Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berada Diposisi Sulit
Jeevan tahu reaksi apa yang akan Valerie berikan akan ucapannya, tapi untuk saat ini adalah cara satu-satunya terbaik untuk menutupinya, hanya untuk saat ini saja. Ternyata Jeevan merencanakan Valerie untuk berpura-pura menjadi calon istrinya yaitu Maura. Dan nanti beberapa bulan kemudian Jeevan akan memberitahukan jika hubungannya dengan Valerie sudah kandas, ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan semuanya.
"Aku serius!" balas Jeevan dengan wajah yakin membuat Valerie hanya tertawa ringan terkesan sinis.
"Kayaknya ada yang salah sama otak kamu. Kenapa bisa kamu menyuruhku melanjutkan kesalahpahaman ini? Bagaimana kalau calon istri kamu datang dan aku ada di sini?" Valerie mulai emosi karena ucapan Jeevan yang tidak masuk akal.
"Anggap saja aku meminta tolong sebagai tanda permintaan maafmu." Jeevan terus berharap agar Valerie mau menolongnya saat ini.
Jujur Valerie semakin tidak mengerti dengan apa yang sedang direncanakan oleh Jeevan. Tapi bagaimana juga Valerie tidak mau mengikuti permintaan Jeevan. Baginya sudah cukup berurusan dengan keluarganya Nathaniel yang harus segera diselesaikan secepatnya.
"Nggak! Aku nggak mau mengikuti permainan bodoh mu ini!" tolak Valerie mentah-mentah dengan tegas.
"Aku mohon! Untuk saat ini aku membutuhkanmu!" pinta Jeevan kembali meraih lengan Valeri menahan langkah kaki Valerie yang hendak menghampiri keluarganya.
"Tapi aku nggak mau!" balas Valerie kembali mengibaskan genggaman tangan Jeevan membuat lelaki tampan itu kecewa.
"Apapun yang kamu mau akan aku berikan," ucap Jeevan menawarkan imbalan untuk Valerie.
Namun Jeevan salah, semua yang Valerie mau sudah dimilikinya. Tapi hanya satu yang tidak mungkin Jeevan berikan kepadanya, yaitu adalah umur yang panjang baginya. Jeevan tidak tahu jika Valerie adalah anak orang kaya raya kedua di negri ini, dan masalah materi Valerie tidak kekurangan. Dari kekayaan orang tuanya tidak akan pernah habis, ditambah lagi penghasilannya sebagai model membuat Valerie merasa jika lelaki baginya tidak ada artinya sama sekali.
"Apa? Apa kamu bilang?" Valerie balik bertanya sambil tertawa seolah menertawakan ucapan Jeevan yang sedang membeli dirinya.
"Kamu mau beli aku?" tambah Valerie lagi menjelaskan maksud Jeevan yang hanya bisa terdiam.
Langkah kaki Valerie mulai mendekati Jeevan hanya beberapa jengkal saja jarak mereka berdua begitu sangat dekat. Kedua bola mata Jeevan hanya mengikuti langkah kaki Valerie. Dari dekat Jeevan bisa melihat dengan jelas wajah cantik Valerie yang menawan serta wangi parfum Valerie membuat Jeevan seolah terbius. Matanya seakan memendam suatu rahasia yang sedang ditutupi perempuan penyuka heels.
"Nyawamu aja nggak akan bisa membeli aku!" Valerie dengan nada sombong membuat Jeevan tertawa ringan terkesan sinis.
Ternyata Jeevan baru tahu jika ada perempuan yang sangat angkuh dan sombong seperti Valerie. Sikap manis dan ramah Jeevan berbuah menjadi dingin dan ketus kerena Valerie sudah menyinggungnya.
"Sungguh kamu terlalu angkuh," sindir Jeevan dengan nada pelan menatap tajam Valerie yang masih berdiri di hadapannya.
"Bukannya kamu yang terlalu angkuh? Ingin memberikan apapun yang aku mau? Bukankah itu yang dinamakan angkuh, merasa hanya kamu yang bisa memberikan apapun di dunia ini?" balas Valeri menyindir ucapan Jeevan membuat lelaki penyuka kopi tersinggung terdiam seribu bahasa hanya bisa menelan ludahnya.
