Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Xin Yuning dan Quan Yubin baru saja masuk ke dalam mobil setelah selesai makan malam bersama. Suasana di dalam kendaraan masih terasa canggung dan hening, namun belum sempat mereka melajukan mobil, tiba-tiba ponsel Xin Yuning berdering.
Layar ponsel menampilkan nama pemanggil: Xin Yi.
Xin Yuning menyentuh tombol jawab dengan santai, "Halo? Kenapa lagi?"
Namun suara di seberang sana terdengar datar namun jelas, sedikit sedih. "Kakak... tolong jemput saya. Saya sedang berada di kantor polisi."
Bang! Jantung Xin Yuning seketika mencelos. Wajahnya berubah pucat tak percaya.
"APA?! Kantor polisi?!" serunya nyaris berteriak.
"Kau melakukan apa lagi sampai harus berada di sana?! Jangan bilang kau mengemudi terlalu cepat sampai ditilang atau bahkan menabrak orang?!"
Di sebelahnya, Quan Yubin yang mendengar kalimat itu langsung menegakkan badannya. Tatapan mata pria itu yang tadi lemas seketika berubah tajam dan gelap penuh kekhawatiran.
Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi mendengar gadis itu berada di kantor polisi membuat jantung mereka berdua berdegup kencang bukan main.
Dasar anak bandel... baru saja beli motor sudah langsung bikin masalah besar! gerutu Xin Yuning dalam hati sambil memukul stir kemudi dengan frustrasi.
Ia sudah membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi, namun kenyataannya justru jauh di luar dugaan.
Di ruangan tunggu kantor polisi, ia melihat Xin Yi sedang duduk tenang di samping dua anak kecil yang tampak ketakutan dan lelah.
Tubuh anak-anak itu memiliki beberapa bekas luka dan memar yang sudah dibersihkan serta diobati dengan baik oleh petugas polisi wanita.
Xin Yi dengan sabar membagikan makanan dan minuman yang ia beli, lalu berkata dengan nada lembut,
"Makanlah perlahan-lahan, jangan terburu-buru nanti tersedak."
Seorang petugas polisi wanita menghampiri mereka sambil membawa secangkir kopi hangat untuk Xin Yi sebagai tanda terima kasih.
Wanita itu menoleh kepada Xin Yuning dan Quan Yubin dengan wajah lega saat mereka sampai.
"Syukurlah kalian datang. Kalau bukan karena Nona ini yang sigap dan berani menangkap pelakunya sendirian, dua anak kecil ini mungkin sudah dibawa kabur dan dijual ke tempat yang jauh lebih berbahaya."
"......"
Xin Yuning dan Quan Yubin ternganga.
Jadi adiknya berada di sini bukan karena melanggar aturan atau berbuat salah, tapi justru karena menyelamatkan orang?!
"Jadi... penjahat itu sudah diamankan?" tanya Quan Yubin cepat dengan wajah serius.
"Betul, Tuan," jawab petugas itu mantap. "Pelaku ini sudah lama menjadi buronan; dia diduga kuat telah menculik dan memperdagangkan belasan anak. Pasti dia akan dihukum dengan sangat berat sesuai hukum yang berlaku."
Mendengar kepastian itu, Xin Yi pun menghela napas panjang merasa lega.
Xin Yuning memijat pelipisnya, kali ini bukan karena marah, tapi karena rasa kaget dan bangga yang campur aduk.
"Kau ini benar-benar... tidak bisa diam saja ya. Di mana pun berada pasti ada saja kejadian menegangkan yang kau temui," keluhnya namun tatapannya penuh kekaguman.
Quan Yubin di sebelahnya hanya menatap punggung kecil gadis itu dengan tatapan yang semakin dalam dan gelap.
Xin Yi... kau benar-benar wanita yang luar biasa berani dan baik hati... tapi kamu benar-benar tangguh dan ceroboh.
Ketiganya melangkah keluar dari kantor polisi dengan suasana hati yang campur aduk antara lega, bingung, dan tentu saja... khawatir.
Xin Yi berjalan dengan langkah ringan menuju tempat ia memarkirkan motor besarnya. Ia sudah tidak sabar ingin segera pulang dan beristirahat setelah hari yang panjang dan melelahkan ini.
