NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pintu yang Mulai Bergetar

Pagi itu awalnya biasa aja.

Cantika bangun sambil manggil pelan,

“Ayah…”

Kevin yang lagi nyeduh kopi langsung nengok.

Tapi ada yang beda dari suara itu.

Lebih pelan. Lebih lemah.

Kevin buru-buru masuk kamar.

“Ayah… kepalaku pusing.”

Tangannya langsung nyentuh dahi Cantika. Hangat.

Nggak tinggi banget, tapi cukup bikin hati orang tua panik.

“Kamu kurang tidur?” tanya Kevin lembut.

Cantika geleng pelan. “Nggak tahu…”

Kevin nggak mau ambil risiko. Dia gantiin baju Cantika, ambil tas kecil, lalu langsung bawa ke rumah sakit.

Sepanjang jalan, Cantika cuma diam.

Tangannya nggak lepas dari jari Kevin.

Kevin kelihatan tenang.

Tapi kepalanya udah muter ke mana-mana.

Anak itu segalanya buat dia.

Kalau kenapa-kenapa…

Dia nggak mau ngebayangin.

Di ruang tunggu, Cantika bersandar di dada Kevin. Wajahnya pucat.

“Sebentar ya, Cantik,” bisik Kevin.

Nama dipanggil.

Mereka masuk.

Dokter periksa cepat.

“Cuma kecapekan dan kurang cairan. Istirahat cukup, banyak minum.”

Kevin langsung buang napas lega.

“Terima kasih, Dok.”

Dia gendong Cantika keluar ruangan.

Dan langkahnya langsung berhenti.

Di ujung lorong…

ada seseorang yang dia kenal banget.

Siska.

Waktu kayak berhenti lagi.

Siska juga langsung beku.

Dia ke rumah sakit cuma buat nemenin sepupunya kontrol. Nggak pernah kebayang bakal ketemu Kevin—

dan anak itu.

Cantika.

Anak kecil yang sekarang ada di pelukan Kevin.

“Siapa itu, Yah?” bisik Cantika pelan.

Kevin nggak langsung jawab.

Siska pelan-pelan maju satu langkah.

“Kevin…” suaranya lirih.

Kevin nelen ludah.

“Siska.”

Nama itu berat banget.

Siska lihat Cantika lama.

Anak itu mirip Kevin.

Tapi entah kenapa… ada sesuatu di matanya yang bikin dada Siska sesak.

“Itu… Cantika?” tanya Siska pelan.

Kevin angguk.

Siska jongkok biar sejajar.

“Halo…”

Cantika miringin kepala.

“Tante siapa?”

Siska senyum tipis, walau matanya mulai panas.

“Tante… teman lama Ayah kamu.”

Cantika nengok ke Kevin.

“Ayah?”

“Iya, Nak,” jawab Kevin singkat.

Teman lama.

Bukan ibu.

Bukan apa-apa.

Siska tahu, dia nggak punya hak buat marah.

“Cantika sakit?” tanya Siska pelan.

“Cuma capek,” jawab Kevin.

Lorong itu rame orang lalu-lalang.

Tapi buat mereka… rasanya sunyi banget.

“Aku nggak tahu kamu di sini,” kata Siska.

“Aku juga,” jawab Kevin datar.

Siska berdiri lagi. Tangannya sedikit gemetar.

“Dia… cantik banget.”

Kevin senyum kecil.

“Iya.”

Tiba-tiba Cantika lihat Siska lama.

“Tante mirip aku.”

Kevin dan Siska langsung saling lihat.

Anak kecil kadang bisa lihat hal yang orang dewasa pura-pura nggak ada.

Siska ketawa kecil, nahan tangis.

“Iya ya?”

Dan tanpa mikir panjang, Cantika ngomong lagi—

“Tante mau jadi ibu aku?”

Kevin langsung kaget.

“Cantika!”

Siska rasanya kayak ada yang narik jantungnya dari dalam.

Cantika masih polos banget.

“Aku nggak punya ibu. Kalau tante baik, boleh nggak?”

Kevin nggak tahu harus ngomong apa.

Siska pengen banget meluk anak itu.

Pengen bilang, aku ibumu.

Tapi hak itu… udah dia lepas dulu.

Kevin lihat Siska dengan tatapan campur aduk.

Ada lelah.

Ada luka.

Ada sesuatu yang belum selesai.

Siska pelan-pelan usap rambut Cantika.

“Tante nggak bisa jadi ibu kamu… tapi tante doain kamu selalu sehat ya.”

Cantika agak kecewa, tapi angguk kecil.

Kevin akhirnya bilang,

“Kami harus pulang.”

“Iya,” jawab Siska cepat.

Kevin lewat di samping Siska.

Bahu mereka hampir nyentuh.

Beberapa langkah kemudian, Siska manggil.

“Kevin.”

Kevin berhenti. Tapi nggak langsung nengok.

“Terima kasih… udah jaga dia.”

Kevin pejamkan mata sebentar.

“Itu tugasku.”

Siska tarik napas.

“Aku… minta maaf.”

Akhirnya Kevin nengok.

Tatapan mereka ketemu lagi.

“Minta maaf nggak mengubah apa-apa, Sis.”

Nggak ada marah di suaranya.

Justru terlalu tenang.

Siska angguk pelan.

“Aku tahu.”

Cantika melambai kecil.

“Bye, Tante!”

Siska balas lambaian itu dengan senyum rapuh.

Kevin jalan lagi.

Siska berdiri lama banget di lorong itu.

Dia baru aja lihat anaknya.

Anak yang nggak pernah dia gendong.

Anak yang manggil dia…

tante.

Air mata jatuh pelan.

Di mobil, Cantika nanya lagi.

“Ayah, tante itu baik ya?”

Kevin angguk.

“Iya.”

“Aku suka.”

Kevin genggam setir lebih kenceng.

“Kalau Cantika suka, Ayah marah nggak?”

Kevin diam lama banget.

“Nggak,” jawabnya akhirnya pelan.

Malamnya Kevin susah tidur.

Wajah Siska tadi terus muncul.

Lebih kurus. Lebih tenang. Ada penyesalan di matanya.

Dia kira dia udah kebal.

Ternyata belum sepenuhnya.

Di kamar lain, Cantika tidur nyenyak.

Sementara itu, Siska duduk di lantai kamarnya.

Nangis tanpa suara.

Cantika nyata.

Hidup.

Tumbuh.

Dan dia nggak ada di sana.

“Aku pantas dapet ini…” bisiknya.

Tapi di balik rasa bersalah itu…

ada sesuatu yang kecil banget.

Harapan.

Cantika nggak benci dia.

Anak itu bahkan mau dia jadi ibu.

Mungkin…

pintu itu belum sepenuhnya ketutup.

Kevin berdiri di depan jendela kamar Cantika. Lihat anaknya tidur.

Dia tahu, pertemuan tadi bukan cuma kebetulan.

Kayak takdir lagi ngetuk pintu yang udah lama dia kunci.

Sekarang tinggal satu pertanyaan—

Dia berani nggak…

buka lagi?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!