Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
...Suasana di meja makan terasa sangat kaku, meskipun aroma nasi kuning buatan Stella memenuhi ruangan....
...Papa Permana tampak asyik bercerita dengan Rangga tentang masa lalu, sementara Khan lebih banyak terdiam, menikmati sarapannya dengan sopan meski hatinya bergemuruh....
...Tiba-tiba, Rangga meletakkan sendoknya dan menatap Stella dengan ekspresi serius yang dibuat-buat. ...
..."Rangga mengatakan kalau siang nanti akan mengajak Stella ke Bandung untuk proyek mereka," ucapnya dengan nada santai, seolah hal itu sudah menjadi keputusan mutlak....
..."Ada lokasi proyek yang harus kita tinjau langsung, Stella. Sepertinya butuh waktu lama karena medannya cukup luas. ...
...Mungkin menginap satu malam di sana agar kita tidak terlalu lelah di perjalanan," lanjut Rangga, memberikan tekanan pada kata 'menginap' sambil melirik Khan lewat sudut matanya....
...Mendengar kata menginap, suasana di meja makan mendadak senyap. ...
...Si kembar berhenti mengunyah, dan Papa Permana tampak berpikir sejenak. ...
...Khan menatap wajah calon istrinya dengan tatapan yang sangat tajam—bukan tatapan marah kepada Stella, melainkan tatapan yang menuntut kepastian bahwa semua ini tidak akan terjadi....
...Stella yang merasa tersudut, baru saja ingin membuka mulut untuk menolak, namun Khan lebih dulu memotong dengan suara yang sangat dingin dan tegas....
..."Aku akan menemaninya," ucap Khan tanpa keraguan sedikit pun. ...
...Ia meletakkan garpunya dengan tenang, lalu menatap lurus ke arah Rangga. ...
..."Kebetulan jadwal operasiku bisa digeser ke hari berikutnya. Sebagai calon suami, aku tentu punya tanggung jawab untuk memastikan keamanan Stella selama di luar kota."...
...Mendengar jawaban telak itu, Rangga tertawa kecil. ...
...Tawa yang meremehkan, seolah-olah apa yang dikatakan Khan adalah sesuatu yang konyol....
..."Apa Pak Dokter tidak ada kerjaan?" sindir Rangga dengan senyum miring. ...
..."Jangan sampai karena terlalu posesif menjaga calon istri, pasien-pasien di rumah sakit jadi terbengkalai. Bisnis ini profesional, Khan. ...
...Kehadiran pihak luar yang tidak mengerti proyek hanya akan menghambat komunikasi kami."...
...Khan tidak terpancing. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan namun terasa sangat mengintimidasi. ...
..."Pekerjaan saya adalah menyelamatkan nyawa, Rangga. Dan menjaga Stella adalah prioritas hidup saya. Saya rasa, mendampingi calon istri saya bukan berarti saya tidak profesional, bukan?"...
...Stella menggenggam tangan Khan di bawah meja, mencoba meredam ketegangan yang kian memuncak, sementara Papa Permana hanya bisa terdiam melihat dua pria hebat itu saling beradu harga diri di depan matanya....
...Suasana yang kian memanas di meja makan itu tiba-tiba terinterupsi oleh getaran kuat dari saku kemeja Khan. ...
...Ponsel Khan yang berdering memecah ketegangan, dan setelah melihat layar, raut wajahnya langsung berubah menjadi sangat serius....
..."Ini dari bagian IGD. Ada pasien darurat pasca kecelakaan yang harus segera dioperasi," ucap Khan setelah menutup telepon singkatnya....
...Rangga tampak sedikit menyeringai, merasa mendapatkan celah karena Khan harus pergi. ...
...Namun, Stella justru memberikan reaksi yang sangat tegas. ...
...Stella meminta calon suaminya untuk segera berangkat, tanpa keraguan sedikit pun....
..."Pergilah, Khan. Pasienmu jauh lebih membutuhkanmu sekarang," ujar Stella lembut namun mantap....
...Ia berdiri dari kursinya, mendekati Khan yang masih merasa berat untuk meninggalkannya sendirian dengan Rangga....
...Di bawah tatapan tajam dan penuh rasa tidak suka dari Rangga, Stella melakukan sesuatu yang tak terduga....
..."Nanti aku akan menghubungi kamu," ucap Stella sambil mencium pipi Khan di hadapan Rangga. Kecupan itu adalah cara Stella menegaskan posisinya—bahwa hatinya hanya milik pria yang berdiri di depannya ini....
...Khan terpaku sejenak, namun senyum kemenangan kini tersungging di bibirnya. ...
...Ia mengusap kepala Stella dengan sayang sebelum menoleh ke arah Papa Permana untuk berpamitan....
..."Maaf, Pa, saya harus segera kembali ke rumah sakit. Nyawa pasien tidak bisa menunggu," ucap Khan sopan. ...
...Ia melirik Rangga satu kali lagi, kali ini dengan tatapan yang jauh lebih tenang namun penuh peringatan, sebelum melangkah pergi dengan langkah lebar meninggalkan ruangan....
