NovelToon NovelToon
Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.

Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Penerbangan panjang dari London terasa lebih melelahkan dari biasanya bagi Cameron. Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Bahkan setelah pesawat mendarat dan mobil yang menjemputnya melaju meninggalkan bandara, bayangan tentang Giana dan Cayden masih terus memenuhi kepalanya.

Sudah terlalu banyak hal terjadi dalam waktu singkat hingga ia sendiri merasa seolah kehilangan kendali atas hidupnya.

Abraham yang duduk di kursi depan sesekali melirik melalui kaca spion. Ia bisa melihat jelas bagaimana wajah Cameron tampak jauh lebih letih dibanding sebelumnya.

“Tuan ingin langsung ke rumah utama?” tanya Abraham hati-hati.

“Tidak,” jawab Cameron cepat. “Ke tempat Giana.”

Abraham mengangguk pelan. Ia memang sudah menduga jawaban itu sejak awal. Mobil hitam itu pun berbelok meninggalkan jalan utama kota dan mulai memasuki kawasan yang lebih tenang.

Semakin dekat mereka menuju rumah persembunyian itu, semakin sulit Cameron menenangkan pikirannya sendiri. Entah mengapa, ia mendadak merasa gugup. Perasaan yang jarang sekali ia rasakan. Cameron bahkan tidak tahu bagaimana reaksi Giana saat melihatnya nanti.

Apakah wanita itu masih marah? Masih takut? Atau justru memilih menjaga jarak darinya?

Mobil akhirnya berhenti tepat di depan rumah yang selama beberapa hari terakhir menjadi tempat tinggal Giana dan Cayden. Tanpa menunggu Abraham membukakan pintu, Cameron langsung turun lebih dulu.

Langkahnya cepat dan tergesa. Sebelum ia sempat mengetuk, pintu rumah itu lebih dulu dibuka oleh wanita paruh baya yang selama ini membantu menjaga Giana.

Begitu melihat Cameron, wanita itu langsung menundukkan kepala hormat. “Selamat datang, Tuan Cameron.”

“Di mana mereka?” tanya Cameron tanpa basa-basi.

“Nona Giana ada di taman belakang bersama dengan Tuan Muda.” Pelayan itu menjawab dengan sopan.

Cameron langsung berjalan melewati ruang tengah menuju halaman belakang rumah. Dan tepat saat langkahnya mencapai pintu kaca besar yang mengarah ke taman, ia berhenti.

Pandangan matanya tertuju pada satu pemandangan yang entah mengapa membuat dadanya terasa hangat. Giana duduk di atas kursi taman sambil menggendong Cayden di pelukannya. Wanita itu tampak sedang berbicara pelan pada bayi kecil tersebut sambil sesekali tersenyum tipis.

Sinar matahari sore menerpa wajahnya dengan lembut.

Dan untuk sesaat, Cameron hanya diam memandangi mereka. Pemandangan itu terasa begitu tenang, hingga tanpa sadar, jantungnya berdebar pelan. Seolah dunia yang selama ini kacau mendadak berhenti sesaat hanya karena keberadaan dua orang itu.

Mungkin karena terlalu fokus pada Cayden, Giana tidak menyadari kehadiran Cameron. Sampai akhirnya bayi kecil itu bergerak kecil dan menoleh ke arah suara langkah kaki.

Giana ikut mengangkat kepala. Dan seketika tubuhnya membeku saat melihat keberadaan pria itu di hadapannya.

“Tu-Tuan? Anda sudah kembali!” Giana refleks berdiri dengan gugup.

Pria itu berdiri beberapa meter darinya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada kelelahan di sana juga kelegaan dan sesuatu yang membuat jantung Giana mendadak berdetak tidak karuan.

Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Keduanya hanya saling menatap dalam diam. Sampai akhirnya Cameron melangkah mendekat perlahan.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya pelan. Suaranya terdengar jauh lebih lembut dibanding biasanya. Tatapan Cameron tertuju pada Cayden, lalu Giana.

Giana menelan ludah sebelum mengangguk kecil. “Aku baik-baik saja, bahkan Cayden juga. Lihatlah dia.”

