Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Botol Ungu
Pagi berikutnya datang tanpa belas kasihan. Matahari menggantung di langit seperti lampu minyak yang baru dinyalakan, hangat tetapi tidak sanggup sepenuhnya mengusir hawa dingin yang menempel di tulang. Burung-burung gereja yang biasanya ramai kini terdengar seperti ikut menjaga kesunyian di dalam rumah kontrakan. Tepat di bawah meja, botol berisi cairan ungu yang mereka bawa dari pabrik diletakkan rapi di dalam kotak kardus, seolah-olah itu bukan sesuatu yang bisa mengubah kehidupan banyak orang. Warna ungunya pekat, mengingatkan pada tinta dengan kilau misterius setiap kali tertimpa cahaya.
Tento terbangun lebih dulu. Matanya terasa berat, kelopak mata seakan dipenuhi pasir halus. Ia menatap sekeliling ruangan yang masih berantakan dari malam sebelumnya, peta pabrik masih tergelar, catatan tentang kode sensor terbuka, dan sebuah mangkuk soto kosong tergeletak di samping laptop. Ia meraih gelas berisi air, meneguk perlahan, membasahi tenggorokan kering. Bau sisa rokok dari asbak di sudut ruangan menempel di udara. Napasnya keluar perlahan, menandakan kelelahan belum sepenuhnya hilang.
Perikus masih tertidur di atas sofa dengan posisi miring, sarung melilit pinggangnya. Napasnya teratur, tapi tiba-tiba ia mengigau, “Ayam... jangan pergi... aku belum makan...,” membuat Tento menahan tawa meski hatinya masih berat. Ia bangun dari lantai, merapikan rambutnya yang keriting bergelombang, lalu berjalan ke dapur kecil. Suara panci menetes, suara keran berdecit, dan aroma kopi yang sedang diseduh mengisi ruangan. Ia menyiapkan dua cangkir kopi hitam, menuangkan air panas perlahan di atas bubuk kopi sambil mendengarkan bunyi keretakan halus dari gula yang dibubuhkan ke satu cangkir untuk Perikus.
Beberapa menit kemudian, Perikus terbangun karena aroma kopi yang tajam. Ia membuka mata sedikit, menarik napas dalam. “Aku mimpi ngikut ayam ke laboratorium,” katanya dengan suara serak, mencoba memproses antara mimpi dan kenyataan. “Dia pakai jas lab, bawa spuit. Gila, otakku jadi kacau gara-gara misi kemarin.”
Tento tertawa tipis, menyerahkan cangkir kopi ke tangannya. “Kita nggak bisa lama-lama bercanda. Kita harus analisis botol ungu ini. Kita nggak bisa asal tebak isinya cairan apa. Kita butuh orang yang mengerti kimia atau biologi,” ucapnya. Ia mengeluarkan botol ungu dari kotak kardus, memegangnya dengan hati-hati. Ujung jari terasa dingin. Warna ungu mengkilat, dan ada kristal-kristal kecil menempel di dinding botol. Cairan itu kental, bergerak lambat ketika botol digoyang.
“Sahabat kita yang jago biologi siapa, ya?” tanya Perikus, mengingat-ingat. “Guru SMA kita dulu? Nggak mungkin. Dia sibuk bikin terarium. Dosen kampus? Mungkin ada.” Ia menatap botol itu, lalu menyulut rokok, menarik napas panjang. Asap berkepul, menambah aroma kopi.
Tento mengangguk. “Ada satu nama di kepalaku. Profesor Dimas, ingat? Dia dosen biokimia kita yang sering dikejar karena meneriakkan kebenaran. Dia juga sedikit eksentrik, suka mengoleksi fosil. Tapi dia orang yang integritasnya tinggi. Aku bisa hubungi dia. Tapi kita harus hati-hati. Kita nggak mau menarik perhatian orang lain. Dan kita nggak boleh membawa profesor ke dalam bahaya kalau dia tidak siap,” katanya. Ia mengambil ponsel, membuka daftar kontak, menemukan nomor yang sudah lama tidak digunakan. Ia mengetik pesan singkat: “Prof, ini Tento. Bisa ketemu? Ada hal penting terkait penelitian ilegal. Misi rahasia. Jawab jika Anda bersedia bertemu.”
Tiga menit berlalu, belum ada balasan. Perikus gelisah. “Apa kita nggak sebaiknya bawa cairan ini ke lab kampus? Atau laboratorium pemeriksaan makanan?” tanyanya, lalu minum kopi. Uap panas menyentuh kumis tipisnya.