...Rangga terdiam, wajahnya sedikit kaku melihat kemesraan yang baru saja ditunjukkan Stella. ...
...Meski Khan pergi, ia sadar bahwa ia belum benar-benar menang, karena benteng kepercayaan Stella terhadap calon suaminya ternyata jauh lebih kuat dari yang ia duga....
...Setelah kepergian Khan, suasana di meja makan terasa sedikit canggung, namun Rangga segera mengambil alih kendali dengan sapaan ramah kepada Papa Permana seolah tidak terjadi apa-apa. ...
...Kemudian setelah selesai sarapan, Stella berangkat bersama Rangga. ...
...Ia sempat berpamitan dengan si kembar yang menatapnya dengan pandangan penuh selidik dari balik jendela....
...Langkah kaki Stella terdengar tegas di atas aspal saat ia menghampiri kendaraan mewah yang terparkir di depan rumahnya. ...
...Dengan gerakan elegan, Stella masuk ke dalam mobil sport Rangga. ...
...Aroma parfum maskulin yang mahal dan interior kulit yang eksklusif menyambutnya, memberikan kesan kemewahan yang jauh berbeda dari kesederhanaan mobil Khan....
...Rangga duduk di kursi kemudi, menoleh ke arah Stella dengan senyum miring yang sulit diartikan. ...
...Ia tampak ingin memulai percakapan atau mungkin kembali melontarkan sindiran halus tentang kejadian tadi. Namun, Stella tidak memberikan ruang bagi pria itu....
..."Pak Rangga, lekas lajukan mobilnya," ujar Stella tanpa menoleh, matanya lurus menatap jalanan di depan. ...
..."Kita sudah kehilangan banyak waktu karena sarapan tadi, dan saya tidak ingin pekerjaan ini tertunda lebih lama lagi."...
...Rangga sedikit terkejut dengan nada bicara Stella yang kini kembali menjadi sangat profesional dan dingin. ...
...Ia menyadari bahwa di luar pengawasan ayahnya dan kehadiran Khan, Stella adalah wanita yang sangat sulit untuk ditaklukkan....
..."Sesuai perintahmu, Stella," jawab Rangga sambil menyalakan mesin....
...Deru mesin mobil sport itu menggeram kuat sebelum melesat membelah jalanan pagi. ...
...Di dalam kabin yang kedap suara itu, Stella diam-diam menggenggam ponselnya, mengirimkan pesan singkat pada Khan: 'Aku sudah berangkat, sayang. Semangat operasinya. I love you.' ...
...Ia ingin memastikan bahwa meskipun ia berada di dalam mobil pria lain, pikirannya tetap tertuju pada pria yang baru saja ia cium pipinya....
...Mobil sport itu melaju membelah kemacetan pagi menuju arah Bandung. ...
...Di dalam kabin yang mewah, keheningan sempat bertahan cukup lama hingga akhirnya Rangga melirik ke arah Stella yang diam membisu. ...
...Ia memperhatikan profil samping wajah Stella yang tampak tenang namun berjarak, seolah ada dinding transparan yang membatasi mereka....
..."Apakah kamu menyesal bekerja sama denganku?" tanya Rangga tiba-tiba. ...
...Suaranya terdengar lebih rendah, tanpa nada mengejek yang tadi ia tunjukkan di depan Khan. ...
..."Melihat bagaimana calon suamimu bereaksi tadi, aku mulai berpikir apakah kontrak ini menjadi beban untuk kehidupan pribadimu."...
...Stella menggelengkan kepalanya tanpa ragu. Ia menoleh sedikit, menatap Rangga dengan tatapan yang jernih dan tegas....
..."Aku harus profesional," jawab Stella singkat. ...
..."Pekerjaan adalah pekerjaan. Apa yang terjadi tadi pagi adalah dinamika hubungan kami, tapi itu tidak akan mengurangi dedikasiku terhadap proyek ini. Saya harap Anda juga bisa memisahkan antara urusan bisnis dan urusan pribadi, Pak Rangga."...
...Rangga tersenyum tipis, kali ini senyumannya terlihat sedikit lebih tulus meskipun tetap ada kesan misterius di dalamnya. ...
..."Jawaban yang sangat lugas. Itulah alasan kenapa aku memilihmu sejak awal. Kamu tahu persis di mana harus berdiri."...
...Rangga kembali fokus pada kemudinya, namun dalam hati ia semakin tertantang. ...
...Baginya, profesionalisme Stella adalah sebuah tantangan yang jauh lebih menarik daripada sekadar kecemburuan seorang dokter. ...
...Sementara itu, Stella kembali memalingkan wajahnya ke jendela, berusaha menjaga jarak emosional meski jarak fisik mereka begitu dekat di dalam ruang sempit mobil tersebut....
tapi ada nunggu masa iddah juga di sini 🤭🙏
dan suaminya menikah siri dengan Annisa ?!?? Hmmm..... 🤔🤔🤔