Cameron mengembuskan napas panjang, seolah baru benar-benar bisa bernapas setelah mendengar jawaban itu langsung dari mulut Giana sendiri. Tatapannya kemudian beralih pada Cayden yang berada dalam pelukan wanita itu.

Bayi kecil tersebut tampak sehat dan jauh lebih tenang dibanding terakhir kali ia melihatnya.

Tanpa sadar, sudut bibir Cameron sedikit terangkat. “Dia terlihat lebih gemuk,” katanya pelan.

Giana refleks menatap Cayden lalu tersenyum kecil. “Dia memang banyak minum susu akhir-akhir ini.”

Kalimat sederhana itu entah mengapa membuat suasana di antara mereka berubah menjadi lebih hangat. Namun kehangatan itu hanya bertahan beberapa saat sebelum Giana kembali teringat sesuatu. Tatapannya perlahan meredup.

“Anda tidak seharusnya datang ke sini,” ucapnya pelan.

Cameron mengernyit. “Kenapa?”

“Kalau Nyonya Besar tahu—”

“Ibuku sudah mengetahui semuanya.”

Ucapan Cameron membuat Giana langsung terdiam. “A-apa Nyonya Besar sudah tahu semuanya?” tanyanya seolah tidak percaya.

Cameron duduk di kursi tepat di depan Giana sebelum akhirnya menjelaskan semuanya secara perlahan. Tentang Bianca yang akhirnya mengetahui identitas Cayden, tentang penyesalan wanita itu setelah tahu bahwa bayi tersebut adalah cucunya sendiri, dan tentang bagaimana situasi di London berubah menjadi semakin rumit.

Giana mendengarkan dalam diam. Semakin banyak ia mendengar, semakin rumit semuanya terasa. Hingga ia tanpa sadar terlibat terlalu jauh dalam rahasia keluarga itu.

“Aku tidak mengerti,” gumam Giana pelan. “Kenapa semuanya harus serumit ini?”

Cameron menatapnya cukup lama sebelum menjawab, “Karena keluargaku tidak sesederhana yang terlihat.” Nada suaranya terdengar lelah.

Untuk pertama kalinya, Giana bisa melihat sisi lain dari Cameron Rutherford. Bukan sosok presdir dingin dan penuh kuasa seperti biasanya, melainkan seorang pria yang juga sedang terjebak dalam hidupnya sendiri.

Cayden tiba-tiba bergerak kecil dalam pelukan Giana dan mulai mengeluarkan suara-suara kecil. Bayi itu menatap Cameron cukup lama sebelum akhirnya tertawa kecil tanpa alasan jelas.

Reaksi polos itu membuat Giana sedikit terkejut. Sementara Cameron justru membeku sesaat. Perlahan, Cameron mengulurkan tangannya dengan ragu. “Bolehkah aku menggendongnya?”

Giana menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan. Dengan hati-hati, ia menyerahkan Cayden ke dalam pelukan Cameron.

Cameron menatap keponakannya dengan sorot mata yang jauh lebih lembut dibanding biasanya. Jemarinya menyentuh pipi Cayden perlahan, seolah takut melukainya.

Sementara Cayden justru tertawa kecil sambil menggenggam jari Cameron. Pemandangan itu membuat dada Giana terasa aneh. Hangat, namun juga menyakitkan. Karena tanpa sadar, mereka terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang utuh.

Dan pikiran itu terlalu berbahaya untuk ia biarkan tumbuh lebih jauh. Di sisi lain, Cameron yang sedang menggendong Cayden justru merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ketenangan.

***

Malam di London terasa dingin dan sunyi. Hujan tipis turun membasahi jalanan kota, memantulkan cahaya lampu-lampu malam yang berkilauan di antara gedung-gedung mewah.

Di sebuah restoran eksklusif yang tersembunyi di sudut kota, seorang wanita berjalan masuk dengan mantel panjang dan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Langkahnya cepat namun tetap anggun, seolah terbiasa menyembunyikan sesuatu tanpa menarik perhatian.

