Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.
Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.
Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mission Completed
Andrean melongokkan kepala ke dalam ruangan dimana Alena masih sibuk mengambil foto dengan kamera ponselnya.
"Al, ada yang dateng," bisik Andrean.
"Dikit lagi," bisik Alena. Andrean mendengar langkah kaki kian mendekat.
"Cepet, Al. Nggak ada waktu," bisik Andrean. Alena tak menjawab. Langkah kaki kian mendekat. Andrean semakin panik.
"Al," bisik Andrean sambil melihat ke arah suara langkah kaki datang.
"Al,"
"Berisik banget sih lo," kata Alena yang sudah bergabung dengan Andrean di depan pintu.
Suara langkah kaki sudah semakin dekat. Andean dan Alena menarik nafas, menahannya sambil berjalan tanpa suara kembali ke dalam bayang-bayang tangki-tangki minyak.
Andrean tetap waspada. Dia sesekali melihat ke belakang kalau-kalau suara langkah kaki itu mendekat ke arah mereka. Perlahan namun pasti, Alena dan Andrean mengendap keluar. Pintu gudang sudah terlihat di depan mata saat Alena dan Andrean melihat seorang pria berjas dan pria berkemeja rapi yang mereka lihat di rumah yang mereka datangi tadi siang.
"Semua pengiriman aman?" tanya seorang pria yang memakai jas.
"Aman Bos," kata pria berkemeja.
"Nggak ada yang mencurigakan yang datang ke gudang dua?" tanya pria berjas lagi.
"Aman, Bos. Warga sekitar juga sudah kita beritahu kalau gudang dua menjadi distributor, bukan pabrik lagi," kata pria berkemeja.
"Bagus, bagus. Lanjutkan," kata pria berjas.
"Siap, Bos!" kata pria berkemeja.
Pria berjas terlihat keluar dari gudang. Pria berbadan besar datang dari arah dalam gudang.
"Semua sudah dikunci, Bos," kata pria berbadan besar pada pria berkemeja.
"Ya udah. Ayo," kata pria berkemeja disusul anggukan oleh pria berbadan besar. Keduanya terlihat keluar dari gudang. Si pria besar terlihat menggeser pintu gudang.
"Clentang," terdengar bunyi gembok.
Mata Andrean dan Alena membulat.
'Sial! Kita terjebak!'
***
"Semua gara-gara lo kelamaan di dalem," protes Andrean.
"Kalo bukan karena gue, kita nggak dapet bukti," kata Alena membela diri.
"Percuma punya bukti kalo kita terkunci, Alena," kata Andrean gemas.
"Bisa nggak sih, lo nggak panik?" tanya Alena lalu berjongkok di dekat pintu masuk gudang.
"Gimana nggak panik? Kita nggak bisa keluar dari sini. Kita harus nunggu sampe besok? Ketauan kita!" kata Andrean sambil mengusap wajahnya. Alena sibuk memainkan ponselnya. Andrean menatap Alena dengan tatapan tak percaya.
'Gimana dia bisa setenang itu?' pikir Andrean kesal.
"Gue udah kirim bukti-bukti ke Pak Indra," kata Alena sambil masih sibuk memainkan ponselnya.
"Gue juga kirim via email ke email laptop gue," lanjut Alena.
"Gue udah bilang sama Pak Indra kalo kita terjebak disini. Gue udah share lokasinya ke Pak Indra. Katanya dia akan segera kirim bantuan," kata Alena. Andrean menghela nafas panjang. Lega. Andrean ikut berjongkok di samping Alena.
"Harusnya gue nunggu di mobil aja tadi. Jadi kalau lo terjebak bisa gue tolongin," sesal Andrean. Alena menoleh ke arah Andrean.
"Lo nggak salah. Lo cuma khawatir sama gue kalo gue masuk sendirian kan?" kata Alena. Andrean menatap Alena. Wajahnya yang tertutup masker terlihat samar-samar diterpa cahaya lampu gudang yang remang-remang.
Tidak. Bukan. Bukan karena khawatir Andrean mengikuti Alena masuk ke gudang. Andrean hanya tak mau diam saja dan menunggu di dalam mobil. Selama ini Andrean selalu melakukan pengintaian dengan terencana. Dia akan mengalihkan target dan Roni yang mencari barang bukti. Semua aman terkendali.
