NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:461
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Runtuhnya Sang Kaisar

​Hujan badai yang mengguyur Kabupaten Gianyar malam itu terasa seperti tirai air yang sengaja diturunkan dari langit untuk menyembunyikan sebuah tragedi. Di dalam hanggar pabrik fabrikasi pualam milik Pak Nyoman, keheningan yang tercipta pascaledakan terasa jauh lebih memekakkan telinga daripada deru mesin pemotong batu mana pun. Para pekerja berdiri terpaku di sudut-sudut ruangan, wajah mereka pucat pasi di bawah temaram lampu darurat yang berkedip-kedip, seolah-olah mereka baru saja menyaksikan malaikat maut turun dan mencabut nyawa seseorang di depan mata mereka.

​Langkah kaki Arjuna Dirgantara yang menghantam lantai beton memecah kesunyian itu dengan brutal. Suara pantofel kulit mahalnya yang basah beradu dengan genangan air dan serpihan debu pualam terdengar seperti detak jarum jam raksasa yang sedang menghitung mundur menuju kiamat.

​Juna tidak berjalan; ia menerjang. Matanya yang hitam kelam menyapu seluruh penjuru hanggar dengan keliaran seorang predator yang sedang mencari mangsanya yang terluka. Ia tidak memedulikan kemeja putih Bespoke-nya yang kini basah kuyup dan terciprat lumpur kotor. Ia tidak memedulikan sisa-sisa wibawa CEO yang selalu ia jaga dengan nyawanya. Zirah es kebanggaannya telah hancur berkeping-keping di landasan pacu bandara satu jam yang lalu.

​"Di mana dia?!" raung Juna, suaranya menggema di dinding-dinding seng pabrik, bergetar oleh kepanikan murni yang tidak pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya.

​Pak Nyoman muncul dari balik sebuah pintu triplek yang berfungsi sebagai ruang istirahat darurat. Pria tua itu gemetar hebat, pakaiannya dipenuhi noda debu dan bercak merah yang seketika membuat aliran darah di tubuh Juna membeku.

​"T-Tuan Dirgantara... Nona Kanaya ada di dalam," ucap Pak Nyoman dengan suara tersendat. "Kami sudah menelepon ambulans, tapi jalurnya terputus karena pohon tumbang akibat badai—"

​Juna tidak menunggu Pak Nyoman menyelesaikan kalimatnya. Ia menabrak bahu pria tua itu dan menerobos masuk ke dalam ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter tersebut.

​Di sana, di atas sebuah sofa usang yang pegasnya sudah rusak, Kanaya Larasati terbaring tidak bergerak.

​Napas Juna terhenti seketika di pangkal tenggorokannya. Pemandangan di depannya terasa seperti sebuah lukisan surealis yang diciptakan khusus untuk menyiksa jiwanya. Wajah Naya yang biasanya memancarkan keberanian dan kecerdasan, kini pucat pasi menyerupai pualam mati. Kemeja flanelnya robek di bagian bahu kanan, memperlihatkan perban darurat yang dengan cepat meresap warna merah pekat. Seluruh tubuh gadis itu tertutup oleh lapisan debu marmer berwarna putih abu-abu, membuatnya terlihat seperti sebuah patung rapuh yang baru saja dijatuhkan dari alasnya.

​'Tidak. Jangan dia. Tuhan, ambillah apa pun dari kerajaanku, tapi jangan dia,' jerit Juna di dalam palung hatinya yang paling gelap. Lututnya terasa berubah menjadi jeli, namun ia memaksa dirinya untuk melangkah maju.

​Juna jatuh berlutut di samping sofa usang itu, tidak memedulikan lantai keramik yang kotor dan basah. Tangan besarnya yang gemetar hebat terulur, ragu-ragu sejenak seolah takut sentuhannya akan membuat gadis itu hancur menjadi debu, sebelum akhirnya ia menyentuh pipi Naya yang dingin.

​"Kanaya..." bisik Juna, suaranya pecah, terdengar begitu hancur dan parau. Ibu jarinya mengusap lembut sisa debu di pelipis Naya. "Buka matamu. Kumohon, buka matamu."

​Tidak ada respons. Dada Naya hanya naik turun dengan ritme yang sangat lambat dan dangkal.

