Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: DIPLOMASI DI ATAS BARA
Udara di Jenewa, Swiss, terasa setajam mata pisau yang baru diasah. Di luar gedung markas besar WHO, salju tipis mulai menyelimuti pelataran marmer, menciptakan pemandangan yang tenang namun menipu. Di dalam, suasana justru mendidih. Arumi Salsabila Arkananta berdiri di depan cermin besar di ruang tunggu VIP, merapikan blazer batik sutra berwarna zamrud yang dipadukan dengan kemeja putih kaku.
Ini bukan sekadar kunjungan medis. Ini adalah Konferensi Global Transparansi Farmasi, di mana Arumi dijadwalkan menjadi pembicara utama untuk menyerahkan seluruh formula inti peninggalan riset ibunya kepada konsorsium kesehatan dunia secara gratis.
"Kau tampak gelisah," suara Arlan terdengar berat namun menenangkan. Ia berdiri di belakang Arumi, tangannya melingkar di pinggang istrinya, menatap pantulan mereka di cermin. Arlan mengenakan setelan jas abu-abu gelap buatan penjahit terbaik Savile Row, memancarkan aura kekuasaan yang kini ia gunakan untuk diplomasi, bukan lagi agresi.
"Aku hanya berpikir tentang ribuan orang yang mempertaruhkan nyawa agar data ini sampai ke tangan yang benar, Arlan," bisik Arumi, menyentuh liontin perak di lehernya. "Jika aku gagal meyakinkan mereka hari ini, sindikat-sindikat baru akan muncul untuk membelinya kembali secara gelap."
Arlan memutar tubuh Arumi agar menghadapnya. "Kau tidak akan gagal. Kau adalah wajah dari perubahan yang mereka takutkan. Dan ingat, aku tidak membiarkanmu berjalan sendirian di sana."
Di lantai bawah, di dalam mobil komando yang menyamar sebagai truk logistik katering, Raka dan Dante duduk di depan monitor yang menampilkan puluhan sudut kamera CCTV gedung.
"Dante, sektor tujuh terdeteksi gerakan tidak wajar," ucap Raka melalui earpiece. "Dua pria masuk melalui jalur ventilasi dapur. Mereka tidak membawa kartu akses staf."
Dante, yang bahunya masih sedikit kaku namun gerakannya tetap efisien, memeriksa senapan laras pendeknya. "Mereka mencoba menyabotase sistem pendingin udara. Mereka ingin menyebarkan gas syaraf ringan untuk membubarkan konferensi sebelum Arumi naik ke podium. Aku akan menyergap mereka di koridor servis."
"Hati-hati, Dante. Intelijen menyebutkan mereka adalah sisa-sisa tentara bayaran Bio-Crest yang dendam atas eksekusi aset mereka di Bogor," Raka memperingatkan.
Dante hanya mendengus. "Dendam adalah bahan bakar yang buruk untuk bertarung. Aku akan memastikan mereka tidak pernah sampai ke sistem ventilasi."
Dante bergerak layaknya hantu di lorong-lorong sempit gedung tua itu. Ketika ia bertemu dengan dua penyusup tersebut, pertarungan terjadi tanpa suara. Dante menggunakan teknik kuncian sendi dan titik syaraf, melumpuhkan keduanya dalam hitungan detik sebelum mereka sempat menarik pelatuk gas. Ia menyeret tubuh mereka ke dalam ruang sampah dan mengunci pintunya.
"Sektor tujuh bersih. Lanjutkan pengawasan," lapor Dante dingin.
Pukul 14.00 waktu setempat. Arumi melangkah ke podium aula utama. Ribuan delegasi, menteri kesehatan dari berbagai negara, dan bos-bos farmasi raksasa menatapnya dengan berbagai emosi: kagum, skeptis, hingga kebencian yang murni.
Arlan duduk di barisan depan, matanya tidak pernah lepas dari istrinya.
"Nama saya Arumi Salsabila Arkananta," Arumi memulai, suaranya jernih dan bergetar dengan emosi yang tertahan. "Sepuluh tahun lalu, keluarga saya dihancurkan oleh keserakahan yang dibungkus dengan nama inovasi medis. Ibu saya dijadikan martir, dan suami saya dijadikan alat. Namun hari ini, saya berdiri di sini bukan sebagai korban. Saya berdiri di sini sebagai perwakilan dari setiap pasien yang harus memilih antara membeli obat atau membeli makanan."