Ia memastikan sekelilingnya aman sebelum akhirnya memasuki ruang VIP yang telah dipesan sebelumnya. Begitu pintu tertutup, seorang pria yang sejak tadi duduk santai di sofa langsung tersenyum tipis.

“Akhirnya kau datang juga, Babe.”

Regina melepas kacamatanya perlahan lalu mengembuskan napas panjang. Wajah cantiknya tampak jauh lebih dingin dibanding biasanya. “Kau tahu betapa sulitnya keluar dari rumah keluarga Rutherford sekarang,” gumamnya sambil duduk di hadapan pria itu.

Pria tersebut tertawa kecil. Penampilannya rapi dan mahal, tetapi sorot matanya menyiratkan sesuatu yang licik. Seorang pengusaha muda yang cukup terkenal di London, sekaligus pria yang diam-diam menjalin hubungan dengan Regina selama bertahun-tahun.

Damien menuangkan minuman ke dalam gelas Regina sebelum berkata santai, “Tapi kau tetap datang menemuiku.”

Regina menerima gelas itu tanpa banyak bicara. Ia menyesap minumannya perlahan, lalu memijat pelipisnya yang terasa berat. “Aku lelah sekali,” katanya pelan.

Damien mengangkat sebelah alis. “Lelah karena persiapan pertunanganmu?”

Regina tersenyum miring. “Kalau hanya pertunangan, aku tidak akan semarah ini.”

Pria itu menatap Regina penuh minat. “Jadi benar? Cameron mulai berubah?”

Regina tidak langsung menjawab. Namun rahangnya yang mengeras sudah cukup menjadi jawaban.

Damien terkekeh kecil. “Menarik sekali. Regina yang tidak pernah ditolak satu pria pun kini harus menghadapi penolakan Cameron Rutherford.”

“Aku tidak sedang bercanda,” balas Regina tajam. “Dia mulai menjauhiku sejak wanita itu muncul.”

“Wanita pelayan itu?”

Regina langsung menatap Damien dingin. “Dia bukan sekadar pelayan.” Nada suaranya dipenuhi rasa tidak suka yang begitu jelas.

“Cameron mencarinya seperti orang gila selama berminggu-minggu,” lanjut Regina. “Dia bahkan mengabaikan pertunangan kami demi wanita itu dan bayinya.”

Damien bersandar santai di kursinya sambil memainkan gelas di tangan. “Jadi, apa kau mulai takut kehilangan posisimu? Dia hanya pelayan, kenapa kau begitu cemas?”

Regina menatapnya tajam. “Aku tidak akan kalah dari wanita seperti dia.”

“Aku tahu,” jawab Damien tenang. “Karena itu kau datang menemuiku.”

Regina memejamkan mata beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku butuh bantuanmu, Damien.”

Damien tersenyum kecil, seolah sudah menunggu kalimat itu sejak awal. “Bantuan seperti apa tepatnya?”

“Aku ingin wanita itu keluar dari hidup Cameron,” ujar Regina dingin tanpa keraguan sedikit pun.

Damien menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya tertawa pelan. “Kau benar-benar serius.”

Regina tidak ikut tertawa. “Aku sudah terlalu lama berada di sisi Cameron untuk menyerah sekarang,” katanya tegas. “Aku tidak peduli siapa wanita itu atau bayi itu. Yang jelas, aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan semua yang sudah aku bangun.”

Tatapan Damien berubah lebih tajam. Ia mengenal Regina cukup lama untuk tahu bahwa wanita itu tidak pernah main-main ketika menginginkan sesuatu. Dan itu yang membuatnya tertarik pada Regina sejak awal. Ambisi. Keangkuhan. Dan keberanian untuk melakukan apa pun demi mendapatkan apa yang diinginkan.

Damien kemudian bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Regina perlahan. “Kau tahu aku tidak pernah bisa menolakmu,” katanya pelan.

Regina mendongak. Pria itu membungkuk sedikit, jemarinya menyentuh dagu Regina pelan. “Apalagi saat kau mulai terlihat putus asa seperti ini.”

Regina menepis tangan Damien pelan, meskipun tidak benar-benar marah. “Aku serius, Damien.”