​Insting perlindungan purba yang selama ini Juna tekan dalam-dalam akhirnya meledak mengambil alih seluruh logikanya. Ia tidak peduli pada protokol medis. Ia tidak peduli pada risiko apa pun. Ia menyelipkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Naya dan satu lagi di belakang punggung gadis itu, lalu mengangkat tubuh Naya ke dalam pelukannya dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah ia sedang mengangkat sebuah artefak kaca yang paling berharga di alam semesta.

​Naya terasa begitu ringan. Terlalu ringan. Fakta ini kembali menghantam ulu hati Juna dengan rasa bersalah yang mematikan. 'Dia tidak makan. Dia menghancurkan dirinya sendiri di tempat terkutuk ini karena aku yang mengirimnya kemari.'

​"Minggir!" bentak Juna pada beberapa pekerja yang menghalangi pintu.

​Ia berjalan cepat keluar dari hanggar, menerobos hujan badai menuju SUV anti-pelurunya yang mesinnya masih menyala. Sopirnya segera melompat turun dan membukakan pintu baris kedua. Juna masuk perlahan, mendudukkan dirinya di jok kulit, namun ia tidak melepaskan Naya. Ia membiarkan tubuh Naya berbaring di pangkuannya, mendekap kepala gadis itu di dadanya agar tidak terguncang.

​"BIMC Hospital Kuta. Gunakan sirine darurat. Jika ada yang menghalangi, tabrak," perintah Juna dengan nada yang sedingin es dan setajam silet.

​Sopir itu menyalakan sirine tersembunyi di balik gril mobil, dan SUV raksasa itu melesat membelah kegelapan malam Bali seperti peluru hitam.

​Di dalam kabin yang gelap, hanya diterangi oleh lampu jalanan yang sesekali melintas, Juna menunduk menatap wajah Naya. Bau anyir darah bercampur dengan aroma debu marmer dan sedikit wangi vanila dari rambut Naya memenuhi rongga hidungnya—sebuah kombinasi aroma yang akan menghantui Juna seumur hidupnya.

​Ia memeluk Naya semakin erat, menempelkan pipinya yang basah oleh air hujan ke puncak kepala gadis itu. "Bertahanlah, Kanaya. Jangan hukum aku seperti ini. Aku berjanji akan memberikan apa pun yang kau mau, tapi tolong, jangan mati di tanganku."

​Rumah Sakit BIMC Kuta mendadak berubah menjadi zona militer tingkat tinggi dalam waktu lima belas menit setelah kedatangan Juna. Seluruh dokter spesialis trauma terbaik di Bali ditarik dari rumah mereka. Lorong VVIP di lantai tiga disterilkan sepenuhnya oleh tim keamanan berjas hitam yang didatangkan kilat oleh Riko. Tidak ada satu pun staf rumah sakit yang berani berbicara dengan nada keras saat melewati pria berkemeja putih kotor yang sedang mondar-mandir seperti harimau terluka di depan ruang rawat intensif.

​Arjuna Dirgantara tidak duduk sedetik pun selama dua jam terakhir. Kemejanya yang dulu putih kini dipenuhi oleh noda darah Naya yang telah mengering dan berubah warna menjadi kecokelatan. Ia menolak tawaran pakaian ganti. Ia menolak secangkir kopi. Ia menghukum dirinya sendiri dengan tetap mengenakan pakaian kotor itu sebagai pengingat akan dosa terbesarnya.

​Ponsel di saku celananya bergetar untuk yang kelima puluh kalinya. Ia akhirnya menarik benda itu keluar. Nama CHAIRMAN berkedip marah di layar.

​Juna menekan tombol jawab dan menempelkan ponsel itu ke telinganya, matanya tetap terpaku pada pintu kayu ruang rawat Naya yang tertutup rapat.

​"Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu, Arjuna!" raungan ayahnya dari ujung telepon terdengar seperti guntur yang bisa meruntuhkan gedung. "Kau meninggalkan Aline sendirian di depan dua puluh media nasional! Saham kita anjlok dua koma lima persen dalam waktu dua jam karena rumor CEO yang kabur! Apa yang ada di dalam kepalamu?!"

​Juna menarik napas panjang. Udara steril rumah sakit yang sarat akan aroma disinfektan mengisi paru-parunya, memberikan sebuah kejernihan yang aneh di tengah kekacauan mentalnya.

