NovelToon NovelToon
Rekah Rasa Di Ambang Senja

Rekah Rasa Di Ambang Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:136.5k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.

Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.

***

Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.

Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?

~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"

"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Ketika Takdir Bicara

Bukan tanpa peran, Afnan berada disini. Dan kini, setelah kedua pasang orangtua memilih berkumpul di ruang makan...Afnan menjadi penengah antara masnya dan Lova.

Praktis saja rasa canggung tak terelakan baik itu dari Afnan maupun Lova, sementara Afif? Ia yang sudah lebih dewasa dan terbiasa bertemu dengan anak didik, dan kedua manusia ini memilih bertanya pada Lova.

"Mau saya bawakan apa sebagai mahar?"

Ekhem, baik Lova maupun Afnan berdehem kompak mengusir rasa tak nyaman dengan obrolan menggelikan itu.

Terlihat betul wajah keruh Afnan yang memang sejak kedatangannya kesini sudah terpasang secara paten, "mas. Ngomongin mahar kok ya di depanku...nanti aja kalo kalian lagi berdua." Kritiknya kurang terima. Jatuhnya seperti ia manusia paling be go disini.

"Kok berdua?" timpal Lova tanpa diduga Afnan.

"Belum halal ngga boleh berduaan, betul? Bukannya kamu pun tau itu, kamu sendiri yang bilang kalo cewek sama cowok yang bukan mahram itu dilarang berduaan?" seperti sedang balas dendam, Lova berani mengeluarkan suara sumbang mendebat Afnan untuk pertama kalinya selama sejarah, padahal biasanya cewek manis itu senantiasa bermulut manis di depannya, tak pernah sekalipun Lova terlihat sinis begini, sakit? Cenat-cenut tepatnya....

Afif tersenyum tipis, meski hal itu bukan berarti ia ramah, setidaknya kini Afif jauh lebih hangat dari saat ia mengajari Lova mengaji. Bak memiliki dua kepribadian yang berbeda bukan? Atau mungkin, inilah sifat Afif yang sebenarnya? Dan sikap jutek, galak serta dinginnya yang kebangetan itu adalah bentuk pencegahannya. Mencegah ia yang akan dianggap memberikan harapan pada lawan jenis, dan tergoda pesona wanita?

"Terserah ustadz saja. Lova terima apapun itu. Yang penting tidak memberatkan..."

Afif hanya mengangguk sekali.

Tak satu pun teman yang Lova undang, termasuk Alika. Namun....

*Ting*...

Satu pesan masuk ke dalam ponsel Alika, dimana Lova tebak saat ini gadis itu sedang nonton film si kucing biru abad 21. Hmm, favorite film jika di hari minggu begini.

**Lova**

*Minta do'anya buat gue, Al*...

Dan keterangan itu melengkapi sebuah foto, dimana Lova baru saja selesai dirias oleh MUA, dalam balutan baju off white bertabur manik-manik indah.

Heuk! Uhukk--uhukk! "Anjirrrr!" umpatnya.

Susu uht yang tengah diteguknya mendadak jadi cairan gurah yang membuat Alika tersedak dan terbatuk-batuk hingga mengeluarkan itu bersama dahak-dahaknya.

Takk! Bahkan suara pan tat gelas begitu kencang bergema saat dengan refleks Alika menaruhnya segera di atas meja.

"What?! Jadi seriusan?!"

Tanpa menunggu sampai jagung berbuah, gadis itu langsung melakukan panggilannya pada Lova, baik itu secara video maupun telfon biasa. Bahkan sampai gemas Alika dibuatnya, namun Lova tak jua mengangkat panggilannya yang sudah kesekian kalinya.

Masih dengan piyama putih sepaket rambut semrawut bangun tidurnya, Alika menghentak-hentak resah, seolah ia sedang gelisah menanti kabar kekasih hati.

"Ihhh, Lova kemana?! Apa jangan-jangan? Ihhhh!" gadis itu gemas sendiri, antara sedih, merasa bersalah, penasaran, excited dan arghhh! Semuanya campur aduk persis gado-gado.