“Kita nggak bisa. Laboratorium itu mungkin sudah disusupi orang-orang mereka. Ingat, nama-nama pejabat di catatan mengindikasikan hal ini sangat besar. Mereka bisa punya koneksi ke banyak tempat. Aku percaya profesor karena dia dulu pernah melawan proyek yang mirip.” Tento berusaha meyakinkan, meski dirinya sendiri was-was.
Beberapa menit kemudian, ponsel bergetar. Pesan balasan masuk: “Tento, lama sekali. Menarik. Aku di rumah sekarang, Jalan Bandung No. 31. Datang sore ini jam empat. Tolong bawa apa pun yang ingin kau tunjukkan. Jangan membawa orang lain.” Di akhir pesan, ada emotikon buku terbuka. Profesor Dimas memang selalu unik, bahkan dalam pesan teks.
Mereka berdua saling memandang. “Kita pergi jam tiga. Sebelum itu, kita bisa ke pasar untuk menyamarkan kegiatan kita. Aku butuh beli bawang goreng,” kata Perikus dengan nada serius. Mereka tertawa. Kehumoran mereka seperti menjadi baju zirah untuk menghadapi kebenaran pahit.
Waktu berjalan lambat. Mereka membersihkan peralatan, mengunci pintu depan, memeriksa jalur masuk belakang, lalu menyiapkan tas ransel dengan botol ungu di dalam kotak plastik, dibungkus kain lap untuk menghindari guncangan. Mereka juga memasukkan kamera mini beserta baterai cadangan. Mereka tahu, apa pun yang terjadi, rekaman itu adalah senjata mereka. Mereka memutuskan pergi ke pasar, bukan hanya untuk membeli bawang goreng, tetapi juga untuk mencari informasi di antara kerumunan. Mungkin ada orang yang berbicara tentang teman atau saudara yang hilang, sebuah fakta yang bisa menambah keping puzzle mereka.
Pasar tradisional terbentang seperti labirin penuh warna. Lorong-lorong sempit di antara kios-kios menjajakan sayur-mayur, daging, ikan, bumbu-bumbu, pakaian murah, dan segala hal yang mungkin dibutuhkan warga. Bau ikan asin, terasi, dan daun seledri bergantian menyerang hidung. Suara pedagang memanggil, menawarkan, tawar-menawar, anak-anak berlari. Mereka menyusuri lorong, menyerap segala energi. Perikus membeli bawang goreng, daun jeruk, cabai rawit, sedangkan Tento melirik penjual ponsel bekas, berjaga-jaga jika mereka membutuhkan alat komunikasi yang tidak mudah dilacak.
Di sebuah tikungan, suara isak tangis menarik perhatian mereka. Seorang wanita paruh baya sedang duduk di samping tumpukan sayur, menangis sembari memeluk sebuah foto. Di dalam foto, seorang pria muda berwajah hangat menatap ke kamera, mengenakan seragam mekanik. Wanita itu sepertinya sedang berbicara kepada pedagang di samping. “Suami saya menghilang, Bu. Dia bekerja di pabrik makanan kaleng itu. Tiba-tiba tidak pulang. Polisi bilang dia kabur. Tapi dia orang baik, nggak mungkin. Saya takut. Bagaimana anak-anak?” katanya di sela isak.
Tento mengerutkan kening, merasakan hati berat. “Ini pasti berkaitan dengan penemuan kita,” bisiknya pada Perikus. Mereka mendekat, mencoba mendengarkan lebih banyak tanpa terlihat mencurigakan.
Pedagang sayur merangkul bahu wanita itu. “Sabar, Bu Siti. Banyak yang bilang pabrik itu sekarang milik perusahaan besar dan karyawannya disuruh rahasia. Mungkin suami Ibu dipindah ke kota lain. Tapi saya juga dengar rumor aneh. Kata orang, ada yang diambil untuk percobaan. Tapi siapa yang berani melawan?” katanya, suaranya rendah.
Tento ingin menyela, ingin mengatakan bahwa mereka sedang mencari bukti. Namun, ia menahan diri. Ia hanya bisa mencatat di kepalanya bahwa lebih banyak orang menjadi korban. “Makin jelas,” katanya pada Perikus ketika mereka berjalan kembali. “Kita benar-benar harus bertindak.”
