Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesakitan
Leon langsung memblokir nomor papanya dan tidak peduli dengan pertemuan itu, ia melirik si kembar yang masih menangis meratapi sang mama.
"Farad, Fared, Farid, jangan nangis, ya! Mama kalian akan sembuh kok," ucap Leon.
"Kalau Mama mati gimana?" tanya Fared.
"Hussst... jangan bilang seperti itu! Dokter 'kan bisa sembuhkan Mama," jawab Leon.
"Kira-kira dokter ganteng itu mau jadi Papa kami nggak ya?" tanya Fared sambil mengelap ingusnya.
Leon heran kenapa setiap pria yang ditemui bocah-bocah itu selalu diminta menjadi papa mereka.
"Papa kalian 'kan sudah ada di sini. Om ini Papa kalian loh," ucap Leon.
Pria itu mengusap kepala mereka masing-masing dengan lembut, perlahan tapi pasti Leon bisa merubah sifatnya menjadi lebih baik berkat bertemu dengan si kembar.
"Kalian lapar? Mau makan dulu?" tanya Leon.
"Aku mau ayam goreng, Om," sahut Farid yang memang sudah lapar.
"Kalian semua mau ayam goreng? Oke, Om akan belikan. Kalian tunggu di sini, ya! Jangan kemana-mana!"
Leon lekas keluar dari sana dan menyuruh Rick membelikan ayam goreng, kemudian kembali ke tiga kembar itu tapi sudah tidak ada di tempat duduk. Leon kebingungan mencari mereka lalu menoleh kesana kemari sampai melihat bocah-bocah kembar itu berbicara dengan seorang dokter muda.
Fared. "Om, mau nggak jadi Papa kami?" tanyanya.
Leon mendekati mereka dan menarik mereka, ia meminta maaf pada dokter tersebut, dokter itu pun hanya tersenyum saja. Setelah itu Leon mengajak mereka menunggu di kursi tadi, ternyata mengurus anak kecil memang sesusah itu."Tunggu sebentar, ya! Om Rick akan bawa makanan sebentar lagi," ucap Leon.
"Om, aku mau melihat keadaan Mama," sahut Farad.
"Mama sedang istirahat dan sebentar lagi akan dipindah di ruang rawat inap barulah kita bisa melihatnya," jawab Leon.
Setelah beberapa saat menunggu, Rick membawakan makanan untuk mereka dan mereka makan bersama-sama di taman rumah sakit. Mereka makan sendiri-sendiri dan Leon terus memperhatikan mereka.
"Lihatlah anak selucu ini bisa-bisanya aku membuangnya," gumam Leon.
"Aku yakin Alya sengaja menyembunyikannya, Bos," jawab Rick.
"Tentu, setelah apa yang aku lakukan padanya pasti dia takut aku membunuh mereka. Padahal jika saat itu aku tahu jika Alya hamil anakku, maka aku akan mempertahankannya. Aku memang tidak suka pada anak kecil, tapi aku juga tidak akan tega membunuh darah dagingku sendiri." ucap Damian.
Tiba-tiba ponsel Rick berbunyi, itu dari Rafael, Leon meminta jangan mengangkatnya karena sudah tahu tujuan papanya itu. Rick paham dan lekas memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, saat ini yang terpenting menemani tiga kembar tersebut.
Beberapa jam kemudian.
Alya terbangun di ruang rawat inap, pandangannya yang kabur perlahan-lahan mulai jelas dan ia melihat sosok mantan suaminya yaitu Leon berdiri di hadapannya.
"Leon?" tanya Alya dengan suara serak.
Leon menatapnya dengan ekspresi khawatir, "Alya, kamu baru saja sadar. Tenang dulu, ya. Kamu butuh istirahat."
Alya seketika panik.
"Anak-anakku! Di mana mereka? Apa mereka baik-baik saja?"
"Mereka baik-baik saja. Aku sudah meminta Rick membawa mereka ke hotel. Mereka aman bersamanya."Alya langsung terduduk, tubuhnya lemas dan mata berkaca-kaca. Ia ingin melepas selang infus yang terhubung pada lengannya.
"Aku harus menjemput mereka. Aku tak bisa tinggal di sini sementara mereka di luar sana."
Leon menghampiri Alya dan berusaha menenangkannya.
"Alya, percayalah padaku. Anak-anak kita aman bersama Rick. Kamu perlu fokus pada pemulihanmu sekarang. Aku akan selalu memastikan mereka baik-baik saja."
"Kamu janji tidak akan membawa kabur mereka?" tanya Alya dengan mata berkaca-kaca.
Leon mengangguk mantap. "Aku janji. Mereka adalah anak-anak kita juga. Aku tak akan membiarkan sesuatu terjadi pada mereka."
Mendengar kata-kata Leon ,Alya merasa sedikit lebih tenang. Meski begitu, keinginannya untuk segera berada di samping anak-anaknya tetap menggebu.
"Terima kasih. Tapi tolong beri tahu aku keadaan mereka."
"Tentu. Aku akan melakukannya."
Tengah malam.
Malam semakin larut di kamar rawat inap, Alya terbaring di atas tempat tidur dengan mata yang terjaga. Ia tidak bisa tidur, pikirannya terus melayang pada anak kembarnya yang sedang berada di hotel bersama orang asing. Tidak jauh dari tempat tidurnya, Leon tertidur pulas di sofa. Alya menghela napas panjang, menahan rasa takut yang menghantui pikirannya.
