NovelToon NovelToon
ZHARA MEMUTAR DIMENSI WAKTU

ZHARA MEMUTAR DIMENSI WAKTU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Balas Dendam
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.

Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.

Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara ditemukan meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.

Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.

Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.

Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiara si kompor meleduk

...Mendengar ucapan dokter, Tiara dan Bibi Widya saling pandang. Raut wajah mereka berdua terlihat sama sama bingung, dengan apa yang mereka dengarkan. Sedangkan Alvaro masih duduk kaku, rahangnya menegang saat mendengar, bahwa Zhara kini dengan mudah sudah memiliki pacar....

...Daniel memandang bibi widya dengan ragu....

...“Bibi... Bolehkah saya menyuapi Zhara bubur?” tanya Daniel penuh harap....

...“Ahh... Tentu saja Daniel, kebetulan Zhara belum boleh banyak bergerak maupun banyak berbicara,”...

...Bibi menatap Alvaro sekilas. “Bibi... Sangat senang kalau kamu mau menyuapi Zhara...” ucap bibi Widya tersenyum ramah....

...“... Bii... Aku bisa sendiri...” ujar Zhara malu....

...“Aduh Zhara... Kapan lagi dapat kesempatan emas, disuapin pacar dengan suasana romantis,” jawab Tiara setengah menggoda....

...Mendengar itu Daniel terlihat tersenyum canggung, dengan hati hati, Daniel membantu Zhara berbaring, sambil meninggikan sandarannya agar Zhara bisa makan dengan lebih nyaman. Zhara memandang bibi Widya, pikiranya berisik tentang dokter menganggap ia pacar Kak Daniel, dan sekarang bibi senang ia di suapin Kak Daniel. Ada banyak pertanyaan pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya....

...Dengan perlahan Daniel menyuapi Zhara bubur, gerakan tanganya hati hati, dan tatapannya pada Zhara penuh perhatian. Tangannya masih terulur dengan sendok bubur di ujung jari, menunggu di depan bibir Zhara. Sementara Zhara terpaku diam menatap wajah Daniel, jantungnya berdebar sangat kencang, dan rasa canggung di tengah situasi yang membuatnya tak bereaksi....

...“Zhara buka mulutnya... aaa...” suara Daniel terdengar lembut, menatap Zhara....

...“Tolong jangan menatap saya seperti itu, nanti saya tidak bisa tidur,” ucap Daniel wajahnya memerah, lalu berdeham pelan....

...Menyadari itu. Zhara tersipu malu, pipinya merah merona. Sementara Daniel menahan dirinya agar tetap terlihat tenang, diantara jantungnya yang berdegup kencang. Zhara membuka bibirnya perlahan, lalu dengan lembut menyuap bubur dari sendok ditangan Daniel....

...“Pintarnya... Makan dengan perlahan...” puji Daniel penuh perhatian....

...Di sisi lain, Tiara dan Bibi Widya saling bertukar pandang lagi, menahan senyum. Seolah tak tahan menyaksikan kecanggungan di antara keduanya. Bibi Widya melirik ke arah Alvaro, ia melihat wajah Alvaro masih kaku, matanya terpaku pada Zhara, terlalu lama, terlalu dalam....

...“Alvaro... Bagaimana proses pernikahan kalian? ” tanya bibi, sengaja mengalihkan perhatian Alvaro....

...“Masih tahap perencanaan bii...” jawab Alvaro menundukkan wajah....

...“Selamat yah Alvaro... Yang sebentar lagi mau jadi ayah...” sambung Tiara dengan senyum dibuat buat....

...Alvaro terdiam. Untuk sesaat, ia hanya menatap kosong. Lalu rahangnya kembali mengeras, dan tangannya perlahan mengepal di atas lutut....

...“Bibi dengar dengar, wanita yang sedang hamil muda itu ngidam, sampai mual mual,” ucap Bibi Widya perlahan,...

...“pasti calon istrimu membutuhkan banyak perhatian,” ujar bibi meyakinkan....

...“Iya…” jawabnya singkat, nyaris datar, ia kembali melirik Zhara,...

...“Apa bisa merubah mood, juga bii?... Soalnya minggu lalu Viona marah marah sama Zhara?... ” ucap Tiara dengan nada mencibir....

...“Ada kejadian seperti itu?” Tanya bibi pada Tiara....

...“Ada... Viona datang ketempat kerja, lalu menuduh Zhara sudah menggoda calon suaminya, padahal Zhara sudah lama menjauh,” tutur Tiara, mengangkat bahunya santai....

...“Itu sangat keterlaluan,” Guman bibi pelan, wajahnya terlihat serius....

...“Alvaro... Bisa ikut bibi keluar sebentar?” ucap bibi menatap Alvaro dengan tegas,...

...“Ada yang ingin bibi bicarakan,” sambung Bibi Widya berbalik melangkah keluar lebih dulu, membuka pintu dengan lembut....

...“Baik bii...” jawab Alvaro bangkit perlahan, sejenak ia diam mematung, tatapannya kearah Zhara....

...Zhara menegang. Jemarinya mencengkeram selimut tipis, sementara matanya tanpa sengaja bertemu dengan tatapan Alvaro....

...Daniel menatap Zhara. Sendok di tangannya kembali diabaikan menggantung di udara. Menyadari perubahan itu, ia merubah posisinya sedikit bergeser, seolah sengaja menghalangi pandangan di antara tatapan Alvaro dan Zhara. Daniel kembali menyendok bubur, sengaja menimbulkan bunyi sendok yang nyaring seolah ingin mengalihkan perhatian Zhara....

...“Zhara... satu sendok lagi,” ucapnya bergetar berusaha tenang....

