NovelToon NovelToon
SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:45
Nilai: 5
Nama Author: Omni Tales

"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyusup dalam Bayangan

"Kertas kosong itu... aku yang meletakkannya di sakumu sepuluh tahun lalu, Subjek 0."

Ucapan Kael di ujung telepon membeku di udara, memicu desis statis yang mendadak terputus tajam.

Klik.

Ponsel satelit tua di tangan Nio mati total, kehilangan seluruh sinyal transmisi.

"Kael...? Pak Tua... lu...?" gumam Nio datar, menatap kosong layar ponsel yang meredup.

'Pria tua yang menyeduh kopi hangat untukku tiap pagi... adalah orang yang meletakkan kertas kosong ini?'

"Nio! Asap ledakan di koridor makin tebal!" jerit Nora seraya menarik lengan baju Nio.

Guncangan emosional itu hanya berlangsung dua detik sebelum refleks tempur Nio mengambil alih kendali tubuhnya.

Nio menyimpan ponsel ke saku dalam, meraba drive portabel berisi data Sektor Sembilan dan rekam medis Subjek 0.

"Simpan drive ini di dalam kantong jaketmu yang paling dalam," perintah Nio seraya menyodorkan perangkat kecil itu ke tangan Nora.

"A-aku yang pegang?!" bisik Nora kaget, membelalak menatap benda hitam di telapak tangannya.

"Tugasmu cuma mengamankan bukti eksistensi adikmu. Kalau terjadi sesuatu padaku, lari dan jangan pernah menoleh," pangkas Nio tanpa kompromi.

Nora mengepalkan jemarinya erat-erat, memasukkan drive tersebut ke balik saku jaket taktisnya.

"Aku tidak bakal meninggalkanmu, Nio!" tegas Nora dengan napas bergetar.

"Jangan bertindak bodoh," sahut Nio dingin seraya mengokang senapan taktisnya.

Belum sempat mereka melangkah, pendar merah lampu darurat mendadak padam total.

Kegelapan pekat menyelimuti area pelataran, menyisakan senyap yang menyimpan residu ketakutan amat tebal.

Aroma sulfur terbakar beradu dengan udara dingin malam yang berembun di sekitar mereka.

Dari balik asap tebal di atas dinding reruntuhan, terdengar dentum langkah kaki berirama konstan.

Tuk. Tuk. Tuk.

Dua bayangan amorf berwujud manusia melompat turun dari celah atap beton, mendarat tanpa suara di atas tanah basah.

Mereka mengenakan armor taktis hitam legam serta topeng kedap udara bernuansa logam kusam.

"Eksekutor lapangan..." desis Nio refleks pasang badan di depan Nora.

"Target terkonfirmasi: Subjek 0 dan Subjek Tambahan. Perintah mutlak: Eliminasi fisik dan amankan drive data," tutur salah satu eksekutor dengan vokal terdistorsi.

"Zero tidak mau ambil risiko data itu bocor..." gertak Nio pelan.

"Nio... mereka manusia!" bisik Nora gemetar hebat di belakang punggung Nio.

"Manusia yang otaknya sudah dicuci bersih. Mundur ke balik pilar itu, Nora!" bentak Nio rendah.

Sejurus kemudian, eksekutor sebelah kanan menerjang maju, menarik bilah pisau komando yang berdesis tajam.

Sret!

Nio tidak merespons dengan emosi; kalkulasi taktis di otaknya bekerja secara matematis dan presisi.

Dia memiringkan tubuh tiga puluh derajat ke kiri, membiarkan mata pisau penyerang melintas milimeter di depan dadanya.

Tangan kiri Nio memukul pergelangan tangan penyerang, sementara lutut kanannya menghantam ulu hati eksekutor tersebut.

Brak!

Eksekutor pertama terdorong mundur, tetapi rekannya di sebelah kiri memanfaatkan celah itu untuk menembakkan pistol berperedam.

Pft! Pft!

Dua peluru menghantam dinding beton di belakang Nio, menyemburkan kerikil tajam yang mengenai pipinya.

"Mati kau, Subjek 0!" seru eksekutor kedua seraya mengayunkan tendangan lurus ke arah leher Nio.

Nio mengangkat lengan kirinya untuk menahan benturan, merasakan hantaman keras yang membuat tulang tangannya bergetar.

'Kecepatan mereka di atas rata-rata prajurit biasa... ini prajurit hasil rekayasa!' batin Nio menganalisis.

Sembari menahan tekanan kaki musuh, Nio menarik pistol cadangan dari pinggangnya.

Duar!

Peluru meluncur tepat menghantam pelindung lutut eksekutor kedua, mematahkan engsel armor legam tersebut.

Eksekutor itu mengerang tertahan, tubuhnya ambruk bertekuk lutut di atas lantai basah.

Tanpa memberi jeda napas, Nio menghantamkan gagang pistolnya ke pelipis topeng eksekutor kedua hingga retak parah.

"Satu lumpuh," gumam Nio dingin.

Namun eksekutor pertama kembali bangkit dari asap, melemparkan granat kilat (flashbang) tepat ke tengah posisi mereka.

"NORA, MERAPAT!" teriak Nio seraya menerjang tubuh Nora ke tanah.

BLAST!