Setelah berbelanja, mereka pulang, memasak nasi sebentar, dan makan cepat. Perut terisi, meski pikiran tetap bergolak. Jam menunjukkan pukul tiga sore. Mereka siap-siap menuju rumah Profesor Dimas. Cuaca sore itu cerah, matahari merangkak turun, membuat bayangan pohon-pohon trembesi di Jalan Bandung terlihat memanjang. Jalan itu adalah salah satu kawasan lama Malang dengan rumah-rumah bergaya kolonial, berdinding batu dan jendela besar. Mereka memarkir motor di pinggir jalan, menatap nomor 31, sebuah rumah tua dengan pagar besi. Pohon mangga rindang berdiri di samping halaman, menjatuhkan daun kuning ke jalan.
Mereka mengetuk pintu kayu besar. Suara langkah mendekat, kemudian pintu terbuka. Di hadapan mereka berdiri seorang pria paruh baya dengan rambut putih berantakan, berkacamata bulat. Wajahnya penuh garis halus, namun matanya bersinar cerdas. Ia mengenakan kemeja flanel kumal dan jeans lusuh. Aroma buku tua dan kopi hangat menyeruak dari dalam rumah. “Tento. Sudah lama. Dan kamu pasti... Perikus? Aku pernah dengar tentangmu,” kata Profesor Dimas sambil tersenyum tipis. “Masuklah.”
Mereka melangkah masuk, melewati lorong yang dipenuhi rak buku dari lantai sampai plafon. Buku-buku dengan judul asing, fosil kecil, tengkorak hewan, model DNA. Di ruang tamu, ada meja bundar dengan tumpukan makalah, laptop, dan beberapa bejana eksperimen. Mereka duduk di kursi kayu yang agak berat. Profesor Dimas menuangkan teh dari teko, memberi mereka masing-masing cangkir. “Jadi, apa yang membuatmu mengirim pesan menegangkan itu?” tanyanya, memandang mereka di atas rim kacamatanya.
Tento membuka tas, mengeluarkan botol ungu. Ia meletakkannya di meja dengan hati-hati, seperti menaruh benda pusaka. “Prof, kita menemukan ini di pabrik makanan kaleng yang sekarang jadi laboratorium. Kami masuk secara diam-diam tadi malam. Kami juga melihat orang-orang yang diawetkan di ruang bawah tanah. Mereka terhubung dengan mesin. Kami merekamnya.” Ia menekan tombol kamera, memutar rekaman. Gambar ruangan pendingin, wajah orang-orang, termasuk Karin, terpampang di layar kecil. Wajah profesor berubah pucat. Ia melihat penuh konsentrasi.
“Saya tidak percaya... ini...,” gumamnya. Ia meraih botol ungu, meneliti labelnya. “B16. Ini bisa berarti apa saja. Bio 16? Batch 16? Saya pernah mendengar rumor tentang penelitian membuat manusia yang kuat, tahan penyakit, bahkan mampu mengontrol pikirannya. Tapi saya anggap itu hanya rumor. Dan ini? Cairan ungu ini... saya harus menganalisisnya. Tapi kita harus hati-hati. Jika ini mengandung virus atau senyawa berbahaya, kita harus pakai alat pelindung,” ujarnya. Ia berdiri, berjalan ke lemari, mengambil kotak metalik besar.
“Kita pakai glove box di belakang,” kata profesor. Ia menuntun mereka ke ruangan belakang yang tertutup kaca. Di dalamnya, ada alat seperti akuarium dengan sarung tangan panjang menonjol keluar. Ia memasang sarung tangan, menaruh botol di dalam, membuka penutupnya. Cairan ungu memancarkan aroma kimia yang tajam, seperti alkohol campur logam. Ia mengambil pipet, meneteskan cairan itu ke kaca slide, kemudian menempatkannya di bawah mikroskop. Matanya menempel di lensa, sementara otaknya bekerja.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Suara jarum jam di dinding terdengar jelas. Perikus menggigit bibir, menahan diri untuk tidak merokok di ruangan penuh reagen. Akhirnya, profesor mengangkat kepala. “Ini... ini bukan senyawa sederhana. Ada struktur RNA kompleks di sini. Seperti virus, tetapi dimodifikasi. Ia memiliki urutan yang tidak biasa, seolah-olah dirancang untuk melakukan sesuatu spesifik. Ini bisa menjadi bagian dari terapi gen, tetapi...,” ia berhenti, wajahnya menunjukkan kecemasan.
“Tapi apa, Prof?” tanya Tento, sabar.