"Lovaaaa ihhh, tega!"

Mungkin saat ini Alika tengah kebingungan menunggu kabarnya, tapi Lova justru tengah harap-harap cemas menanti gilirannya melangkah, menyusuri jalanan menuju takdir hidup selanjutnya.

Nervous, mendadak mules, tangan berkeringat adalah sebagian gejala penyakit demam ijab kabul.

Di balik sarung tangan yang menerawang, di balik balutan busana pengantin yang menutup dirinya termasuk bagian kepala, Lova hanya bisa berserah pada Yang Kuasa atas suratan takdir ke depannya.

Yap! Meskipun Afif, umi dan ustadz Insan tidak memaksa, namun Lova dan keluarga cukup sadar diri untuk memakai baju pengantin tertutup ala-ala muslimah meski tidak sepenuhnya syar'i. Mengingat keluarga Afif mengundang beberapa kerabat dan sahabat serta rekan sesama dosen dan rektor ke tempat ini.

Lova berjalan diantara beberapa tamu undangan yang mungkin bisa dihitung jari. Tidak diadakan di Bandung melainkan di masjid sebuah pesantren yang selalu menjadi persinggahan abi Insan sekeluarga di daerah Bogor. Dimana di pesantren itulah abi Insan pernah mengajar, disana pula lah umi Khotizah berasal, dari keluarga alim ulama.

Sebuah masjid dengan kesederhanaannya yang indah disaksikan oleh banyak pasang mata dan diantaranya adalah anak yatim piatu undangan.

Suara Afif tak sampai di telinga Lova. Namun gema kata 'sah' dari orang-orang cukup beriringan dengan suara kucuran air yang mengalir dari kolam hulu disini.

Desiran da rah mengalir deras membuat Lova meleleh. Ia tak tau apakah akan sekuat kemarin, rasanya...kakinya saja sudah terasa lunglai untuk melangkah.

"Neng, pegang tangan umma." ujar nenek dari Afif, ibu dari umi ini senantiasa menemani Lova meski ia tak tau hal itu bisa membantunya atau tidak, sebab ia sendiri sudah hampir tergopoh berjalan.

Hufft!

Langkah pelan Lova diimbangi umma menyusuri marmer masjid. Lova hanya bisa melihat pantulan siluetnya dari marmer sebening embun itu.

'Lova'

Dia, pria dengan songkok putih, senada dengan pakaian yang dipakai, duduk diantara dua saksi bersorban bersebrangan dengan wali nikah (ayah) dan penghulu telah secara resmi mempersuntingnya sebagai pasangan hidup.

Dia, yang tak sekali pun terbersit dalam do'a dan impian menjadi nahkoda bahtera duduk mengulurkan tangannya mengisyaratkan untuk mendayung bersama.

Dia, yang selalu menunjukan keangkuhan hati dengan terbukanya mengajak mentasbihkan cinta bersama.

Lantas Lova melirik keadaan sekitar, bunda yang sesenggukan meskipun senantiasa mengukir senyum. Begitupun wajah ayah yang kini kegetirannya menyiratkan kelegaan. Disusul wajah-wajah bahagia keluarga ustadz Afif, terkecuali Afnan yang sorot matanya justru mengandung makna pupus.

Hingga langkahnya tak lagi menyisakan ruang untuk Lova berjalan lagi. Ditatapnya wajah ustadz Afif di hadapan yang juga sama-sama gugupnya. Nyatanya, seseorang seperti ustadz Afif saja bisa begitu apalagi dirinya. Jelas, baginya yang memang sudah lebih dewasa nan matang....pernikahan, bukanlah sesuatu yang main-main, taruhannya adalah dunia wal akhirat.

Beberapa wajah yang tak Lova ketahui duduk bersama umi Khoti, dimana berkali-kali wanita ini menyeka bagian bawah mata di balik niqabnya. Sepertinya itu keluarga Afif dari sang abi, yang semalam baru saja tiba dari Jawa bagian timur.