​'Aku kehilangan akal sehatku? Ya. Dan aku bangga karenanya,' batin Juna dengan sebuah resolusi yang mengerikan.

​"Ada kecelakaan fatal di pabrik fabrikasi utama kita, Ayah. Sebuah pilar meledak," jawab Juna dengan suara bariton yang begitu tenang, datar, dan mematikan. "Saya sedang memitigasi potensi tuntutan hukum yang bisa menghentikan seluruh proyek Grand Azure."

​"Jangan bermain kata denganku! Kau terbang ke sana bukan karena pilar batu! Riko melaporkan bahwa desainer junior itu yang terluka!" teriak Sang Chairman, suaranya bergetar oleh amarah yang murni. "Aku sudah memperingatkanmu, Arjuna. Jika gadis itu adalah kelemahanmu, aku sendiri yang akan mencabut oksigennya!"

​Di titik itulah, sisa-sisa terakhir dari anak laki-laki penurut yang selalu hidup dalam bayang-bayang ketakutan pada ayahnya, mati sepenuhnya di dalam diri Juna. Yang tersisa kini hanyalah seorang pria dewasa yang siap membakar dunia demi wanita yang ia cintai.

​"Dengarkan saya baik-baik, Ayah," ucap Juna, suaranya merendah menjadi bisikan iblis yang membuat suhu di lorong rumah sakit itu seolah turun drastis. "Jika Ayah berani menyentuh satu helai pun rambut Kanaya Larasati... jika Ayah berani mengirim satu orang saja untuk mengancamnya... saya akan menjual seluruh saham mayoritas saya ke perusahaan rival besok pagi. Saya akan membongkar semua dokumen penggelapan pajak ekspansi lahan tahun dua ribu sepuluh ke meja KPK. Saya akan meruntuhkan imperium Dirgantara hingga tidak tersisa satu batu bata pun untuk Ayah warisi."

​Keheningan yang mencekam terjadi di ujung telepon. Sang Chairman, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, terdiam karena ancaman putranya sendiri.

​"Kau berani mengancam ayahmu sendiri demi seorang wanita miskin?" desis Sang Chairman, tidak percaya.

​"Saya tidak mengancam, Ayah. Saya sedang memberikan garansi," sahut Juna tanpa ragu sedikit pun. "Biarkan saham anjlok. Biarkan Aline membatalkan pertunangan ini. Mulai detik ini, saya tidak akan lagi bermain dengan aturan Anda. Selamat malam."

​Juna mematikan sambungan telepon dan tanpa ragu membanting ponsel seharga puluhan juta itu ke lantai marmer hingga layarnya hancur berkeping-keping. Suara pecahannya menggema di lorong, membuat dua pengawal pribadinya tersentak, namun tidak ada yang berani mendekat.

​Tepat pada saat itu, pintu ruang rawat terbuka. Seorang dokter spesialis bedah ortopedi keluar dengan melepas masker bedahnya.

​Juna segera menerjang ke depan, mencengkeram lengan dokter itu. "Bagaimana keadaannya?"

​"Tuan Dirgantara, tenanglah," ucap dokter itu profesional. "Nona Kanaya sangat beruntung. Pecahan marmer itu tidak mengenai organ vital atau tulang belakangnya. Kami telah menjahit luka sobek yang cukup dalam di bahu kanannya, dan ada memar tulang rusuk akibat benturan. Pingsannya lebih disebabkan oleh dehidrasi ekstrem, kelelahan fisik yang kronis, dan syok. Beliau sudah kami pindahkan ke ruang VVIP dan kondisinya stabil."

​Juna menghembuskan napas yang sepertinya telah ia tahan sejak lepas landas dari Jakarta. Kakinya mendadak terasa lemas, namun ia memaksa dirinya untuk tetap berdiri.

​"Kapan dia akan sadar?" tanya Juna serak.

​"Pengaruh obat bius dan sedatif mungkin akan memudar dalam satu atau dua jam ke depan. Anda boleh menjenguknya sekarang, namun mohon jangan memaksanya bicara terlalu banyak."

​Juna melepaskan cengkeramannya pada lengan dokter itu. "Terima kasih, Dokter. Berikan dia perawatan pasca-trauma yang paling maksimal. Biayanya tidak ada batasnya."