Namun baru saja ia hendak naik ke atas kendaraannya...
YANK!
Tiba-tiba kerah jaket belakang bajunya ditarik dengan kuat oleh seseorang dari belakang.
Gerakan itu membuat tubuh kecilnya terhempas mundur dan berputar balik.
"......"
Xin Yi mendongak dan mendapati wajah Quan Yubin yang berada tepat di hadapannya.
Wajah pria itu tidak lagi tenang atau dingin seperti biasa. Kali ini, tatapan matanya gelap pekat, alisnya terkulai rapat, dan rahangnya mengeras menahan emosi yang meledak-ledak.
"Kau ini..." suara Quan Yubin terdengar berat dan parau, seolah keluar dari dasar tenggorokan.
"...benar-benar tidak tahu bahaya apa?! Baru saja selesai berhadapan dengan penculik dan penjahat berbahaya, sekarang mau kabur lagi naik motor sendirian?!"
Xin Yi hanya bisa menatapnya bingung dan sedikit kesal, namun jantungnya berdegup kencang melihat wajah pria itu yang begitu dekat dan penuh aura kepemilikan yang menakutkan.
Apa salahku lagi?! Kan aku sudah menyelamatkan orang! Masih dimarahi! batinnya protes namun tak berani bersuara.
Xin Yi segera menepis tangan yang mencengkeram kerah bajunya dengan gerakan cepat.
"Jangan pegang-pegang!" serunya kesal sambil membetulkan pakaiannya yang berantakan.
Ia sudah siap untuk naik ke atas motor dan melaju pergi menjauh dari suasana canggung itu. Namun belum sempat kakinya menginjak tanah dengan mantap...
YANK!
Tangan besar Quan Yubin kembali bergerak lebih cepat. Kali ini bukan kerahnya yang ditarik, melainkan pergelangan tangan kecilnya ditarik kuat hingga tubuh gadis itu terpental mendekat ke dada pria itu yang kokoh.
"......"
Xin Yi terhuyung dan nyaris menabrak dada pria itu. Ia mendongak menatap Quan Yubin dengan mata membelalak tak percaya.
Pria ini... kenapa jadi kasar dan semena-mena begini?!
Di belakang mereka, Xin Yuning hanya bisa berdiri mematung memandangi adegan itu.
"......." Mulutnya terbuka sedikit ingin menyela atau melerai, tapi melihat tatapan Quan Yubin yang gelap pekat dan aura posesif yang begitu kuat... ia sadar ada sesuatu yang sangat serius sedang terjadi di antara mereka berdua.
Ia benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Antara ingin tertawa melihat adiknya yang biasanya tangguh kini kewalahan, atau ingin marah karena temannya berani memperlakukan adiknya seperti ini.
'Yubin...' bisik Xin Yuning pelan dalam hati. '...jangan bilang kau benar-benar sudah kehilangan akal sehat karena cinta ya?'
Xin Yi menatap tajam ke arah mata pria itu dengan wajah yang sedingin es.
"Lepaskan..." desisnya pelan namun penuh tekanan.
Namun Quan Yubin seolah tidak mendengar ancaman itu. Ia justru mengencangkan cengkamannya, menolak untuk melepaskan pergelangan tangan halus itu walau hanya sedetik saja.
"Tidak." jawabnya singkat dan padat, tidak memberi ruang untuk penolakan.
"......"
Melihat pria itu yang mulai bertindak semena-mena dan tidak mau mendengar kata, Xin Yi segera menoleh ke arah penyelamatnya.
"KAKAK! Aku ingin pulang! Ambil orang ini kembali denganmu!!" serunya meminta bantuan sambil terus berusaha menarik lengannya mundur dengan sekuat tenaga.
Tapi sayangnya, tenaga fisik seorang gadis berusia sembilan belas tahun mana bisa menandingi kekuatan seorang pria dewasa yang terlatih dan berotot seperti Quan Yubin.
Di sisi lain, Xin Yuning hanya bisa berdiri mematung dengan tangan terangkat sedikit tanda menyerah.
"Ehm... itu... Yi Yi..." ucapnya ragu-ragu.