Masih hanyut dalam suasana, alis Lova dibuat mengernyit keriting saat penghulu justru mempersilahkan Afif memberikan maharnya, lantas Afnan ikut menyerahkan sebuah Al-Qur'an dengan sampul beludru indah pada kakaknya itu bersama meja dari bahan jati sebagai penopangnya.

Selain dari umi, beberapa sanak saudara memberikan mahar dan hantaran nikah pada Lova serta bunda dan keluarga Lova. Dimana rupanya Afif memberikan sejumlah uang dalam figura, dan logam mulia sebagai mahar dalam bentuk materi. Sementara hantaran-hantaran yang terkemas indah itu, adalah barang keseharian dengan brand cukup ternama.

Ia dibuat speechless untuk sejenak, meskipun menurutnya benda-benda itu sudah tak aneh. Namun rupanya, hal itu belum apa-apa ketika Afif justru membuka lembaran-lembaran kitab suci di tangannya dan mulai meraup nafas rakus.

"Dealova, mahar yang saya berikan untuk kamu. Tolong kamu dengar dengan khusyuk..." suaranya berat nan dalam dari mikrofon yang di pegangnya. Begitu jernih nan syahdu.

Dan untuk itu Lova hanya bisa dibuat menganga tanpa bisa berkata-kata lagi. Ayat itu...secara kebetulan adalah ayat-ayat yang sudah Lova pelajari bersamanya belakangan ini, jelas Lova sangat paham maknanya.

"Bismillah..."

Seketika suasana hanyut dalam buaian lantunan ayat-ayat indah nan merdu dari Afif.

Surat An-Nisa, dipilih Afif demi menyeret Lova bersama para penghuni mesjid untuk mulai menitikan air matanya yang dilanjutkan dengan beberapa petikan surat Ar-Rahman, sebagai hadiah terindah pernikahan untuk Lova.

Dan demi apa? Lova bergetar seluruh jiwa dan raganya.

"Laki-laki (suami) itu, pelindung perempuan (istri). Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga dirinya ketika (suaminya) tak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)."

Ditatapnya Lova sejenak sebelum Afif melanjutkan lantunannya. Seolah setiap kalimat-kalimat yang dilafalkan adalah do'a-do'anya untuk hubungan keduanya kelak.

.

.

.

.

1
Icka Soesan
cukup bikin geregetan
Siti
good the best lah pokoknya
Ney Maniez
enknya pacaran halal...
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
Ney Maniez
alhamdulilah,, bersyukur ya Va
Ney Maniez
ihhh soo sweett 🥰🫰
Ney Maniez
nahh gituuu va,,CPT move-on karna ad yg halal...
jujur kpn va tentang Afnan ny
Ney Maniez
KLO tau BKN buat Afif gmn,nyesekkk GK sihhh
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny
Trituwani
asikk bener kalian nonton,berasa abg lagi ya mas...tp ya tahan nafas jg klo depan belakang samping kiri kanan ad yg slonong boy gitu berasa milik berdua..... berasa pengen bilang "woee halalin dululah sebelum kecap kecup kemat kemut"jiwa meronta ya va pengen nyakar 😅
Trituwani
cupidnya baru dateng dikala kamu patah, diwaktu yg tepat bgt va
Trituwani
yahhh bunga biasa va...q kira bunga bank sekalian va 😂😂
Trituwani
cieeeeeeeeeeeeee q nganan va ihh 😄
Trituwani
lebih lebihh mantabsnya va... lebihh yahudh pula
Trituwani
jatuh cinta berjuta rasanya...
Rita
Va aduhhh bs dilepas dulu ngga kertas minyaknya pgn romantis buyar gr2 kertas nempel di mukamu😂
Rita
berasa jadul😂
Rita
😂😂😂😂😂😂😂i fell u Va
Rita
😍😍😍
Rita
terAfif Afif skrg🥰
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
wehh😂😂😂😂sklian praktek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!