​Ruang rawat VVIP itu luas dan sunyi. Cahaya lampu sengaja diredupkan, hanya menyisakan lampu tidur kecil di sudut ruangan yang memancarkan pendaran kuning hangat. Suara dengung mesin pemantau detak jantung memberikan ritme yang menenangkan, bukti nyata bahwa kehidupan masih berdenyut di dalam ruangan ini.

​Kanaya Larasati terbaring di atas ranjang medis putih. Wajahnya yang telah dibersihkan dari debu kini terlihat sangat pucat dan damai, kontras dengan perban putih tebal yang membalut bahu kanan dan tulang selangkanya. Selang infus menempel di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan kehidupan ke dalam tubuhnya yang kelelahan.

​Juna duduk di sebuah kursi ergonomis di samping ranjang Naya. Ia telah mengusir semua perawat yang mencoba membantunya membersihkan diri. Ia hanya duduk di sana, mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua sikunya bertumpu pada lututnya. Kedua tangannya menggenggam tangan kanan Naya yang bebas dari infus dengan sangat erat, menempelkan punggung tangan gadis itu ke bibirnya yang bergetar.

​'Kau terlihat sangat rapuh di sini, Naya,' batin Juna, matanya yang panas terus menelusuri setiap inci wajah Naya seolah mencoba menghafalnya. 'Dan akulah bajingan yang menempatkanmu di ranjang ini. Aku mengira kedinginanku adalah perisai bagimu, tapi ternyata itu adalah pedang yang menusukmu secara perlahan. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.'

​Jam demi jam berlalu. Juna tidak bergerak sedikit pun. Ia terus menatap Naya, membiarkan keheningan malam Bali menyelimuti mereka berdua dalam sebuah kapsul waktu yang terisolasi dari sisa dunia luar.

​Menjelang subuh, ketika semburat biru tua mulai mewarnai langit di balik jendela kaca raksasa, jari-jari Naya yang berada dalam genggaman Juna mulai bergerak sangat halus.

​Juna seketika menegakkan tubuhnya, jantungnya kembali berdegup kencang. "Naya?" bisiknya parau.

​Naya mengerang pelan. Kelopak matanya yang terasa berat perlahan terbuka, berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya redup di ruangan itu. Rasa sakit yang tajam dan tumpul seketika menyerang bahu kanannya, memaksanya meringis dan menarik napas pendek.

​"Sshh... jangan bergerak terlalu cepat," suara bariton yang berat dan sangat familiar itu mengalun di dekat telinganya.

​Naya memutar kepalanya dengan gerakan patah-patah. Saat fokus matanya mulai kembali, ia melihat sosok yang duduk di sampingnya.

​Otak Naya yang masih dipengaruhi sisa-sisa obat bius membutuhkan waktu beberapa detik untuk memproses apa yang ia lihat. Pria di sampingnya memiliki wajah Arjuna Dirgantara, tetapi pria ini terlihat sangat hancur. Kemeja putihnya dipenuhi noda darah kecokelatan yang mengerikan. Rambutnya yang selalu tertata rapi kini berantakan tak karuan, menjuntai di dahinya. Dan matanya... mata hitam yang selalu memancarkan kedinginan absolut itu kini terlihat merah, basah, dan dipenuhi oleh kerentanan yang belum pernah Naya lihat seumur hidupnya.

​'Apakah aku sudah mati? Atau ini hanya halusinasi dari morfin?' batin Naya kebingungan. 'Tidak mungkin Arjuna Dirgantara ada di sini. Dia seharusnya sedang berada di Jakarta, tersenyum bangga di depan kamera dengan cincin pertunangan di jarinya.'

​Naya mencoba menarik tangannya yang sedari tadi digenggam oleh Juna, namun pria itu justru mempererat genggamannya, seolah menolak untuk membiarkan Naya pergi lagi.

​"Apa... apa yang Anda lakukan di sini?" suara Naya keluar berupa bisikan yang sangat serak dan kering, tenggorokannya terasa seperti dilapisi kertas pasir.

​Juna segera meraih segelas air putih dengan sedotan dari meja nakas, membantu Naya mengangkat kepalanya sedikit agar bisa minum. Naya menyesap air itu sedikit demi sedikit, merasakan cairan dingin membasahi kerongkongannya.

​Setelah Naya kembali membaringkan kepalanya, Juna meletakkan gelas itu kembali. Ia menatap Naya dengan intensitas yang seolah ingin menembus jiwanya.

