Ada cinta yang tumbuh… bukan untuk dimiliki sepenuhnya, tapi untuk bertahan di hati yang sudah retak.
~ Zahra ~
Zahra menikahi Adnan, seorang duda yang kehilangan istrinya karena maut lebih dulu memanggil. Ia tahu, sejak awal, bahwa ia bukan cinta pertama. Ia hanya perempuan yang datang setelah sebuah kisah agung berakhir. Namun Zahra tetap memilih bertahan, menanam kasih di tanah hati yang sebagian masih ditumbuhi bayang-bayang masa lalu.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang bukan tentang dirinya dan Adnan.
Lalu sampai kapan sebuah hati sanggup bersabar?
Sampai kapan cinta bisa hidup tanpa benar-benar dimiliki?
Di antara kesetiaan, keikhlasan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh… Zahra harus memilih: tetap berusaha mencintai, atau pergi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebab terkadang…
yang paling menyakitkan bukan tidak dicintai,
melainkan dicintai setengah hati oleh seseorang yang masih hidup di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musibah yang lebih pahit
Pagi kembali datang, Zahra duduk di meja makan. Lagi-lagi ia sendirian. Ia pun menanyakan Pada Mak Rini yang sedang menyiapkan makanan di atas meja.
"Bapak belum turun, ya, Mak?"
"Bapak?" wanita sepuh di depannya meletakan sendok ke piring saji berisi sup, kemudian menoleh kearah Zahra. "Bapak Nggak di rumah, Bu. Semalam pergi lagi. Bahkan nggak ada satu jam dari saat pulang itu."
"Pergi lagi?" Apa Beliau sengaja melakukan itu untuk menghindar lagi? (sambungnya dalam hati.)
"Iya, Bu. Bapak juga keliatannya buru-buru banget."
Mendengar itu, Zahra tak lagi bertanya. Hatinya seolah semakin sakit akibat merasa terus di permainkan. Adnan benar-benar tak menganggapnya sebagai istri.
Kalau benar demikian? kenapa Ia tak kunjung melepaskan. Setidaknya, ia memberi status yang jelas agar Zahra bisa menetap atau mungkin pergi.
"Saya jalan duluan, ya, Mak." Zahra tak lagi bernafsu, ia memilih berangkat kerja tanpa memakan sedikitpun sarapannya.
"Sarapannya gimana, Bu?"
Mak Rini terlihat cemas. Ia bahkan sempat menahan Zahra untuk tetap menyantap makanannnya meskipun hanya sedikit. Tapi Zahra menolak halus. Ia sudah merasa cukup hanya dengan mengkonsumsi susu saja. Ya, hatinya benar-benar sudah tak bisa lagi di rumah ini. Tapi, ia ingat. Ada janin yang menuntut kejelasan nantinya. Jadi dia harus bertahan. Khawatir, bayi yang di kandungnya adalah bayi perempuan. Yang pastinya membutuhkan nasab Ayahnya.
....
Sementara itu di tempat lain, Adnan sibuk mengurus perumahannya yang terdampak banjir. Membuatnya harus menelan kerugian besar karena Ia harus membayar uang ganti rugi untuk para penghuni. Belum lagi yang meminta pengembalian DP karena merasa tak yakin untuk tetap tinggal di perumahan tersebut. Ia sampai melupakan apa yang terjadi di rumahnya. Dan lebih memilih fokus pada pekerjaannya selama berhari-hari.
...
Waktu terus bergerak, Zahra semakin di liputi stress berat. Ia tak nafsu makan, bahkan lebih banyak menangis. Tubuhnya kian lemah dan tak bertenaga.
Bagaimana tidak? Segala kesakitannya ia telan sendiri. Tak ada satupun telinga yang ia percayai untuk mengurangi bebannya. Beberapa kali ia merasakan kontraksi ringan pun ia abaikan. Di pikirnya itu hal biasa. Karena kontraksi palsu memang acap kali muncul. Itu kata teman-teman yang pernah hamil.
Dia hanya perlu istirahat, serta mengkonsumsi obat penguat seperti biasa. Namun, dari abainya itu membuat Zahra menyadari sesuatu. Bahwa selama semalam hingga siang ini, ia tak merasakan gerakan bayinya sama sekali.
"Apa dia tidur? Atau mungkin tadi gerak tapi akunya nggak merasakan, ya? Nanti ke klinik, deh." Zahra berpikir positif meskipun dengn sedikit kepanikan juga. Tangannya terus memegangi perutnya, dengan usapan lembut.
...🥀🥀🥀...
Bidan di klinik memeriksa detak jantung dangan fetal doppler. Wajah bidan yang memeriksa terlihat tegang. Tak ada sepatah kata sama sekali terucap seperti biasanya. Yang membuat Zahra semakin aneh, sebagai orang awam pun ia tak mendengar suara riuh seperti biasanya. Hanya suara gesekan alat saat di pindah posisi. Bu bidan menelan ludah. Terus memeriksa dan mememeriksa. Setelahnya menggeleng.
"Bagaimana, Bu Bidan?"
"Kita coba duduk dulu, ya, Bu Zahra," ajaknya.
Zahra bangkit, kemudian menyusul bidan yang sudah duduk lebih dulu di kurainya.
"Bu, Maaf ya. Saya sih, agak kurang yakin. Semoga diagnosa saya salah. Sebaiknya, Bu zahra langsung ke rumah sakit aja."