“Aku juga serius padamu, Sayang,” jawab Damien santai. “Tapi aku ingin sesuatu sebagai imbalannya.”

Regina mengernyit. “Apa?”

Damien tersenyum tipis. “Kalau suatu hari pertunanganmu gagal, kau kembalilah kepadaku. Aku akan pastikan, akan membuatmu bahagia.”

Regina langsung terdiam. Tatapannya berubah rumit selama beberapa detik. Karena jauh di dalam dirinya, ia tahu satu hal, jika Cameron benar-benar memilih wanita lain, maka semua yang selama ini ia perjuangkan bisa runtuh begitu saja dan Regina sangat membenci kemungkinan itu.

“Aku tidak akan gagal,” ucap Regina akhirnya dengan nada tegas. “Tepatnya, aku tidak boleh gagal untuk menikahi Cameron.

Damien tertawa kecil. “Kau benar-benar penuh ambisi, Sayang. Itu sebabnya aku selalu menyukaimu.”

Damien kembali duduk ke kursinya dengan santai setelah berhasil mengecup pipi Regina.

Sementara itu, Regina justru menatap keluar jendela dengan pikiran yang semakin kacau. Ia mencintai Cameron. Lebih tepatnya, ia mencintai posisi di sisi Cameron. Ia mendambakan kehidupan mewah dan nama besar keluarga Rutherford serta status yang selama ini membuat semua orang iri padanya. Regina tidak pernah membayangkan ada seseorang yang bisa mengancam semua itu.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Regina mulai merasa takut kehilangan. “Tidak, aku harus menyingkirkan wanita itu sebelum dia menghancurkan semua rencanaku,” bisiknya lalu menoleh pada Damien yang tengah menenggak wine-nya.

Tanpa aba-aba, Regina langsung duduk di pangkuan Damien, membuat pria itu terkesiap. Lalu, bibirnya mencecap rasa pria itu dengan rakus.

“Wow, pelan-pelan saja, Sayang. Kau sepertinya sangat terburu-buru,” bisik Damien lembut tepat di telinga perempuan itu.

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Berarti kamu aman Giana 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
modus 🤭
awesome moment
menghilang bersama. keknya lbh keren. bikin smua blingsatan. tp...ttp mengendalikan sumber uang. regina pasti menggila. bianca antara cemas, lega dan kangen. ayah cameron tiba2 dpt boom dri bianca. bhw cameron melindungi anak cassie. ato...munculkan asal usul giana. yg...sdh pasti tdk bisa diabaikan. kn keren tu.
HK: Kak, thank u km sudah memberiku ide 🥺👏👏👏
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga kamu ketahuan selingkuh Regina 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mungkin dikira Cameron itu ayahnya 🤭
awesome moment
😄😄😄buka kaki lebar2 y, Regina. service hra paripurna utk hasil yg memuaskan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Wah hatimu sudah berpaling 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bersabarlah Giana 🤭
awesome moment
kapan cameron akan memilih cay dan giana. regina makin arogan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dasar ulat bulu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu merindukan mereka 🤭
awesome moment
yg ptg Giana dan Cay, aman dlu. buat bianca tersiksa rasa bersalah. tp...jgn smp bocor ke regina
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ibu harus minta maaf pada Giana 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sekarang cari lg Cayden 🤭
awesome moment
akhirnya...cay dan giana aman.
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ayo pulang Cameron 🤭
elief
cameron harus nya lebih tegas, batalin aja pertunangannya thor. jadi gemes ih
awesome moment
nha kn bener. kasihan cay. ditolak ibunya. pamannya jg g bisa melindungi. biarkan giana dan cay menghilang lg j. g ush ketemu cameron. buat p? g guna. klo toch ketemu jg g bakalan bisa melindungi. cameron akan ttp tunduk ke keingan kelg. menghilamg lagi lah. giana dan cay. hidup berdua dgn nyaman meski g berlimpah. jgn smp jd korban plin plannya cameron. pergi yg jauh. klo perlu...g ush kembali.
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Wah sembarangan nih 😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!