​"Aku menjagamu," jawab Juna pelan, suaranya terdengar seperti sebuah pengakuan dosa.

​Naya mengerutkan keningnya, menahan rasa sakit di dadanya yang bukan berasal dari luka fisiknya. "Menjaga saya? Bukankah Anda seharusnya sedang tersenyum di depan puluhan kamera bersama Nona Aline malam ini? Bukankah ini adalah malam perayaan merger terbesar Anda?"

​Kata-kata Naya, meskipun diucapkan dengan lemah, meluncur seperti panah beracun yang menancap tepat di jantung Juna. Juna menundukkan kepalanya sejenak, menghela napas panjang, lalu kembali menatap Naya.

​"Persetan dengan kamera. Persetan dengan Aline. Persetan dengan semuanya, Kanaya," desis Juna, suaranya dipenuhi oleh rasa frustrasi yang murni. "Aku meninggalkan semuanya di sana karena aku tidak bisa bernapas saat mendengar kau terluka. Aku merasa seperti ada yang merobek paru-paruku dari dalam saat tahu bahwa pilar itu meledak dan kau ada di sana."

​Naya tertegun. Detak jantungnya di mesin monitor meningkat sedikit, menciptakan ritme bunyi bip yang lebih cepat. "Anda... Anda meninggalkan acara pertunangan Anda? Ayah Anda akan membunuh Anda, Arjuna."

​"Biarkan dia mencoba," sahut Juna tanpa keraguan sedikit pun, mata elangnya memancarkan sebuah tantangan yang liar. "Aku sudah selesai bermain dengan aturannya. Aku sudah selesai berpura-pura menjadi pualam yang dingin."

​Naya menatap noda darah di kemeja Juna. 'Itu darahku. Dia memelukku dalam kondisi seperti ini? Tiran yang gila kebersihan ini membiarkan dirinya ternoda oleh darah dan debuku?'

​"Kenapa, Juna?" bisik Naya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir di sudut matanya, membasahi bantal putih rumah sakit. "Kau membuangku ke sini agar aku aman, tapi pilar itu tetap saja hampir membunuhku. Kau menyuruhku membencimu, lalu kau datang ke sini dengan wajah seperti ini. Kau membuatku gila."

​Juna mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka hingga wajahnya hanya berjarak satu jengkal dari wajah Naya. Ia mengangkat satu tangannya yang bebas, dan dengan ujung jari telunjuknya, ia mengusap air mata yang jatuh dari mata Naya dengan kelembutan yang sangat menyakitkan.

​"Pilar itu... aku sengaja meminta lapisan honeycomb aluminium di dalamnya untuk melindungimu jika terjadi kecelakaan," jelas Juna dengan suara yang bergetar. "Tapi aku lupa bahwa alam memiliki cacatnya sendiri. Retakan kuarsa tersembunyi itu... itu adalah variabel yang gagal aku perhitungkan. Sama seperti aku gagal memperhitungkan seberapa besar aku akan hancur saat harus melepaskanmu ke Bali."

​Naya tidak bisa berpaling dari tatapan Juna. Di dalam ruangan yang sunyi ini, tidak ada lagi CEO dan Senior Designer. Tidak ada lagi ancaman Chairman, dan tidak ada lagi Aline Wijaya. Yang tersisa hanyalah seorang pria dan seorang wanita yang sama-sama terluka parah oleh dinding yang mereka bangun sendiri.

​Juna mendekatkan wajahnya perlahan. Napasnya yang hangat dan beraroma maskulin menyapu kulit wajah Naya. Tatapan Juna turun dari mata Naya menuju ke bibirnya yang pucat. Tarikan gravitasi di antara mereka berdua terasa begitu nyata dan absolut, menyedot seluruh sisa-sisa logika dan gengsi yang masih ada.

​"Aku tidak ingin menjadi pahlawan tragismu, Juna," bisik Naya, napasnya mulai memburu, matanya setengah terpejam menanti sentuhan yang tak terhindarkan itu.

​"Dan aku tidak ingin menjadi monster yang menawanmu lagi, Naya," balas Juna dengan suara parau yang nyaris menghilang. "Aku hanya... aku hanya menginginkanmu."

​Jarak di antara bibir mereka kini hanya tinggal beberapa milimeter. Naya bisa merasakan kehangatan bibir Juna yang hampir menyentuhnya, sebuah antisipasi yang membuat seluruh saraf di tubuhnya berteriak menuntut pelepasan dari siksaan ini.

