga menyandarkan tubuhnya, menatap Stella dengan senyum tipis yang sulit diartikan. ...
..."Kamu selalu saja terburu-buru, Stella. Apa kamu takut berlama-lama denganku karena takut perasaan lamamu terusik? Atau kamu takut Khan akan marah jika tahu kita makan siang berdua di hotel?"...
..."Jangan bawa-bawa Khan ke dalam pembicaraan ini," potong Stella tajam. ...
..."Katakan saja apa maksud dari pengakuanmu di mobil tadi. Kalau ini hanya caramu untuk mengganggu konsentrasiku bekerja, aku akan pergi sekarang juga."...
...Rangga menghela napas panjang, tatapan matanya melembut—sesuatu yang jarang ia tunjukkan. ...
..."Aku hanya ingin kamu tahu, Stella. Dulu, sebelum Abbas masuk ke hidupmu, aku sudah lebih dulu menaruh hati padamu. Tapi aku pengecut. Aku memilih pergi ke luar negeri untuk mengejar karier dan berpikir kamu akan menungguku. Ternyata aku salah, dan takdir justru membawamu pada pria seperti Abbas, lalu sekarang... pada Khan."...
...Stella terdiam sejenak, namun sorot matanya tidak goyah. ...
..."Itu sudah lama sekali, Rangga. Masa itu sudah lewat. Sekarang, aku adalah calon istri Khan, dan bagiku, kamu tidak lebih dari sekadar rekan bisnis. Tolong, hargai batas itu."...
...Mendengar ucapan itu, Stella meletakkan tangannya di atas meja, namun kali ini bukan untuk menyambut tangan Rangga, melainkan untuk menegaskan pendiriannya. ...
...Suasana restoran yang tenang seolah membeku di sekitar mereka....
..."Tapi aku mencintaimu, Stella. Tolong beri aku satu kesempatan untuk bersaing bersama Khan," ucap Rangga dengan nada yang sangat serius, matanya mengunci pandangan Stella seolah mencari celah keraguan di sana....
...Stella menarik napas panjang, sorot matanya tidak menunjukkan kebimbangan sedikit pun. ...
...Ia menatap Rangga dengan rasa iba, namun tetap tegas....
..."Cinta bukan sebuah kompetisi bisnis di mana kamu bisa mengajukan penawaran lebih tinggi untuk menang, Rangga," jawab Stella dengan suara yang tenang namun menusuk. ...
..."Kesempatan itu sudah tertutup sejak lama. Bukan karena takdir, tapi karena aku sudah menemukan pelabuhan yang tepat."...
...Stella menggeleng perlahan, memberikan penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan....
..."Aku tidak bisa memberimu kesempatan untuk bersaing, karena di hatiku, tidak ada persaingan itu. Khan sudah menang sejak awal. Dia ada di sana saat aku hancur karena masa lalu, dan dia yang membangun kembali kepercayaanku. Jadi, tolong, jangan rendahkan dirimu dengan meminta hal yang mustahil."...
...Rangga terdiam, wajahnya yang biasanya penuh kendali kini tampak pucat. ...
...Ia tidak menyangka penolakan Stella akan begitu mutlak....
..."Sekarang," lanjut Stella sambil berdiri dari kursinya. ...
..."Kita ke lapangan untuk bekerja, atau aku akan pulang ke Jakarta dengan taksi saat ini juga. Pilihan ada di tanganmu, Pak Rangga."...
...Rangga menghela nafas panjang dengan raut wajah yang tampak terpukul oleh penolakan mutlak Stella. Namun, ia berusaha kembali menguasai dirinya meski hatinya hancur. ...
...Tanpa kata lagi, ia berdiri, membayar pesanan yang bahkan belum sempat tersentuh, dan ia mengajak Stella untuk ke lapangan. ...
...Kali ini, suasana di dalam mobil benar-benar sunyi, sebuah keheningan yang dipenuhi oleh batas tegas yang telah ditarik oleh Stella....
...Sementara itu, di tempat lain, jauh dari hiruk-pikuk proyek Bandung, sebuah drama gelap tengah berlangsung. ...
...Annisa menjenguk Abbas di sebuah ruangan yang terasa sempit dan pengap. ...
...Abbas tampak kacau, sisa-sisa kejayaannya sebagai pengusaha kini telah pudar....
...Annisa menatap Abbas dengan mata yang berkaca-kaca, memecah keheningan dengan sebuah pengakuan yang mengguncang. ...
...Annisa mengatakan kalau ia sedang hamil. Ia berharap kabar itu akan melunakkan hati Abbas atau memberikan pria itu alasan untuk berubah....
...Namun, reaksi Abbas jauh dari apa yang ia bayangkan....
...Pria itu menatap Annisa dengan tatapan dingin, bahkan penuh kebencian. ...
...Tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun, Abbas memintanya untuk menggugurkan nya....
..."Aku tidak butuh beban tambahan sekarang, Annisa! Singkirkan anak itu!" bentak Abbas tanpa memikirkan perasaan wanita di depannya....
...Mendengar permintaan kejam itu, Annisa menggelengkan kepalanya dengan kuat. ...
...Ia mundur selangkah, melindungi perutnya dengan kedua tangannya sendiri....
..."Tidak, Abbas. Aku memang salah telah mencintaimu, tapi anak ini tidak berdosa," isak Annisa. ...
..."Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti darah dagingku sendiri, meskipun kamu adalah ayahnya."...
...Di tengah kesendirian dan penderitaannya, Annisa menyadari bahwa pria yang pernah ia rebut dari Stella itu ternyata tidak lebih dari seorang pengecut yang tak memiliki hati nurani. ...
...Di saat Stella mulai menemukan kebahagiaan baru bersama Khan, Annisa justru terjebak dalam lubang hitam yang ia gali sendiri bersama Abbas....
tapi ada nunggu masa iddah juga di sini 🤭🙏
dan suaminya menikah siri dengan Annisa ?!?? Hmmm..... 🤔🤔🤔