Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.
Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.
Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.
Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Hasan tidak tahu apakah semua itu ada hubungannya dengan kondisi ayahnya. Tapi di dalam hatinya, ia yakin. Ada benang merah yang menghubungkan semuanya. Dan benang merah itu mengarah pada satu nama.
Rafiq Al Farisi.
Pintu ruangan terbuka. Seorang pria tua masuk dengan langkah pelan, diantar oleh perawat jaga. Pria itu usianya sudah sangat tua—mungkin sekitar delapan puluh tahun atau lebih.
Tubuhnya masih tegap, tidak bungkuk seperti kebanyakan orang seusianya. Wajahnya dipenuhi kerutan, tapi matanya—matanya masih tajam, jernih, seperti mata elang yang bisa melihat jauh ke depan.
Jenggotnya putih panjang, menjuntai hingga dada. Ia mengenakan kemeja putih longgar yang terbuat dari kain katun tipis, sarung coklat bermotif kotak-kotak yang dililitkan hingga di atas mata kaki, dan sorban putih yang melilit kepalanya dengan rapi.
Di tangan kanannya, ia memegang tongkat kayu hitam yang sudah halus karena usia—tongkat yang sama yang ia gunakan sejak masih menjadi pengasuh di pesantren.
Di belakangnya, seorang pemuda membawakan tas kecil, mungkin berisi perlengkapan pribadi pria tua itu.
"Hasan... itu..." Bu Fatimah bangkit dari kursinya, matanya membelalak.
Kyai Mansur. Guru Ustad Salim saat menuntut ilmu di pesantren dulu. Sosok yang dikenal memiliki ilmu kebatinan yang dalam. Sosok yang tidak pernah mau muncul di depan umum kecuali ada hal yang sangat penting. Sosok yang bahkan para kyai lain segan padanya.
"Kyai Mansur..." Hasan membungkuk hormat. Adiknya, Karina, ikut membungkuk, air matanya masih mengalir.
Kyai Mansur mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka tidak perlu terlalu formal. Matanya tertuju pada ranjang, pada tubuh Ustad Salim yang terbaring tak sadar. Ia berjalan mendekat dengan langkah pelan, tongkatnya sesekali menyentuh lantai keramik dengan bunyi klik pelan.
Ia berdiri di samping ranjang. Matanya yang tajam mengamati wajah Ustad Salim—pucat kebiruan, bibir kering, kelopak mata yang tertutup rapat. Ia mengamati posisi tubuhnya, cara dadanya naik turun, cara jari-jari tangannya sedikit melengkung di atas seprai.
Ia menghela napas panjang.
"Anak muridku," gumamnya. Suaranya berat, dalam, seperti suara orang yang terbiasa membaca kitab-kitab kuno di malam hari.
"Kau terlalu berani. Atau mungkin terlalu naif."
Ia meletakkan tongkatnya di dinding dekat ranjang. Kemudian, dengan gerakan pelan, ia mengulurkan tangan kanannya. Telapak tangannya yang keriput diletakkan di dada Ustad Salim, tepat di atas jantung. Ia menutup matanya.
Ruangan menjadi sunyi. Hasan, Karina, dan Bu Fatimah tidak berani bersuara. Perawat yang mengantar Kyai Mansur tadi sudah keluar, menutup pintu di belakangnya. Hanya suara ventilator dan monitor detak jantung yang terdengar.
Kyai Mansur berdiri diam. Tangannya tidak bergerak. Matanya terpejam. Satu menit. Dua menit. Lima menit.
Bu Fatimah mulai gelisah. Ia menatap putranya, bertanya tanpa suara. Hasan menggeleng pelan, memberi isyarat untuk bersabar.
Sepuluh menit berlalu.
Kyai Mansur membuka matanya.
Wajahnya berubah. Tidak lagi tenang seperti saat pertama masuk. Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang tidak pernah dilihat Hasan sebelumnya. Ketakutan? Tidak. Bukan ketakutan biasa. Lebih seperti... kengerian.
Kengerian yang dalam. Kengerian yang
muncul ketika seseorang menyadari bahwa sesuatu yang ia hadapi jauh di luar kemampuannya.
Kyai Mansur menarik tangannya dari dada Ustad Salim. Tangannya gemetar—sedikit, hampir tidak terlihat, tapi Hasan melihatnya.