Cahaya putih menyilaukan membelah kegelapan malam, diiringi suara berdenging pekat yang melumpuhkan pendengaran mereka sejenak.

Penglihatan Nio memburam total, pandangannya dipenuhi bintik-bintik putih.

'Sial... pendengaranku terkunci!' batin Nio mencoba menstabilkan keseimbangan tubuhnya.

Di tengah kebutaan sementara itu, Nio merasakan erangan ketakutan dari Nora yang terlepas dari dekapannya.

Eksekutor pertama mencengkeram kerah jaket Nora dan mengangkat tubuh wanita itu dari tanah.

"Serahkan drive data itu, atau kubantai lehermu sekarang!" gertak eksekutor pertama menempelkan pisau komando ke tenggorokan Nora.

"T-tidak... aku... aku tidak akan berikan data Milo!" jerit Nora terengah-engah.

"Nora!" teriak Nio, berusaha memfokuskan penglihatannya yang masih dipenuhi pendar bayangan.

Meskipun tangannya gemetar, Nora tidak melepaskan saku dalam jaketnya.

"Nio... amankan data ini... lari!" seru Nora histeris.

"Wanita bodoh!" bentak eksekutor itu seraya menarik pisau ke belakang.

Melihat ancaman nyata tersebut, ragu di dalam diri Nio menguap seketika, digantikan oleh dorongan protektif yang dingin.

Jemari Nio meraba tekstur kasar kertas kosong di sakunya selama setengah detik—mengunci presensinya.

'Gue adalah Subjek 0. Pakar data yang menolak tereliminasi!'

Nio melesat maju menembus kegelapan bagai bayangan tanpa bobot.

Sebelum pisau musuh sempat menyentuh kulit leher Nora, Nio mencekik pergelangan tangan eksekutor itu dengan kuncian mematikan.

Kreek!

Suara tulang pergelangan tangan yang patah bergema nyaring di pelataran yang senyap.

Eksekutor itu menjerit kesakitan, melepaskan pegangannya pada Nora hingga wanita itu jatuh terduduk.

Nio memutar tubuh musuh, merebut pisau komando tersebut, lalu membenamkan bilahnya ke selangkangan armor pelindung leher lawan.

Eksekutor pertama membeku, tubuhnya ambruk perlahan ke tanah tanpa sempat melawan.

Nio berdiri tegak di atas tubuh dua penyerang yang telah lumpuh, napasnya naik turun teratur.

Darah tipis menetes dari goresan di pipi Nio, tetapi matanya menatap tajam ke kegelapan.

"Kamu tidak apa-apa, Nora?" tanya Nio rendah, mengulurkan tangannya.

Nora menatap tangan Nio yang berlumur noda darah, lalu merangkulnya erat untuk bangkit.

"A-aku tidak apa-apa... Data adikku masih aman," bisik Nora terisak halus.

Nio menatap Nora sejenak, mengagumi ketahanan mental wanita itu.

"Lu bertindak cukup bagus tadi," puji Nio singkat.

Nora mengusap air matanya, tersenyum tipis di tengah ketakutan.

"Aku cuma tidak mau perjuanganmu sia-sia, Nio."

Nio berjalan mendekati eksekutor yang retak topengnya, merampas radio komunikator taktis di bahu armor musuh.

Dari speaker kecil radio itu, desis frekuensi tinggi berangsur jernih, menyalurkan tawa halus yang dingin.

"Kalkulasi yang sangat mengagumkan, Subjek 0," puji suara Zero melalui radio lapangan.

Nio menempelkan radio itu ke dekat bibirnya, memancarkan presensi dingin.

"Pasukan sampahmu tidak bisa menghentikanku, Zero," pangkas Nio tanpa kompromi.

"Mereka cuma pengulur waktu, Nio. Kael sudah menyiapkan panggung utama untukmu di Sektor Sembilan," tutur Zero santai.

"Apa hubungan Kael denganmu?!" cecar Nio dengan rahang mengeras.

"Kael adalah arsitek yang merancang kertas kosongmu. Dialah pencipta Proyek Mnemnosyne," ungkap Zero terkekeh halus.

Nio membeku, kenyataan pahit itu menghantam kesadarannya bagai hantaman martil berat.

"Sampai jumpa di Sektor Sembilan, Nirnama. Mari kita lihat apakah kertas kosongmu sanggup mencatat akhir sejarahmu sendiri," lanjut Zero sebelum memutus saluran radio.

Ssssshhh...

Radio di tangan Nio menyisakan suara statis pekat.

Nio meremas radio itu hingga pecah terbelah, melempar serpihannya ke tanah.

'Kael... pria tua yang selama ini memberi gue tempat bernaung... adalah dalang di balik kehancuran ingatan gue?'

"Nio... apa yang dikatakan suara tadi... tentang Pak Kael...?" tanya Nora ragu.

"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata," gumam Nio pelan seraya meraba selembar kertas kosong di sakunya.

"Kita berangkat ke Sektor Sembilan sekarang," tegas Nio menoleh dengan pandangan membeku.

Tiba-tiba, dari kegelapan hutan di luar pelataran, deru mesin helikopter tanpa pendar lampu melintas rendah.

Sinar lampu sorot raksasa dari helikopter itu mendadak menyala, mengunci posisi Nio dan Nora di tengah pelataran terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!