Tidak seperti saat ini. Andrean sungguh tak bisa menahan dirinya saat Alena mengatakan akan masuk ke gudang tanpa ada sedikit pun persiapan kematangan rencana.
"Thanks," kata Alena sambil memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya.
"Buat apa?" tanya Andrean bingung.
"Karena lo udah ikut masuk kesini," kata Alena sambil memejamkan matanya.
Andrean menatap Alena. Dia masih bertanya-tanya mengapa Alena memutuskan untuk resign dari pekerjaannya. Pekerjaan yang tak menuntutnya melakukan aksi-aksi berbahaya seperti saat ini.
Andrean menengadah, menatap langit-langit gudang yang gelap dan hitam. Aroma minyak tengik masih menusuk, menembus masker yang Andrean pakai. Andrean berpikir, bekerja sebagai PR di sebuah perusahaan startup besar seperti PDX, Alena memiliki gaji yang pasti lebih tinggi dibandingkan menjadi jurnalis kanal berita online seperti sekarang. Andrean benar-benar tak mengerti, mengapa Alena, seorang cewek yang —menurut Andrean— lumayan cantik rela melepaskan kehidupan mapannya dan menjadi jurnalis.
Saat sedang menerka-nerka alasan Alena keluar dari PDX, Andrean dikejutkan dengan kepala Alena yang tiba-tiba bersandar di bahunya. Andrean menoleh, menatap Alena yang tertidur masih mengenakan masker di wajahnya. Andrean perlahan merubah posisi jongkoknya menjadi duduk bersila sambil menjaga agar kepala Alena tetap bersandar di bahunya.
Andrean kemudian perlahan membuka masker yang menutupi hidung mancung Alena. Tangan Andrean berhenti sesaat saat membuka masker dari wajah Alena. Jarak wajah mereka kini sangat dekat. Andrean bahkan dapat merasakan hembusan nafas Alena yang teratur di tangannya. Hangat. Wajah Alena yang diterpa temaram cahaya lampu gudang entah mengapa terlihat begitu elegan.
Alena beringsut, mencari posisi nyaman di bahu Andrean menyadarkan Andrean dari mengagumi wajah Alena.
'Gila! Nggak, nggak. Jangan sampe!'
***
Fajar mulai menyingsing ketika terdengar bunyi pelan gembok pintu gudang yang dibuka. Andrean yang juga ikut tertidur seketika membuka matanya. Waspada. Andrean perlahan membangunkan Alena yang —entah bagaimana— tertidur di pangkuan Andrean.
Alena membuka mata perlahan, lalu menguceknya untuk mengembalikan fokus mata dan otaknya. Akhirnya dia teringat bahwa dia dalam misi pengintaian dan terjebak di gudang yang diduga menjadi tempat pengoplosan minyak.
"Ada yang dateng," bisik Andrean, lalu berdiri di bawah bayangan gelap tangki minyak agar tak terlihat. Alena dengan sigap melakukan hal yang sama.
Pintu gudang terbuka perlahan. Andrean dan Alena menahan nafas sambil membuka matanya lebar-lebar.
"Andrean, Alena," panggil sebuah suara dengan nada berbisik yang cukup bisa didengar.
"Itu Roni," kata Andrean. Alena mengangguk mantap.
"Andrean, Alena," panggil Roni sekali lagi dengan nada yang sama.
"An..." suara Roni terhenti mendengar langkah kaki yang mendekat. Roni waspada.
"Ayo cepat keluar," ajak Andrean pada Roni. Roni lega ternyata suara langkah kaki itu milik Andrean dan Alena.
Ketiganya bergegas keluar gudang dan mengembalikan gemboknya ke posisi terkunci.
"Ketemu di kantor," kata Roni pada Andrean sambil berlari menuju mobilnya.
"Biar gue yang bawa mobil," kata Andrean pada Alena. Alena menatap Andrean.
"Lo istirahat aja," lanjut Andrean.
"Thanks," kata Alena sambil menyerahkan kunci mobil Andrean.
Mobil Andrean perlahan meninggalkan dermaga. Wajah Andrean terlihat lega saat mobil sudah kembali menyusuri jalanan kota. Alena melihat keluar jendela. Warna langit perlahan berubah. Semburat jingga dan kuning mewarnai langit yang masih sedikit abu-abu sisa malam.
'One mission completed,'
***
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