“Tapi ini terlihat seperti perangkat pengantar gen yang bisa disuntikkan ke manusia. Cairan ini bisa memasukkan kode genetik ke dalam sel. Saya tidak tahu apa kodenya karena saya butuh laboratorium yang lebih lengkap untuk mengurutkan. Tapi yang saya takutkan, kalau cairan ini disuntikkan ke tubuh manusia dan dikombinasikan dengan stimulus tertentu, bisa mengubah perilaku, meningkatkan kekuatan, atau menekan kesadaran. Kalian bilang ada orang tidur? Mungkin mereka sedang dimodifikasi,” jelasnya, suaranya gemetar. “Ini ilegal. Sangat ilegal. Perusahaan apa pun yang melakukan ini, mereka melanggar hukum internasional.”
Tento merasa perutnya mencengkeram. “Jadi, mereka mencoba mengubah manusia menjadi apa? Senjata?” Bisikannya kering. Bayangan Karin dan aktivis lain tergeletak dengan kabel di kepala membuatnya ingin muntah.
“Bisa jadi,” jawab profesor, memegang cangkir teh untuk menenangkan tangan. “Atau pekerja super yang patuh. Atau tentara yang tidak merasa sakit. Banyak kemungkinan. Tapi satu hal pasti, ini jahat. Ini melanggar etika. Kita harus melaporkan ini. Tapi hati-hati. Orang-orang yang terlibat pasti berkuasa.” Matanya menatap mereka, serius. “Kalian harus mengamankan cairan ini di tempat yang tidak mereka ketahui. Dan saya akan membuat salinan data ini di otak saya dan di komputer aman. Saya akan mulai meneliti urutannya. Tapi kalian harus melindungi diri. Jika mereka tahu kalian yang mengambil, nyawa kalian terancam.”
Tento menelan ludah. Ada rasa takut yang jelas, tetapi juga tekad yang semakin kuat. “Apa kita bisa memperlihatkan ini kepada media? Atau pers internasional?” tanyanya. Ia mengingat bagaimana dulu aktivis kampus berhasil mengguncang publikasi dengan bukti korupsi. Namun, kali ini, lawan mereka tidak hanya menyelewengkan dana, tetapi bermain dengan nyawa manusia.
“Media lokal mungkin sudah dibeli. Media internasional bisa, tetapi kita butuh bukti kuat dan cara yang aman. Kita bisa menggunakan jurnalis independen, orang-orang yang memiliki reputasi berani. Tapi sebelum itu, kita harus mengumpulkan lebih banyak data. Video ini bagus, cairan ini bagus, tapi kita butuh dokumen internal, karyawan yang bisa bersaksi,” kata profesor. Ia memijat pelipis, menatap ke layar komputer. “Kalian bilang ada catatan nama pejabat. Pastikan aman. Dan kalau bisa, cari mantan karyawan yang mau bicara. Saya kenal seorang jurnalis di Yogyakarta yang berani. Tapi kita harus hati-hati. Komunikasi harus melalui kanal yang aman.”
Percakapan mereka terputus oleh bunyi ponsel Profesor yang berdering. Ia menatap layar, mengerutkan kening. “Ini nomor tak dikenal,” katanya, lalu mengangkat telepon. Suara di seberang tampak panik. “Halo? Ini Dimas. Ya. Tenang. Apa? Kau di mana? Aku akan datang.” Ia menutup telepon, wajahnya tegang.
“Ada apa, Prof?” tanya Perikus.
“Teman lama saya, seorang dokter yang bekerja di klinik gratis, baru saja mengatakan ada sekelompok orang membawa seorang pasien dengan gejala aneh. Dia mengatakan pasien itu berteriak-teriak seperti melihat halusinasi, memiliki kekuatan luar biasa, lalu pingsan. Pasien itu katanya pegawai pabrik makanan kaleng. Dia butuh pertolongan. Dokter itu takut melapor ke polisi karena melihat tato lambang perusahaan di lengan salah satu penjaga pasien,” jawab profesor, napasnya bergetar. “Aku harus ke sana. Kalian bisa ikut, jika siap melihat betapa buruknya ini.”
Tento dan Perikus saling memandang. “Kita harus ikut. Ini mungkin petunjuk penting,” kata Tento. Perikus mengangguk setuju. Mereka merasa kelelahan yang mereka rasakan seolah hilang, digantikan oleh adrenalin.