"Sayangnya aku sudah memiliki semua yang kamu tawarkan. Bahkan kalau kamu menyerahkan nyawamu, nggak akan berguna juga bagiku," ucap Valerie sombong membuat Jeevan muak.
Kesabaran Jeevan sedang diuji, jika saja Valerie bukan seorang perempuan, sudah pasti beberapa pukulan sudah Jeevan layangkan untuknya karena Jeevan bukan tipe orang yang sabar kepada lelaki.
"Aku melakukan ini bukan buat diriku sendiri, tapi aku takut kondisi nenek kembali memburuk kalau kamu memberitahukan yang sebenarnya," ungkap Jeevan masih menahan rasa emosinya kepada Valerie.
Deg, Valerie seketika terdiam saat mendengar alasan Jeevan. Dan Valerie teringat bagaimana dirinya sudah mulai menyukai neneknya Jeevan, sungguh perempuan setengah baya sangat baik kepadanya membuat Valerie merasa sangat dihargai. Valerie merasa beruntung bisa bertemu dengan neneknya Jeevan meskipun bukan sebagai calon istri cucunya. Sikap neneknya Jeevan yang hangat membuat Valerie jatuh cinta dan enggan untuk membohonginya. Bagaimana jika neneknya kembali jatuh sakit saat tahu Valerie bukanlah calon istri Jeevan. Pasti akan membuatnya kecewa.
Sepertinya Jeevan berhasil membuat hati Valerie luluh, terlihat ekspresi wajah cantiknya mulai terlihat bimbang saat membahas tentang neneknya. Ternyata senjata ampuh bagi Valerie adalah neneknya. Memang Jeevan juga merasa jika neneknya sangat menyukai Valerie, tapi sayangnya Valerie bukanlah calon istri sah Jeevan dan neneknya bukan tipe orang yang mudah menerima perempuan yang dekat dengan cucunya. Berbeda dengan Valerie yang dengan mudah mengambil hati neneknya hingga tidak bisa dipisahkan.
"Untuk kali ini saja aku mohon. Apapun yang kamu mau akan aku kabulkan, termasuk nyawaku," pinta Jeevan mendramatisir ucapannya agar terkesan meyakinkan Valerie agar mau membantunya.
Beberapa saat Valerie terdiam masih terlihat gundah dan dilema, tapi Valerie harus ingat alasan dirinya datang ke tempat ini adalah untuk menyelesaikan misinya, bukan menambah pekerjaan baru baginya. Dengan tekad yang bulat akhirnya Valerie menolak permintaan Jeevan.
"Maaf, aku nggak bisa!" Tolak Valerie mentah-mentah dengan nada menyesal membuat Jeevan sangat kecewa.
"Aku mohon?" pinta Jeevan yang kini memutuskan untuk duduk bersimpuh di hadapan Valerie sebagai permohonannya.
Melihat apa yang dilakukan oleh Jeevan membuat Valerie kaget bukan main, mengapa Jeevan sampai melakukan hal seperti itu membuat Valerie merasa sangat bersalah. Dengan penuh harapan Jeevan mencoba membujuk Valerie bagaimanapun caranya agar mau membantunya, karena hanya ini satu-satunya cara membuat Valerie sebagai kartu AS-nya.
Nanar mata Valerie begitu lekat menatap Jeevan yang sudah duduk bersimpuh di hadapannya dengan tatapan sendu. Kali ini Valerie dibuat bingung, pendiriannya mulai goyah, perasannya berkecamuk tidak karuan. Kenapa bisa sampai seperti ini membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Di saat yang bersamaan neneknya Jeevan melihat cucu tercintanya sedang duduk bersimpuh seperti memelas di hadapan Valerie dan tentunya menjadi pertanyaan besar bagi neneknya Jeevan.
Dengan langkah kaki sedikit tertatih, neneknya Jeevan menghampiri keduanya yang terlihat sedang tidak baik-baik saja. Sepertinya ada sesuatu antara Jeevan dan calon istrinya. Belum sempat Valerie menjawab permintaan Jeevan, dirinya sadar dengan kedatangan neneknya Jeevan. Wajah Valerie sedikit terkejut karena neneknya hadir bukan di waktu yang tepat. Bukan hanya Valerie yang terlihat kaget tapi juga Jeevan, kenapa neneknya datang di saat yang tidak tepat.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya neneknya Jeevan menghampiri Valerie yang berdiri di hadapan Jeevan.
