Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melodi Perpisahan
Hari ini SMK mendadak jadi lautan kemeja batik dan kebaya. Panggung besar sudah berdiri tegak di tengah lapangan, lengkap dengan sound system yang jedag-jedug sampai bikin jantung Kenan serasa mau pindah ke lambung. Ini adalah hari perpisahan pelepasan kakak kelas 3.
Di belakang panggung, Kenan bolak-balik ke kamar mandi sampai lima kali. Penampilannya hari ini benar-benar keren. Rambut ikalnya klimis, wangi parfumnya radius lima meter sudah tercium, dan kemeja batiknya sangat pas membungkus tubuh tegapnya.
"Woi, Nan! Kau ini mau nyanyi atau mau beser? Bolak-balik toilet terus," tegur Jovan yang sudah siap di belakang drumnya, tampil necis dengan kacamata hitam yang salah satu gagangnya diganjal kertas (maklum, barang lama).
"Aku gugup, Van! Ini pertama kalinya aku nyanyi lagu ciptaan sendiri bareng Kala di depan orang banyak. Gimana kalau suaraku tiba-tiba cempreng macam kejepit pintu?" keluh Kenan sambil mengatur napas.
"Tenanglah, kau kan sudah glow up. Kalau suara kau hancur, minimal muka kau masih enak dilihat. Itu gunanya diet nasi merah tiga bulan kemarin!" Jovan menghibur dengan cara yang sangat tidak membantu.
Saat yang ditunggu pun tiba. MC memanggil band mereka. Kenan naik ke panggung dengan langkah mantap meski lututnya sedikit gemetar. Di barisan depan, dia melihat Kala yang tampil luar biasa cantik dengan kebaya kutubaru warna pastel. Matanya berbinar menatap Kenan.
Kenan memegang mic, lalu berdehem. "Cek, satu dua. Halo semua. Lagu ini spesial. Bukan lagu cover, tapi lagu yang lahir di antara tumpukan nota pajak dan aroma kertas fotokopi saat kami magang dulu. Lagu ini tentang... seseorang yang selalu ada di setiap nada yang saya petik."
Kenan mulai memetik gitarnya. Intro lagu yang mereka buat di rooftop kantor mengalun indah. Suara Kenan yang jernih dan penuh perasaan bikin suasana lapangan yang tadinya berisik jadi hening seketika. Pas masuk bagian chorus, Kenan memberikan isyarat ke arah barisan anak TKJ.
"Kala, naik sini!" seru Kenan lewat mic.
Kala kaget, wajahnya memerah padam. Teman-temannya, Elin dan Maura, langsung mendorong-dorong Kala naik ke atas panggung. Dengan langkah malu-malu kucing tapi mau, Kala naik ke samping Kenan. Kenan memberikan satu mic tambahan untuk Kala.
Setelah lagu ciptaan mereka selesai dan penonton bersorak minta tambah, Kenan menoleh ke arah Jovan dan memberikan kode rahasia.
"Satu lagu lagi ya? Lagu ini untuk kalian yang percaya bahwa sejauh apa pun pergi, yang namanya tulang rusuk nggak akan pernah tertukar," ujar Kenan.
Jovan mulai memukul drum dengan tempo pelan. Jreng! Kenan memetik intro lagu Last Child yang legendaris.
"Tak akan pernah bisa,
Tentang apa yang harus memisahkan kita..." Kenan mulai bernyanyi dengan suara yang serak-serak basah, menatap Kala yang berdiri tepat di sampingnya.
Kala menarik napas panjang, lalu masuk ke bagiannya dengan suara yang bikin bulu kuduk penonton berdiri.
"Jika memang dirimulah tulang rusukku... Kau akan kembali pada tubuh ini..."
Penonton satu sekolah langsung histeris. Ada yang teriak, ada yang ikut menyanyi, bahkan ada guru-guru yang sibuk merekam pakai HP. Kenan dan Kala bernyanyi sambil saling berhadapan.
Saat bagian reff yang paling deep, suara mereka menyatu dengan harmoni yang luar biasa.
"Ku akan tua dan mati... dalam pelukmu..."
"Untukmu seluruh nafas ini..."
Di atas panggung itu, Kenan merasa dunianya hanya berisi dia dan Kala. Kenan membisikkan sesuatu di sela-sela musik tanpa mic. "Kal, jangan nangis ya, nanti maskara kamu luntur jadi kayak rakun."