Mereka bertiga keluar dari rumah. Profesor mengunci pintu, membawa tas berisi alat-alat medis. Mereka memasuki mobil profesor, sebuah mobil kotak tua dengan jok berderit dan radio yang hanya bisa memutar saluran AM. Mobil bergerak melewati jalanan kota, melewati pasar, sekolah, dan rumah sakit besar. Mereka menuju area klinik gratis di pinggiran, sebuah bangunan sederhana berlantai satu dengan cat putih yang mulai mengelupas. Di depannya, beberapa warga duduk menunggu; wajah-wajah kelelahan, anak-anak terkulai di pangkuan ibu mereka. Bau obat antiseptik dan bau tubuh bercampur jadi satu.
Di dalam klinik, seorang dokter perempuan berusia empat puluhan, rambut diikat, keringat menetes, menyambut mereka. “Dimas! Terima kasih sudah datang cepat,” katanya. Matanya menunjukkan rasa takut. “Pasien ada di ruang belakang. Kita harus cepat. Orang-orang yang mengawalnya masih di luar. Aku takut mereka akan membawa dia pergi sebelum kita bisa berbuat apa-apa.”
Mereka berjalan ke ruang belakang. Di dalam ruangan sempit itu, ada ranjang besi tempat seorang pria muda terbaring. Tubuhnya tegap, otot-ototnya kaku. Keringat membanjiri wajahnya, matanya tertutup rapat. Di kulit lengannya ada bekas suntikan, memerah. Tiba-tiba, matanya membuka, menatap mereka dengan pandangan kosong. Pupilsnya membesar, seolah-olah ia melihat sesuatu yang tak terlihat. Ia berteriak keras, suaranya bergema di ruangan, lalu tiba-tiba bangkit. Ia meronta, memukul, mencoba melawan. Dua perawat memeganginya, tetapi ia begitu kuat. Ia menghantam dinding, membuat cat terkelupas. Napasnya terengah-engah, kemudian ia pingsan lagi, lemas seperti kain basah.
“Ini yang aku bilang,” kata dokter perempuan dengan suara bergetar. “Dia bilang ia sedang bekerja ketika merasa kepalanya sakit, lalu melihat bayangan-bayangan. Dia tak bisa berhenti mendengar suara perintah di kepalanya, menyuruhnya melakukan hal-hal yang gila. Kami memberikan obat penenang, tapi ia tetap meronta. Keluarganya bilang dia belum pulang seminggu. Dia pegawai pabrik. Aku melihat tato lambang perusahaan di lengan salah satu penjaga yang membawanya. Mereka memaksa kami diam. Mereka bilang ini hanya stres kerja. Tapi aku tidak bodoh. Aku tahu ada yang salah.”
Profesor Dimas mendekat, memeriksa pupil mata pasien dengan senter kecil. “Ini reaksi saraf yang ekstrem. Sepertinya ada neurotransmitter yang terganggu. Ini bisa ulah cairan kalian,” katanya pelan. Ia menoleh ke dokter. “Kita harus ambil sampel darah. Kita harus memastikan apakah ada senyawa ungu itu di dalam tubuhnya. Kita harus bergerak cepat. Orang-orang di luar bisa tiba-tiba memaksa membawa pasien pergi.”
Dokter perempuan mengangguk. “Aku akan siapkan jarum dan tabung. Perawat, bantu aku.” Ia bergerak cepat, tangan gemetar namun tegas. Mereka mengambil sampel darah dari pasien. Darah berwarna lebih pekat dari biasanya, seolah-olah kental. Mereka memasukkan ke dalam tabung kecil, kemudian menyimpan tabung itu di kantong dingin.
Tiba-tiba, terdengar suara ribut di depan klinik. Suara pria kasar bersahut-sahutan. “Kami ingin membawa pasien kami sekarang!” teriak seseorang. “Dokter tidak perlu mengurus lebih lanjut. Kami akan bawa dia ke fasilitas perusahaan!”
Tento, Perikus, profesor, dan dokter saling memandang. “Kita harus sembunyikan sampel ini,” bisik profesor. Mereka memasukkan tabung darah ke dalam kantong profesor. “Aku harus pergi lewat pintu belakang. Kalian hadapi mereka, pura-pura tidak tahu apa-apa,” tambahnya, wajahnya serius.
Dokter perempuan menelan ludah. “Baik. Aku akan bilang pasien sedang diperiksa. Kalian, sembunyilah di ruangan sebelah,” ujarnya. Perikus dan Tento menunduk, merapat ke dinding. Mereka mendengar suara pintu depan terbuka kasar, langkah kaki berat masuk.