"Kyai?" Hasan melangkah maju. "Ayah saya bagaimana? Apakah Kyai tahu apa yang terjadi?"
Kyai Mansur tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping ranjang, menatap wajah Ustad Salim yang pucat kebiruan. Bibirnya bergerak-gerak pelan, seperti sedang membaca sesuatu dalam hati.
"Ini bukan gangguan jin biasa," katanya akhirnya. Suaranya lebih pelan dari sebelumnya, nyaris berbisik.
Bu Fatimah meraih tangan suaminya lebih erat. "Lalu apa, Kyai? Apa yang menimpa suami saya?"
Kyai Mansur menoleh ke arah Bu Fatimah. Matanya yang tajam itu kini terlihat lebih redup, seperti ada beban berat yang tiba-tiba ia pikul.
"Anak muridku ini tidak kena sihir. Tidak kena gangguan jin. Tidak kena teluh atau pelet atau apapun yang biasa kita hadapi."
Ia berhenti. Menarik napas panjang. Menghembuskannya perlahan.
"Dia kena balasan. Ilmu yang melawan balik."
Hasan mengernyit. "Maksud Kyai? Apa yang melawan balik?"
Kyai Mansur berjalan ke jendela ruangan. Di luar, langit sore mulai berwarna jingga. Beberapa burung terbang di kejauhan, pulang ke sarangnya. Ia menatap langit itu dengan pandangan yang kosong, seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
"Dulu, ketika saya mengajar Salim di pesantren, saya pernah bercerita tentang ilmu-ilmu kuno. Ilmu yang tidak diajarkan di pesantren biasa. Ilmu yang berhubungan dengan... kegelapan. Salim selalu penasaran."
"Selalu ingin tahu lebih dalam. Tapi saya peringatkan dia. Saya katakan, 'Nak, ada batas yang tidak boleh kau lewati. Ada pintu yang tidak boleh kau buka. Karena di balik pintu itu, ada sesuatu yang tidak bisa kau kendalikan.'"
Ia menoleh ke arah Hasan.
"Tampaknya dia lupa dengan peringatan itu. Atau mungkin dia tidak pernah benar-benar mengerti apa yang saya maksud. Sampai malam itu. Sampai dia mencoba meruqyah sesuatu yang seharusnya tidak disentuh oleh ruqyah biasa."
Bu Fatimah menangis pelan. "Apa yang Ayah saya coba ruqyah, Kyai? Siapa?"
Kyai Mansur kembali ke ranjang. Ia menatap Ustad Salim yang terbaring tak sadar, menatap wajah pucat kebiruan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera bangun.
"Rafiq Al Farisi," katanya pelan. "Atau tepatnya, apa yang ada di dalam diri Rafiq Al Farisi. Ada sesuatu yang bersemayam di dalam diri pemuda itu. Sesuatu yang sangat tua. Sangat gelap. Dan sesuatu itu... sesuatu itu sudah menunggu lama."
Ia menghela napas panjang. Tangannya yang gemetar meraih tongkat kayu hitam di dinding.
"Aku harus pergi ke desa itu. Aku harus melihat sendiri. Sebelum semuanya terlambat."
Hasan melangkah maju. "Kyai, saya ikut."
Kyai Mansur menatap pemuda itu lama. "Kau tahu risikonya, Nak?"
"Saya tahu. Tapi itu ayah saya. Saya tidak bisa diam."
Kyai Mansur mengangguk pelan. "Baik. Besok pagi kita berangkat. Siapkan dirimu. Dan bawa Al-Qur'an warisan ayahmu. Yang dulu ia baca setiap malam. Kita akan membutuhkannya."
Ia berjalan menuju pintu. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh ke arah Ustad Salim yang terbaring tak sadar.
"Sabarlah, anakku. Gurumu akan berusaha. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Yang kau hadapi malam itu... bukan musuh biasa. Dan aku khawatir, mungkin ini sudah terlambat."
Pintu tertutup. Suara tongkat kayu di lantai keramik semakin menjauh. Bu Fatimah menunduk di samping ranjang suaminya, tangisnya pecah.
Hasan berdiri di dekat jendela, menatap langit sore yang mulai gelap. Di pikirannya, satu nama berputar terus.
Rafiq Al Farisi, Siapa yang telah kau panggil, Pak Rafiq? Dan apa yang telah kau bawa ke dunia ini? jadi apa kau sekarang?