...Zhara melihat Daniel lalu mengangguk kecil, membuka mulut dengan patuh. Tangannya masih menggenggam selimut di pangkuannya, menahan perasaan yang mulai bergejolak. Menyadari Alvaro yang masih berdiri mematung, Daniel berbalik arah melihat Alvaro. Tatapannya tajam, menusuk tanpa perlu banyak kata. ia hanya diam, keheningan itu terasa lebih menekan daripada amarah....

...“Tiara... Bisa tolong keluar juga! Pacar saya butuh ruangan yang tenang,” Suara Daniel terdengar datar....

...Tiara berdecak malas, “Ck... padahal udah terpukau, melihat dua insan sedang bermesraan,” guman tiara sedih....

...“Alvaro cepat!... Sudah ditunggu sama bibi... Keluar!,” ucap Tiara, melampiaskan kekesalannya pada Alvaro....

...Tiara menyeret Alvaro keluar ruangan, lalu menutup pintu, kini hanya menyisakan mereka berdua....

...“Zhara... Kalau kamu butuh bantuan dari saya, katakan saja,” ucap Daniel menggenggam tangan Zhara,...

...“Saya siap kapan pun itu,” tatapan Daniel serius....

...“Bantuan dan pertolongan dari kakak, sudah sangat cukup,” ucap Zhara pelan...

...“Aku tidak ingin merepotkan kakak lagi,” ia menghela nafas pelan....

...“Saya tidak keberatan, jika kamu membutuhkan bantuan saya...” ucap Daniel, suaranya rendah terkontrol....

...Daniel menaruh mangkuk bubur di meja, ia mendekatkan wajahnya, membuat jarak di antara mereka nyaris tak ada....

...“Dimanfaatkan juga boleh,”...

...Zhara diam membeku....

...Matanya melebar, napasnya tertahan. Ia binggung untuk menjawab, mencoba mencerna maksud di balik kata kata Kak Daniel....

...“Maksud kakak?” tanya Zhara ragu....

...“Saya bisa berpura pura menjadi pacar kamu,” ujar Daniel santai, mengangkat alis sedikit, menatap reaksi Zhara....

...“Kak...” Zhara terdiam, tidak menyangka mendengar...

...“Dengan memanfaatkan saya , orang orang setres itu tidak akan menggangu kamu lagi,” ucap Daniel menyandarkan tubuhnya sedikit, sikapnya tampak santai...

...“Tapi itu...”...

...“Tidak akan ada yang cemburu, berhubung saya masih lajang dan belum beristri,” potong Daniel memiringkan wajahnya....

...Nada suaranya terdengar santai, sekilas seperti bercanda. Tapi sorot mata Daniel tidak....

...Mendengar itu Zhara memalingkan wajahnya, tangannya menekan dadanya. Jantungnya kembali berdegup kencang, ada perasaan aneh yang mengalir dalam dirinya. Ia menggigit bibir pelan, berusaha menenangkan diri. “Aneh... Aku tidak pernah merasa seperti ini, sebenarnya ini perasaan apa?... Mengapa terasa panas, hangat, dan juga tidak bisa dijelaskan,” gumamnya dalam hati....

...Daniel memperhatikannya tanpa berkata apa apa, tatapannya yang sebelumnya penuh tekanan seketika berubah kawatir....

...“Zhara!”...

...Daniel bangkit mendekat, tanganya memegang kedua pundak Zhara. “Apa ada yang sakit?” ucapnya kawatir....

...Zhara tersentak kaget. Sentuhan itu membuatnya kembali merasa canggung, pipinya memerah. Ia refleks menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa panas. Jantungnya kembali berdegup lebih kencang dari sebelumnya....

...“Zhara... Tunggu disini, Saya akan panggilkan dokter,” ucap Daniel panik, ia segera berdiri....

...Zhara reflek memegang tangan Daniel, berniat mencegah Daniel melangkah keluar, sentuhan itu membuat langkah Daniel berhenti seketika. Daniel menoleh perlahan, menatap tangan kecil yang menggenggam pergelangannya, lalu beralih ke wajah Zhara. Ia sendiri tampak terkejut dengan tindakannya, dengan cepat ia melepas tangan Kak Daniel....

...“Tidak... sakit...” suara Zhara terbata bata, la memalingkan wajahnya....

...“Maaf... Saya terbawa suasana dengan kejadian kemarin,” ucap Daniel lemas....

...Ia duduk menundukkan badannya, matanya terpejam, tangannya bertumpu di paha sambil memijat keningnya. Bahunya naik turun perlahan, napasnya terdengar lebih berat dari sebelumnya....

...Zhara memperhatikan Daniel, ia tidak menyangka dengan menolongnya membuat Danie trauma, lalu tanpa sadar tubuhnya sedikit bergerak mendekat....

...“Kak... Maaf” bisiknya hati-hati....

...Daniel mendongakkan wajahnya, menatap Zhara dengan wajah lelah....

...“Untuk?” tanya Daniel tidak mengerti....

...“Untuk rasa trauma yang sudahku berikan” ucap Zhara pelan....

...Daniel menatap Zhara dengan sangat dalam, matanya berka kaca, seperti ada beban yang tak pernah ia perlihatkan....

...“Bolehkah... saya memeluk kamu?” Tanya Daniel pelan, takut membuat Zhara tidak nyaman....

...“Mendekat lah...” Zhara tersenyum merentangkan tangannya lebar lebar....

...Daniel mendekat, memeluk Zhara sangat erat, pelukan yang melepas perasaan yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Zhara tersentak, napasnya tertahan. Pelukan tubuh itu terlalu berat, tubuh kecilnya terhuyung membuat mereka berdua terjatuh keranjang....

...“Ehem!...” terdengar suara berdeham dari arah pintu....

1
Rahayu
Semangat Thor, ceritanya mulai seru.
Luh Belong: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!