​Namun, tepat pada detik ketika bibir mereka akan menyatu dalam sebuah ciuman yang menjanjikan kehancuran sekaligus keselamatan, pintu ruang VVIP itu tiba-tiba didorong terbuka dengan sangat kasar.

​Brak!

​Juna seketika menarik wajahnya mundur dan berdiri tegak dalam waktu kurang dari satu detik, insting predatornya langsung siaga.

​Di ambang pintu, berdiri Bastian.

​Site Manager itu terlihat terengah-engah, kemejanya basah oleh keringat, dan matanya membelalak lebar melihat posisi Juna yang membungkuk sangat intim di atas ranjang Naya. Wajah Bastian memancarkan keterkejutan, yang dengan cepat berubah menjadi kemarahan yang membara saat ia melihat kondisi Naya yang terbaring lemah.

​"Apa yang kau lakukan padanya?!" bentak Bastian, melangkah masuk dengan tangan mengepal, mengabaikan fakta bahwa ia sedang berhadapan dengan CEO dari proyek triliunan rupiah ini.

​Udara di dalam ruang rawat itu seketika berubah menjadi medan perang bertegangan tinggi. Paradoks dua hati yang baru saja hampir menemukan resolusinya, kini harus kembali membeku di bawah interupsi dunia luar yang kejam.

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak pelan menyusuri sebuah koridor rumah sakit swasta elit di Jakarta, sembilan tahun yang lalu. Suasana lorong itu sangat sunyi, hanya dihiasi oleh cahaya lampu neon putih yang dingin dan steril.

​Arjuna remaja, yang baru berusia sembilan belas tahun, duduk membeku di atas kursi tunggu logam anti-karat di depan pintu ruang operasi. Ia mengenakan kemeja seragam sekolah yang kusut. Ia sedang menunggu kabar ibunya yang mengalami serangan jantung mendadak.

​Di sampingnya, sang Chairman berdiri dengan postur yang sangat tegap, sibuk berbicara dengan rekan bisnisnya melalui ponsel genggam seolah-olah istrinya tidak sedang bertaruh nyawa di balik pintu kayu itu.

​Pintu operasi terbuka. Seorang dokter senior keluar dengan wajah yang muram, menggelengkan kepalanya pelan ke arah Sang Chairman.

​Juna remaja seketika merasa dunianya runtuh. Ia berdiri, kakinya lemas, air mata menetes deras dari matanya. Ia menangis tersedu-sedu, meratapi kehilangan satu-satunya sumber kehangatan dalam hidupnya.

​Sang Ayah menutup teleponnya, menatap Juna yang sedang menangis, dan melangkah mendekat. Bukannya memeluk putranya yang sedang berduka, pria itu justru menampar pipi Juna dengan keras. Suara tamparan itu menggema tajam di lorong rumah sakit yang sepi.

​"Berhenti menangis seperti anak perempuan yang lemah, Arjuna!" desis ayahnya dengan suara yang sangat kejam. "Air matamu tidak akan menghidupkan ibumu kembali! Ini adalah akibat dari sifat lembek dan sentimentalitasnya sendiri! Jika kau terus memelihara rasa sayang yang berlebihan pada seseorang, kau hanya akan berakhir menjadi tontonan menyedihkan di ruang tunggu rumah sakit seperti ini. Kematian adalah bagian dari risiko aset. Tutup tangismu, dan jadilah pria yang tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun!"

​Kamera melakukan close-up ekstrim pada mata Juna remaja yang merah dan penuh air mata. Ia menyeka pipinya dengan kasar. Di detik itu, di bawah tamparan ayahnya dan di depan pintu kematian ibunya, Juna mengikrarkan sebuah sumpah berdarah pada dirinya sendiri: ia tidak akan pernah lagi membiarkan dirinya mencintai seseorang sedalam ini, agar ia tidak perlu lagi duduk di ruang tunggu rumah sakit menunggu kehancuran hatinya.

​Sebuah sumpah yang dengan telak baru saja ia langgar malam ini, saat ia duduk menggenggam tangan Kanaya Larasati di rumah sakit Bali, menyadari bahwa ia rela hancur ribuan kali asalkan wanita itu tetap hidup.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!