"Emangnya kenapa, Bu? Ada yang salah dengan bayinya?"
Bidan di depan Zahra menggigit ujung bibir. Ia bingung harus mengatakannya. Terlebih, pasiennya hanya sendirian di sini. Tidak ada yang mendampingi.
"Bu Bidan? Tolong jangan bikin saya penasaran..." perasaan Zahra tidak enak. Sementara kontraksi ringan masih terasa.
"Maaf ya, Bu, ya. Saya harap ibu tenang saat mendengar ini. Saya memperdiksi IUFD."
"IUDF? Ma-maksudnya?" perasaan Zahra makin tak karuan. Terlebih saat bidan memegang tangannya.
"Ibu tenang ya... Jujur saja. Alat saya nggak bisa mendeteksi adanya detak jantung janin di perut ibu seperti biasa. Kemungkinan?" bidan sangat berah hati untuk mengatakannya. "Kemungkinan, bayi sudah tidak bernyawa di dalam kandungan, Bu. Atau bahasa medisnya IUFD."
Tubuh Zahra mendadak kaku. Sulit di percaya, ketika kemarin ia masih bisa merasakan gerakan kecilnya. Bahkan terakhir kontrol pun dokter kandungan mengatakan bayi dalam keadaan sehat. Ia bahkan bisa melihatnya bergerak aktif dalam monitor saat di lakukan usg 4 dimensi.
"Yang sabar ya, Bu. Tapi semoga saja memang ini kesalahan alat di klinik ini. Saya akan biki. Rujukan... Ibu kesini benar-benar sendirian? Naik kendaraan apa? Atau mau kami antar aja? Saya usahakan ada yang akan mengantar ibu ke rumah sakit terdekat."
Setitik air mata menetes. Zahra menghapusnya. "Buatkan saja, Bu. Saya harus segera ke rumah sakit untuk memastikan lagi."
"Ah, ya..." Bidan klinik itu segera mencatatan rujukannya. Kemudian menyerahkannya pada Zahra. "Ibu yang tenang ya..."
Zahra hanya tersenyum getir. Ia mengucapkan terima kasih dengan sangat lirih kemudian pergi.
....
Di rumah sakit, Ia hanya berdiri saja di depan UGD seperti orang kebingungan. Air mata bahkan masih menampung di pelupuk mata. Ia ragu-ragu. Karena takut apa yang di katakan bidan tadi itu benar adanya. Bayi dalam kandungannya sudah tidak bernyawa.
Di saat yang bersamaan, Faqih keluar dari pintu utama rumah sakit. Karena rumah sakit itu dekat dengan rumah orang tuanya. Kebetulan, Uma Hasna baru saja kontrol rutin. Dan sudah pulang lebih dulu dengan Abinya. Sementara Dia yang menunggu obat di bagian Farmasi.
Pria itu awalnya ingin langsung pulang, tapi melihat Zahra seperti hanya diam saja di sana membuatnya penasaran. Tapi, Faqih juga melihat-lihat. Apakah benar Zahra hanya sendirian? Beliau menunggu hingga lebih dari dua puluh menit. Dan akhirnya mendekat.
"Za?" panggilnya.
Wanita berhijab itu menoleh. Melihat Faqih di sana pertahannya seakan runtuh. Meskipun masih bisa ia usahakan untuk tetap tenang.
"Kamu lagi ngapain di sini? Sendirian?"
Zahra mengangguk, lalu mengusap air matanya. Bibirnya mendadak bisu. Membuatnya tak bisa menjawab apapun.
Faqih awalnya agak kebingungan. Tapi ia melihat surat di tangan Zahra. "Kamu mau ada urusan di sini atau?"
Zahra menyerahkan surat itu Pada Faqih. "Tolong, A'. Bantu Zahra kasih ini ke perawat di dalam."
Tangan pria itu reflek menerimanya. Sementara Zahra menjauh. Dan berjalan menuju kursi tunggu dengan pandangan kosong. Dia yang awalnya tidak begitu peduli, menjadi mendadak iba. Lantas menuruti permintaan Zahra. Masuk ke ruang IGD lantas menyerahkan surat rujukan itu. Sang perawat membacanya kemudian menoleh ke arah Faqih.
"Pasiennya mana, Pak?" tanyanya cepat. Tangan Faqih pun menunjuk keluar.
"Di luar—" jawabnya kaku.
"Dias! siapin Bed, cepet. Buat pasian dengan diagnosa IUFD. Hubungi Dokter Bowo juga ya. Cepet, Ias!"
"Ayo pak, kasih tau dimana istrinya!" Perawat pun berjalan cepat.
"Bu-bukan..." Faqih menggeleng.
"Ayo, Pak! Janin dalam kandungan istri bapak sudah nggak bernyawa loh!"
Deg! Faqih terkejut mendengar itu. Ia pun kini menjadi semakin serba salah. Di sisi lain ia bukan muhrim dari Zahra. Tapi di sisi lain juga kasian dengannya yang sendirian. Ia pun mengikuti instruksi sementara. Sampai semua agak terkendali. Barulah dia menghubungi keluarga Zahra.
Sementara itu, ponsel yang ada di dalam tasnya menyala. Tapi karena mode silent Ia jadi tidak tahu kalau Nuha sejak tadi menelfonnya lebih dari lima kali.
semoga saja otor memberi kamu kesengsaraan dan penyesalan yang lebih dari kamu kehilangan istri pertamamu.