Tania Saraswati, berusia 18 tahun dibesarkan di sebuah panti asuhan Kasih Ibu. Tania di tinggalkan ketika masih bayi di depan panti asuhan. Setahun yang lalu Tania lulus sekolah dan ia bertekad untuk mencari pekerjaan di kota dan membantu biaya adik-adik panti. Tapi malang nasib Tania ketika baru beberapa bulan bekerja di kota mendapat musibah. Musibah itu akhirnya dia harus menerima kenyataan dengan usia masih muda harus hamil di luar nikah. Kenyataan pahit yang ia terima diperkosa dan mengandung hasil dari tragedi pemerkosaan tersebut.
Tania tak sengaja bertemu lelaki yang memperkosanya. Akankah Tania meminta pertanggungjawab atas apa yang dilakukan olehnya setelah beberapa tahun Tania menghilang apalagi lelaki tersebut tak mengenal Tania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Maryana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Delapan
Sampai jam tujuh malam Tania dan kedua anaknya pulang dan Tania masuk ke apertemennya kaget melihat Sekar, Faldly, Retno, Ira dan Tasya ada di apertemennya kecuali Ayu yang sudah tidur di kamar Tasya, Ia mengira semua akan menginap di apertemen Ira.
“Assalamualaikum ” sapa Tania dan di ikuti oleh kedua anaknya karena Tania mengajarkan pada kedua anaknya untuk ucapkan salam pada mereka.
“Waailakumsalam” jawab mereka semua serempak
Tasya memandang Tania dengan rasa senang di hatinya karena melihat Tania tidak pergi. Tania dan kedua anaknya menyalami Sekar, Retno, Faldly dan Mbak Ira serta Tasya. Tapi Tania tak mempedulikan bahkan tidak memandang Tasya membuat Tasya merasa ada yang hilang tak biasanya. Ira yang tau itu hanya merangkul pinggang Tasya lalu mengusap pinggang Tasya, Tasya yang merasakan tangan Ira lalu memandang Ira dengan sendu dan Ira hanya tersenyum dengan menggeleng kepala. Sedangkan Retno hanya menggeleng kepala melihat Tania yang acuh pada Tasya sedangkan Tasya memandangnya
“Aku kira Mama sama papa nginap di apertemen mbak Ira” Ucap Tania ketika duduk di samping Retno karena Rania duduk di pangkuan Retno sedangkan Rizky duduk di samping Tania.
“Gak Nia.. Papa dan Nenek mau mau kita berangkat besok dari sini semuanya bersama – samanya” Ucap Sekar
“Nia.. kamu dan anak – anak sudah makan ? Kalau belum ibu panaskan makanan yang tadi dipesan untuk kamu sama anak – anak “Tanya Sekar
“Makasih ma tapi aku sama anak – anak udah makan karena mereka habis main jadi lapar jadi sekalian kita makan sebelum pulang “ Ucap Tania
“Ya udah gak apa – apa biar makanannya untuk besok kita sarapan sebelum berangkat “ Ucap Sekar
“Nek aku mau bobo sama nenek” Ucap Rania pada Retno karena biasanya Rania tidur sama Retno jika Retno datang.
“Gak Rania sayang.. mami yang tidur sama Rania” ucap Tania membuat Rania langsung cemberut manja pada Retno
Sebenarnya Tania ingin menghindar dari Tasya karena pasti Tania tidur sama Tasya
“ululu.. cucu nenek mukanya cemberut .. ya udah Rania tidur sama nenek” Ucap Retno
“Tapi bu.. “ ucap Tania yang ingin protes
“gak apa – apa nak.. Biasanya juga Rania tidur sama ibu ... nanti kamu tidur sama Tasya aja “ Ucap Retno yang ingin anak angkatnya berbaikan
Kalau begini Tania sudah tak membantah lagi dan Retno mengantarkan Rizky dan Rania karena Rizky juga udah ngantuk. Rizky dan Tania menyalami Sekar, Faldly, Tasya dan Ira sesudah itu mereka masuk ke kamar mereka.