“Dokter! Mana pasien?” suara pria kasar itu menggema, membuat bulu kuduk merinding. “Kami sudah tunggu terlalu lama!”
“Tunggu sebentar, Pak. Pasien sedang stabil. Dia butuh istirahat. Kalian bisa lihat dari kaca,” jawab dokter, suaranya tetap tenang. Mereka melihat dari celah pintu: dua pria berjas hitam, satu berkepala botak, satu lagi bertubuh tinggi dengan tatapan tajam. Di lengan si tinggi, terlihat tato perusahaan sama seperti yang disebut dokter. Mereka menoleh ke arah ruangan.
“Kami akan bawa dia sekarang juga. Bos kami bilang. Kami tidak peduli dokter bilang apa. Dia milik perusahaan,” kata si tinggi. “Dan kalian…,” matanya menyapu ruangan, berhenti sejenak, seolah menyadari sesuatu. “Jangan campur tangan.”
Situasi memanas. Sementara itu, profesor telah keluar melalui pintu belakang membawa sampel. Tento dan Perikus menahan napas, menyiapkan diri jika harus melompat keluar membantu dokter. Namun dokter itu tetap berdiri gagah, menatap dua pria itu. “Pasien ini butuh perawatan. Kalau kalian paksa bawa dia, kalian akan membahayakan nyawanya. Kalian yang bertanggung jawab kalau dia mati di jalan,” katanya dengan nada menantang. Suara lantangnya membuat orang-orang di depan berhenti.
Si botak menegang rahangnya, lalu menghela napas, berpikir cepat. “Baik. Kami akan kembali dalam satu jam. Pastikan dia siap. Kalau tidak, kamu dan klinikmu akan bermasalah,” ancamnya. Mereka akhirnya keluar, menutup pintu dengan keras. Suara kaki mereka menghilang.
Semua orang di ruangan menarik napas lega. Dokter perempuan menunduk, berlutut lemah. “Aku benci mereka,” katanya pelan. Matanya berair. “Terima kasih sudah datang, Dimas. Kau, pria kurus berkacamata, dan kamu, si gemuk, kalian berdua sangat berani. Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan, tapi jika kalian bisa menghentikan ini, lakukanlah. Banyak orang yang membutuhkan kalian.”
Perikus menatap dokter dengan senyum tipis. “Sepertinya begitu,” katanya. Kemudian mereka pamit, meninggalkan klinik lewat pintu belakang.
Di perjalanan pulang, suasana di mobil penuh dengan keheningan dan perenungan. Profesor mengemudi dengan mata tetap ke depan, memikirkan langkah selanjutnya. “Kita tidak bisa hanya menunggu,” katanya akhirnya. “Kita harus bertindak. Kita harus cari mantan karyawan yang bisa bersaksi. Kita juga harus mulai menghubungi jurnalis independen. Tapi yang paling penting, kalian berdua harus tetap aman. Jangan kembali ke pabrik malam ini. Mereka pasti menaikkan keamanan.”
Tento mengangguk. “Kita akan mencari mantan karyawan. Di pasar tadi, kami mendengar seorang wanita suaminya hilang. Mungkin kita bisa cari tahu lebih banyak. Dan kita akan mencari tahu lebih banyak tentang Project B16. Cari segala sesuatu tentang Pharmavita dan perusahaan-perusahaan yang terkait. Mungkin kita bisa menemukan jejak mereka,” katanya. Ia merasakan kelelahan namun juga tekad yang semakin kuat. Ia menatap Perikus, yang kini memutar-mutar rokok di jarinya.
“Kita masuk lebih jauh sekarang,” kata Perikus pelan, lalu tertawa kecil. “Ini seperti naik roller coaster. Kau tahu itu akan menakutkan, tapi kau tetap naik.”
Mobil berhenti di depan rumah kontrakan. Mereka turun, saling berpamitan. Profesor membawa sampel darah untuk dianalisis di tempat aman. Dokter akan menjaga pasien sebaik mungkin. Mereka tahu malam akan datang lagi, membawa tantangan baru. Mereka tahu ada nyawa-nyawa bergantung pada langkah mereka. Tetapi meski tegang, mereka memilih untuk tetap tertawa, memilih humor sebagai senjata. Karena di dunia yang rumit ini, terkadang hanya tawa yang bisa membuat kita tetap waras.