Arumi mengangkat sebuah drive memori berwarna emas. "Di dalam ini terdapat hasil riset sepuluh tahun yang membuktikan bahwa antibodi manusia bisa direplikasi tanpa harus mematenkan nyawa. Kami, melalui Yayasan Salsabila, menyerahkan seluruh hak intelektual ini kepada dunia. Tidak ada royalti. Tidak ada monopoli. Karena kesehatan adalah hak dasar manusia, bukan komoditas bursa saham."
Ruangan itu hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya ledakan tepuk tangan membahana. Namun, di barisan belakang, seorang pria dengan kacamata hitam berdiri dan berteriak.
"Itu adalah data curian! Nyonya Arkananta melakukan riset ilegal pada manusia!"
Arlan segera berdiri, menatap pria itu dengan pandangan yang sanggup membekukan darah. "Tuan-tuan yang terhormat, tuduhan itu sudah dibuktikan salah di pengadilan Den Haag bulan lalu. Jika ada yang masih ingin mempertanyakan legalitas data ini, silakan bicara dengan pengacara internasional saya setelah ini. Tapi hari ini, sejarah sedang ditulis, dan Anda berada di sisi yang salah jika mencoba menghentikannya."
Pria itu segera diamankan oleh keamanan PBB, sementara Arumi melanjutkan penandatanganan dokumen penyerahan data tersebut.
Acara selesai, namun bahaya belum usai. Saat iring-iringan mobil Arlan menuju hotel di tepi danau Jenewa, sebuah truk besar tiba-tiba memotong jalur mereka di jembatan Mont Blanc.
"Tuan! Kita diserang!" teriak sopir Arlan.
Tembakan meruntuhkan kaca depan mobil pengawal di belakang mereka. Arlan segera menarik Arumi ke bawah kursi belakang yang dilapisi baja.
"Dante! Posisi?!" teriak Arlan melalui radio.
"Aku di belakangmu! Raka, aktifkan pengacak sinyal frekuensi radio mereka! Mereka menggunakan drone peledak!" suara Dante terdengar di tengah deru mesin.
Dante yang mengendarai motor besar melompat ke trotoar jembatan, melepaskan tembakan presisi ke arah ban truk yang menghalangi jalan. Sementara itu, sebuah drone kecil menukik ke arah mobil Arlan. Dengan refleks luar biasa, Dante melemparkan alat pengganggu elektronik (jammer) portabel, membuat drone itu meledak di udara sebelum menyentuh target.
Arlan meraih pistol di bawah kursinya, namun ia tetap melindungi tubuh Arumi. "Tetap di bawah, Arumi! Jangan bergerak!"
"Arlan, Leon... bagaimana jika mereka mengejar Leon di hotel?" tanya Arumi dengan wajah pucat.
"Leon aman bersama Sarah di bunker kedutaan. Fokuslah padaku sekarang," Arlan membalas tembakan dari jendela mobil yang sedikit terbuka, melumpuhkan salah satu penyerang yang mencoba mendekat.
Pertempuran di jembatan itu berlangsung selama lima menit yang terasa seperti selamanya. Keamanan Swiss dan kepolisian internasional segera tiba untuk menangkap para penyerang yang tersisa.
Kembali ke hotel, suasana tampak tenang namun penuh trauma. Arumi terduduk di tepi tempat tidur, tangannya masih gemetar. Arlan masuk membawa segelas air dan duduk di sampingnya.
"Kau berani sekali tadi di podium," ucap Arlan, membelai wajah istrinya. "Aku tidak pernah merasa sebangga ini padamu."
"Aku hanya ingin dunia menjadi tempat yang lebih aman untuk Leon, Arlan. Tapi sepertinya setiap langkah ke depan selalu diiringi dengan pertumpahan darah."
Arlan menarik Arumi ke dalam pelukannya. "Itulah harga dari perubahan besar, Sayang. Tapi lihatlah sisi baiknya. Besok pagi, seluruh lab di dunia akan mulai memproduksi obat murah berdasarkan data darimu. Jutaan nyawa akan terselamatkan. Itu adalah kemenangan yang tidak bisa mereka rampas darimu."
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk pelan. Dante masuk dengan lengan yang kembali diperban, namun ia tampak lebih santai.
"Dua penyerang mengaku mereka disewa oleh konsorsium farmasi di Eropa Timur. Mereka sudah dalam perjalanan ke penjara rahasia," lapor Dante. Ia melirik Arumi. "Pidatomu bagus, Dokter. Bahkan aku hampir menangis."
Arumi tertawa kecil di tengah sisa ketakutannya. "Terima kasih, Dante. Terima kasih sudah menjagaku lagi."
Dante hanya mengangguk kecil dan keluar, kembali ke posisinya untuk menjaga pintu kamar saudaranya sepanjang malam.