Angin malam yang berhembus lembut melalui jendela membuat Alya merasa semakin sepi. Ia menggenggam selimutnya erat-erat mencoba menenangkan diri. Wajah Leon yang tertidur pulas itu seolah menjadi pengingat akan masa lalu yang kelam. Alya merasakan perasaan tidak aman yang kembali menyelimuti dirinya.
Ia lantas memalingkan wajahnya dari Leon, berusaha menghindari segala kenangan buruk yang menghantuinya. Alya membayangkan saat disiksa oleh Leon, saat-saat di mana ia merasa hidupnya tidak berharga. Air mata perlahan mengalir di pipinya membasahi bantal yang ia genggam erat.
Alya mendesah pelan mencoba mengusir rasa sakit yang menjalar di hatinya.
"Ada apa, Alya?" tanya Leon membuka matanya.
Dia menghampiri Alya lalu melihat air mata wanita itu.
"Kenapa kamu harus muncul?" tanya Alya.
"Karena itu takdir tari Tuhan," jawab Leon.
"Kenapa takdir Tuhan begitu jahat kepadaku?"
"Apa yang kamu katakan? Aku datang menemui mu secara baik-baik. Emh, awalnya aku memang kasar saat bertemu si kembar, tapi aku...."
"Sudahlah! Sekarang apa maumu mendekati kami? Mau meminta hak asuh si kembar? Jangan mimpi! Aku tidak akan memberikan hak asuh itu padamu," ucap Alya.
"Aku akan memberikan uang jatah bulanan pada mereka dan kamu tidak usah bekerja lagi. Aku akan jamin hidup mereka seperti sekolah, makan makanan yang bergizi, semua kebutuhan mereka aku yang nanggung," jawab Leon.
"Aku datang ke Jakarta bukan untuk mengemis padamu," ucap Alya.
"Aku hanya ingin bertanggung jawab atas anak-anakku. Hanya itu saja, aku juga sadar diri tidak pantas mendapatkan mu lagi," jawab Leon.
Alya hanya merasakan perih di dada, dulu dia dibuang dan sekarang Leon meminta dekat dengan anak-anaknya.
"Tadi siang aku meminta sampel rambut Farad untuk melakukan tes DNA," ucap Leon.
"Kamu lancang sekali," ucap Alya.
"Maaf, hanya ini cara membuktikan apakah mereka anak kandungku atau tidak,"ucap Leon.
Alya memalingkan wajahnya, ia sudah tidak tahu harus melakukan apa. Dia kembali berbaring dan membelakangi Leon, pria itu menarik selimut sampai ke dada Alya.
"Maaf jika aku dulu kasar kepadamu."
"Aku tidak bisa memaafkan mu."
"Tak apa, aku sadar kesalahanku sangat fatal. Suatu saat nanti aku tahu pasti kamu akan memaafkan ku," ucap Leon.
Alya hanya diam saja, ia memejamkan matanya tapi air mata keluar dari sudut matanya.
Di sisi lain.
Si kembar tiga belum terlelap karena baru pertama kali ini tidak bisa tidur tanpa mamanya, Rick yang menjaga mereka merasa bingung bahkan sejak tadi mereka melompat-lompat di atas tempat tidur. Rick langsung menelpon sang bos, dia sangat kewalahan menghadapi mereka.
"Hallo, Bos. Bocil-bocil ini belum tidur juga, mereka malah main terus," ucap Rick. "Ini sudah jam 12 malah loh, paksa mereka tidur atau matikan lampunya!" suruh Leon.
"Tak semudah itu, Bos. Bos datanglah kesini, jarak rumah sakit dan hotel ini sangat dekat kok."
"Oke-oke... aku akan ke sana," ucap Leon.
Tak berselang lama kemudian.
Leon membuka pintu kamar hotel dengan perlahan, matanya langsung tertuju pada tiga anak kembarnya yang tengah asyik bermain kuda-kudaan bersama Rick. Senyum merekah di wajah Leon melihat keceriaan mereka, namun ia juga merasa prihatin karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Sudah larut malam. Ayo, segera tidur!" Ucap Leon dengan nada yang tegas namun lembut.
Ketiga anak kembar itu seketika menghentikan permainan mereka dan menatap Leon dengan wajah yang datar.
Sementara itu, Rick terlihat lemas dan menyerah menghadapi keaktifan anak-anak tersebut.
"Ayo, sekarang giliran Om yang mengantar kalian tidur," lanjut Leon sambil menarik tangan anak pertama, lalu anak kedua dan ketiga mengikuti dengan langkah kaki yang ringan.
Leon membantu mereka naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut hangat di atas tubuh mereka. Ia kemudian mencium kening mereka satu per satu, dan berbisik.
"Selamat tidur, Nak. Mimpi indah ya."
Anak-anak kembarnya pun memejamkan mata, dan tak lama kemudian terdengar nafas mereka yang teratur menandakan bahwa mereka sudah terlelap. Leon menatap mereka dengan penuh kasih sayang, lalu berbalik untuk menghampiri Rick yang masih duduk di lantai dengan wajah lelah.
"Terima kasih, Rick. Kamu sudah sangat membantu," ucap Leon sambil menepuk bahu Rick.
"Gila bos! Mereka anak-anak yang kuat," ucap Rick sambil melenturkan pinggangnya."Sepertinya aku mulai tahu cara mengambil hati mereka," jawab Leon.
cuma ada oma riana jd pembantu menantunya gdang salad.
biar nyaman ada halaman nya untuk keluarga dgn anak banyak
sesalah apapun ibu jgn tega begitu membiarkan dia kerja sm menantunya.
klw nikah di grreja artinya agama kristen.
yg menikahkan penghulu,biasanya klw nikah di gereja pendeta
aga membingungkan