Kala yang tadinya mau terharu sampai matanya berkaca-kaca malah jadi tertawa kecil sambil mencubit pinggang Kenan di atas panggung.
Penonton langsung bersorak, "CIEEEE! LANJUTKAN!"
Momen paling sweet adalah saat bait terakhir, Kenan memegang tangan Kala dengan erat dan menatapnya dalam-dalam. Di barisan guru, Papa Haris yang ternyata datang (diam-diam diseret Ibu Kala) tampak mengangguk-angguk kecil sambil melipat tangan di dada. Beliau tidak marah, malah tampak bangga melihat "sahabat belajar" anaknya punya bakat yang luar biasa.
Begitu lagu selesai, riuh tepuk tangan pecah. Jovan di belakang drum langsung melakukan solo drum yang sangat heboh sampai salah satu stiknya terbang dan hampir mengenai kepala Pak Kepala Sekolah.
"MAAF PAK! EFEK TERLALU SEMANGAT!" teriak Jovan tanpa rasa berdosa.
Kenan dan Kala turun dari panggung. Mereka berjalan menuju bawah pohon ketapang untuk mencari udara segar.
"Nan... kamu gila ya? Malu tahu nyanyi di depan semua orang gitu," ujar Kala sambil kipas-kipas wajahnya pakai tangan yang masih gemetar.
"Malu tapi seneng kan?" goda Kenan. Dia mengambil sekotak kecil cokelat dari sakunya.
"Nih, buat kamu. Sebagai tanda suksesnya duet maut kita hari ini. Suara kamu tadi... asli, bikin aku mau pingsan saking bagusnya."
"Makasih ya, Nan. Kamu beneran pahlawan aku hari ini," Kala menerima cokelat itu. "Eh, kamu lihat nggak tadi? Papa ada di pojokan lho!"
Kenan langsung lemas. "Hah?! Beneran? Waduh, tadi aku pegang tangan kamu pas lirik 'tulang rusuk'... bakal kena interogasi martabak telur delapan nggak ya aku nanti?"
"Hahhaha! Tenang, Papa tadi malah senyum kok. Katanya lagu kamu lebih bagus daripada lagu galau yang diputar di radio," hibur Kala.
Tiba-tiba, HP Kenan berbunyi. Ada pesan WhatsApp dari nomor asing, tapi dari fotonya sudah jelas itu Revan.
Pesan Revan: "Nikmati panggung kalian hari ini. Tapi ingat, jarak satu jam itu masih cukup buat aku datang kapan saja."
Kenan melihat pesan itu, lalu menunjukkan ke Kala. Dia tidak lagi merasa terancam. Dia justru mengetik balasan singkat sambil tersenyum ke arah Kala.
Balasan Kenan: "Datanglah, Rev. Tapi jangan lupa bawa dompet. Kasihan kalau satu jam perjalanan cuma buat numpang haus di gerbang. Salam dari panggung perpisahan!"
Kala tertawa terpingkal-pingkal membaca balasan Kenan. "Ih, kamu jahat banget deh!"
"Biarin, Kal. Biar dia tahu kalau melodi kita sudah tak bisa diganggu frekuensi lain," ujar Kenan mantap.
*******
Sore itu ditutup dengan sesi foto bersama. Kenan, Kala, dan Jovan berpose konyol di depan panggung. Kenan merasa, meskipun sekolah ini akan segera berakhir setelah kelas tiga nanti, tapi perjalanannya dengan Kala baru saja menemukan nada dasarnya.
"Nan," panggil Kala sebelum mereka pulang.
"Ya?"
"Makasih ya sudah mau diet nasi merah demi bisa berdiri tegak di samping aku hari ini. Kamu beneran 'tulang rusuk' yang sudah kembali," bisik Kala sambil tersenyum manis.
Kenan nyengir lebar, wajahnya memerah sampai ke telinga. "Apa pun buat manajer band aku. Tapi besok boleh ya aku makan bakso mercon sepiring? Sebagai perayaan?"
"Boleh, asal aku yang bayarin!"
"Eitss, tidak bisa! Aku kan laki-laki, masa dibayarin terus? Nanti aku disangka Revan kedua!"
Mereka pun pulang dengan tawa yang membahana, meninggalkan kenangan manis di lapangan sekolah yang menjadi saksi bisu transformasi seorang raksasa menjadi pangeran melodi.