"Kau... kau sabar saja ya. Kakak rasa... Kak Quan tidak akan menyakiti kamu. Dia cuma... khawatir berlebihan saja. Hehe..."
Padahal dalam hati ia berteriak panik:
Aduh! Bagaimana bisa seperti ini?! Situasi menjadi seperti drama percintaan yang sangat rumit! Aku sebagai kakak dan sebagai temannya harus memihak yang mana?!
Ia sadar betul, kali ini ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa selain menjadi penonton setia yang kebingungan.
Xin Yi memelototi kakaknya dengan tatapan yang jelas berkata:
'Kakak pengecut! Berani tinggalkan adikmu sendiri!'
Namun saat ia kembali menatap Quan Yubin yang masih mencengkeram tangannya dengan kuat dan wajah yang tak terbaca, ia sadar tidak ada gunanya berharap pada orang lain.
Dengan napas memburu dan dada yang terasa sesak oleh emosi yang meluap-luap, gadis itu menatap lurus ke manik mata gelap pria itu.
Dengan suara yang tegas, dingin, dan memotong udara malam yang kental...
"Aku tidak menyukaimu."
Kalimat itu jatuh begitu berat dan tajam.
Dunia seakan berhenti berputar.
Wajah Quan Yubin yang tadi penuh emosi dan kemarahan seketika membeku. Tatapan matanya yang gelap itu berkedip pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Cengkaman kuat di pergelangan tangan Xin Yi perlahan namun pasti mulai melemah.
Di belakang mereka, Xin Yuning menahan napasnya sampai dadanya terasa sakit.
Selesai sudah... kali ini benar-benar tamat riwayatnya. Si kecil benar-benar nekat menyatakan penolakan secara langsung.
Xin Yi menarik tangannya dengan kuat hingga akhirnya terlepas dari genggaman pria itu. Ia tidak menoleh lagi, melainkan berbalik badan dan naik ke atas motornya dengan gerakan cepat, lalu melesat pergi meninggalkan kedua pria itu dalam kegelapan malam.
Dia bahkan tak memakai helmnya!
Quan Yubin berdiri diam di tempat, menatap tangan kosongnya sendiri.
Hatinya terasa perih dan hampa mendengar kalimat penolakan itu, namun anehnya... justru membuat tekadnya di dalam hati semakin bulat dan tak tergoyahkan.
Kau bilang tidak menyukai aku sekarang... tidak apa-apa. batinnya bergumam pelan.
Aku akan menunggu. Dan aku akan berusaha sampai hari di mana kau mengucapkan kalimat sebaliknya dengan tulus.
Huo Feilin baru saja turun dari lantai atas untuk mengambil minuman saat ia mendengar suara kendaraan berhenti di halaman.
Ia pun berjalan menghampiri jendela, dan tak lama kemudian melihat sosok putrinya masuk ke dalam rumah. Namun kali ini, suasana yang dibawa oleh Xin Yi sangat berbeda.
Wajah gadis itu sedingin es, tatapannya kosong dan tajam.
"Bu sudah malam, jangan minum air dingin..." ia menyapa ibunya tanpa berhenti berjalan menuju tangga.
"......"
Alis Huo Feilin terkulai rapat penuh tanda tanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan anak itu? Kenapa wajahnya terlihat murung dan marah begitu?" batinnya mulai waspada.
Apakah ada masalah dengan pekerjaan magangnya? Atau mungkin bertengkar dengan orang lain?
Sampai di dalam kamarnya yang gelap, Xin Yi segera memutar kunci pintu menguncinya rapat-rapat dari dalam.
Ia berjalan gontai menuju kamar mandi dalam. Air hangat mengalir membasahi tubuhnya, namun tidak mampu menghilangkan rasa pegal dan nyeri yang tersimpan.
Saat ia melepaskan semua pakaiannya dan hendak membersihkan diri, punggungnya yang tadi tertutup rapat kini terlihat jelas di cermin.
"......"
Napas Xin Yi tertahan.
Di cermin, terlihat jelas beberapa bekas luka memar berwarna ungu dan biru yang menyelimuti punggungnya, bahkan beberapa bagian tampak sedikit memerah seolah masih terkena tekanan keras.
Oh tidak... aku dalam masalah.