Jeevan yang masih duduk bersimpuh terlihat sedikit gugup dan ketakutan jika Valerie akan memberitahukan yang sebenarnya kepada neneknya. Secepat kilat Jeevan berdiri menghampiri neneknya bersiaga agar Vale tidak bicara yang macam-macam.
"Kamu kenapa Jeevan? Apa kalian sedang bertengkar?" tanya neneknya sambil menatap satu per satu ke arah Jeevan dan Valerie.
Ini saatnya bagi Valerie untuk bicara yang sebenarnya, mungkin akan sedikit ada masalah tapi Vale tidak ingin terlibat lebih jauh lagi. Dengan yakin Valerie memberitahu yang sebenarnya kepada neneknya tanpa mempertimbangkan ucapan Jeevan tadi.
"Maaf, Nek. Aku mau memberitahu yang sebenarnya," ucap Valerie tanpa membiarkan Jeevan menjawab pertanyaan neneknya lebih dulu.
Seketika raut wajah Jeevan kaget menatap lekat Valerie, begitu juga neneknya yang penasaran apa yang akan diucapkan oleh calon istri cucunya.
"Please jangan sekarang!" pinta Jeevan dengan nada tegas menatap Valerie membuat neneknya semakin penasaran.
Valerie membalas tatapan Jeevan, ada rasa ketakutan terlihat jelas di mata Jeevan. Tapi Valerie tidak memperdulikannya karena itu buka urusannya. Sementara itu Jeevan berharap jika Valerie tidak memberitahukan yang sebenarnya untuk saat ini.
"Ada apa dengan kalian?" tanya neneknya Jeevan menatap keduanya penasaran.
Sesaat Valerie terdiam dan menarik napas panjangnya lalu memejamkan kedua bola matanya, mengumpulkan tenaganya agar bisa memberitahukan yang sebenarnya kepada neneknya Jeevan. Jujur, Valerie sebenarnya sangat menyukai momen ini. Di mana dirinya merasa sangat dicintai sekali dalam seumur hidupnya. Merasakan sebuah kehangatan keluarga yang hilang selama ini, tapi Valerie tidak mau membohongi dirinya sendiri sebagai orang lain.
"Sebenarnya aku bukan calon istri Jeevan," jawab Valerie dengan nada pasrah membuat Jeevan dan neneknya kaget bukan main.
Deg, neneknya Jeevan terlihat sangat terkejut dengan apa yang baru saja didengar olehnya, begitu juga dengan Jeevan yang mulai kesal dan marah. Namun neneknya Jeevan mencoba untuk mengabaikan ucapan Valerie, mungkin saja neneknya Jeevan salah mendengar karena usianya sudah tidak muda lagi.
"Apa maksud kamu? Nenek nggak mengerti?" tanya neneknya Jeevan mencoba mengabaikan ucapan Valerie tadi berharap apa yang diucapkan perempuan cantik di depannya bohong.
"Maaf, Nek. Sebenarnya aku bukan calon istri Jeevan, ini semua salah paham," jelas Valerie dengan wajah serius menatap neneknya Jeevan yang mulai terlihat kecewa.
Deg, tiba-tiba saja dadanya neneknya Jeevan merasa sedikit sesak dan sakit. Rupanya dirinya tidak salah mendengar dengan apa yang diucapkan oleh Valerie tadi. Wajahnya terlihat kecewa dan pandangannya mulai sayu serta tubuhnya mulai lemas. Jeevan merasa jika neneknya sedang tidak baik-baik saja. Diraihnya tubuh perempuan setengah baya yang sudah mulai lunglai. Lama kelamaan dadanya semakin sesak kesulitan bernapas, melihat keadaan neneknya membuat Valerie dan Jeevan ketakutan apalagi neneknya Jeevan mulai tidak sadarkan dirinya dan jatuh pingsan di dalam pelukan Jeevan.
"Nenek!" Teriak Jeevan ketakutan sambil memeluk erat tubuh neneknya diikuti Valerie yang berusaha membantu Jeevan menahan tubuh perempuan setengah baya yang sudah membuatnya bahagia.
Teriakan Jeevan membuat semua yang ada di dalam sana terkejut, apalagi saat melihat neneknya jatuh pingsan tak sadarkan diri dan harus dilarikan ke rumah sakit.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