“Pa .. ma .. mbak aku naik duluan mau bersih – bersih dan langsung tidur “ Ucap Tania yang masih tak peduli sama Tasya dan tak berbicara padanya
Sekar dan Faldly hanya mengangguk kepala dan Tania juga masuk ke kamar, Ira yang melihat Tania yang tak memandang ke arah Tasya hanya bisa menggeleng kepala
“Sya ikut kak Nia.. kak Nia udah marah tuh dari masuk gak negur kamu“ Ucap Sekar
“Sana .. minta maaf sama kak Nia“ ucap Ira memandang Tasya yang sudah menahan tangis karena matanya sudah merah
“Iya mbak... pa.. ma .. mbak aku ikut kak Nia dulu” Ucap Tasya dengan suar serak
Tania yang sudah masuk ke kamarnya langsung menaruh tasnya dan sepatu lalu mengambil handuk untuk mandi karena merasa gerah karena seharian di luar. Saat Tania mau masuk kamar mandi pintu di ketuk dari luar membuat dia urung masuk ke kamar mandi dan memandang pintu kamar yang masih di ketuk dari luar membuat dia berjalan kearah pintu kamar lalu membuka pintu dan kaget melihat Tasya yang sudah berdiri diam di depan pintu kamarnya
“kenapa pakai ketuk pintu gak masuk aja.. ” Ucap Tania
“Ada apa, Tasya ?” Tanya Tania yang masih melihat Tasya diam
Deg
Panggilan Tania membuat Tasya kaget lalu memandang Tania dengan diam dan hati merasa sakit karena panggilnya Tania sudah berubah itu artinya memang Tania marah padanya. Tania yang melihat Tasya hanya diam langsung menegurnya kembali
“Kenapa berdiri diam di depan pintu, Sya ?” Tanya Tania heran melihat Tasya masih diam
Tasya yang mendengar panggilan Tania langsung sedih dan matanya sudah berembun
“Maaf kak... “ Ucap Tasya yang tak bisa dilanjutkan karena di potong oleh Tania
Tania yang melihat matanya Tasya yang sudah berembun menghela napas lalu membuang dengan kasar tanpa suara langsung memotong ucapan Tasya yang meminta maaf
“Kalau mau masuk .. ayo sekalian tutup pintu juga.. aku mau mandi gerah “ Ucap Tania lalu berbalik tanpa memperdulikan Tasya yang sudah menangis di depan pintu kamarnya
Tasya yang melihat Tania masuk lagi menjadi sedih dan menangis kembali mendengar ucapan Tania lalu Tasya masuk dan duduk di samping tempat tidur dengan bersandar sambil memeluk bantal kepala sambil memandang pintu kamar mandi. Didalam kamar mandi Tania yang sebenarnya tadi melihat Tasya yang menangis meminta maaf padanya merasa ingin memeluknya tapi Tania takut Tasya masih marah padanya dan Tania juga ingin menghukum Tasya dengan cara mendiami juga sama seperti Tasya. Lama barulah Tania keluar dengan mata sedikit bengkak, ketika keluar Tania melihat Tasya yang sudah diam memandang Tania yang keluar dari kamar mandi dan tanpa mempedulikan Tasya yang memandangnya lalu ke arah meja untuk mengambil dan memakai cream malam sebelum tidur rutinitas sebelum tidur.
Tasya masih memandang Tania dan Tania tau itu tapi tak peduli lalu Tania beranjak kearah tempat tidur di sebelah duduk Tasya
“Kak.. “ panggil Tasya pelan
Tanpa mempedulikan Tasya memanggilnya, Tania langsung berbaring di tempat tidur dan membelakangi Tasya
“Kak Nia.. “ panggil Tasya sekali lagi tapi masih dengan pelan
“Tidur Sya udah malam dan besok pagi – pagi kita udah berangkat“ Ucap Tania dengan masih membelakangi Tasya
Tasya yang mendengar masih memanggil namanya menjadi sedih apalagi Tania berbicara masih membelakanginya. Tasya menangis dalam diam sambil ikut berbaring memandang ke arah atas dan tak lama Tasya tidur menghadap Tania yang masih membelakanginya. Tangan Tasya yang ingin memeluk Tania menjadi ragu dan dengan keraguan serta menguatkan hatinya Tasya lalu memeluk Tania di perut. Tidak disangka Tasya Tania melepaskan tangan Tasya dari pelukan membuat Tasya kaget dan memandang Tania yang masih membelakanginya
“Jangan di peluk.. aku kepanasan “ Ucap Tania
Tasya tak percaya dengan apa yang di ucapkan Tania karena kalaupun panas kenapa Tania memakai selimut yang tebal, Tasya yang sudah tak kuat menahan tangis berbalik cepat membelakangi Tania dan tangisnya pun pecah tanpa suara karena menutup mulutnya dengan tangan. Tania yang mendengar suara tangis pelan Tasya langsung berbalik memandang Tasya dan kaget melihat Tasya yang membelakangi dan badannya bergetar karena menangis, Tania yang merasa kasihan pada Tasya yang masih menangis langsung meneteskan air matanya juga lalu dengan perlahan berbalik ke arah Tasya yang masih menangis dan dengan perlahan bergeser mendekati Tasya lalu tangannya memeluk pinggang Tasya serta mencium kepala Tasya membuat Tasya bertambah nangis.